Sofia hamil anak dari Jabez suaminya namun Layla merebut kebahagian itu dari Sofia dengan mencuri Test Pack milik Sofia, dan Layla mengaku-ngaku bahwa dia lah yang hamil anak dari Jabez.
Mendengar kabar baik atas kehamilan Layla, tentu saja membuat Jabez menjadi senang karena selama ini, dia sangat mendambakan seorang anak untuknya sebagai penerus keturunan Gurita kerajaan perusahaan EZAZ RAYA.
Layla merupakan istri pertama dari Jabez Ezaz yang digadang-gadang semua orang untuk meneruskan garis keturunan keluarga Ezaz Raya.
Mampukah Sofia menjalani pernikahan ini bersama Jabez serta membuktikan pada semua orang bahwa Layla berbohong akan kehamilannya. Dan kembali merebut hati suaminya agar Jabez mencintainya lagi serta menendang kekuasaan Layla dari istana Alhambra.
Mohon dukungannya ya pemirsa yang budiman 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 PERTEMUAN DENGAN ORANG YANG TAK DIKENAL
Sofia dan perawat lain yang dipercaya oleh dokter membantu Sofia untuk berpakaian dan mempersiapkan diri untuk meninggalkan rumah sakit. Mereka berjalan menuju lift dengan hati-hati, tidak ingin menarik perhatian.
Ketika lift tiba, Sofia dan perawat itu masuk ke dalamnya. Sofia merasa sedikit lega ketika pintu lift menutup dan mereka mulai bergerak turun ke lantai dasar.
Tapi, tiba-tiba lift berhenti di lantai lain dan pintu terbuka. Seorang pria yang tidak dikenal masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk menghentikan lift.
Sofia merasa jantungnya berdegup kencang ketika pria itu menatapnya dengan mata yang tajam. Ia tidak tahu siapa pria itu, tapi ia tahu bahwa ia harus berhati-hati.
"Pergi!" kata pria itu kepada perawat, sambil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
Perawat itu ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia keluar dari lift dengan cepat. Pintu lift menutup kembali, dan Sofia merasa dirinya terjebak dengan pria itu.
"Siapa kamu?" tanya Sofia dengan suara yang bergetar.
Pria itu tersenyum dan mengeluarkan sebuah kartu identitas. "Saya adalah orang yang dikirim untuk membantu Anda, Sofia. Saya bekerja untuk seseorang yang ingin membantu Anda melarikan diri dari Jabez Ezaz."
Sofia merasa bingung, tapi ia juga merasa sedikit lega. Apakah pria ini benar-benar bisa dipercaya ? Pikirnya bingung.
Sofia masih berada di dalam lift dengan Alex, pria yang mengaku dikirim untuk membantunya. Ia merasa sedikit lebih percaya pada Alex, tapi masih ragu-ragu.
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Sofia lagi.
Alex tersenyum. "Saya tidak bisa memberitahu Anda sekarang. Tapi, saya bisa mengatakan bahwa orang yang mengirim saya ingin membantu Anda melarikan diri dari Jabez Ezaz."
Sofia mengerutkan keningnya. "Mengapa? Apa motifnya?"
Alex menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu. Tapi, saya tahu bahwa orang itu ingin membantu Anda. Dan saya disuruh untuk membawa Anda ke tempat yang aman."
Lift berhenti di lantai dasar, dan pintu terbuka. Alex memberi isyarat kepada Sofia untuk keluar.
"Ikuti saya," kata Alex.
Sofia ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia memutuskan untuk mengikuti Alex. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit, menuju ke sebuah mobil yang terparkir di dekat pintu keluar.
Alex membuka pintu mobil dan mempersilakan Sofia untuk masuk. "Masuklah. Kita harus pergi dari sini sebelum Jabez Ezaz menemui kita."
Sofia merasa sedikit gugup, tapi ia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya dan bayi yang dikandungnya. Ia masuk ke dalam mobil, dan Alex segera menghidupkan mesin.
Mereka melaju dengan cepat, meninggalkan rumah sakit di belakang. Sofia merasa sedikit lega, tapi ia tahu bahwa Jabez Ezaz tidak akan menyerah begitu saja. Ia harus siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Mobil yang mereka kendarai melaju dengan cepat melalui jalan-jalan kota, Sofia merasa sedikit lebih aman di dalam mobil. Alex tidak banyak berbicara, fokus pada mengemudi dan memastikan bahwa mereka tidak diikuti.
Setelah beberapa menit, Alex membelokkan mobil ke sebuah jalan kecil yang sepi. Sofia merasa sedikit khawatir, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kita akan berhenti di sini sebentar," kata Alex, sambil memarkir mobil di pinggir jalan.
Sofia menatap Alex dengan curiga. "Apa yang kita lakukan di sini?"
Alex tersenyum. "Kita akan berganti mobil. Ini untuk memastikan bahwa kita tidak diikuti oleh Jabez Ezaz."
Sofia mengangguk, merasa sedikit lebih percaya pada Alex. Ia keluar dari mobil dan mengikuti Alex ke sebuah mobil lain yang terparkir di dekatnya.
Mereka berganti mobil, dan Alex memberikan Sofia sebuah ponsel baru. "Ini untuk Anda. Nomor saya sudah terdaftar di dalamnya. Jika Anda membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk menghubungi saya."
Sofia mengambil ponsel itu, merasa sedikit lebih siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. Ia menatap Alex, mencoba membaca ekspresi wajahnya.
"Terima kasih," kata Sofia, dengan suara yang lembut.
Alex tersenyum. "Saya hanya melakukan apa yang saya harus lakukan. Kita harus pergi dari sini sekarang. Jabez Ezaz pasti sudah mulai mencari kita."
Mereka melanjutkan perjalanan, Sofia merasa sedikit lebih aman dengan mobil baru dan ponsel yang diberikan oleh Alex. Mereka melaju dengan cepat, meninggalkan kota di belakang.
Setelah beberapa jam, Alex membelokkan mobil ke sebuah jalan tanah yang menuju ke sebuah rumah kecil di pedesaan. Sofia merasa sedikit khawatir, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kita akan berhenti di sini," kata Alex, sambil memarkir mobil di depan rumah.
Sofia keluar dari mobil, melihat sekeliling. Rumah itu terlihat sederhana, tapi sepertinya cukup aman.
"Ini tempat yang aman," kata Alex, sambil membuka pintu rumah. "Anda bisa tinggal di sini sampai situasi lebih aman."
Sofia mengangguk, merasa sedikit lebih lega. Ia masuk ke dalam rumah, melihat sekeliling. Rumah itu sederhana, tapi bersih dan nyaman.
Alex memberikan Sofia sebuah kunci. "Ini kunci rumah. Anda bisa tinggal di sini sampai saya datang lagi."
Sofia mengambil kunci itu, merasa sedikit lebih percaya pada Alex. "Terima kasih," kata Sofia, dengan suara yang lembut.
Alex tersenyum. "Saya akan datang lagi untuk memeriksa Anda. Jangan keluar dari rumah sampai saya datang lagi."
Sofia mengangguk, merasa sedikit lebih aman. Ia menatap Alex, mencoba membaca ekspresi wajahnya.
"Siapa kamu?" tanya Sofia, dengan suara yang lembut.
Alex tersenyum. "Saya hanya orang yang ingin membantu Anda. Jangan khawatir tentang saya. Yang penting adalah Anda aman."
Alex berpamitan dan meninggalkan rumah, meninggalkan Sofia sendirian di rumah kecil di pedesaan. Sofia merasa sedikit lebih aman, tapi masih khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia memutuskan untuk memeriksa rumah dan mencari tahu apa yang ada di dalamnya. Rumah itu sederhana, tapi bersih dan nyaman. Ada sebuah kamar tidur di lantai atas, dan sebuah ruang tamu di lantai bawah.
Sofia memutuskan untuk naik ke kamar tidur dan beristirahat sejenak. Ia merasa lelah setelah perjalanan panjang dan stres yang dialaminya.
Setelah beristirahat sejenak, Sofia memutuskan untuk turun ke ruang tamu dan mencari sesuatu untuk dimakan. Ia membuka lemari dan menemukan beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh Alex.
Sofia merasa sedikit lebih lega, ia bisa tinggal di sini untuk sementara waktu dan memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Tiba-tiba, Sofia mendengar suara langkah kaki di luar rumah. Ia merasa jantungnya berdegup kencang, tidak tahu siapa yang datang.
"Apakah itu Alex atau seseorang lain?"
Sofia merasa jantungnya berdegup kencang, tidak tahu siapa yang datang. Ia mencoba untuk mendengarkan dengan seksama, mencoba untuk mengetahui siapa yang berada di luar rumah.
Langkah kaki itu semakin dekat, dan Sofia bisa merasakan bahwa orang itu sedang berdiri di depan pintu rumah. Ia mencoba untuk tidak membuat suara, tidak ingin orang itu tahu bahwa ia ada di dalam rumah.
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka, dan seorang wanita muda masuk ke dalam rumah. Ia terlihat lelah dan khawatir, dan Sofia bisa melihat bahwa ia sedang mencari sesuatu.
"Siapa kamu?" tanya Sofia, mencoba untuk tidak menunjukkan ketakutannya.
Wanita itu terkejut, dan ia menatap Sofia dengan mata yang lebar. "Saya... saya adalah Rohaya..." kata wanita itu, dengan suara yang lembut. "Saya diutus oleh Alex untuk menjaga kamu."
Sofia merasa sedikit lebih lega, tapi masih khawatir. "Apa yang kamu maksud?" tanya Sofia, mencoba untuk memahami situasi.
Rohaya tersenyum. "Alex adalah teman saya, dan ia meminta saya untuk menjaga kamu di sini. Ia tidak bisa selalu ada di sini, jadi ia meminta saya untuk membantu."
Sofia merasa sedikit lebih percaya pada Rohaya, tapi masih ada keraguan di dalam hatinya. Apakah ia bisa mempercayai Rohaya ?