Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8 Dibuntuti
Juan mengikuti Alea yang masuk ke sebuah ruangan. Ia melihat wanita itu mengambil bayi dari gendongan seorang wanita tua.
"Dia terus menangis, Alea. Aku tidak tahu apa yang terjadi," jelas Nyonya Merry.
"Tidak mengapa, Nyonya. Shane memang sedang kurang enak badan. Terima kasih telah membantuku menjaga Shane." Alea berusaha menimang Shane, lalu minta ijin pada Nyonya Merry untuk duduk dan menyusui putranya itu.
Dari balik pintu Juan melihat semuanya. Hal itu disadari oleh Nyonya Merry yang sejak tadi menemani Alea.
"Siapa di sana?" seru Nyonya Merry. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke pintu. "Siapa kau?"
"Aku adalah pengunjung restoran ini, aku mengejar wanita itu karena dia telah membuat kotor kemejaku." Juan menunjukkan kemejanya yang kotor karena Alea. Dengan sikap tenangnya ia menghadapi Nyonya Merry.
Nyonya Merry menoleh melihat Alea yang masih menyusui bayinya. "Maafkan atas kecerobohan pegawai kami, mungkin dia sedang panik karena putranya menangis."
"Boleh aku bertemu dengannya, aku ingin meminta pertanggungjawaban langsung dari dia."
Nyonya Merry nampak ragu. Jujur ia kasihan pada Alea kalau harus mengganti rugi pada pria yang terlihat kaya dari penampilannya ini. "Bagaimana jika aku yang mengganti biaya binatu-nya."
"Ini bukan hanya soal biaya binatu, ini soal tata krama. Kurasa dia harus diberi pelajaran agar tahu bagaimana memperlakukan tamu."
Nyonya Merry terdiam. Ia tidak tahu bagaimana kejadiannya, tapi apa pun itu, tamu adalah raja.
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bermaksud tidak sopan padamu tadi. Aku hanya sedang panik ketika mendengar putraku menangis." Sejak tadi Alea mendengarkan percakapan antara tamu restoran dengan Nyonya Merry, tapi ia menunggu sampai Shane tenang lebih dulu.
Juan menatap bayi dalam gendongan Alea. Secara spontan tangannya terulur hampir menyentuh pipi bayi yang seperti duplikatnya ketika kecil. Persis sekali. Untunglah kesadarannya segera datang. Segera ia menarik tangannya. Juan tidak mau terlihat mencurigakan.
Ia pun melepas kemejanya. Menyisakan polo shirt di tubuhnya. "Bersihkan ini! Aku akan datang lagi untuk mengambilnya!"
Alea menerima kemeja Juan tanpa bisa menolak. Dirinya dan Nyonya Merry saling bertukar pandang usai kepergian Juan.
"Maafkan aku, Nyonya. Semua memang salahku. Aku berjanji tidak akan ceroboh lagi." Sorot mata Alea penuh penyesalan.
"Sebaiknya begitu. Jaga sikapmu. Untuk sekarang sebaiknya kau pulang, rawat dulu Shane sampai sembuh."
"Tapi, Nyonya ...."
Nyonya Merry menepuk bahu Alea, meninggalkannya masuk ke ruang kerja begitu saja.
Alea hanya bisa mengangguk. Entah perasaan apa ini, tapi ada sedikit rasa takut kalau ia akan dipecat. Ia akui ia ceroboh hari ini, tapi ia pun tak bisa abai pada tangisan Shane.
Alea segera mengemasi barangnya untuk pulang. Termasuk memasukkan kemeja pelanggan tadi ke dalam tas bersama dengan barang-barang milik Shane. Dengan berat hati ia melangkah keluar dari restoran. Sejujurnya ini pertama kali ia pulang lebih cepat dari jam kerja. Pikirannya langsung pada gaji yang akan dipotong.
Alea berjalan ke halte bus. Di sana ia menatap Shane yang sudah terpulas. "Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu terlalu memikirkan pekerjaan dan uang. Sampai Ibu sedikit mengabaikanmu."
Bus yang akan membawa Alea ke apartemennya tiba. Ia segera naik.
Selama perjalanan Alea tak menyadari jika ada yang mengikutinya sampai ke apartemen.
"Turun dan ikuti di mana flat yang ia tinggali!" titah Juan pada supirnya—Pedro.
"Baik, Tuan," jawab pemuda itu tegas. Ia segera turun dan mengikuti Alea diam-diam. Lima tahun ia bekerja dengan Juan, ia tak pernah membantah sedikit pun apa yang Juan katakan. Semua karena ia merasa berhutang budi pada Juan.
Tak butuh waktu lama untuk Pedro kembali. Ia memberikan informasi pada tuannya tentang flat yang wanita itu tempati.
Usai mendengar laporan Pedro, Juan langsung menghubungi seseorang.
"Aku ingin kau menyelidiki seseorang. Dan buat dia datang padaku," ujar Juan pada seseorang di telepon.