Daniella Dania wanita tangguh yg hidup sebatang kara harus mengalami peristiwa yang membuat dunianya runtuh kesucian nya di ambil oleh pria yg tidak dia kenal di malam kelulusan nya karna jebaka seseorang yg tidak menyukai nya di sebuah hotel nega A
Calix Matthew Batrix pria super tampan,cuek, dingin tak tersentuh orang paling berpengaruh baik di dunia atas atau bawah CEO BATRIX GRUP dan pemimpin mafia Eropa dan asia BLACK DRAGON.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNCLE DAN TRIPLE
Ceklek.
Rafael melongok ke dalam dan melihat kakaknya tertidur pulas karena kelelahan, sementara tiga bayi mungil itu sedang berteriak-teriak di boks mereka.
"Duh, jagoan-jagoan Uncle kenapa ini? Cup, cup," bisik Rafael iba. Ia melihat wajah lelah Dania dan tidak tega membangunkannya
Dengan sigap, Rafael menggendong ketiganya sekaligus—karena mereka masih sangat mungil, ia bisa mendekap mereka di lengan kiri dan kanannya. "Ayo ikut ke kamar Uncle Rafa aja ya, jangan bangunin Mommy."
Rafael membawa mereka ke dapur lebih dulu. Ia menghangatkan stok ASI di bottle warmer. Setelah suhu susunya pas, ia membawa ketiga bayi itu ke kamarnya di lantai atas, membaringkan mereka di ranjang besarnya, dan menyuapi mereka botol susu satu per satu.
"Habis ini tidur ya, Sayang. Ini masih terlalu pagi," ucap Rafael sambil menciumi pipi mereka gemas. Namun, mata ketiga bayi itu justru segar bugar. Mereka seolah mengajak Uncle-nya bermain.
"Oh, Tuhan... kalian nggak mau tidur?" keluh Rafael saat ia sendiri mulai menguap lebar.
Luka yang Belum Sembuh
Pukul 06.30, Dania terbangun. Ia menggeliat, merasa tidurnya sangat nyenyak secara ajaib. Namun saat menoleh ke samping, ia memekik.
"Loh? Anak-anak mana?!" Dania panik. Ia segera berlari menuju kamar Rafael.
Ceklek.
Pintu kamar Rafael tidak terkunci. Dania terpaku di ambang pintu. Pemandangan di depannya begitu manis; Rafael tertidur dalam posisi duduk sambil memeluk ketiga keponakannya yang akhirnya juga ikut terlelap. Dania tersenyum haru, lalu menutup pintu pelan-pelan.
Namun, saat kembali ke kamarnya, dadanya tiba-tiba berdenyut sangat kencang. Sakit sekali, sampai ia sesak napas.
"Ada apa ini?" Dania memegang dadanya yang bergemuruh. Perasaannya tiba-tiba hancur, sedih yang luar biasa menyerangnya tanpa alasan. "Hiks... sakit... kenapa rasanya sesakit ini?"
Di tempat lain, di waktu yang sama...
Calix terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Sudah seminggu ini ia selalu memimpikan suara tangisan bayi yang terasa begitu dekat dengan hatinya.
Ia berdiri di dekat jendela, memandang kegelapan malam dengan mata kosong. "Kamu di mana, Dania?" bisiknya lirih.
"Sudah satu tahun kamu pergi. Ini hukuman yang terlalu kejam buat aku," Calix memukul dadanya sendiri yang terasa sesak. Air mata pria yang dikenal kejam dan dingin itu jatuh. "Maafkan aku... aku sudah hancur, Dania. Tolong pulanglah."
"DANIA DANIELLA! PULANG!" teriaknya frustrasi ke arah langit malam.
Beberapa Bulan Kemudian...
Waktu berlalu cepat. Bayi-bayi itu kini sudah berusia satu tahun. Mereka sudah bisa merangkak, belajar berjalan, dan mulai mengoceh.
"Dad... dy... Dad... dy..."
Dania tertegun mendengar kata pertama yang keluar dari mulut mungil mereka. Ia memang selalu menunjukkan foto Calix di dinding kamar dan mengenalkan pria itu sebagai 'Daddy'. Ia tidak ingin anak-anaknya merasa tidak memiliki ayah.
Namun malam ini, suasana sangat berbeda. Ketiga bayi itu menangis tanpa henti. Tidak seperti biasanya.
"Kenapa, Nak? Jangan bikin Mommy takut," tangis Dania ikut pecah saat melihat tubuh ketiga bayinya mulai menghangat. Ia segera menelepon Caroll, sahabat kecilnya yang kini menjadi dokter anak.
Caroll datang pukul sebelas malam. Setelah memeriksa dengan teliti, ia menghela napas lega. "Tenang, Nia. Mereka cuma demam biasa. Mungkin lagi mau tumbuh gigi atau memang lagi rewel aja."
Dania terduduk lemas di samping ranjang. "Makasih ya, Car. Aku benar-benar panik."
Caroll memeluk Dania. "Sama-sama. Tapi jujur ya, Nia... kamu mengganggu malam romantisku sama suamiku tahu!" goda Caroll sambil tertawa.
"Sialan kamu, Caroll! Pergi sana!" usir Dania sambil tertawa dalam tangisnya.
"Bye-bye! Makanya, minta ganti tuh sama Daddynya triple! Hahaha!" Caroll kabur sebelum Dania sempat melempar bantal.
Dania hanya bisa menatap foto besar di dinding kamar itu. Sosok Calix yang menatap tajam ke arah kamera.
Tentu, mari kita perdalam momen emosional di malam tersebut, saat Dania berjuang sendirian dengan tiga bayi kecilnya yang sedang sakit.
Bab: Pelukan yang Tak Sampai
Malam semakin larut, namun suasana di kediaman Dania di Negara Y justru semakin tegang. Caroll baru saja pulang, meninggalkan Dania dengan setumpuk obat penurun panas dan petunjuk perawatan. Meskipun Caroll bilang ini hanya demam biasa, hati seorang ibu tidak pernah bisa tenang mendengar tangisan buah hatinya yang terdengar menyayat hati.
"Ssttt... Sayang, Arka, Arfa, Zura... Mommy di sini," bisik Dania parau.
Ketiga bayi itu kini diletakkan di atas ranjang besar milik Dania. Ia sengaja memindahkan mereka dari boks bayi agar bisa memeluk ketiganya sekaligus. Arfa yang biasanya paling tenang, kini terus merengek dengan mata terpejam namun gelisah. Sementara Azura dan Arka saling bersahutan seolah sedang beradu kesedihan.
Dania mengambil handuk kecil, memeras air hangat, dan mengompres dahi kecil mereka satu per satu.
"Dad... dy... hiks... Dad-dy..." celetuk Arka di tengah isakannya. Tangan mungilnya menggapai-gapai ke udara, seolah mencari sosok yang hanya bisa ia lihat di bingkai foto.
Dania tertegun. Dadanya sesak. "Iya, Sayang... Daddy pasti juga sayang kalian di sana," ucapnya dengan suara bergetar. Ia menoleh ke arah foto besar Calix yang tertempel di dinding. Pria itu tampak begitu nyata dengan tatapan tajamnya, namun nyatanya ia begitu jauh.
Tiba-tiba, Arfa merangkak pelan menuju foto itu. Dengan tubuh yang masih sedikit lemas karena demam, ia menempelkan telapak tangan kecilnya pada permukaan foto Calix.
"Dad-dy... nggg..." Arfa menyandarkan kepalanya di dinding, tepat di bawah kaki foto Calix.
Dania tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia merangkak mendekati Arfa dan merengkuhnya kembali ke dalam pelukan. "Arfa kangen Daddy? Maafin Mommy, Nak. Maafin Mommy karena belum bisa membawa kalian bertemu."
Malam itu, Dania tidak tidur. Ia membiarkan ketiga anaknya tertidur dalam pelukannya. Posisi yang sangat tidak nyaman, dengan punggung yang pegal dan tangan yang kaku, namun ia tidak peduli. Selama ia bisa merasakan napas hangat anak-anaknya di kulitnya, ia merasa sanggup melakukan apa pun.
Firasat yang Sama.
Di belahan bumi yang lain, Calix terduduk di tepi ranjangnya. Jantungnya berdegup kencang secara tidak normal. Sejak satu jam yang lalu, perasaannya gelisah. Ia merasa seolah-olah ada seseorang yang memanggil namanya dengan suara lirih.
"Dania... apa itu kamu?" bisiknya pada kegelapan kamar.
Ia bangkit, berjalan menuju balkon dan membiarkan angin malam menusuk kulitnya. Entah kenapa, bayangan tentang bayi-bayi kecil kembali muncul di benaknya. Ia tidak tahu mengapa ia merasa begitu terikat dengan sosok-sosok yang bahkan belum pernah ia temui.
"Kalau kamu mau menghukum ku, lakukan padaku saja, Dania. Jangan biarkan aku hidup dalam ketidaktahuan seperti ini," gumam Calix frustrasi. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
NTAR KELUAR DRAMA PENYESALAN DAN MAAF DENGAN AIR MATA BUAYA NYA..CKK