NovelToon NovelToon
Cinta 'Terkontrak'

Cinta 'Terkontrak'

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Romansa / Slice of Life / Chicklit
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luckygurl_

Senja Maharani, seorang sekretaris muda yang cerdas, ceroboh, dan penuh warna, di bawah asuhan Sadewa Pangestu, seorang CEO yang dingin dan nyaris tak berperasaan. Hubungan kerja mereka dipenuhi dinamika unik: Maha yang selalu merasa kesal dengan sikap Sadewa yang suka menjahili, dan Sadewa yang diam-diam menikmati melihat Maha kesal.

Di balik sifat dinginnya, Sadewa ternyata memiliki sisi lain—seorang pria yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan dan keberanian Maha. Meski ia sering menunjukkan ketidakpedulian, Sadewa sebenarnya menjadikan Maha sebagai pusat hiburannya di tengah kesibukan dunia bisnis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckygurl_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Otoritas

Hari ini begitu melelahkan bagi Maha. Pekerjaannya sebagai seorang sekretaris Sadewa benar-benar menguras energinya hingga ke batas. Sejak pagi, ia tidak diberi ruang untuk bernafas. Tidak ada jeda, bahkan sekedar untuk menikmati segelas air atau menarik napas panjang. Dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, ia harus mengikuti pria itu dengan langkah cepat dengan wajah yang tetap profesional.

Meski telah menandatangani kontrak absurd sebagai ‘kekasih pura-pura’ Sadewa tak pernah sekalipun memperlihatkan sikap yang lebih hangat pada Maha. Pria itu tetap saja dingin, dengan tatapan yang sulit dibaca dan ucapan yang selalu terdengar datar namun tegas.

Memangnya, Maha berharap apa? Berharap sikap Sadewa akan melunak seperti mentega yang mencair di bawah sinar matahari? Astaga, itu terdengar seperti mimpi di siang bolong.

Sadewa, dengan segala aura dingin dan ketegasan yang selalu ia bawa, adalah pria yang sulit ditembus. Namun, tanpa disadari oleh Maha, ada hal kecil yang luput dari perhatiannya, sesuatu yang mungkin dianggap remeh, tapi cukup berarti jika diingat kembali.

Saat rapat dengan klien tadi, Sadewa diam-diam membukakan tutup botol air mineral untuk Maha. Sebelum Maha sempat menyentuh botolnya, tutupnya sudah terlepas, dan Sadewa meletakkannya tepat di hadapannya, seolah itu bukan hal besar. Tindakannya begitu cepat dan nyaris tidak terlihat. Padahal, jika mengenal Sadewa, menggeserkan botol air untuk orang lain saja rasanya sudah seperti keajaiban.

Malam itu, ketika jarum jam menunjukkan pukul 19.00, waktu pulang kantor, Maha mulai bersiap-siap. Ia pun membereskan barang-barangnya, memasukkan dokumen dan alat tulis ke dalam tasnya dengan rapi.

“Sampai rumah, langsung tidur! Nggak ada yang bisa ngalahin kasur empuk ku malam ini,” gumam Maha penuh semangat. Hatinya dipenuhi kegembiraan kecil, membayangkan dirinya bisa segera merebahkan badan setelah seharian beraktivitas tanpa henti.

“Maha…”

Maha mendongak, matanya langsung menangkap sosok pria yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya seketika itu berubah cerah. “Oh, Mas Danu?” serunya, kelelahan yang tadi begitu terasa, seakan sirna.

Danu berjalan mendekat, membawa aroma parfum khasnya yang selalu membuat Maha merasa nyaman. Senyum hangatnya menyiratkan ketulusan yang membuat siapapun merasa dihargai.

“Sudah mau pulang, ya? Gimana kalau aku antar kamu?” tawar Danu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, tampak santai tapi tetap sopan.

“Maha, masih ada kerjaan.” sahut Sadewa yang langsung memotong tawaran Danu yang masih tergantung di udara.

Maha langsung membelalakkan matanya, seakan tidak percaya. Ia pun cepat menoleh, mencari sumber suara yang memotong keheningan itu. Dan di sana, Sadewa sudah berdiri dengan ekspresi datar, matanya tajam menatap Danu tanpa menunjukkan sedikitpun perasaan. Langkahnya tegap, hampir seperti perintah yang tidak bisa dibantah.

Apa sih, Sadewa?! gerutu Maha dalam hati, merasa sangat jengkel pada Sadewa.

“Benar, Maha? Kamu masih ada kerjaan, ya?” tanya Danu lagi, ia berusaha memastikan. Ia menjadi ragu, dan mencoba mengerti mengapa tiba-tiba Sadewa begitu tegas.

"Ak—" Maha baru saja hendak menjawab, tapi kata-katanya terhenti ketika Sadewa kembali menyela dengan nada yang lebih tajam.

"Iya, kenapa memangnya? Dan kenapa kamu seolah tidak percaya. Dia sekretaris saya, dan… pulang saja sendiri. Kenapa harus mengajak Maha untuk pulang bersama? Kamu pikir Maha itu anak kecil?" Ucap Sadewa, suaranya melengking dan sedikit mengandung kemarahan, seolah ingin menunjukkan siapa yang memiliki kendali dalam hal ini.

Maha merasa tubuhnya membeku sejenak, terkejut dengan cara Sadewa yang tiba-tiba turun tangan. Namun, di dalam dirinya, ada rasa tidak berdaya. Sadewa seolah sudah memutuskan semuanya tanpa memberinya ruang dirinya untuk berbicara.

“Ng... bukan seperti itu, Pak Sadewa. Saya hanya ingin mengantarkan Maha pulang saja, karena biasanya memang seperti itu. Iya, ‘kan, Maha?” Danu tampak terkejut, tapi mencoba tetap tenang dan menjelaskan dengan sopan. Ia pun beralih menatap Maha, memberikan kesempatan padanya untuk mengklarifikasi.

Maha, merasa serba salah. Sehingga ia pun mengangguk cepat guna menjaga situasi agar tidak semakin tegang. "Iya, betul!" jawab Maha cepat, meski dalam hatinya merasa sebal.

Suasana menjadi lebih kaku, seperti ada ketegangan yang mengambang di udara. Maha bisa merasakan tatapan Sadewa yang berat, sementara Danu yang tampak lebih santai.

Sadewa segera menoleh pada Maha, matanya menyipit tajam, seolah menyampaikan sesuatu yang hanya ia mengerti. Tapi Maha, yang merasa lelah itu pun tak memperdulikan tatapan tajam Sadewa. Dengan cepat ia meraih tasnya, siap untuk pergi dari tempat yang terasa semakin sesak.

“Maha…” Sadewa memanggil dengan suara keras dan penuh perintah.

Langkah Maha terhenti, perlahan ia menoleh ke arah Sadewa. Sorot matanya tenang meski dalam hati ada rasa kesal yang tak tertahankan. Sementara tatapan Sadewa yang begitu tegas, seolah menunggu reaksinya. Namun, ia tetap diam tidak ingin menanggapi lebih jauh.

Disisi lain, Danu yang berdiri tidak jauh dari Maha dan Sadewa, pun merasa sangat kikuk dan juga merasa tidak nyaman dengan ketegangan yang mulai terasa. “Ah, ya sudah kalau begitu saya pulang duluan, Pak. Maha, karena kamu masih ada kerjaan, jadi aku pulang duluan, ya. Mungkin lain waktu saja. Selamat malam.” ucap Danu akhiri nya. Senyuman canggung terukir di wajahnya sebelum dia berbalik berjalan menjauh, meninggalkan Sadewa dan Maha dalam keheningan yang menggantung.

Di sudut ruangan yang sepi. Sadewa masih berdiri di tempatnya dengan sorot matanya yang tak lepas dari Maha. Sedangkan Maha tetap teguh pada keputusannya, bahwa ia tidak ingin berada dalam satu ruangan dengan Sadewa. Ia lebih memilih untuk pergi bersama Danu, sesuatu yang jelas membuat Sadewa sedikit tersinggung.

“Maha…” Suara Sadewa rendah namun tegas.

Maha, yang sudah bersiap dengan tasnya, pun kembali menghentikan langkahnya. Ia menghela napas panjang dan berbalik, menatap Sadewa dengan ekspresi yang jelas-jelas menunjukkan rasa kesalnya. “Pak, seharian saya kerja terus, dan pulang pun Anda masih kasih saya kerjaan? Anda serius, Pak?” ucap Maha. Wajahnya memerah, matanya menatap Sadewa dengan tajam, seolah ingin menantang sikap pria itu yang seolah tidak tahu batasan.

“Apa kamu tidak membaca isi kontrak yang sudah kamu tanda tangani kemarin?!” Sambar Sadewa, menyudutkan Maha dengan pertanyaan yang tajam.

Apa yang dimaksud Sadewa? Batin Maha. Ia langsung mengerutkan kening, bingung dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut pria itu.

“Jadi benar kamu tidak membacanya dengan teliti?” ujar Sadewa dengan nada yang lebih dalam, sambil melangkah mendekati Maha. Melihat reaksi Maha yang terdiam dan hanya bisa mengerutkan alisnya, tampak semakin merasa puas. Senyumnya, yang terkesan setengah mengejek, muncul di wajahnya, begitu tipis namun tajam.

Langkah Sadewa semakin mendekat, dan dalam jarak yang hanya beberapa sentimeter, Maha bisa merasakan setiap hembusan nafas Sadewa yang menempel di kulit wajahnya. Rambut-rambut halus di sekitar wajahnya ikut bergerak, terbawa angin napas Sadewa yang sedikit terengah. Sepersekian detik, tubuhnya terperanjat, seolah ada rasa takut yang menjalar di dalam dirinya.

Tiba-tiba, tangan besar Sadewa mencengkram rahang Maha dengan kuat, membuat Maha terpaksa mendongak untuk menatap Sadewa dengan mata yang terbelalak. Sedang Sadewa mendekatkan wajahnya, hidungnya hampir menempel pada hidung mancung Maha. Suasana itu sangat mencekam, seolah setiap detik yang berlalu menggetarkan jantung Maha.

“You are mine, Maha...” bisik Sadewa dengan suara rendah. “Dalam surat kontrak itu, tertulis dengan jelas bahwa kamu tidak boleh berinteraksi terlalu intens dengan pria manapun. Apalagi dengan Danu. Saya tidak suka,” imbuh Sadewa dengan mata tajam menatap Maha.

“Tapi ini hanya sebuah kontrak, Pak Sadewa. Kita hanya berpura-pura,” Maha berusaha menjelaskan, suara tegang terdengar jelas di akhir kalimatnya.

“Saya, kan, sudah bilang, kamu harus membaca surat itu dengan teliti. Jangan hanya melihat nominalnya saja tanpa mempelajari isinya,” jelas Sadewa terkekeh ringan.

Deg!

Apa maksudnya? Apakah Sadewa sedang merendahkan ku? Menyindirku karena aku mata duitan?! Brengsek! Pikir Maha dengan amarah yang tiba-tiba membuncah dalam dada.

Perlahan, Sadewa melepaskan cengkraman nya di rahang Maha, memberi sedikit ruang bagi Maha untuk bernapas. Tubuh Maha langsung merasakan lega, meskipun gemetaran.

Sialan, batin Maha dengan ketakutan yang semakin dalam. Ia berusaha mengatur nafas, namun tetap saja tubuhnya tak bisa menghindar dari perasaan cemas yang menyelimutinya.

Maha diam. Ia berusaha untuk menahan diri, tidak bisa lagi menjawab apa-apa. Diamnya terasa sangat berat, bibirnya terkatup rapat seperti ada sesuatu yang menahan setiap kata yang hendak keluar dari mulutnya. Sedangkan Sadewa, di hadapannya, tetap dengan ekspresi tenang, seakan menikmati ketegangan ini.

“Banyak poin dalam kontrak itu, Maha, tapi saya akan beri kamu inti dari beberapa poin yang penting. Intinya, walaupun hubungan kita hanya ‘pura-pura,’ tapi kamu tetap milik saya. Kita harus bersikap seperti sepasang kekasih, dan jika kamu tidak melaksanakan apa yang seharusnya kamu lakukan sesuai kontrak, kamu harus mengganti bayaran yang saya berikan setiap bulannya, dua kali lipat,” jelas Sadewa dengan nada tenang, seolah memberi penekanan pada setiap kata.

Ganti rugi... Dua kali lipat?! Ucap Maha dalam hati.

Maha mengepalkan tangan dengan perasaan marah yang berkecamuk. Bagaimana bisa aku terjebak dalam hubungan ini—hubungan yang sebenarnya pura-pura, tapi harus berperilaku seperti pasangan nyata? Pikirnya.

Maha merasa dirinya seolah-olah sedang dijebak oleh Sadewa, namun di saat yang sama, ia tidak bisa menolaknya begitu saja. Semua ini terasa begitu rumit, membuat perasaannya bercampur aduk, penuh kebingungan dan rasa ketakutan. Ganti rugi yang harus ia bayar jika tidak mematuhi kontrak. Itu membuatnya menciut, takut membayangkan betapa besar jumlah yang harus ia bayar jika ia melanggar.

“Jadi, bagaimana, Maha? Masih mau pulang sama Danu?” tanya Sadewa, diiringi dengan tawa kecil yang sulit untuk ditangkap maknanya.

Pertanyaan itu benar-benar membungkam Maha, seolah pilihan yang tidak bisa dihindari. Seperti sebuah jebakan yang harus ia terima.

“Tidak, Pak Sadewa…” jawab Maha pelan.

“Bagus, ayo ikut saya.” perintah Sadewa, tanpa menoleh.

Sadewa tersenyum puas, senyuman kemenangan yang penuh perhitungan. Dia tahu betul bahwa saat ini, Maha tidak akan berani menolak apapun yang ia perintahkan. Sebab, semua sudah terkendali di tangannya.

Sementara Maha, merasa dirinya terikat benang tak kasat mata oleh Sadewa. Ia yang marah pun menginjak-injak lantai marmer, heels-nya berdecit keras menggema di ruangan sunyi itu. Setiap hentakan heels itu seperti mewakili rasa kesal yang membengkak di dalam dadanya. Suara heels yang beradu dengan lantai semakin memecah keheningan, seolah memanggil perhatian Sadewa.

Tapi bukannya menoleh atau memanggil Maha karena tak kunjung beranjak dari tempatnya, Sadewa malah berhenti sejenak, ia tersenyum penuh kemenangan.

“Setelah ini, saya akan lebih sering melihatnya seperti itu... pasti sangat menyenangkan.” gumam Sadewa dengan sisa tawa yang masih terdengar, suaranya penuh dengan keangkuhan, seolah menikmati setiap detik dari kekuasaan yang ia miliki atas Maha.

1
Bunda Mimi
thor bab 21 dan 22 nya kok sudah tidak ada ya
Bunda Mimi: ok siap thor
Lucky ᯓ★: terimakasih atas dukungannya kak, dan mohon maaf jika nanti update ulang dengan isi yang sama. aku revisi karena biar lebih nyaman untuk dibaca, juga ini saran dari editor saya
total 4 replies
Wayan Sucani
Luar biasa
Wayan Sucani
Rasanya berat bgt
catalina trujillo
Bikin ketawa sampe perut sakit.
Lửa
Ngakak sampai sakit perut 😂
Kiyo Takamine and Zatch Bell
Asiknya baca cerita ini bisa buat aku lupa waktu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!