Bagaimana jika kamu menjalankan kehidupan yang sama tapi semuanya tidak serupa lagi?
Ini adalah kisah dari Gill, wanita muda yang mengalami jatuh bangun di kehidupannya saat harus memilih antara jujur atau menyembunyikan identitasnya sebagai ibu muda dari seorang anak di luar nikah.
Apakah semua ini sudah digariskan oleh takdir?
Saat Gill harus terpuruk kembali oleh perbuatan sang mantan, dia mendapatkan pertolongan dari pria bernama Vince, orang yang memiliki latar belakang yang kuat dan ternyata juga telah memiliki seorang anak.
Vince menghadapi permasalahan yang melilitnya dan tepat disaat itu, dia juga membutuhkan wanita yang bisa membantunya.
Apakah Vince hanya mengambil keuntungan dari Gill dengan mendekatinya? Atau adakah yang Vince inginkan lebih dari itu?
Kisah keduanya seperti anggrek dan mawar. Yang satu bertahan hidup untuk tumbuh di berbagai medan sulit dan berusaha untuk mekar, dan yang satunya lagi terlihat cantik mempesona, tapi durinya yang tajam bisa melukaimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jiel Ruu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Yang mulai berjalan bagian (4)
"Ibu lihat! Anggreknya sudah mekar! Cantiknya, bunganya mirip sama ibu,"
"Wah, Leon bisa saja. Kalau bunganya mirip ibu, terus Leon mirip apanya dong?"
"Leon mirip potnya! Ibu lihat? Kata nenek, kalau bunga yang tumbuh di pot itu tidak akan diganggu rumput liar. Jadi sama kayak Leon, nanti kalau sudah besar pasti jaga ibu. Ngak ada yang boleh ganggu ibu Leon,"
Terasa samar, kesadaranku mulai terkumpul. Aku mulai bisa merasakan lagi ujung jari-jari tanganku. Rasanya agak dingin. Kepalaku terasa sakit yang berdenyut dan bibirku sangat terasa kering. Aku mencium bau cairan antiseptik yang menyengat hidungku ; bau ruangan rumah sakit.
"Anda sudah sadar?"
Aku mendengar suara yang agak asing bagiku. Aku melihat kearahnya. Dia sedang bersandar di tepi tempat tidur. Aku hanya mengangguk. Suara yang ku punya sepertinya terasa berat untuk keluar.
"Saya tidak menyangka anda akan nekat berlari ke arah pria itu,"
Ah, ... Aku jadi mengingatnya sekarang. Saat Raian ingin menghantam Renata dengan botol bir saat itu, aku langsung melindungi Renata. Sepertinya aku terhantam di kepala.
"T- Terimakasih," ucapku sambil melihat ke arahnya.
"Bukan apa-apa. Saya hanya ingin membantu. Jangan khawatir. Teman anda sudah aman dan sekarang dia sedang berada di bagian pelayanan untuk mengurus administrasi. Dan pria yang kemarin itu sudah di bawa ke kantor polisi."
Aku sangat lega karena masalahnya sudah selesai dan Renata ternyata baik-baik saja. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan senekat itu menyerang kami. Aku menyadari tangan pria ini terluka, dan sepertinya memang di balut perban juga.
"Apa tangan anda baik-baik saja?"
"Ya. Ini baik-baik saja. Jangan khawatir. Perhatikan kondisi anda sendiri juga."
Ucapannya sedikit dingin. Tapi aku tau kalau maksudnya itu baik walaupun tatapannya tajam dan sepertinya bisa menusukku kapan saja. Tuan, anda sedikit menyeramkan, pikirku.
"Apa anda ada keperluan lain?"
Aku bertanya padanya. Tentunya harus begitu, karena pertama aku tidak mengenalnya. Kedua, urusan penyerangan semalam sudah ditangani kepolisian. Dan yang ketiga adalah tidak ada alasan dia menemaniku disini. Sudah pasti aku merasa curiga bukan?
Ekspresinya sedikit terkejut mendengar pertanyaanku tadi. Aku tau jelas sepertinya dia juga bukan suka rela berada di sini. Ini bukan drama romantis yang biasa tayang lho!
"Ahh, saya tidak tau maksud anda bertanya seperti itu, *Kamu kan sudah saya tolong*
Tapi berkat teman anda yang satunya, saya sampai tidak bertindak apa-apa."
Saat Gill dibawa ke rumah sakit karena pendarahan, Renata menyeret pria itu agar menemani mereka di situ. Dan dengan air mata yang bercucuran dan berbicara tanpa henti, Renata menyuruh dia menunggu Gill sampai siuman. Pria itu benar-benar tidak berkutik dibuatnya.
Dasar Ren! Bisa-bisanya dia menyuruh orang asing untuk menjagaku. Kalau aku diapa-apain bagaimana?! Ya emang sih, orang ini sudah tolongin kita kemarin.
Rasanya sedikit lucu mengingat Renata sampai melakukan hal itu, dan pria ini tidak bisa melawan.
"Tapi terimakasih sekali lagi, berkat bantuan anda juga sekarang kami baik-baik saja,"
"Ya. Bukan masalah besar. Karena anda sudah sadar, saya akan mencari teman anda dan memberitahukannya."
Dia berjalan ke arah pintu keluar. Aku melihat punggungnya dari belakang. Pria dengan punggung yang cukup lebar. Rambutnya berwarna hitam pekat dan kulitnya bersih.
"Ah! Maaf! Saya belum tau nama anda,"
"Vince. Saya biasa dipanggil dengan nama itu. Jaga kesehatan anda. Sampai jumpa lagi."
Dan dia benar-benar pergi. Bayangannya telah benar-benar menghilang dari balik pintu itu. Terimakasih sudah menolong kami, semoga Tuhan selalu memberkati orang baik seperti anda.
Tidak berselang lama, aku mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Dia membuka pintu dengan mendadak dan suaranya langsung memenuhi seluruh ruangan.
"Huaaaahh!! Gill !!!"
Renata langsung meraih tanganku dan menggenggamnya. Dia menangis semakin kuat, sampai ada cairan bening keluar dari hidungnya. Pfftt! Aku mau ketawa, tapi kasihan sama anak ini.
"Syukurlah kamu udah sadar Gill! Aku khawatir banget! Kamu sampai pendarahan hebat dan masuk UGD. Dokter bilang luka sobeknya cukup dalam jadi harus dijahit. Tanganmu juga lebam. Aku benar-benar minta maaf! Semua gara-gara aku!"
Aku tau perasaan bersalah yang Renata rasakan saat ini. Tapi itu bukan apa-apa. Aku merasa ingin melindunginya karena dia sahabatku yang berharga. Aku sudah menganggapnya sebagai saudariku sendiri.
"Sudah, sudah. Yang penting aku sudah ngak apa-apa kan? Jadi sudah cukup nangisnya. Simpan tenagamu untuk nanti. Tapi aku kecewa banget Ren, semalam kita ngak makan apa-apa, perutku sedih banget nih~"
"Ihh kamu ya! Udah begini masih bisa bercanda!" Renata kesal dan memukul tanganku dengan kencang berulang kali.
"Aduh! Gila kamu ya! Orang lagi sakit malah dipukul, hahaha!"
"Sakit apaan masih bisa ketawa begitu!"
"Hahaha! Aku kasihan sama kamu yang nangis begitu. Ihh jorok! Ingusnya netes nih!"
Aku bersyukur akan hidupku sampai saat ini. Saat aku terbayang Leon sebelum aku sadar, hatiku terasa lebih ringan. Hidupku kali ini adalah untuknya. Aku akan berjuang keras untuk putraku ini.
Saat keadaanku mulai membaik, aku di ijinkan pulang dari pihak rumah sakit. Renata yang bolak-balik mengurus administrasi dan segala obat-obatan benar-benar bekerja keras. Dia juga dipanggil menjadi saksi saat sidang di kepolisian terkait insiden penyerangan Raian di bar kala itu.
Tante Emila yang mengetahui kalau aku terluka jadi setiap hari dia menelpon Renata untuk menanyakan kabarku. Secara pribadi aku meminta Renata dan Tante Emila untuk merahasiakan ini dari keluargaku dan mereka menyetujuinya.
Aku tidak ingin keluargaku menjadi khawatir karena pertama mereka jauh dariku. Ibu juga pasti akan terkejut kalau mendengar ini. Selama aku baik-baik saja sekarang, itu sudah lebih dari cukup. Aku juga seperti biasanya membalas pesan dari Leon dan mengabari ibuku tentang keseharian di sini.
Pria bernama Vince itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Yang ku dengar dari Renata, dia kebetulan mampir di bar tersebut dan saat dia naik ke lantai atas, dia melihat kami yang sedang terpojok. Informasi mengenai dia juga tidak ada karena Renata lupa menanyakannya saking sibuknya merawatku.
"Pokoknya kamu istirahat saja sekarang. Ini perintah!"
Saat kembali ke rumah, Renata menginap di sini untuk menemaniku. Tapi bukannya merasa tenang, aku malah semakin sakit kepala!
"Tapi Ren, aku udah baikan lho. Aku udah ngak masuk kerja 1 minggu. Masa kamu suruh aku tiduran saja,"
"Pokoknya ngak boleh! Luka lebam di tangan kamu saja belum hilang gimana mau balik kerja?! Mama juga sudah kasi kamu izin cuti 2 minggu supaya kamu benar-benar sehat,"
"Aku udah sehat Ren, beneran deh,"
"Ini semua sayangku padamu tau! Pokoknya, setelah 2 minggu kamu baru boleh masuk kerja. Ini kompensasi! Gajimu juga ngak akan dipotong, jadi kamu cukup istirahat yang banyak!"
"Sayang apanya, yang ada kamu nyiksa aku nih,"
Niatnya baik sih, tapi kalau begini terus aku juga ngak enak sama sesama karyawan di sana. Dan aku juga ngak tahan sama ocehan Renata setiap hari!
"Ngomong-ngomong soal itu, teman-teman yang lain pada nitip salam dan kado buat kamu. Katanya semoga cepat sembuh. Ya, ngak termaksud Yuni sih,"
"Aha ha ha, ... . Kado terbaik dari dia sih yang kuharap dia ngak ngerjain aku lagi di toko. Makasih Ren, udah kamu bawain. Nanti di grup Nine Chat (NC) aku balas salam mereka deh,"
"Itu terserah kamu saja. Tapi aku bener-bener maaf. Gara-gara aku, kamu jadi begini Gill."
"Bukan apa-apa kok. Aku malah senang, hubungan kamu sama Raian benar-benar berakhir."
"Ah! Aku muak sama cowok itu. Waktu aku mutusin dia pas kepergok main sama cewek lain di hotel, aku sudah bener-bener ngak mau lihat muka dia lagi. Apalagi pas pertemuan di sidang kepolisian terakhir, walau dia memohon bagaimanapun aku ngak akan cabut tuntutan. Gara-gara dia, Gill ku ini jadi begini!"
"Aku senang deh kalau semua udah selesai beneran. Tapi kasihan kamunya ngak jadi kencan sama Dave,"
"Pfftt! Apaan sih. Yang lebih penting itu kan kamu, kita kan teman sehidup semati!"
"Ah, aku ngak mau kalau kamu ngajakin mati, hahaha!"
Kami tertawa bersama. Serentak, sepertinya Renata ingat sesuatu. Diapun mengambil sebuah buket bunga mawar merah yang di bawanya tadi bersama kado dari teman-teman di toko.
"Nyaris saja aku lupa. Ini kado spesial buat kamu nih,"
"Wah, ini dari siapa Ren? Rasanya ngak mungkin kalau dari kak Nita atau yang lainnya di toko?"
"Hehehe, mau coba tebak ini dari siapa?"
Aku berpikir keras siapa yang mungkin menitipkan bunga ini. Setahuku, yang sangat akrab denganku di toko selain Renata adalah Yuanita. Di bagian atas juga ada beberapa teman cuma aku yakin bukan mereka. Kalau Renata sendiri, dia tidak mungkin memberiku ini. Siapa ya? Kok aku ngak kepikiran satu orangpun ya?
"Aku ngak tau Ren. Otakku teralu lelah untuk berpikir,"
"Dih! Mentang-mentang orangnya jauh jadi ngak dipikirin nih,"
"Emang siapa sih? Serius deh, aku ngak ketebak nih,"
"Nyerah nih? Tapi jangan kaget lho kalau aku kasi tau, hehehe."
"Kalau mau kasi tau, ngomong saja. Jangan buat penasaran deh,"
"Bunganya dari Dokter Federick."
"Hah?! Apa? Yang benar kamu?!"
Seriusan ini?! Gila, aku ngak kepikiran sama sekali! Federick? Yang benar saja?!
"Cieee, lihat mukamu merah lho~. Aku ngak nyangka, kayaknya Dokter Federick serius ngincer kamu deh."
"Kamu bohong sama aku ya? Emangnya dia tau aku sakit?"
"Buat apa aku bohong, untung kagak, nambah dosa iya. Hahaha! Nih begini nih, kalau ngak salah 3 hari yang lalu dia toko lagi, kalau di lihat sih dia nyariin kamu. Terus Nita bilang kalau kamu masuk rumah sakit, jadi kamu ngak masuk. Terus siang ini pas aku balik dari toko, aku ketemu dia di parkiran. Dia bawa bunga dan minta tolong titip ke kamu kalau sempat. Dia juga bilang titip salam semoga cepat sembuh,"
"Ahh, begitu ya,"
"Pffttt!! Pangeran, bunga yang kamu berikan sekarang seindah hatiku ketika menerimanya. Hahaha!"
"Dasar, seneng kamu ya,"
Hatiku sedikit berdebar mendengar ini dari Federick. Rasanya sedikit sulit di percaya tapi ini benar-benar nyata. Tapi apa aku boleh... .
"Gill, ada kartu ucapan di belakangnya nih, coba lihat deh,"
Aku melihat ke belakang dalam lembaran yang melapisi buket bunga ini. Benar saja, ada sebuah kartu ucapan di dalamnya. Sepertinya di tulis tangan sendiri oleh Federick.
"Wah, ada kartu ucapan segala, bacain dong,"
"Ini aku yang dapat kok kamu yang lebih penasaran sih, hahaha. Iya, coba sini biar aku baca."
*Salam hangat untuk yang di sana. Maaf saya tidak bisa menjenguk anda di rumah sakit, tapi saya berharap anda segera pulih.
Saya memilih bunga ini sambil memikirkan anda. Semoga Anda menyukainya.
Salam, Federick.*
•
•
•
Jika berkenan, novel saya menunggu kehadiran author untuk mampir sejenak. Aleesya: My Hubby, My KetBok datang memberi bintang 5 untuk kakak. Semangat ya, GBU😇🙏🏻
salken dari GADIS TIGA KARAKTER