NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 04 - Surat Perjanjian di Atas Darah

​Pendingin ruangan di dalam kantor hukum Wirayuda & Associates yang terletak di lantai 30 sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, berdesis konstan.

Udara di dalam ruangan rapat utama itu terasa sangat kaku, sedingin dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan belantara beton Jakarta di bawahnya.

Di atas meja rapat berbahan kayu mahoni yang mengilat, tergeletak tiga bundel dokumen tebal bersampul biru tua.

​Aryo duduk di salah satu sisi meja, melonggarkan ikatan dasinya yang mendadak terasa mencekik leher.

Di sampingnya, duduk Baskoro, pengacara pribadi sekaligus orang kepercayaan Aryo yang telah mengurus segala legalitas bisnis propertinya selama satu dekade terakhir.

Di hadapan mereka, kursi yang disediakan untuk pihak Sekar masih kosong.

​"Yo, kamu yakin dengan semua klausul ini?" Baskoro berbisik, nadanya sarat akan keraguan profesional. Ia mengetuk-ngetuk jemarinya di atas draf dokumen yang diberi judul Surat Perjanjian Pembagian Aset dan Pengalihan Saham.

​Aryo mengusap wajahnya yang tampak lelah. Bayangan Maya yang menangis histeris tadi pagi, meratapi status calon bayinya, terus membayangi pikirannya.

"Aku tidak punya pilihan, Bas. Maya terus menekanku. Kondisi kehamilannya bisa-bisa terganggu kalau dia stres. Aku harus menyelesaikan ini dengan Sekar secepatnya."

​Baskoro menghela napas, lalu membalik halaman dokumen tersebut.

"Tapi klausul di Bab Tiga ini keterlaluan, Aryo. Kamu mengalihkan kepemilikan tujuh puluh persen saham di PT Artha Raya Propertindo—yang merupakan induk dari semua proyekmu di Surabaya—ke atas nama Maya. Terus kamu juga memangkas hak kelola Sekar atas yayasan keluarga dan tanah pusaka di Banyuwangi, lalu memindahkannya ke dalam aset pribadi yang bisa kamu agunkan ke bank. Ini bukan sekadar pembagian aset yang adil untuk perceraian, Yo. Ini tuh sudah termasuk pemiskinan sepihak. Tentunya sangat merugikan Sekar."

​"Sekar tidak butuh uang sebanyak itu, Bas!" potong Aryo, suaranya meninggi karena frustrasi. Ia mencoba mencari pembenaran atas keserakahannya sendiri. "Dia hidup di desa, pengeluarannya tidak ada. Rumah joglo peninggalan ayahnya tetap menjadi miliknya, aku tidak mengusirnya dari sana. Aku juga akan memberinya uang bulanan yang cukup untuk hidup mewah di kampung. Tapi untuk bisnis ini ... ini hasil kerja keras otakkku di Jakarta, Bas. Maya dan anakku yang lebih berhak menikmatinya di masa depan."

"Aryooo, Aryo. Biarpun kata seorang pemimpin sebuah negara hidup di desa itu tidak pakai dolar, tetap saja semua orang ingin hidup dengan layak. Sekar memang orang yang sederhana, tapi bukan berarti dia akan menerima begitu saja."

​Baskoro menatap kliennya dengan pandangan iba sekaligus kecewa. Sebagai orang luar, Baskoro tahu betul sejarah berdirinya PT Artha Raya.

Modal awal perusahaan itu berasal dari penjualan tanah adat milik Ki Demang, ayah Sekar, yang diberikan dengan sukarela demi melihat menantunya sukses.

Pengaruh politik dan spiritual Ki Demang di Jawa Timur pula yang membuat jalan Aryo mulus tanpa hambatan birokrasi pada tahun-tahun pertama.

Mengeluarkan Sekar secara paksa dari perusahaan yang ia bangun dengan darah dan air mata keluarganya sendiri adalah sebuah tindakan pengkhianatan yang paling kotor.

​"Satu lagi ...," Baskoro melanjutkan. "Jika Sekar membawa draf ini ke pengacara lain, kamu bisa dituntut atas dugaan penipuan dan penggelapan aset dalam perkawinan, Aryo."

Baskoro memperingatkan dengan tegas.

​"Dia tidak akan melakukannya," sahut Aryo dingin, meskipun ada segumpal rasa bersalah yang mendadak menyangkut di tenggorokannya. "Sekar itu wanita penurut. Dia tidak paham hukum modern. Dia pasti akan menandatanganinya jika aku yang memintanya sendiri."

​Tepat ketika kalimat itu selesai diucapkan, pintu ruang rapat terbuka.

​Seorang wanita melangkah masuk dengan keanggunan yang sunyi. Sekar. Ia tidak datang bersama pengacara dari kota, tidak pula ditemani oleh kerabatnya. Ia datang sendirian.

Penampilannya sangat kontras dengan kemewahan kantor hukum tersebut. Sekar mengenakan kebaya kutubaru beludru berwarna hitam pekat dengan kain jarik bermotif Gajah Oling yang membungkus bagian bawah tubuhnya.

Rambutnya disanggul rapi tanpa cela. Wajahnya polos tanpa riasan mahal, namun memancarkan aura ketenangan yang justru membuat seisi ruangan itu mendadak terasa terintimidasi.

​Aryo tersentak, langsung berdiri dari kursinya.

"Sekar ... kamu sudah sampai. Silakan duduk."

​Sekar tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang sopan, lalu menarik kursi di seberang Aryo.

Gerakannya begitu halus, tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun antara kaki kursi dan lantai marmer.

Kehadirannya membawa aroma yang aneh ke dalam ruangan ber-AC itu—aroma harum dupa esensial yang samar bercampur dengan bau tanah setelah hujan.

​Baskoro berdeham, mencoba mencairkan suasana yang mendadak membeku.

"Selamat siang, Ibu Sekar. Terima kasih atas kehadirannya. Perkenalkan saya Baskoro, yang mengurus dokumen ... emm, kesepakatan bersama antara Ibu dan Pak Aryo terkait rencana perpisahan secara baik-baik."

​Sekar menatap Baskoro dengan sepasang mata bulatnya yang hitam pekat, seolah bisa membaca setiap kebohongan yang tersembunyi di balik jas mahalnya.

"Selamat siang, Pak Baskoro. Langsung saja. Di mana saya harus membacanya?"

​Dengan tangan sedikit gemetar, Baskoro menyodorkan berkas draf dokumen tersebut ke hadapan Sekar.

​Selama 15 menit berjalan, ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang menyiksa. Hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik perlahan oleh Sekar.

Dari kursinya, Aryo memperhatikan istri pertamanya itu dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Ia bersiap-siap jika Sekar tiba-tiba menangis, menjerit, atau melemparkan dokumen itu ke wajahnya. Aryo sudah menyiapkan skenario argumen untuk membela diri.

​Namun, Sekar tetap tenang. Lembar demi lembar yang berisi pasal-pasal tirani yang merampas hak-haknya dibaca dengan saksama tanpa ada satu pun kerutan di dahinya. Wajahnya sedatar permukaan air telaga yang mati.

​Setelah selesai membaca lembar terakhir, Sekar meletakkan dokumen itu kembali ke meja. Ia menatap Aryo lurus-lurus. Tatapan yang membuat Aryo merasa telanjang dan kerdil.

​"Semua aset di Surabaya, saham induk perusahaan, dan hak kelola tanah pusaka di Banyuwangi ... kamu ambil semuanya, Mas? Benar begitu?" tanya Sekar, suaranya begitu lembut, hampir menyerupai bisikan, namun bergema dengan sangat jelas di telinga Aryo.

​Aryo berdeham, mencoba menegakkan punggungnya untuk mengembalikan wibawanya yang runtuh.

"Ini ... ini demi kelangsungan perusahaanku, Sekar. Maya sedang hamil, dan anak itu butuh jaminan masa depan yang jelas di kota ini. Kamu yang hidup di kampung tidak butuh struktur saham seperti ini, kan? Aku berjanji akan menjamin seluruh kebutuhan hidupmu di sana."

​Sekar tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata.

"Anak. Jaminan masa depan. Iya, aku mengerti, Mas. Seorang anak memang sangat berharga."

Sekar menjeda kalimatnya, kepalanya mengangguk-angguk dengan ritme pelan, kemudian beralih menatap Baskoro.

"Di mana saya harus tanda tangan?" tanyanya.

​Baskoro tertegun.

"Ibu ... Ibu tidak keberatan dengan klausul pasal pembagian ini? Ibu tidak ingin merevisinya atau berkonsultasi dengan pihak lain dulu?"

​"Tidak perlu," jawab Sekar tenang. "Apa yang tertulis di kertas ini hanyalah angka-angka di atas dunia manusia. Jika suamiku merasa itu bisa membahagiakan wanita mudanya, aku akan memberikannya."

​Baskoro segera membuka halaman terakhir dokumen, menunjuk kolom di atas meterai. Ia menyodorkan sebuah pena mahal bermerek Montblanc milik Aryo ke arah Sekar.

​Sekar pun meraih pena tersebut. Namun, entah bagaimana, saat jemarinya menyentuh ujung logam pena yang tajam, ia seolah sengaja menekannya keras-keras pada ibu jarinya sendiri. Hingga ....

​Cles.

​Kulit ibu jari kanan Sekar tergores.

Darah segar berwarna merah pekat—yang tampak terlalu gelap untuk ukuran darah normal—langsung merembes keluar dengan cepat.

Baskoro terkejut dan hendak mengambil tisu, namun Sekar mengangkat tangannya, menghentikan sang pengacara dengan gerakan anggun.

​Dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah tidak merasakan sakit sedikit pun, Sekar menempelkan ibu jarinya yang berdarah tepat di atas baris namanya pada dokumen tersebut, sebelum akhirnya menggoreskan tanda tangan di atas cairan merah yang basah itu.

Darah Sekar merembes ke dalam serat kertas putih, menciptakan noda kemerahan yang meluas, menenggelamkan meterai dan tulisan hukum di bawahnya.

​"Sudah selesai," ucap Sekar, meletakkan kembali pena itu. Noda darah juga membekas di gagang pena mahal milik Aryo.

​Aryo menatap noda darah di atas dokumen itu dengan perasaan ngeri yang amat sangat. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas paru-parunya.

"Sekar ... jarimu ... berdarah. Mari Mas bant—"

​"Tidak usah, Mas," potong Sekar. "Ini hanya luka kecil."

Sekar bangkit dari kursi, lalu merapikan kain jarik Gajah Oling-nya. Sebelum melangkah pergi, ia menatap Aryo untuk terakhir kalinya di ruangan itu.

"Perjanjian ini sudah sah. Di atas kertas, dan di atas darah. Kamu telah mengambil semua yang bukan milikmu lagi, Mas. Maka dari itu, jangan pernah menyesal jika alam semesta mulai menuntut bayaran yang setimpal dari apa yang kamu tanam hari ini."

​Setelah mengatakan itu, Sekar berbalik dan berjalan keluar dari ruang rapat. Pintu tertutup rapat di belakangnya, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruangan.

​Baskoro menatap dokumen yang kini ternoda darah itu dengan wajah pucat.

"Aryo ... ini ... ini aneh sekali. Lihat darahnya, kenapa tidak mengering, malah makin menghitam seperti ini?"

​Aryo tidak menjawab. Ia terpaku menatap dokumen di depannya. Di atas kertas putih itu, darah Sekar perlahan berubah warna menjadi hitam pekat seperti tinta cumi, mengeluarkan bau anyir yang sangat tajam yang mendadak memenuhi ruangan rapat ber-AC tersebut.

1
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
kinoy
dah lah speechless AQ..nr x ni baca crt mistis tp penjelasannya runtut jls
kinoy
ah tmbh seru aj ni crt
kinoy
cerdik x tuh detektif
Buna
ya Allah, jauh amat typo-nya. dari sekarat ke sejarah 😆😆😆
kinoy
wah..mulai ancur2an ni
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kenapa Mbah Sukri tahu soal kisah hidup Sekar yaa 🤔

Apakah cerita penghianatan Aryo telah beredar luas di desa Sekar?
Buna: Mbah Sukri bukan orang biasa, Kak. Penjelasan ada di Bab selanjutnya. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!