Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Ara baru saja datang dan duduk di tempatnya saat ia menyadari sosok yang dicarinya tidak ada ditempat kecuali tasnya saja.
"Nia, kau lihat Abhi tidak?" tanya Ara pada salah satu teman sekelas mereka.
Nia menggeleng sambil mengerjap. "Kurasa tadi ia dipanggil oleh guru ke kantor," jujurnya.
"Benarkah? Untuk apa?"
"Tidak tahu."
Gadis itu menghela napas pelan.
"Ada apa?"
"Ares, kau lihat Abhi tidak?" tanya Ara lagi saat mendengar suara sahabatnya ini yang baru saja datang.
Ares tersenyum meledek. "Ada apa mencarinya? Kau mencemaskannya? Mengaku sajalah~"
Ucapan Ares membuat Ara mendesis sebal sembari melempar tisu yang ia pegang pada anak itu.
"Aku sedang tak ingin bercanda. Kau lihat dia atau tidak?"
"Kudengar ia dihukum membersihkan gudang sekolah," jawab Ares santai sambil memakan lolipop nikmat.
"Dihukum? Kenapa?"
"Aku juga tidak tahu. Sepertinya karena insiden kemarin."
"Hah?! Itukan bukan sepenuhnya salah Abhi! Mereka yang mengganggunya lebih dulu," kesal Ara kemudian berjalan keluar kelas.
"Hei! Mau kemana kau? Sebentar lagi bel berbunyi!"panggil Ares heran.
"Gudang!" jawab Ara cuek sambil terus memacu kakinya.
***
(Digudang sekolah)
Arbiyan menghela nafas panjang, bulir-bulir keringat sudah jatuh membasahi separuh seragamnya. Tapi pekerjaannya masih sangat banyak, apalagi melihat keadaan gudang sekolah yang lumayan luas dan kotornya melebihi kandang hewan. Entah sampai kapan pekerjaannya akan selesai.
Tadinya sih ada sepupunya yang ikut membantu, tapi baru 5 menit berjalan gadis cantik itu langsung pergi saat melihat incaran tampannya lewat.
Iya, baru-baru ini Dean mengaku padanya ia menyukai salah satu teman sekelasnya. Gadis gila itu bahkan dengan tak tahu malunya mengambil gambar incarannya itu menggunakan ponsel. Menunjukkan fotonya pada Biyan dengan raut wajah gemas sambil berkata: "Bagaimana? Bukankah ia menggemaskan?!"
Tampang Dean memang sangar dan dingin tapi siapa sangka ternyata gadis itu menyukai tipe yang kalem dan kutu buku. Makanya ia selalu berusaha menarik perhatian cowok tersebut dengan cara apa pun. Termasuk mengikutinya seperti stalker.
Agak lain memang sepupunya itu.
Arbiyan hanya bisa menghela napas sembari menyelesaikan hukumannya. Dirinya dihukum setelah insiden kemarin. Memang bukan ia yang memulai tapi Arbiyan yang memukul lebih dulu, maka inilah hukumannya. Mereka yang mengganggunya juga dapat hukuman yaitu membersihkan toilet pria.
"Sepertinya aku akan terjebak disini sampai besok," gerutu Biyan pelan sambil melihat banyaknya barang-barang yang diletakkan sembarang dan dia harus merapikannya.
"Perlu bantuan, sayang?"
Biyan sedikit berjingkat kaget saat sebuah suara menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis dengan rok sekolah cukup pendek tengah berdiri menyender dipintu gudang sambil bersedekap.
Sebelah alisnya terangkat bingung.
Siapa?
Apa dia mengenal adiknya? Kalau iya, kenapa baru sekarang menegur dirinya?
Padahal sudah hampir 4 hari ia bersekolah disini dan ini pertama kalinya Ia bertemu dengan gadis itu. Tapi ada sesuatu yang membuat Biyan tidak begitu nyaman dengan gadis didepannya ini.
Tatapan matanya turun kearah name tag yang terpasang diseragam sebelah kiri kemudian menuju kearah simbol didada sebelah kanannya.
Liona, seorang senior atau kakak kelasnya.
"Tidak perlu," jawab Biyan datar sedatar ekspresinya kemudian melanjutkan aktivitasnya mengangkat kardus-kardus yang entah berisi apa.
"Heee...jadi kau benar-benar amnesia?"
Lagi-lagi Biyan menghentikan aktivitasnya dan menatap jengah gadis dihadapannya ini. Sebelah alisnya terangkat seolah-olah berkata 'Lalu kenapa?'
"Jangan bilang kau tidak mengingatku."
Biyan menghembuskan nafas pasrah. Bukannya tak ingat tapi dia memang tak mengenalnya. Berpura-pura amnesia begini ternyata sangat merepotkan.
"Begitulah," jawab Biyan seadanya.
"Apa itu artinya kau juga melupakan kejadian hari itu?" Liona bertanya dengan nada penasaran namun tersirat sedikit nada menggoda—berjalan perlahan mendekati Biyan. Lagi-lagi Biyan hanya bisa menatapnya dengan ekspresi bingung.
Kejadian apalagi ini? Apa ini sama dengan yang di katakan Bagaskara kemarin?
"Apa maksudmu?"
"Jadi kau benar-benar tidak ingat rupanya," gumam Liona sambil terkekeh pelan. Entah apa yang terasa lucu disini hingga membuat gadis itu terkekeh.
Biyan masih berdiri mematung. Sungguh, ia tidak mengerti dengan seniornya yang satu ini. Kejadian apa dan apa yang terjadi hingga melibatkan adiknya? Apa kejadian yang sama atau ini berbeda?!
Liona berjalan mendekati Biyan hingga jarak mereka hanya selangkah saja. Tangannya terangkat dan menyelipkan sesuatu disaku kemejanya. Pandangan Biyan mengikuti kearah sakunya sekilas, kemudian menatap Liona bingung.
"Jika kau penasaran, datang ke alamat yang kuberikan itu padamu."
Biyan masih diam, otaknya berusaha mencerna apa yang dimaksud senior anehnya ini. Biyan bahkan tidak bergeming saat lagi-lagi gadis itu mengangkat tangannya kembali dan mengelus pipi hingga ke rahang Biyan yang basah oleh keringat dengan sensual.
"Ternyata amnesia membuat sikapmu berubah. Bahkan ekspresimu masih saja datar sedari tadi," gerutu Liona manja.
Sebelah alis Biyan terangkat heran. Apa seniornya ini mencoba menggodanya?
Biyan menghela nafas panjang kemudian menepis kasar tangan Liona yang masih mengelus-ngelus pipinya. Ia masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi, tapi feelingnya mengatakan Liona mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui tentang sang adik.
"Kau menyakitiku, sayang."
Lagi-lagi Biyan menghela nafas panjang dan memutar bola matanya malas. "Kalau kau sudah tak ada urusan. Tolong tinggalkan aku, masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan."
Liona hanya tertawa hambar mendapati sikap dingin Biyan. Jujur saja ia agak kesal sebenarnya karena tak dianggap seperti ini. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan saat ini.
"Biyan, kau didal— eh? Kak Liona?" ucap Ara kaget ketika ia baru saja tiba dan sudah disuguhi sesuatu yang membuatnya hatinya sedikit panas.
Posisi mereka memang sedikit agak ambigu.
Liona melirik kearah sumber suara begitupun Biyan. Terlihat Ara tengah menatap mereka dengan ekspresi kaget dan sedikit risih namun sedetik kemudian tergantikan oleh ekspresi khasnya—datar dan dingin.
Tapi, Liona sudah melihatnya kemudian ia kembali menatap Biyan yang masih sibuk melihat Ara. Liona sedikit menunduk lalu mengecup pipi Biyan tiba-tiba. Hal itu sempat membuat Biyan kaget dan langsung menatap Liona.
Ara sendiri syok setengah mati hingga ia tak sanggup mengatakan apapun dan hanya berdiri diam didepan pintu gudang.
"Jangan lupa. Aku pergi dulu," kata Liona santai kemudian melenggang pergi begitu saja tanpa memperdulikan tatapan Ara yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
Biyan hanya menghembuskan nafas beratnya sambil menyeka bekas ciuman Liona tadi. Seenaknya saja mencium pipinya, apa dia juga memperlakukan Abhi seperti ini?
Tunggu! Jangan bilang senior itu menyukai Abhi?! Atau malah sebaliknya?
Biyan hanya bisa berharap prediksinya salah.
Matanya kembali menatap Ara yang masih mematung dengan ekspresi datar yang terkesan tidak ramah. Perlahan Biyan mendekati Ara dan terus menatap wajah manis itu lamat-lamat.
"Kenapa ekspresimu seperti ingin membunuh seseorang begitu?" tanya Biyan.
"Benarkah? Biasa saja tuh," jawab Ara tanpa sadar dengan nada ketus.
Remaja lelaki itu menatap Ara sejenak sebelum ia tertawa kecil.
"Apa kecelakaan membuat otakmu menjadi tidak normal?" sarkas Ara. Sementara Biyan hanya tertawa puas.
"Ehem, sepertinya kami datang disaat tidak tepat," interupsi sebuah suara dan membuat Biyan memutar bola matanya jengah serta membuat Ara mendengus saja.
"Nah, itu tahu," jawab Biyan pada sepupunya Dean. Membuat Dean hanya tertawa pelan.
"Wow, Ara sejak kapan kau jadian dengan Abhinara? Kau tidak pernah cerita padaku kalau kau menyukainya? Apa Ares juga tahu?" tanya seorang siswa lainnya dengan kacamata dan senyuman manisnya. Namanya Alvaro dan merupakan incaran Dean.
Rencananya ia ingin ke Koperasi tadi tapi tidak tau kenapa tiba-tiba gadis bernama Dean itu menariknya ke gudang. Membuatnya berfikir yang tidak-tidak saja.
"Ka-kami tidak jadian! Jangan memfitnah!" teriak Ara syok tapi wajahnya memerah malu. Padahal mereka tidak melakukan apapun.
"Jangan bohong. Wajahmu sampai memerah begitu. Mengaku saja?!" desak Alva agak gemas.
Ara memang dekat dengan salah satu seniornya yaitu Alvaro karena pernah terlibat dalam satu organisasi yang sama saat SMP dulu.
Makanya ia bisa sebebas dan seceplos itu ketika bicara pada kakak kelasnya.
Lagipula ia memang tak ada hubungan apapun dengan Abhi. Kenapa malah di tuduh macam-macam?
"Kenapa tidak mengaku saja, sayang? Bukankah kau kekasihku, hm?" jawab Biyan santai dan menarik pinggang Ara agar menempel pada tubuhnya.
Gadis itu kaget sebenarnya.
Sejak kapan mereka jadian?!
"Abhi! Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal!" protes Ara.
Sebelah alis Biyan terangkat. "Bukankah kau tadi cemburu? Berarti kau suka padaku, kan? Lalu apa salahnya kalau kita jadian?"
"Hah?! Kesimpulan darimana itu?! Jangan mengada-ngada!" desis Ara.
Biyan mengendikkan bahu cuek. "Siapa peduli? Kau pacarku mulai sekarang."
Ucapan tegas itu membuat mata sipit Dean membulat. Sebenarnya bukan hanya Dean saja, tapi Alva dan juga Ara.
"Jadi, Aracell kalau aku melihatmu bersama lelaki lain maka aku akan menghukummu," kata Biyan tiba-tiba. Membuat Ara sampai melotot syok.
"Tu-tunggu! Ini tidak—"
"Good girl~" kata Biyan senang.
"Bocah gila! Seenaknya saja kau mengklaim anak orang sebagai milikmu," protes Dean mengingat bagaimana watak seorang Arbiyan sebenarnya.
"Memangnya kenapa? Toh, Ara tak keberatan."
"Aku keberatan! Jangan seenaknya!" protes Ara kesal. Tapi ucapannya seolah tidak digubris.
"Haishh! Bukan itu maksudku!" kesal Dean sambil memelototi Biyan.
"Sudahlah Dean, kenapa jadi kau yang sewot begitu sih? Biarkan saja mereka berdua. Mereka cocok, kok," kata Alva membela.
Dean hanya bisa membuang nafas pasrah. "Baiklah, Honey, jika kau sudah bilang begitu," jawab Dean pasrah sambil tersenyum simpul.
"Hey, Jangan memanggilku Honey! Sejak kapan aku jadi kekasihmu, huh ?!"
"Oh, jadi kita belum jadian, ya? Astaga! Aku lupa, otakku selalu dipenuhi olehmu sih, tampan~" goda Dean dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kau—"
"Kalau mau bermesraan diluar saja sana," potong Ara dengan ekspresi datarnya.
"Siapa yang bermesraan?! Sembarangan kau!" protes Alva tidak terima.
"Baiklah, terserah. Aku harus menyelesaikan hukumanku agar bisa pulang lebih cepat," kata Biyan cuek dan mulai bekerja lagi.
"Akan ku bantu, Abhi," ucap Ara lagi lalu ikut membantu.
"Hey! Kenapa mengabaikanku?!" pekik Alva kesal.
"Sudahlah, Honey. Jangan teriak-teriak, aku tidak ingin suara indahmu itu rusak. Sebaiknya kau ikut membantu kami juga membersihkan gudang ini. Bagaimana?" tawar Dean.
Alva hanya bisa menghela nafas pasrah kemudian mengangguk pelan. "Baiklah" jawabnya masih tidak menyadari kalimat 'Honey' yang terselip tadi.
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!