Reno, adalah putra kedua dari tiga bersaudara. Papanya memiliki jabatan yang tinggi di suatu instansi pemerintah dan mamanya seorang pengacara terkenal, kakanya jebolan sekolah kedinasan yang melahirkan Intel negara. Sementara dia anak tengah yang selalu dibanding-bandingkan dengan kesuksesan sang Kaka, berprofesi sebagai TNI berpangkat Bintara. Tapi Reno adalah anak yang penurut dan paling berbakti pada kedua orangtuanya.
Keinginannya menjadi seorang TNI karena kejadian luar biasa yang mempertemukan dirinya dengan sosok yang sangat dia kagumi, sosok idola yang merubah hidup dan cara pandangnya.
Hingga pada suatu hari takdir mempertemukan Reno dengan Kanaya yang membantu cita-citanya menjadi seorang TNI terwujud.
Kanaya menemani Reno dari nol karena Reno tidak mendapatkan dukungan dari kedua orangtuanya.
Apakah cinta kasih Reno dan Kanaya akan berlanjut ke pelaminan, atau Kanaya hanya dimanfaatkan Reno saja untuk mencapai cita-citanya?
Yuks ikuti kisah Reno di Cinta Bintara Rema
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Rencana Davin
🎶"Happy birthday ... Happy birthday... happy birthday to you ... " sorak Sorai dari rekan-rekan Davin untuk merayakan ulang tahunnya yang dibuat oleh Lidya
Davin mendekati Lidia saat tahu wanita itu adalah sugar baby dari papanya, tujuannya adalah untuk mengetahui hubungan Lidia dengan papanya.
"Terima kasih atas semua perhatianmu, lalu kado untukku mana ... " tanya Davin sambil mengelus manja wajah Lidia
"Tentu saja aku tidak lupa, nih ... Kado dari papaku" jawab Lidia manja dan bergelayut di bahu Davin
Lidia menyerahkan sebuah kunci mobil bertuliskan Toyota. Mata Davin berbinar, dia dengan cepat merampas kunci mobil tersebut.
"Apakah sesuai harapanku ... ?" tanya Davin menguji
"Sesuai apa yang kamu inginkan, sayang ... "
Davin lalu bergegas melihat mobilnya itu. Mobil hitam dengan perawakan macho dihiasi pita dan bunga sudah bertengger di parkiran sebuah club.
Di belakang Lidia, Davin tidak bisa menyembunyikan kegeramannya pada sang papa. Wajahnya mengeras dengan gurat merah di matanya, tangannya mengepal hingga buku-buku tangannya memutih.
"Dasar wanita dan lelaki jalang! Karena kalian, nyawa ibuku menjadi taruhannya." Geram Davin dalam batinnya.
"Bagaimana Vin, kamu suka?" Lidia sudah datang di belakangnya lalu mengalungkan tangannya di pinggang Davin
"Suka, terima kasih sayang ... Kamu memang pacar terbaikku" ucap Davin memasang topengnya kembali.
"Apakah surat menyuratnya aman? Kau tau ini barang mahal, gak mungkin aku membelinya ... " tanya Davin mengujinya lagi
"Aman ... Papaku menyembunyikan pajak seorang konglomerat, beres itu ... Papaku gitu lho"
"Papamu hebat sayang, dia kerja dimana? Oh iya itu papa kandungmu atau ... "
"ya dong sudah jelas Pa-pa k-kandungku, papa kerja di ... Ahh, kamu tidak perlu tahu" Lidia menepuk halus dada Davin, cowo yang dia incar sejak masih SMA.
Davin tahu Lidia bukan anak orang kaya, dia gadis biasa dan sederhana. Namun mengambil jalan pintas menjadi sugar baby dari papa Davin sendiri.
"Sayang, aku perhatikan perutmu terlihat lebih seksi, apa kau hamil ... ?" tanya Davin to the point
"Ti-tidak Davin, aku lagi doyan makan dan tidak diet selama tiga bulan ini." jawab Lidia gugup
"Syukurlah, kita kan belum pernah melakukannya, masa iya kamu hamil, ya kan?!" sindir Davin
"Vin, aku sudah memberikanmu hadiah, apa kamu tidak ingin mengumumkan kalau aku adalah kekasihmu di depan Delia? Dia akan menganggu hubungan kita kalau kamu tidak tegas" rengek Lidia
"Iya tidak apa-apa, lebih enak kita backstreet kan. Lagian aku tidak suka dengan Delia" dusta Davin
"Aku mau kita happy malam ini, short time di hotel misalkan ... Please." bujuk Lidia
"Kamu tahu mamaku strict parents, uang yang diberi mamaku juga minim sekali sayang, aku ga ada uang untuk itu." dusta Davin lagi.
Kebanyakan teman-teman Davin tidak tahu profesi dia yang sebenarnya, bahkan Delia yang sudah jadi pacarnya selama satu tahun pun, dia tidak terbuka mengenai jati diri yang sesungguhnya, terutama pekerjaannya sebagai seorang intelijen dengan gaji yang Fantastik.
"Aku heran, aku dengar mama kamu pengacara dan papa kamu ASN dengan jabatan lumayan. Masa iya kamu gak dikasih uang jajan kuliah?" selidik Lidia
"Semakin banyak penghasilan seseorang maka semakin banyak juga keinginan dan pengeluarannya sayang, aku sih disiapin makanan tiap hari di rumah saja sudah bersyukur, sayang."
"Oke, aku ngerti biar hotel aku yang bayarin, gimana?" tanya Lidia
Jantung Davin berdegup kencang mendapat ajakan short time, dia belum pernah pacaran yang terlalu dalam di usianya yang menginjak 25 tahun malam itu.
"Tidak perlu, kita bergabung saja dengan yang lain di dalam, drink ajalah ... " tolak Davin
"Cik!! Aku gak boleh minum sama papa!" decak Lidia sambil menghentakkan kakinya di lantai.
"Papamu sayang banget ya?" tanya Davin dengan kegetiran di nada bicaranya, perasaan sakit hati.
"Baik sekali, sampai makanku pun dia perhatikan" wajah Lidia berbinar mengingat sugar Daddy nya sangat perhatian dan sayang padanya.
"Beruntung dong kamu, kapan-kapan kenalin ke aku ya, tapi gak sekarang aku belum sukses" Davin menyunggingkan senyuman licik yang samar
"Hmm ... Aku gak janji ya sayang. Karena papaku sekarang pulang terus ke apartemen" jawab Lidia nyaris keceplosan
"Owhh ... Tiap hari tinggal denganmu ya ... " dada Davin kembali menderu menahan marah, tangannya mengepal di bawah meja
Davin seketika berdiri dan melangkah menjauhi Lidia.
"Vin mau kemana?" tanya Lidia
"toilet!" jawab Davin begitu geram
Tapi dia menghubungi seseorang untuk memberi Lidia pelajaran. Dia menyewa tiga orang gigolo untuk memuaskan Lidia malam ini di apartemennya.
Davin kembali ke table yang dipesan Lidia, menyerahkan segelas jus dengan sangat mesra. "Sayang aku ingin habiskan malam ini di apartemen mu, bagaimana ... "
Lidia gugup, dia lalu meminum jus yang baru saja diberikan Davin.
"B-boleh ... tapi aku telepon Daddy dulu ya ... " ucap Lidia
Lidia menjauh dari Davin untuk menelpon Daddy nya, namun sayangnya telepon tidak juga diangkat.
Semakin lama Lidia merasakan tubuhnya aneh, dia kepanasan, ingin disentuh dan dimanja dibagian terlarangnya. Sesekali dia mendesah sendiri, dia datang lagi ke table itu, Davin sudah pergi dengan Delia dan meninggalkan secarik kertas.
"Selamat menikmati malam indah kita, sayang. Kutunggu di apartemenmu"
Lidia gelisah karena respon tubuhnya membutuhkan dituntaskan segera, tak berapa lama tiga orang laki-laki tampan dan seksi menghampirinya dengan tatapan binal. Lidia tidak tahan dengan tatapan itu, dia mendesah sendiri.
"Ada yang bisa kami bantu, nona?" tanya salah satu pemuda tampan itu
"A-aku ... Ingin ... Di apartemenku. Cepaaatt !!" pekiknya sambil menahan gairah yang tidak sanggup dia tahan
Para pria penghibur itu pun dengan senang hati mengajak Lidia keluar dari club dan menghabiskan malam di apartemen milik Hartawan.
Di tempat lain.
Hartawan terlihat gelisah mondar-mandir di ruang kerjanya setelah mendapat kabar instansinya akan di audit besok. Dia baru saja memakai uang setoran pajak dari salahsatu konglomerat yang sudah dia gelapkan untuk membeli sebuah mobil Fortuner, jumlahnya tidak sedikit sementara tabungannya sudah habis untuk memanjakan Lidia dan calon bayinya.
Meminta uang simpanan Yulan berujung petaka, dia malah khilaf ingin membunuh Yulan dengan menusukkan pisau di perutnya. Perempuan itu begitu cerewet dan pandai bicara jika dia merasa benar, sementara saat ini Hartawan sedang dibelit masalah pelik.
"Surat tanah! surat itu pasti disimpan Yulan di brankas. Mumpung wanita itu masih sekarat dan semoga dia lekas mati!" ucap Hartawan dengan licik.
Dia bergegas pulang ke rumah, saat masuk ke dalam rumah, rumah kosong dan sepi. Dia mengendap-endap masuk ke kamar yang selama ini Yulan tempati. Sejak ketahuan Hartawan selingkuh dengan baby sitter anaknya juga berlanjut dengan Lidia, Yulan meminta pisah ranjang pada suaminya.
Namun proses cerai di sebuah instansi tidak lah mudah harus menjalani beberapa proses, sementara jika di proses Hartawan berkelit terus dan bilang akan mempertahankan rumah tangganya dan tidak ingin bercerai.
Hartawan membongkar semua pakaian Yulan di lemari, dan koper-koper, tidak juga dia temukan surat-surat itu. Tentu saja, Yulan sudah mengantisipasinya, dia tidak akan menyimpan surat berharga itu di rumah atau Bank yang bisa di akses Hartawan jika sesuatu terjadi padanya.
"Brengsek ... !! Ditaruh mana sertifikat itu!"
Dengan wajah kesal dia naik ke lantai atas dimana kamar tidur anak-anak nya berada. Ketika sampai di depan kamar Reno, kamar itu terbuka sedikit. Hartawan pun masuk mengendap dan mencari dengan seksama setiap helai lipatan baju anaknya itu.
Lagi-lagi dia kecewa karena tidak dia dapati juga barang yang dia cari. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu pergi meninggalkan kamar Reno. Tujuannya kali ini ke rumah sakit dan memaksa Yulan memberikan surat tanah milik bersama yang dihibahkan keluarganya pada Yulan.
Setibanya di kamar rawat Yulan, Hartawan melihat Yulan sedang tersenyum dengan pengunjungnya yang seorang lelaki.
"Jadi besok keberangkatan mas ke Kongo?" tanya Yulan lirih
"Iya, Lan. Doakan aku mengemban misi dengan baik dan selamat sampai tanah air" jawab Sandi
"Tentu mas, aku pasti akan doakan ... " Yulan mengulas senyuman
"Owh ... Jadi karena lelaki ini kamu bersikukuh minta cerai dan hak asuh anak-anak, Hah?!" Bentak Hartawan pada Yulan yang masih terbaring lemah di kasur rumah sakit
"Anda jangan salah paham, Wan! Aku hanya menjenguk Yulan" sanggah Sandi
"Mas, kamu apa-apaan sih! Kamu yang lebih dulu minta cerai dariku, giliran aku yang minta cerai kamu malah berbelit dan memukuliku!" pekik Yulan dengan wajah geram dan tatapan dendam
"Aku tidak akan menceraikan mu, Yulan! Kamu sudah mengeruk harta warisan keluargaku!" hujat Hartawan
"Aku hanya memegang amanah orangtuamu, untuk bekal cucu-cucunya" bantah Yulan lagi.
"Halah! Alasan, kamu memang perempuan licik!"
"Wan, aku tahu ini masalah keluarga kalian, tapi ini bukan saat yang tepat untuk bertengkar di sini ... Ini rumah sakit!" bentak Sandi, lalu menyeret hartawan keluar dari kamar perawatan
Mereka adu jotos pada akhirnya, karena hartawan terus menerus memfitnah Sandi dan Yulan selingkuh. Tentu saja kekuatan Sandi lebih unggul karena dia rajin olahraga dan juga seorang militer. Hartawan terkapar dengan luka-luka lebam di wajahnya.
Sandi meninggalkan Hartawan dengan perasaan geram dan marah, dia biarkan lelaki itu merasakan arti sebuah pukulan yang imbang, bukan memukul wanita seperti yang selama ini dia lakukan pada Yulan.
Hartawan pun pulang karena diusir security rumah sakit karena sudah membuat onar. Dengan langkah gontai dan tatapannya yang nanar, hartawan pulang ke apartemennya yang dia tinggali bersama Lidia.
"Ahh ... Faster Beib ... " Desahan dan kata-kata seronok adalah yang pertama kali di dengar Hartawan saat memasuki apartemennya.
Wajahnya seketika memucat dan menegang, telapak tangannya mengepal dengan gurat merah di matanya yang sudah memar terkena pukulan seorang anggota militer.
"Lidia !!!" teriaknya saat memasuki kamarnya yang sudah berisi tiga orang lelaki dan Lidia.
Wanita itu masih sibuk minta dipuaskan dengan segera, walaupun hatinya menangis ingin selesai karena ketahuan oleh sugar Daddy nya
Hartawan meremas rambutnya dengan kencang, tidak dia sangka wanita yang sudah membuatnya gila cinta akan mengkhianatinya dengan begitu sempurna.
Tubuh Hartawan merosot di lantai dengan tangisan pilu, tubuhnya tidak kuat lagi untuk berduel dengan ketiga lelaki kekar di kamarnya. Sudah bisa dipastikan dia akan mati karena di hajar ketiga lelaki itu. Dia masih ingin hidup untuk memberi pelajaran pada Lidia setelah tubuhnya pulih.
Tenaganya habis dan napasnya seakan sudah menghilang dari tenggorokannya. Dia hanya bisa meratapi nasibnya yang sudah dikhianati Lidia dan di tolak keluarganya.
Selama tiga jam setelah kepulangannya ke apartemen, Lidia belum juga selesai dengan kegiatannya, hatinya semakin sakit dan terpuruk. Dia membiarkan tubuhnya jatuh dibawah pancuran air shower hingga darah yang sudah mengering kini luntur dan berganti darah merah muda, menandakan lukanya semakin terbuka.
"Kenapa hidupku sehancur ini ... " lirihnya.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Bersambung...
Gaess ... Jangan lupa like, komen dan Votenya 🩷🫰