NovelToon NovelToon
Menikah Karena Jebakan

Menikah Karena Jebakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Nikahmuda / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:34.5k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.

Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.

Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.

Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?

Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22.

Setetes airmata jatuh di pipi Bu Safira. Bukan menangisi Maura, tetapi rasa penyesalan yang menyesakkan batinnya terhadap anak kandungnya sendiri. Perkataan Ayah Bastian tempo hari telah menamparnya begitu telak. Menyadarkan dirinya bahwa selama ini memang kurang memperhatikan Zeya. Dan ia berniat memperbaiki hubungan dengan putrinya dimulai dari sekarang.

"Maafkan ibu, Ze. Apa pun akan ibu lakukan untuk menebus semua kesalahan ibu kepadamu," bisiknya lirih, suaranya bergetar menahan sesak di dada.

Ia mengusap airmata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangan, lalu kembali menatap Maura yang masih belum sadarkan diri.

"Ini belum seberapa dibanding luka yang kamu torehkan untuk Zeya," gumamnya dalam hati. "Tapi ibu nggak akan membalasmu dengan cara yang sama. Ibu hanya ingin kamu merasakan bahwa setiap perbuatan pasti ada akibatnya."

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat.

Ceklek...

Pintu UKS kembali terbuka. Petugas masuk sambil membawa segelas air hangat dan beberapa peralatan medis. Melihat Bu Safira masih setia duduk di samping ranjang, ia tersenyum tipis.

"Terima kasih sudah menunggunya, Bu," ucapnya ramah.

Bu Safira menarik napas panjang lalu kembali memasang raut wajah penuh kekhawatiran.

"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya berharap Maura segera sadar."

Petugas itu mengangguk. Ia kembali memeriksa denyut nadi serta tekanan darah Maura.

"Syukurlah kondisinya mulai stabil. Mungkin tidak lama lagi dia akan siuman."

Tak lama kemudian, jari-jari Maura bergerak pelan. Kelopak matanya berkedip beberapa kali hingga akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya masih buram. Ia menatap langit-langit ruangan beberapa detik, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"I... I-bu...?" lirihnya saat melihat Bu Safira duduk di samping ranjang.

Bu Safira tersenyum tipis, lantas menggenggam tangan Maura dengan lembut. "Iya, Sayang. Syukurlah, kamu sudah sadar," katanya begitu penuh perhatian.

Maura menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Kilasan demi kilasan kejadian di halaman sekolah kembali memenuhi kepalanya. Sorakan, cacian, dan tatapan intimidasi dari ratusan pasang mata. Tubuhnya seketika bergetar.

"A-ku..." bibirnya gemetar hebat. "Semua orang... membenciku...." Airmatanya mengalir tanpa bisa dibendung.

Petugas UKS segera menenangkan, "Jangan dipikirkan dulu. Kondisimu belum pulih. Kamu harus banyak beristirahat."

Maura memejamkan mata rapat, tetapi justru suara-suara hinaan itu kembali menggema di dalam kepalanya. Dadanya naik turun menahan sesak.

Bu Safira menatap wajah Maura dengan pandangan yang sulit diartikan. Di hadapan petugas UKS, ia tampak begitu sabar dan penuh kasih. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia sangat menyesalkan perbuatan putri sambungnya tersebut dan berharap agar gadis itu sadar bahwa setiap kejahatan, sekuat apa pun disembunyikan, pada akhirnya akan meminta pertanggungjawaban.

.

.

.

Desa Sekar

Di halaman rumah panggung sederhana mereka, Daniel masih sibuk memotong dan mencabuti rumput yang tumbuh liar. Keringat membasahi pelipisnya, sebab matahari siang mulai terasa terik.

Tak jauh darinya, Zeya duduk di beranda sambil memandangi layar ponsel. Sudut bibirnya tak henti-hentinya terangkat membentuk senyum tipis.

Daniel yang melihat itu mengernyitkan dahi. "Ada apa dengannya? Kenapa, senyum-senyum sendiri?" benaknya bertanya-tanya.

Pemuda itu menghentikan pekerjaannya lalu mencuci tangan di pancuran air dekat tangga kemudian menghampiri Zeya.

"Dari tadi aku lihat kamu nggak berhenti tersenyum," ujarnya seraya menuangkan air dari teko ke dalam gelas.

Zeya terkekeh pelan. "Jenna baru saja kirim pesan."

Daniel meneguk airnya terlebih dahulu, lalu menatap istrinya penasaran. "Pesan, apa?"

"Katanya... Maura pingsan di sekolah," jawabnya sembari menatap suaminya.

Daniel menghentikan gerakannya seketika. "Pingsan?"

Zeya mengangguk. "Iya. Tadi Bu Shandra minta klarifikasi soal kasus video itu. Kata Jenna, Maura baru mau diinterogasi, eh...malah pingsan duluan."

Daniel menghela napas pelan. "Lalu?"

Zeya mengembuskan napas perlahan. "Jenna curiga dia cuma pura-pura aja supaya dikasihani. Soalnya banyak juga yang berpikir begitu."

Daniel terdiam beberapa saat, lalu duduk di samping Zeya. "Mau pura-pura ataupun benar-benar pingsan, sekarang itu bukan lagi hal yang penting."

Zeya menoleh. "Kenapa?"

"Kalau memang dia merasa bersalah, ya, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, bagaimanapun kondisinya," jawab Daniel. Pandangannya menatap jauh ke depan, ke jalanan yang tampak lengang.

Zeya mengangguk pelan. "Aku juga berpikir begitu. Jujur saja... aku memang merasa sedikit lega."

Daniel menggenggam tangan istrinya dengan hangat. "Wajar kalau kamu merasa begitu. Tapi jangan sampai kita terus memelihara kebencian."

"Aku lebih senang melihat kamu tersenyum karena kehidupan kita sekarang daripada karena melihat orang lain jatuh."

Ucapan itu membuat senyum Zeya langsung memudar.."Aku nggak mau munafik. Jujur aku merasa bersyukur dia mendapatkan balasan atas perbuatannya. Karena apa yang dia terima belum seberapa dibanding apa yang kita alami."

Wajah Zeya berubah datar. "Kita harus menikah muda dan terjebak di sini. Yang seharusnya kita masih duduk di bangku sekolah bersama teman-teman, tinggal sama orangtua. Tapi sekarang...?"

Daniel terdiam merasa menyesal telah salah bicara. "Maaf, aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu, aku hanya..."

"Sudahlah...nggak perlu dibahas lagi," sambar Zeya cepat. "Aku akan berusaha menerimanya, kalau memang ini takdirku."

....

Sore harinya, langit Desa Sekar tampak begitu cerah. Angin semilir berembus membawa aroma khas tanah dan pepohonan. Daniel berencana mengajak Zeya berkeliling kampung sebagai penebus rasa bersalahnya. Dia ingin gadis pujaannya itu kembali tersenyum. Karena baginya, melihat senyum Zeya jauh lebih berharga daripada apa pun.

"Ze, jalan-jalan, yuk!" ajak Daniel lembut.

"Mau ke mana?" tanya Zeya datar.

"Keliling kampung, aja. Mumpung suasananya mendukung," jawab Daniel sembari meraih topinya, bersiap menuruni tangga.

Zeya langsung mengangguk setuju. Mereka pun berjalan berdampingan menyusuri jalanan desa yang diapit hamparan sawah menghijau. Ketika Daniel menggandeng tangannya ia pun tak menolak.

"Kamu masih marah padaku?" tanya Daniel hati-hati.

"Siapa yang marah, sih? Aku kan, cuma menyuarakan isi hatiku." Jawaban Zeya membuat Daniel tersenyum.

Dia lantas mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali sambil tersenyum narsis, membuat hati Zeya menghangat.

Beberapa warga yang berpapasan menyapa mereka dengan ramah. Keduanya membalas sapaan itu dengan senyum ramah pula.

Langkah mereka akhirnya terhenti di depan sebuah lahan kosong yang cukup luas. Rumput liar tumbuh hampir menutupi permukaannya. Di beberapa sudut bahkan tampak semak belukar yang mulai meninggi.

Daniel berdiri cukup lama sambil mengamati hamparan lahan itu.

"Kamu lihat, apa ?" tanya Zeya penasaran.

Daniel menunjuk ke arah lahan tersebut. "Lihat lahan itu."

Zeya mengikuti arah telunjuk suaminya. "Ada apa dengan lahan itu?"

"Sayang aja, lahan seluas itu dibiarkan terbengkalai seperti ini," sahut Daniel.

Remaja itu kemudian berjongkok, mengambil sedikit tanah, lalu meremasnya perlahan di telapak tangan. "Sepertinya tanah ini juga subur."

Zeya ikut berjongkok di sampingnya. "Darimana kamu tahu kalau tanahnya subur?"

"Aku belum bisa memastikan, sih. Tapi dari teksturnya, sepertinya cukup bagus untuk ditanami."

Daniel kembali berdiri sambil memandang ke seluruh penjuru lahan. "Ze, kamu setuju nggak kalau kita berkarir sebagai petani?"

Zeya tersenyum dengan pertanyaan Daniel. "Kamu serius? Nggak ingin kuliah dulu?"

Daniel terkekeh kecil. "Belajar bisa didapat dari mana saja. Tapi kesempatan nggak datang dua kali. Lagipula, bisnis keluarga kita semua bergerak di bidang industri dan niaga. Jadi Nggak salahnya jika kita bergerak di bidang pertanian."

"Dan lagi jadi petani nggak harus kita yang terjun langsung menggarap lahan. Asal kita punya modal cukup dan tekad kuat, kita pasti bisa sukses."

Zeya menatap Daniel serius. "Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu, dan siap menaklukkan tantangan? Sebab menjadi petani itu nggak gampang."

Daniel tersenyum, meraih tangan Zeya lalu menggenggamnya erat. "Asal kamu selalu bersamaku, mendukungku, aku sangat yakin."

1
Aditya hp/ bunda Lia
mereka menunda kuliah demi usaha mereka di desa yang terus berkembang
𝐈𝐬𝐭𝐲
mereka semangat dengan usaha barunya sehingga menunda kuliah, semoga mereka bisa sukses...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Patrick Khan
danil zeya gk kembali ke sekolah kah🤔🤔
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nanti sekolah lagi
total 1 replies
Patrick Khan
bahar kau ribet bgt sih🤣🤣🤣
Nar Sih
panen pertama berhasil juragan
Aditya hp/ bunda Lia
si Bahar dah tua di bui juga bukannya sadar malah tambah gila ... ini lagi anak buahnya sama2 gila
vj'z tri
hei Bambang lu B2 juga ambil kan ? hayooo ngaku 🫵/Slight/
vj'z tri
Alhamdulillah 🤲🤲🤲onah sadar
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤲🤲🤲🤲🤲
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
bahwa ... kata Moms jemurannya masih harus di gantung meski kemarau tapi belum kering gantung .. ya gantung .... 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: biasa kan pas lagi seru dan pinisirin bingit ... gantung 😁
total 2 replies
Nar Sih
malu kan bu yuni 🤣slh sendiri punya mulud pedes klau ngomong
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
makanya jangan suka nyiyir dan julid kamu teh yuniiiiii .....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
dgn hadir nya zheya daniel di desa tersebut pssti lbih maju dan makmur
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Nar Sih
siap momz ,udah hadir disana👍🥰
Nar Sih
zhe dan maura udh semakin akur yaa,tmbh dekat satu dan yg lain nya ,
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: alhamdulillah
total 1 replies
Nar Sih
semoga ujian nya lancar dan bisa lulus dgn nilai terbaik ya daniel zhee☺️
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin mam
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kirain karya baru lagi ternyata mbak ayang
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣 terkecoh
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
semangat ujiannya Niel ze
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih bund🫰
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya hukuman yg pas untuk mu juragan bahar dan bnr kta ayah mu zhe ,hati,,dgn juragan bahar yg pasti gak akan diam sja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!