Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Kebenaran di Balik Pertunangan
Pak Reynand... apa yang dikatakan Pak Devan tadi... soal rapat pemegang saham... apakah itu benar?"
Pertanyaan Aira menggantung berat di udara, memecah kesunyian di antara deretan rak besi ruang arsip lantai empat puluh dua. Aira berdiri mematung, menatap pria di hadapannya dengan tatapan menuntut jawaban. Map tebal berisi laporan keuangan kuartal ketiga yang dipeluknya terasa begitu berat, seberat keraguan yang mendadak membelenggu dadanya.
Reynand tidak langsung menjawab. Sepasang mata tajam bak elang itu menatap Aira lekat-lekat, membaca pancaran kecemasan, rasa takut, dan sedikit kekecewaan yang samar di raut wajah asisten pribadinya—yang kini berstatus sebagai calon tunangannya.
Reynand melangkah maju satu langkah, merapatkan jarak di antara mereka. Tangan kemeja bagian lengannya ia gulung sedikit, memperlihatkan ketegangan otot tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengulurkan tangan dan mengambil map laporan keuangan dari dekapan Aira yang terlalu erat. Sentuhan singkat jemarinya yang hangat menyentuh punggung tangan Aira, membuat gadis itu tersentak pelan dan tanpa sadar menahan napas.
"Kembali ke ruangan saya," ucap Reynand dengan suara bariton yang dalam dan datar, namun mengandung penekanan mutlak yang tidak membiarkan adanya bantahan. "Kita bicarakan ini di dalam, bukan di ruang arsip sepi tempat Devan bebas memprovokasilu."
Reynand berbalik, melangkah terlebih dahulu dengan postur tubuh yang tegap dan berwibawa. Aira menghembuskan napas panjang yang sempat tertahan, lalu mengekor di belakang langkah lebar Reynand menuju lift khusus eksekutif.
Sepanjang lorong dan area kerja, puluhan pasang mata pegawai Aristha Tower masih mencuri pandang ke arah Aira. Bisik-bisik kasak-kusuk seolah mengikuti setiap jengkal langkahnya. Namun, kehadiran Reynand yang berjalan di sampingnya dengan aura dingin membeku seolah menjadi perisai yang membungkam mulut semua orang. Tak ada satu pun pegawai yang berani menatap langsung ketika CEO dingin itu lewat.
Klek.
Pintu ruang kerja CEO yang mewah di lantai teratas tertutup rapat dan terkunci secara otomatis. Suara bising dari luar seketika lenyap, digantikan oleh hening yang tegang.
Reynand berjalan ke arah meja kerjanya yang luas dari kayu mahoni, meletakkan map tebal itu di atas permukaan kaca tanpa suara. Ia lalu membalikkan badan, menyandarkan pinggulnya di tepi meja sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya kembali terkunci rapat pada Aira yang masih berdiri canggung di dekat pintu.
"Devan hanya sedang berusaha merusak fokusmu, Aira," buka Reynand, suaranya tenang namun bernada berat. "Dia tahu rapat pemegang saham besok pagi adalah momen krusial untuk masa depan Aristha Tower. Posisinya di jajaran direksi sedang di ujung tanduk karena tim internal menemukan indikasi penyimpangan dana pada proyek operasional yang dia pimpin."
Aira mengepalkan jemarinya, berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya lebih jauh. "Lalu... bagaimana dengan pertunangan kita? Apakah tuduhan Pak Devan salah? Apakah Anda memanfaatkan status saya hanya untuk mengamankan suara dewan komisaris?"
Pertanyaan itu membuat atmosfer ruangan terasa makin dingin. Reynand memiringkan kepalanya sedikit, menatap Aira tanpa berkedip. Ada jeda beberapa detik yang terasa sangat menyiksa bagi Aira sebelum pria itu akhirnya menghembuskan napas pelan.
"Pertunangan ini memang memperkuat posisi saya di hadapan dewan komisaris. Saya tidak akan memungkiri fakta bisnis itu," aku Reynand jujur.
Kata-kata itu bagaikan hantaman kecil yang membuat dada Aira berdenyut nyeri. Namun, sebelum benih kekecewaan itu bertumbuh, Reynand melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang lebih lembut—sesuatu yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
"Tapi Aira, jika tujuan utama saya hanya sekadar formalitas dan taktik politik kantor, saya bisa dengan mudah memilih putri dari keluarga pemegang saham terbesar lainnya. Ada puluhan wanita dari keluarga konglomerat yang mengantre untuk posisi ini. Tapi kenapa kamu?"
Aira tertegun, bibirnya sedikit terbuka. "Maksud Pak Reynand...?"
Reynand menegakkan tubuhnya, melangkah pelan mendekati Aira hingga kini berdiri tepat di depan gadis itu. "Ibu sudah merestuimu," ucap Reynand pelan.
Nama Nyonya Rosalinda Aristha yang disebutkan Reynand seketika memanggil kembali ingatan Aira pada masa-masa sulit beberapa waktu lalu. Bayangan sosok Nyonya Rosalinda—wanita paruh baya yang anggun, berwibawa, dan sangat protektif terhadap putranya—terlintas jelas di pikiran Aira.
"Kamu ingat saat Ibu menginterogasimu? Saat dia mengujimu dengan berbagai pertanyaan menjebak dan tatapan dinginnya?" sambung Reynand, matanya menatap lembut ke dalam manik mata Aira. "Nyonya Rosalinda Aristha adalah wanita yang paling sulit diyakinkan di dunia ini. Dia tidak pernah salah menilai karakter seseorang. Dan Ibu tidak akan pernah memberi izin jika dia tidak yakin bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang tulus dan pantas untuk mendampingi saya—baik di dalam keluarga Aristha maupun sebagai pendamping CEO di gedung ini."
Aira menunduk. Rasa hangat dan haru perlahan merayapi dadanya, mengikis habis keraguan yang tadi sempat ditanamkan oleh Devan. Kata-kata tegas namun penuh rasa sayang dari Nyonya Rosalinda saat menyambutnya di kediaman Aristha tempo hari seolah terdengar kembali di telinganya, memberinya pijakan yang kokoh.
"Saya mengerti, Pak Reynand..." bisik Aira pelan, mengangguk yakin. "Maafkan saya karena sempat meragukan keputusan ini."
Reynand mengulas senyum tipis—hampir tak terlihat—di bibirnya. Namun, sebelum suasana hangat itu bertahan lebih lama, ponsel pintar milik Reynand di atas meja kerja bergetar hebat. Dering khusus bertema klasik terdengar, menandakan panggilan penting.
Nama Nyonya Rosalinda tertera jelas di layar sentuh yang menyala.
Reynand segera berbalik, mengambil ponsel tersebut dan menggeser ikon hijau. Ia menempelkannya ke telinga kanan. "Ya, Bu?"
Suara Nyonya Rosalinda di ujung telepon terdengar begitu jernih, tenang namun menyiratkan ketegangan yang tertahan.
"Reynand, Ibu baru saja mendapat laporan dari informan keluarga," ucap Nyonya Rosalinda tanpa basa-basi. "Devan baru saja mengadakan pertemuan tersembunyi dengan tiga komisaris senior di luar kantor. Dia tidak hanya mengincar posisi direksi, tapi juga menyiapkan dokumen palsu untuk menjatuhkan kredibilitas Aira di depan publik dan dewan pemegang saham besok pagi."
Rahang Reynand seketika mengetat keras. Pandangan matanya yang tajam berubah mengeras, memancarkan aura membunuh yang sangat menakutkan. Jemarinya mengepal rapat di samping tubuhnya.
"Saya mengerti, Bu," sahut Reynand dengan suara dingin yang menusuk tulang. "Terima kasih atas informasinya. Saya dan Aira akan siap. Saya tidak akan membiarkan Devan menyentuh atau merusak satu hal pun milik kita."
Reynand mematikan sambungan telepon, lalu berbalik menatap Aira. Tatapan matanya kini penuh dengan tekad perlindungan yang tak tergoyahkan.