NovelToon NovelToon
Membatasi Rasa

Membatasi Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?

Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.

Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang dari Masa Lalu

Suasana di lantai lima gedung Dafril Group siang itu tampak sibuk seperti biasa. Suara ketukan kibor, dering telepon yang bersahutan, dan langkah kaki para karyawan yang lalu-lalang mendominasi koridor berlantai marmer tersebut. Di dalam ruang kerjanya yang berdinidng kaca besar, Rayyan sedang fokus memeriksa laporan analisis pasar untuk kuartal kedua. Kemeja kerjanya yang berwarna biru dongker digulung rapi hingga siku, menampilkan kesan profesional namun tetap kasual.

Tok! Tok!

Pintu kayu jati ruangan itu diketuk pelan sebelum akhirnya terbuka. Papanya, Pak Dafril, melangkah masuk dengan senyuman lebar, didampingi oleh seorang gadis yang berpenampilan sangat modis dengan setelan blender formal berwarna pastel dan rambut kecokelatan yang digerai rapi.

"Rayyan, sibuk sebentar?" panggil Pak Dafril, memecah keheningan ruangan.

Rayyan mendongak, lalu segera berdiri dari kursi kebesarannya. "Enggak, Pa. Ini baru selesai memeriksa laporan. Ada apa, Pa?"

"Ini, Papa mau mengenalkan rekan kerja baru yang mulai hari ini akan mengisi posisi Manajer Pengembangan Bisnis di divisimu. Dia baru saja menyelesaikan magister bisnisnya di Surabaya," ucap Pak Dafril sambil menepuk bahu gadis di sampingnya. "Kamu pasti sudah tidak asing lagi. Ini Ghea, putrinya Pak Baskoro, pengusaha sukses dari Jember yang waktu itu sering bekerja sama dengan kita."

Rayyan sempat terpaku sejenak. Ingatannya mendadak ditarik mundur ke beberapa tahun lalu, saat ia masih duduk di bangku kuliah tingkat awal dan belum mengenal Zaza. Ghea adalah adik tingkatnya waktu SMA yang sejak dulu terkenal sangat vokal dalam menunjukkan ketertarikannya pada Rayyan. Bahkan saat Rayyan sudah kuliah di Malang, Ghea beberapa kali sengaja datang dari Jember hanya untuk ikut kumpul bersama anak-anak motor atau sekadar mengirimkan perhatian-perhatian kecil yang selalu diabaikan Rayyan demi ego mudanya.

Ghea melangkah maju, mengikis jarak di depan meja kerja Rayyan dengan sebuah senyuman manis yang tampak begitu percaya diri. Ia mengulurkan tangan kanannya yang dihiasi jam tangan mewah.

"Hai, Kak Rayyan. Lama banget ya gak ketemu. Gimana kabarnya?" sapa Ghea, suaranya terdengar renyah dan begitu akrab, persis seperti gayanya waktu SMA dulu.

Rayyan tersenyum tipis, menjaga kesopanan profesionalnya. Namun, alih-alih menyambut uluran tangan itu dengan jabat tangan erat seperti kebiasaan kelas atasnya yang dulu, Rayyan memilih menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sembari mengangguk hormat. Sebuah kebiasaan baru yang ia pelajari dari Zaza untuk menjaga batasan dengan perempuan yang bukan mahramnya.

"Alhamdulillah, kabar baik, Ghea. Selamat datang di Dafril Group," jawab Rayyan dengan nada suara yang tenang namun berjarak.

Ghea sempat menarik kembali tangannya dengan raut wajah sedikit kikuk, namun dengan cepat ia menguasai diri dan kembali tersenyum manis. Matanya yang tajam sempat melirik sekilas ke arah cincin perak yang melingkar di jari manis tangan kanan Rayyan.

"Wah, Pak Dafril... ternyata Kak Rayyan sekarang sudah banyak berubah ya. Lebih... religius," goda Ghea sambil menoleh ke arah Pak Dafril, mencoba mencairkan atmosfer yang terasa sedikit kaku baginya.

Pak Dafril terkekeh pelan. "Hahaha, iya, Ghea. Rayyan sekarang sudah jadi kepala keluarga, jadi pembawaannya memang sudah harus matang. Ya sudah, Papa tinggal dulu ya. Rayyan, tolong bantu Ghea untuk menyesuaikan diri dengan berkas proyek kita yang di Batu kemarin."

"Iya, Pa. Biar nanti sekretarisku yang antarkan berkasnya ke ruangan Ghea," sahut Rayyan.

Setelah Pak Dafril keluar dari ruangan, suasana di dalam kubikel kaca itu mendadak terasa sunyi. Ghea tidak langsung pergi menuju ruang kerjanya sendiri, melainkan berjalan mendekat ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan Kota Malang dari ketinggian.

"Gak nyangka ya, Kak. Jalur takdir malah bawa aku kerja di sini, satu divisi lagi sama Kakak," ucap Ghea, memecah keheningan dengan nada suara yang terdengar sedikit melankolis. Ia berbalik, menatap Rayyan yang sudah kembali duduk di kursi kerjanya. "Waktu aku dengar kabar Kak Rayyan menikah setahun lalu... jujur aku kaget banget. Aku kira, gosip soal Kakak yang selalu dingin sama cewek di kampus itu karena Kakak lagi fokus nungguin seseorang dari kalangan kita. Ternyata..." Ghea menggantung kalimatnya, menyiratkan rasa penasaran sekaligus kekecewaan yang sudah ia simpan sejak masa SMA.

Rayyan menghentikan jemarinya yang hendak membuka dokumen di laptop. Ia menatap Ghea dengan pandangan yang lurus dan tegas, namun sama sekali tidak ada riak kemarahan di sana.

"Dunia kita memang luas, Ghea. Tapi skenario Allah selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan hati yang tepat," jawab Rayyan, suaranya terdengar sangat berwibawa sebagai seorang atasan sekaligus seorang suami. "Zaza adalah jawaban dari semua doa-doa sepertiga malamku. Dia yang mengajariku arti membatasi rasa demi mengejar rida-Nya. Jadi, apa yang kamu lihat dari diriku hari ini... semuanya adalah buah dari proses yang aku lalui bersama istriku."

Ghea terdiam, matanya menatap lekat-lekat ekspresi wajah Rayyan yang begitu tenang dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk masa lalu. Ada rasa sesak yang tipis di dadanya, menyadari bahwa pemuda yang ia kejar sejak seragam putih abu-abu dulu kini telah sepenuhnya berubah menjadi milik orang lain, bukan karena status sosial atau harta, melainkan karena sebuah ikatan spiritual yang tak kasatmata.

"Begitu ya..." Ghea mengembuskan napas pelan, mencoba tersenyum profesional meskipun hatinya terasa sedikit getir. "Hehe, beruntung banget ya perempuan bernama Zaza itu. Ya sudah kalau begitu, Kak. Aku permisi ke ruanganku dulu. Mohon bantuannya ya untuk proyek ke depan."

"Iya, Ghea. Semangat untuk hari pertamamu," balas Rayyan dengan senyuman formal.

Begitu pintu ruangannya kembali tertutup rapat, Rayyan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menarik napas panjang, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Ia membuka aplikasi pesan singkat, menatap ruang obrolannya dengan Zaza yang baru saja mengirimkan foto buket bunga matahari terbaru dari toko RayyZa Florest beberapa menit lalu.

Rayyan tersenyum tulus, jemarinya dengan cepat mengetikkan balasan:

Bunganya cantik sekali, Sayang. Tapi masih kalah cantik sama yang merangkainya. Tunggu aku pulang kerja ya, nanti aku bawakan camilan kesukaanmu dari kota.

Rayyan meletakkan kembali ponselnya dengan perasaan yang sangat lega. Kehadiran Ghea dan bayang-bayang masa lalunya siang itu sama sekali tidak menggoyahkan benteng hati yang telah ia bangun di atas hamparan sajadah sepertiga malam. Baginya, riuh dunia luar boleh saja datang silih berganti, namun janjinya pada rida Allah dan cintanya pada Zaza telah menetap kokoh, tak akan pernah goyah oleh apa pun lagi.

1
Nurul
mending ta'aruf saja, Zaza
Nurul
mulai terbayang, cepat beristighfar
Xlyzy
kalau merasa ga pantas seharusnya harus bisa merubah diri agar pantas untuk nya
Xlyzy
Dilema si ini jadi nya mau nolak gimana sama orang tua
Xlyzy
Tapi ga harus di jodohin jugak sih cukup kenalkan mereka dulu kalau mereka saling suka baru nikahkan mereka
Cimol krispy
padahal temenan aja nggak di larang loh za
Sarifah_Aini97: bukan mahram kak
total 1 replies
Cimol krispy
jadi dari tadi kamu bikin heboh koridor karna nyariin Zaza ya rayyan
Miu.Nuha
barangkali jodohny ya itu rayyan
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
Miu.Nuha
makanya...
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
Filan
doanya pakai gue /Facepalm/
Sarifah_Aini97: Wkwk iya nih, biar doanya terasa lebih akrab dan personal langsung ke pencipta-Nya 🤣
total 1 replies
Filan
susah sih ya, kalau dia masih belom bisa sholat. gimana bisa jadi imam?
Filan
langsung sholat malam aja nih... sholat wajibnya gimana, Ray? /Chuckle/
Filan
menghindar nih ceritanya
Filan
skateboard apa udah jadi bagian dirinya? 😅
Aquarius97 🕊️
bagus Rayyan.. awalnya berubah karena Zaza, tapi lama2 dari hati yaa

. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe
Three Flowers
semoga doa Rayyan terkabul, karena dia sudah meminta dengan jalan yang benar
Three Flowers: okay kakak
total 2 replies
Three Flowers
Rayyan dapat hidayah sejak bertemu Zaza
Three Flowers
bau-bau mau dijodohkan, apalagi calonnya baru lulus dari luar negeri
Three Flowers
seperti dikejar hantu, ya😅
Mega Siregar
hindari siapa tuh, za🤭?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!