NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Udara subuh masih membalut kota dengan rasa dingin yang menusuk tulang. Jam dinding di area ruang tengah kontrakan baru Adinda baru menunjukkan pukul empat lewat seperempat. Suasana di luar rumah masih sangat hening, diselimuti kegelapan yang tenang sebelum pendar merah di ufuk timur menyapa.

​Adinda sudah membasuh wajahnya dengan air wudu yang segar, menunaikan dua rakat salat sunah yang penuh kekhusyukan. Di atas sajadahnya, Adinda berzikir pelan, menghirup udara menjelang subuh yang bersih tanpa beban. Tidak ada lagi rasa panik, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan akan suara langkah kaki yang menakutkan atau bentakan tajam yang dulu kerap menyambut paginya di rumah Bagas.

​Usai melipat mukena, Adinda melangkah pelan menuju kamar Dimas. Ia memutar gagang pintu kayu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.

​Di dalam kamar yang beraroma harum dan bersih itu, Dimas tertidur sangat pulas. Tubuh kecilnya terbungkus selimut tebal di atas kasur busa baru yang empuk kasur berkualitas yang sengaja dibelikan Adinda agar anaknya bisa tidur dengan nyaman, tidak seperti dulu ketika mereka harus beralas kasur tipis yang keras. Wajah bocah itu tampak begitu damai, napasnya teratur, dan di samping lengan kecilnya, tas sekolah baru pemberian Pakde Danu masih didekapnya erat-erat.

​Adinda mendekat perlahan, berlutut di samping tempat tidur. Ia mengusap poni rambut Dimas yang lembut dengan kasih sayang yang meluap. Dikecupnya kening sang buah hati dengan durasi yang lama, menyalurkan rasa syukur yang tak terhingga karena Sang Pencipta telah memberikan mereka ruang berlindung yang penuh kedamaian ini.

"Tidur yang nyenyak ya, Jagoan Ibu... Mulai hari ini, biarlah Ibu yang berjuang merajai fajar," bisik Adinda di dalam hatinya seraya tersenyum manis.

​Ia kemudian merapikan letak selendang selimut Dimas, memastikan kipas angin tidak mengarah langsung ke tubuh anaknya, lalu melangkah keluar dan menutup pintu kamar itu rapat-rapat.

​Tepat pukul tiga dini hari, suara deru sepeda motor berhenti halus di depan pagar kontrakan. Adinda yang sudah siap dengan pakaian dapur yang rapi gamis kain yang nyaman dilapisi apron celemek berwarna krem bersih serta jilbab yang diikat rapi ke belakang segera melangkah keluar untuk membuka pintu depan.

​Di balik pagar, Mbak Sri dan Mbak Sumi berdiri dengan senyum lebar yang merekah. Mereka berdua mengenakan pakaian sederhana yang bersih, membawa tas belanja kain, dan tampak begitu bersemangat.

​"Assalamualaikum, Mbak Dinda!" sapa Mbak Sri dengan nada berbisik penuh kesadaran karena hari masih sangat pagi.

​"Waalaikumsalam! Ayo masuk, Mbak Sri, Mbak Sumi. Masuk dulu," sambut Adinda hangat seraya membukakan pintu pagar lebar-lebar.

​Mbak Sumi melangkah masuk seraya menyapukan pandangannya ke sekeliling halaman dan teras kontrakan baru Adinda. "Masya Allah, Mbak Dinda... Rumah barunya bersih banget, asri. Dapur kateringnya di mana, Mbak?"

​"Ayo langsung ke belakang, Mbak. Semua bahan baku dan peralatan sudah aku persiapkan sejak semalam," jawab Adinda seraya mengarahkan kedua rekannya menyusuri lorong samping menuju area dapur katering.

​Area dapur di kontrakan baru ini sengaja dirancang khusus oleh Adinda. Dapur tersebut berukuran cukup luas, memiliki sirkulasi udara yang sangat baik dengan jendela-jendela besar, serta dilengkapi dua meja stasiun kerja berbahan stainless steel yang kokoh, kompor mawar bertekanan tinggi untuk memasak porsi besar, serta rak-rak bumbu yang tertata sangat rapi.

​Mbak Sri dan Mbak Sumi terpana melihat kerapian dan kesiapan dapur tersebut. Mata mereka berbinar-binar.

​"Masya Allah, Mbak Dinda! Ini mah benar-benar sudah seperti dapur restoran profesional!" puji Mbak Sri kagum seraya mencuci tangannya bersih-bersih di bak cuci piring.

​"Iya, Mbak Sri. Supaya kerja kita enak, higienis, dan cepat. Hari ini kita punya pesanan pertama sebanyak seratus kotak nasi untuk acara syukuran kantor cabang perbankan di pusat kota. Semua pesanan harus siap dikemas dan diambil armada pengantar jam sembilan pagi tepat," terang Adinda seraya membagikan celemek dan penutup kepala steril kepada Mbak Sri dan Mbak Sumi.

​"Siap, Mbak Dinda! Kami ikuti semua arahan Komandan!" sahut Mbak Sumi bersemangat, menyambut celemek itu dengan penuh antusias.

​Proses pengerjaan katering resmi dimulai. Dapur yang semula sunyi kini berubah menjadi panggung kerja yang penuh irama. Suara desis kompor bertekanan tinggi menyatu harmonis dengan denting ketukan pisau di atas talenan kayu yang mantap.

​Adinda membagi tugas secara efisien dan terstruktur.

​Mbak Sri dipercaya memegang stasiun pemotongan dan persiapan bahan segar. Jemarinya yang cekatan mengupas kentang, memotong buncis, serta mengiris wortel dengan ukuran yang sangat presisi sesuai standar Dapur Adinda.

​Mbak Sumi mengurus bagian penggorengan dan marinasi. Dengan sigap, ia menggoreng potongan ayam ungkep bumbu kuning dalam wajan raksasa hingga berwarna keemasan yang sempurna dan renyah di luar namun tetap lembut di dalam.

​Adinda sendiri memegang kendali atas racikan bumbu utama dan kuah gulai, serta mengawasi kualitas rasa (quality control).

​Aroma rempah yang begitu kaya perpaduan antara serai, daun jeruk, ketumbar, dan santan segar yang mendidih mulai memenuhi seluruh ruangan dapur. Tidak ada keraguan dalam setiap gerakan Adinda. Ia meracik garam, gula, dan penyedap alami dengan keahlian luar biasa dari jemarinya yang sudah terlatih bertahun-tahun.

​"Mbak Dinda," panggil Mbak Sri di sela-sela tangannya merajik sayuran. "Jujur ya, waktu kemarin dengar kabar Mbak Dinda menang di pengadilan dan langsung mulai usaha sebesar ini, saya sama Sumi sampai merinding terharu. Orang-orang di kompleks kontrakan lama kita pada membicarakan Mbak Dinda, lho."

​Adinda yang sedang mengaduk kuah gulai ayam beraroma gurih menoleh seraya tersenyum tipis. "Membicarakan gimana, Mbak Sri?"

​"Ya pada puji Mbak Dinda!" timpal Mbak Sumi cepat seraya membalikkan ayam goreng di wajan. "Katanya Mbak Dinda itu pahlawan wanita zaman sekarang. Sudah sabar bertahun-tahun, begitu keluar dari rumah suami yang pelit itu, langsung bisa berdiri di atas kaki sendiri. Apalagi pas dengar Mbak Dinda sama sekali ndak minta harta gono-gini... wah, orang-orang pada geleng-geleng kepala kagum! Katanya mantan suaminya itu langsung mati kutu!"

​Adinda tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan. "Ah, Mbak Sumi ini bisa saja. Saya ndak bermaksud bergaya pahlawan atau apa. Saya cuma mau hidup tenang. Harta orang lain kalau kita paksa minta, belum tentu membawa berkah buat kita dan anak. Mending kerja keras sendiri begini, halal, hati tenang, dan rasanya puas."

​"Betul banget itu, Mbak," sahut Mbak Sri mantap. "Hasil keringat sendiri itu rasanya seratus kali lebih nikmat dan bikin tidur nyenyak!"

​Di tengah riuhnya kesibukan dapur, pukul setengah tujuh pagi, Adinda menyempatkan diri mengelap tangannya dengan serbet bersih. Ia memelankan langkahnya menuju kamar tengah untuk mengecek keadaan Dimas.

​Pintu kamar dibuka pelan. Tampak Dimas sudah terbangun dari tidurnya. Bocah laki-laki itu sedang duduk di atas kasur busanya yang empuk, merenggangkan kedua tangannya seraya mengucek matanya yang masih agak sembab.

​"Selamat pagi, Jagoan Ibu," sapa Adinda lembut dari ambang pintu, menyunggingkan senyuman paling hangat.

​Mata Dimas langsung terbuka lebar begitu melihat ibunya. "Ibu! Selamat pagi!"

​Dimas langsung beranjak dari kasurnya, menguji keempukan kasur barunya dengan melompat kecil sebelum menghampiri Adinda. "Wah, Bu... kasur baru ini empuk banget! Dimas semalam tidur ndak bangun-bangun sama sekali, ndak ada nyamuk, hangat lagi!"

​Adinda tertawa bahagia, merengkuh tubuh kecil Dimas dan mencium pipinya yang harum. "Alhamdulillah kalau Dimas tidurnya nyenyak. Ya sudah, Dimas mandi ya, terus pakai baju santai. Ibu sudah siapin sarapan nasi uduk sama telur dadar di meja makan depan."

​"Siap, Bu! Abis mandi Dimas mau sapa Tante Sri sama Tante Sumi di belakang!" seru Dimas antusias sebelum berlari kecil menuju kamar mandi.

​Melihat keceriaan anaknya yang memancar tanpa beban, rasa lelah akibat berdiri berjam-jam di dapur mendadak sirna begitu saja dari tubuh Adinda. Inilah energi yang ia butuhkan untuk terus melangkah maju.

​Pukul delapan pagi, seluruh komponen masakan telah matang sempurna. Meja stasiun kerja stainless steel kini disulap menjadi lini perakitan nasi kotak yang sangat rapi dan higienis.

​Tiga puluh menit berikutnya adalah proses pengemasan (packing) yang sangat solid.

​Mbak Sri mencetak nasi putih pulen hangat yang wangi menggunakan cetakan kerucut bersih.

​Adinda menata lauk utama berupa Ayam Goreng Lengkuas dan Gulai Telur, lengkap dengan pelengkap Sambal Goreng Ati Kentang yang memikat selera.

​Mbak Sumi melengkapi kotak dengan Oseng Buncis Bakso segar, kerupuk renyah dalam bungkus terpisah, serta sendok dan tisu steril.

​Kotak-kotak nasi berwarna krem elegan dengan stiker logo "Katering Dapur Adinda - Cita Rasa Hangat Keluarga" tertata rapi dalam tumpukan-tumpukan yang presisi. Seratus kotak nasi berhasil diselesaikan tepat pada pukul delapan empat puluh lima menit lima belas menit lebih awal dari batas waktu yang ditentukan!

​Tepat pukul sembilan kurang lima menit, sebuah mobil kurir pengangkut barang berhenti di depan rumah. Pengemudi kurir dibantu oleh Mbak Sri dan Mbak Sumi menata kotak-kotak katering tersebut ke dalam kendaraan dengan sangat hati-hati.

​Saat mobil kurir itu melaju meninggalkan halaman kontrakan membawa pesanan pertamanya, Adinda berdiri di teras depan. Ia menghembuskan napas lega yang sangat panjang seraya menyatukan kedua telapak tangannya di dada.

​"Alhamdulillah ya Allah... Produksi hari pertama selesai dengan sempurna," bisik Adinda tulus.

​Mbak Sri dan Mbak Sumi yang berdiri di sampingnya menyapu keringat di kening mereka seraya tersenyum bangga.

​"Wah, luar biasa Mbak Dinda! Kerjanya rapi, cepat dan ndak grusa-grusu. Saya yakin pemesan pasti bakal puas dan ketagihan pesan lagi!" ujar Mbak Sri mantap.

​Adinda menoleh ke arah kedua rekannya. "Ini semua berkat kerja keras dan kekompakan Mbak Sri sama Mbak Sumi juga. Terima kasih banyak ya sudah bantu aku dari subuh tadi."

​Ia kemudian menyerahkan amplop harian yang berisi upah layak serta uang makan bagi Mbak Sri dan Mbak Sumi. Kedua wanita itu sempat terkejut melihat nominalnya yang sangat menghargai keringat mereka.

​"Masya Allah, Mbak Dinda... Ini kebanyakan buat harian," tutur Mbak Sumi terharu.

​"Ndak apa-apa, Mbak Sumi, Mbak Sri. Rezeki Dapur Adinda adalah rezeki kalian juga. Jangan ditolak ya," balas Adinda dengan senyum tulus.

​Siang harinya, setelah dapur kembali dibersihkan hingga mengkilap dan Mbak Sri serta Mbak Sumi pamit pulang untuk beristirahat, suasana kontrakan kembali tenang.

​Adinda duduk di meja kerjanya yang baru sebuah meja kayu kecil sederhana di sudut ruang tengah yang dilengkapi dengan sebuah buku catatan keuangan tebal, kalkulator, dan laptop bekas yang masih sangat layak pakai peninggalan usahanya dulu.

​Hari ini, Adinda mulai menata seluruh aspek kehidupannya secara profesional dan sistematis.

​Manajemen Keuangan Usaha & Pribadi.

Ia memisahkan dengan sangat tegas antara rekening bank khusus operasional Katering Dapur Adinda dan rekening tabungan pribadi untuk masa depan Dimas. Setiap rupiah modal, margin keuntungan, hingga dana darurat ia catat dengan rapi dalam pembukuan alur kas (cash flow).

​Pendidikan dan Kebutuhan Dimas.

Adinda menyusun daftar perlengkapan sekolah Dimas yang sudah tuntas dibeli, serta mengalokasikan dana khusus untuk biaya bulanan sekolah swasta baru Dimas yang akan dimulai minggu depan.

​Pemasaran dan Pengembangan Usaha.

Sambil meminum teh hangat, Adinda membuka ponselnya. Ia mulai mengunggah foto-foto estetis dari sajian nasi kotak seratus porsi pagi tadi ke akun media sosial resmi kateringnya, melengkapi deskripsinya dengan kata-kata yang menarik dan profesional.

​Tidak lama setelah unggahan itu terbit, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari salah satu pelanggan baru yang memesan pagi tadi.

"Mbak Adinda! Terima kasih banyak ya, nasi kotaknya enak banget! Bos dan teman-teman kantor saya pada puji ayam goreng lengkuas sama gulai telurnya. Bumbunya meresap sampai ke dalam, bersih lagi kemasannya. Minggu depan tanggal 15 kami mau pesan lagi 150 kotak buat acara rapat bulanan ya Mbak!"

​Adinda menatap layar ponsel itu dengan mata berbinar-binar. Rasa bangga dan kepuasan batin yang tak tertandingi membuncah di dalam dadanya. Usaha kerasnya, keikhlasannya melepaskan masa lalu, dan keberaniannya melangkah keluar dari lingkaran penderitaan kini mulai membuahkan hasil manis yang nyata.

​Dimas melangkah mendekat dari kamar, membawa buku gambarnya dan duduk di samping Adinda. Bocah itu menyandarkan kepalanya di lengan Adinda yang sedang mengetik balasan pesan pelanggan.

​"Ibu lagi sibuk ya?" tanya Dimas lembut.

​"Ibu lagi catat pesanan baru buat minggu depan, Sayang," jawab Adinda seraya merangkul pundak anaknya. "Dimas lapar? Mau Ibu usapkan nasi?"

​"Ndak, Bu. Dimas masih kenyang makan nasi uduk tadi," sahut Dimas manis. "Dimas cuma mau duduk di dekat Ibu aja."

​Adinda tersenyum, mengecup puncak kepala anaknya. Dari jendela ruang tengah yang terbuka separuh, angin siang berembus sejuk, membawa aroma kebebasan dan kedamaian yang begitu menentramkan jiwa.

​Hari ini adalah bukti nyata bagi Adinda. Ia telah berhasil melewati masa-masa tergelap dalam hidupnya. Di kontrakan sederhana ini, bersama anak tercinta dan usaha yang dibangun dari titik nol dengan martabat yang tinggi, Adinda tidak hanya sedang melanjutkan hidup ia sedang membangun sebuah panggung masa depan yang kokoh, teratur, dan penuh dengan keberkahan.

1
ros
sukses konon,rumah pun x ada
Rina Arie
good
JasmineA
dimas anak kecil?bukan nya udah smp ya?umurnya di awal 14 tahun....masa 14 tahun masih anak kecil sih
blcak areng: bab berapa kak🙏
total 1 replies
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
falea sezi
kok tamat pdhl nunggu keajaiban siapa tau dinda bisa hamil. lagi
blcak areng: maaf ya kak Karna memang harus tamat
total 1 replies
Elina thea
tamat~~~padahal masih seru~~~
blcak areng: maaf ya Kak karena memang harus tamat
total 1 replies
Elina thea
loh...bukannya adinda masih punya kakak yg bernama Danu yah...harusnya izin dulu kali sebelum menentukan tempat dan tanggal jadinya...
stela aza
duda punya masalalu cerai hidup ,,, Nnti giliran udh nikah sama adinda si mantan pada datang ganggu hubungan mereka 🤭
Elina thea
terima aja herdi adinda... perceraian yg terjadi dgn ayahnya Dimas itu kan masalalu...begitu juga dgn herdi yg memiliki masalalu,jadikan masalalumu sebagai pelajaran hidup...dan jadikan herdi sebagai masa depanmu juga Dimas.
Heni Setiyaningsih
semoga Herdi jodoh terbaik untuk Adinda 😍
Elina thea
kayaknya mau ada yang di lamar nich...🤭
Elina thea
gak masuk di akal dech...aku ngerti kalo karyawan bermasalah di blacklist dari sesama perusahaan karna ada istilah partner kerja,teman atau karna berkuasa soal jabatan dan juga uang,tapi masa sampe toko kecil,toko bangunan,di pasar aja sampe di larang/blacklist...apa hubungannya coba,kan yg suruh blacklist itu pengusaha bukan presiden... presiden aja gak segitunya juga kali,dia bekerja juga harus hati-hati...tapi ini pengusaha serasa pemilik dunia,gak masuk di akal....
Heni Setiyaningsih
mungkin kamu akan dilamar mas Herdi🤭🤭
Agunk Setyawan
kualat Sama mantan mantunya
falea sezi
😒 mampus lu
falea sezi
🤣🤣sudah kere
Zhafran Althaf
menyala saldonya Dinda setelah ketuk palu
apakabar bagassss enak kedinginan diluar sanaaa🤣🤣🤣
Zhafran Althaf
pakek tanya salah saya apa nohhhh tanya sama author 😄😄😄
Zhafran Althaf: aku pas ngetik aja ngakak kak apa lagi kakak waktu ngetik narasi ceritanya otomatis lebih ngakak lagi😄😄😄
total 2 replies
Anonim
GAK USAH BAWA BAWA NAMA TUHAN LO
Arieee
mantapppppp👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!