NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Darah Di Paradise Resort

Air merah yang menyembur dari air mancur di depan LANGUR PARADISE RESORT tidak berhenti selama dua jam. Semakin lama semburannya semakin tinggi, sampai hampir mencapai lantai dua bangunan itu. Dinding putih yang tadinya terlihat mewah dan bersih, sekarang penuh dengan noda merah kehitaman yang mengalir seperti darah. Bau anyir yang sangat kuat menyebar sampai ke rumah warga yang jaraknya lima puluh meter.

Pemilik penginapan, yang namanya ternyata Pak Hendra, berteriak-teriak histeris. Kemeja putih mahalnya sudah basah kuyup terkena air merah itu. Kacamata hitamnya jatuh dan terinjak. Dua anak buahnya yang berbadan besar mencoba mematikan mesin pompa air di belakang bangunan, tapi mesin itu terkunci sendiri. Kabelnya mengeluarkan percikan api ketika mereka coba cabut.

"Matikan! Matikan sialan! Ini apa-apaan! Siapa yang main-main!" teriak Pak Hendra dengan suara parau.

Para pekerja bangunan yang masih ada di sana langsung lari tunggang langgang meninggalkan lokasi. Mereka semua orang Langgur asli, mereka tahu betul kalau tanah itu adalah tanah kuburan tua yang dikeramatkan. Mereka sudah bilang dari awal jangan bangun di sana, tapi Pak Hendra tidak mau dengar. Dia bilang dia sudah bayar mahal untuk tanah itu.

Ara, Mama Ino, Pak RT Unus, Bu Ani, dan warga lainnya berdiri di luar pagar bambu yang membatasi tanah penginapan. Mereka tidak berani masuk, tapi mereka juga tidak mau pergi. Mereka menatap pemandangan aneh itu dengan perasaan campur aduk antara takut dan puas.

Di atas atap lantai tiga penginapan, siluet Revan masih berdiri. Sekarang Ara bisa melihatnya dengan jelas, meski jaraknya agak jauh. Jaket hitamnya berkibar tertiup angin kencang yang tiba-tiba datang dari laut. Di belakang Revan, puluhan siluet lain berdiri berjajar. Ada yang memakai ikat kepala adat Kei, ada yang membawa tombak, ada yang menggendong anak kecil. Mereka semua adalah arwah penjaga tanah Langgur yang kuburnya digusur untuk membangun resort itu. Wajah mereka semua pucat dan mata mereka merah menyala marah.

Pak RT Unus mengangkat tongkat kayunya dan berteriak dengan bahasa Kei kuno, bahasa yang sudah jarang dipakai anak muda. "Tanah ini bukan tanahmu! Pulang! Pulang kalian orang serakah!"

Pak Hendra yang mendengar teriakan Pak RT langsung menoleh. Wajahnya yang gemuk dan merah karena marah, sekarang berubah pucat melihat kerumunan warga yang berdiri di luar pagar. Dia mencoba berjalan mendekati pagar, tapi kakinya terpeleset air merah yang licin dan dia jatuh terduduk. Celananya yang mahal kotor penuh lumpur merah.

"Pak RT, ini apa-apaan? Warga kalian yang main-main santet ya? Kalian mau peras saya ya? Saya sudah bayar tanah ini mahal! Saya punya sertifikat!" teriak Pak Hendra dari tanah, masih dengan nada sombong meski dia jatuh.

Ara yang tidak tahan lagi mendengar kebohongan itu, maju selangkah ke depan pagar.

"Sertifikat palsu! Tanah ini tanah adat, tidak bisa dijual! Kamu bunuh Revan lima tahun lalu untuk ambil tanah kami! Kamu juga yang racuni sumur kami sampai bayi Bu Ani mati!" teriak Ara dengan suara keras, sekeras yang dia bisa. Air matanya mengalir, tapi kali ini air mata marah, bukan sedih.

Pak Hendra terdiam. Wajahnya yang tadinya marah, sekarang terlihat panik. Matanya melirik ke arah dua anak buahnya yang berbadan besar. Dua anak buahnya itu juga terlihat pucat dan mulai mundur perlahan.

"Bohong! Fitnah! Mana buktinya? Jangan asal tuduh ya, saya bisa lapor polisi!" kata Pak Hendra, tapi suaranya sudah gemetar.

Jali dan Edo, dua pemuda yang tadi ikut menggali kubur Revan, langsung berlari kembali ke rumah Ara dan kembali lagi dengan membawa peti kayu lapuk yang berisi kerangka Revan. Mereka meletakkan peti itu tepat di depan pagar penginapan, di depan mata Pak Hendra.

"Buktinya ini!" teriak Jali dengan marah. "Ini Revan! Anak Langgur yang kalian bunuh dan kubur di bawah pohon mangga! Kami gali tadi sore! Di lehernya masih ada rantai jangkar perahu kalian!"

Ketika peti itu dibuka, bau anyir yang sangat kuat keluar dari dalamnya. Kerangka Revan terlihat jelas di bawah cahaya senja yang merah.

Pak Hendra melihat kerangka itu dan langsung muntah di tanah. Dua anak buahnya yang berbadan besar langsung lari meninggalkan Pak Hendra sendirian. Mereka lari ke arah hutan dan tidak kembali lagi.

Saat itu juga, air mancur yang menyemburkan air merah tiba-tiba berhenti. Suasana menjadi sangat hening. Hanya terdengar suara napas warga yang terengah-engah.

Lalu, dari dalam kolam air mancur yang penuh air merah itu, muncul tangan. Tangan pucat yang memegang sesuatu. Perlahan, dari dalam air merah itu, muncul kepala, lalu badan. Itu adalah Bu Ani kecil, bayi Bu Ani yang meninggal karena keracunan air sumur. Bayi itu tidak menangis, dia hanya menatap Pak Hendra dengan mata hitam besar yang kosong.

Bu Ani yang melihat anaknya muncul dari air mancur langsung menjerit histeris dan pingsan lagi di pelukan suaminya.

Bayi itu menunjuk ke arah Pak Hendra, lalu menunjuk ke arah bangunan penginapan.

Bangunan tiga lantai yang megah itu tiba-tiba bergetar. Retakan besar muncul di dinding putihnya, dari bawah sampai ke atas. Kaca-kaca jendela pecah satu per satu tanpa ada yang melempar. Atapnya yang baru dipasang genteng merah, beterbangan tertiup angin kencang.

Di atas atap, Revan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Puluhan arwah penjaga tanah di belakangnya juga mengangkat tombak mereka.

"Tanah ini tidak dijual!" suara Revan dan semua arwah itu terdengar bersamaan, menggema keras di seluruh Langgur, sampai burung-burung yang bertengger di pohon kelapa terbang semua ketakutan.

Pak Hendra yang ketakutan setengah mati, berlutut di tanah merah dan mulai menangis sambil meminta ampun.

"Ampun, ampun! Jangan bunuh saya! Saya salah! Saya akan pergi! Saya akan kembalikan tanahnya!" teriaknya sambil bersujud di tanah berlumpur merah.

Tapi sudah terlambat. Dari dalam retakan dinding penginapan, keluar akar-akar pohon mangga yang tumbuh dengan sangat cepat. Akar-akar itu menjalar, melilit tiang-tiang bangunan, menghancurkan tembok, dan menarik bangunan itu ke bawah. Dalam waktu lima menit, bangunan tiga lantai yang megah itu ambruk menjadi puing-puing, tertutup akar pohon mangga yang besar dan tanah merah.

Air mancur berhenti menyembur. Kabut merah perlahan menipis. Di atas puing-puing bangunan, tidak ada lagi siluet Revan dan para penjaga tanah. Mereka sudah hilang. Yang tersisa hanya pohon mangga raksasa yang tumbuh tepat di tengah puing-puing resort itu, pohon yang sama dengan pohon kecil yang tumbuh di halaman belakang rumah Ara.

Pohon itu berbuah lebat, buah mangga merah yang belum pernah dilihat warga Langgur sebelumnya.

Ara berjalan pelan mendekati puing-puing itu. Di bawah pohon mangga raksasa, dia menemukan jaket hitam Revan yang terlipat rapi, sudah bersih dan tidak robek lagi. Di atas jaket itu, ada secarik kertas kecil yang basah.

Tulisannya, tulisan tangan Revan: Jaga tanah kita, Ara. Aku sudah tenang sekarang.

Ara memeluk jaket itu erat. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, dia bisa menangis dengan lega, tanpa rasa takut lagi.

Malam itu, langit Langgur kembali biru. Bintang-bintang terlihat jelas untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu tertutup kabut merah. Dan di halaman belakang rumah Ara, pohon mangga kecil itu sudah tumbuh setinggi rumah, menjaga rumah mereka dengan daunnya yang rindang.

Perang sudah selesai. Langgur menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!