Zenara harus menyembunyikan dirinya dari hadapan ibu tirinya yang sudah dua kali melakukan percobaan pembunuhan untuk dirinya. Pada kali ketiga, Zenara berhasil dilempar ke jurang, diharapkan sudah meninggal.
Takdir berkata lain, Zenara berhasil selamat dan bersembunyi di rumah CEO kaya raya yang super galak dan sombong sebagai pelayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Debar jantung Ze masih meledak-ledak meski adegan tanpa sengaja itu sudah berlalu satu jam lalu. Bayangkan betapa kikuknya Ze berhasil keluar dari kamar Saka.
"Ciuman pertamaku? Dasar sial! Kenapa pake harus ada adegan jatuh sih?" umpat Ze semakin kesal. Padahal sejak usia lima tahun, dia sudah menginginkan ciuman pertamanya untuk sang pangeran, Max.
Mengingat Max, tiba-tiba Ze berubah sedih. Hanya tinggal hitungan beberapa bulan lagi, Max akan kembali ke negri ini, tapi dia justru tidak bisa menyambut kepulangan pria itu.
Ze takut saat Max datang mencarinya, ibu tirinya mengatakan kalau dirinya sudah mati, hingga Max berselingkuh, terburuk pria itu justru melirik gadis lain dan melupakan janji mereka.
Harusnya dulu dia melawan perintah ayahnya, memilih untuk bersekolah di luar negri bersama Max dan Nura. Tapi hati Ze terlalu lembut untuk menjadi anak durhaka, hingga memilih untuk kuliah di sini seperti permintaan ayahnya.
"Papa tidak bisa jauh darimu," ucap Candra kala itu, menolak gagasan Ze untuk bersekolah ke luar negri.
Khayalan jangka panjangnya membuat rasa ngantuknya menyapa. Dia tidak ingin memikirkan ciuman pertamanya yang hilang, anggap saja dia baru di gigit Molly, kucing anggora milik Oma Ros.
Entah sudah berapa lama Ze terlelap, hingga dia merasakan sentuhan di betisnya, naik ke atas hingga menyingkap gaun tidurnya hingga batas pinggang, memperlihatkan miliknya yang masih terbungkus kain berwarna merah muda.
Dia masih enggan membuka mata. Sentuhan itu terasa nyata. Jantungnya berdebar tak karuan, siapa gerangan yang berani menyentuh tubuhnya?
Wangi parfum dan napas dengan aroma min yang dia kenali, membuat Ze memberanikan diri membuka matanya.
"Kau?"
"Sssst, aku menginginkan mu," bisik Saka membungkam bibir ranum Ze dengan bibirnya. Menuntut gadis itu untuk membuka mulutnya agar lidah Ze yang terasa manis dapat dia hisap. Pria itu melakukan keduanya, me****** bibir dan mengisap lidahnya hingga membuat Ze menggeliat.
Dia tidak sempat memuntahkan protesnya, karena pria itu dengan kasarnya merobek gaun tidurnya Ze lalu menunduk untuk menikmati puncak kebanggaan milik Ze yang menantang. Saat melihat keduanya tumbuh tampak indah, Saka menyeringai dengan liar, sungguh bayangannya benar.
Keduanya tampak sempurna untuk dia genggam dan tentu saja untuk dia hisap. Bingung memutuskan yang mana harus dia lakukan, Saka memutuskan untuk melakukan sekaligus. Kiri me*remas dan kanan dihisap.
Perbuatannya mampu merobek akan sehat Ze, gadis itu tidak mampu berkata-kata, dia kalah dengan rasa nikmat meski dengan sentuhan kasar Saka.
Pria itu mengganti posisi bibirnya, seolah yang satu nya akan bersedih jika bibir Saka tidak singgah di sana juga.
Tubuh Ze semakin meledak, dia begitu hilang kendali hingga cairan bening mengalir dari miliknya. Sungguh penyiksaan yang nikmat. Dia gila, karena tidak mengenal kata berhenti yang seharusnya dia katakan.
Saka belum puas menyiksa, malam itu dia ingin bermain-main dengan tubuh Ze lebih lama lagi, mengklaim semua yang ada di tubuh gadis itu sebagai miliknya.
Saka bermain dengan tubuh Ze, membuat tubuh gadis itu terbakar oleh gairahnya sendiri.
Perlahan dia turun, kini mengecup perut rata Ze sejengkal demi sejengkal, basah oleh air liur pria itu.
"Kau mau apa?" desis Ze mendapatkan kembali lidahnya.
"Ssssttt, aku hanya ingin memujamu. Kau cantik di bawah sini," bisik Saka terus turun dan berhenti di inti gadis itu. Dia sempat mendongak, melihat wajah pasrah dan penuh tanya dari Ze atas apa yang akan dia lakukan.
Sontak Zee menggigit ujung sarung bantalnya kala bibir Saka mencium miliknya, bukan kini tidak hanya mencium, pria itu sudah bermain di sana, memasukkan lidahnya lalu mengecup dan menikmati rasa Ze yang sesungguhnya.
Ze kehilangan napas. Dia tidak tahu cara mengambil oksigen untuk dia hirup, bagaimana ini?
Saka berhasil mengambil seluruh akal sehat Ze. Hanya ada mereka berdua di dalam kamar temaram itu.
"Kau suka, Ze? Nikmat, bukan? Aku akan membawamu ke surga dunia, menari di atas bintang yang bermandikan cahaya," bisik Saka naik hanya untuk menggoda Ze di telinganya.
Ze belum sempat menelaah makna ucapan Saka, saat pria itu sudah masuk tanpa permisi, menerobos palang pintu miliknya yang selama ini dia jaga.
Seketika Saka diam dalam tubuhnya, membiarkan Ze menikmati rasa sakit yang dijanjikan pria itu akan berubah menjadi rasa nikmat. Lalu setelah milik Ze mulai rileks mencengkram milik Saka yang besar dan keras, pria itu mulai mendayung perahu kenikmatan yang sudah berada di tengah lautan gairah.
Saka membelah tubuhnya kian keras. Mengikuti ritme tubuh Saka, Ze ikut meliuk, mengangkat panggulnya saat pria itu mulai menumbuk di dalam sana jauh semakin dalam.
Gerakan Saka semakin cepat, begitupun Ze, dengan kemampuan terbatasnya dia coba mengimbangi gerakan pria itu, meneguk nikmatnya anggur memabukkan yang mereka ciptakan.
"Ze, aku akan keluar. Sayang, aku sampai," raung Saka semakin mempercepat gerakannya, bersama bergandengan tangan menaiki tangga menuju nirwana. Semakin lama semakin cepat hingga teriakan keduanya menjadi penanda kalau mereka sudah tiba di puncak kenikmatan, berhasil meraih bintang yang terang.
"Tidurlah, kau pasti lelah," bisik Saka menyelimuti tubuh Ze lalu pergi dari kamar gadis itu.