NovelToon NovelToon
Sang Dewa Tertinggi

Sang Dewa Tertinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Effa

Semua orang menginginkan kekuatan dan kekayaan, mereka ingin menjadi imortal agar bisa tetap hidup selamanya.

Kekuatan dan kekuasaan adalah impian yang mereka inginkan. Namun, berbeda halnya dengan tokoh kita yang sudah memiliki segalanya.

Dia diciptakan dengan begitu sempurna, dia adalah lambang dari kekuatan, dia adalah tambang kekayaan bagi siapapun orang yang menyembahnya.

Dialah Sang Dewa Tertinggi, sesuai dengan namanya dia adalah Dewa nya para Dewa. Semua orang harus tunduk didepannya, jika mereka ingin mendapatkan apa yang mereka mau maka solusinya adalah dengan memuja Sang Dewa Tertinggi.

Namun tidak seperti yang mereka bayangkan, nyatanya Sang Dewa Tertinggi sendiri tidak ingin semua apa yang dia punya, dia hanya ingin menjadi seorang manusia biasa. Dan keinginannya itu pun akhirnya bisa ia dapatkan dengan cara... Berpindah Dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Effa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar dengan Sandra

Setelah mengerjai Theo dengan habis-habisan kali ini Max tidak lagi bercanda dia dengan serius mulai melatih tubuhnya dan juga melatih Theo.

"Baiklah baiklah mari kita mulai dengan serius."

"Huhmp! Dari tadi siapa juga yang tidak serius."

"Baik. Sekarang kau ikuti aku memakai karung batu ini."

"Untuk apa?"

"Tentu saja untuk melatih kekuatan tubuh kurus mu itu."

"Baiklah." Meski agak ragu namun Theo tetap mengikuti apa yang Max ucapkan dia mengambil batu batu yang setidaknya tidak terlalu berat untuk dibawa kemudian membungkusnya dan mengikat di setiap pergelangan tangan dan kakinya.

Theo berjalan menghampiri Max yang saat ini sedang melakukan lari keliling dan bertanya padanya "Lalu, apa lagi yang harus aku lakukan?!"

"Bodoh! Apa kau tidak lihat apa yang aku lakukan?" Balas Max dengan berteriak.

"Hufttt, mari kita ikuti si bajingan bodoh itu," Theo segera berlari mengikuti Max dibelakang, jujur saja dia agak kesulitan berlari sambil membawa beban di tubuhnya dan itu cukup banyak menguras tenaganya baru saja 2 putaran dia sudah merasa seluruh tubuhnya seperti remuk di injak gajah.

"Hah.. hah.. Cukup! Cukup! Aku tidak kuat lagi," Theo berhenti dan mendudukkan dirinya di tempat.

Max yang melihat Theo berhenti segera berlari menghampirinya kemudian menjewer telinga Theo "Apa yang kau lakukan hah? Siapa yang menyuruhmu untuk berhenti beristirahat? Ayo cepat bangun dan lanjutkan latihan mu!"

"Sialan! Aku sudah tidak kuat untuk berlari bahkan untuk berdiri pun aku tidak bisa."

"Tadi siapa yang meledekku dengan mengatakan tubuhku ini kurus lemah tidak berguna?"

"........ Itu--Itu kan aku tidak tahu kalau latihannya begitu melelahkan," Theo berucap dengan nada menahan malu.

Max yang melihat Theo begitu kelelahan akhirnya memutuskan untuk mengijinkannya beristirahat.

"Hanya 5 menit!"

"Ah akhirnya," Theo kembali merebahkan tubuhnya yang lelah dan memilih untuk tidur sebentar.

Sedangkan Max pemuda itu berjalan kearah sebuah pohon besar disana, Max melihat ketebalan pohon tersebut dan menyentuhnya kemudian dengan perlahan Max mengalirkan kekuatannya dan mengumpulkan di telapak tangan. Pusaran angin berwana biru terlihat di telapak tangan Max, dengan sekali ayunan pusaran angin itu melesat dan menabrak batang pohon yang sempat disentuhnya.

Duarr!

Suara ledakan yang keras terdengar, asap putih berterbangan dan ketika asap itu sudah menghilang kini terlihat di depan Max sebuah pedang yang terbuat dari dahan pohon tadi.

Max mengulurkan tangannya dan mengambil pedang kayu itu kemudian mengukurnya dan tersenyum bahagia.

"Setidaknya ini sudah lebih dari cukup untuk berlatih pedang."

"Wah... Bagaimana cara kau membuat pedang itu?" Theo yang terganggu akibat suara ledakan tadi terbangun dan pergi untuk melihatnya dan mendapatkan Max yang sedang berdiri memegang sebuah pedang kayu.

"Ambilah."

"Untukku?"

"Bukan, tapi untuk murid yang tidak sopan terhadap gurunya."

"Hehe... Terimakasih guru," Theo hanya tertawa dan menggaruk rambutnya kemudian menerima pedang kayu dari tangan Max.

"Huhmp! Baru sekarang kau memanggilku dengan guru!"

"Hehe.."

...****************...

Malam harinya setelah pulang dari pelatihan Max menemui ibunya dan memintanya untuk mengajarkannya cara memasak tentu saja Sandra dengan senang hati akan mengajarinya.

"Baiklah Max, masakan mana yang ingin kau pelajari terlebih dahulu?" Sandra bertanya ketika sudah di dapur dan menyiapkan semua bahan-bahannya.

"Apa saja atau tidak kau bisa mengajariku dari cara bagaimana memotong sayuran dan cara untuk menjaga apinya."

"Sebelum itu kau harus tahu dulu nama-namanya," Sandra mengambil sebuah wadah yang menyimpan bahan-bahan dapur dan menyerahkannya pada Max untuk dilihat.

"................."

Sandra mengambil satu buah cabai rawit yang berwarna merah dan berkata "Yang ini namanya cabai rawit benda ini memiliki rasa yang pedas dan juga bila kau ingin masakanmu memiliki rasa yang pedas kau harus menambahkan cabai rawit ini"

"Kemudian ini namanya Tomat__

"Dan ini Lengkuas__

"Ini garam dan micin__

"Lalu itu ada minyak__

"Yang ini namanya__

Max mengangguk-anggukkan kepalanya persis seperti ayam yang sedang mematuk makanan, Max memperhatikan setiap penjelasan dari Sandra dan tidak memotong ucapannya sedikitpun.

"Oke selanjutnya kita akan masuk ke bagian peralatan dapur. Apa kau paham dengan yang tadi aku sebutkan Max?"

"Tentu."

"Pertama ini adalah pisau, pisau ini bisa kau gunakan untuk memotong apapun selain itu pisau ini juga bisa kau jadikan senjata dan__

"Tunggu ibu! Apakah pisau ini anak dari pedang? Dari segi apapun terlihat mirip hanya beda ukuran saja.. Oh aku ingat pisau ini adalah saudaranya belati!"

"...... Apa yang kau bicarakan Max? Ah sudahlah mari kita lanjutkan. Wajan ini memiliki banyak sekali fungsi, bukan hanya untuk menggoreng, tetapi juga untuk memanggang dan menumis. Biasanya, wajan ini berbentuk bulat dan memiliki bagian dasar yang rata."

"Yang ini bernama panci. Fungsi panci di dapur banyak dimanfaatkan untuk memasak sayuran, mengukus, hingga merebus air. Dalam keadaan darurat, panci juga bisa digunakan untuk memasak nasi."

"Fungsi utama dari spatula ini adalah untuk mengaduk, meratakan."

"Fungsi talenan adalah sebagai alas memotong bahan makanan agar meja dapur tetap bersih. Selain itu, talenan juga bisa melindungi mata pisau supaya tidak tumpul."

"Dan terakhir ini adalah tungku benda ini tentu saja selain bisa untuk memasak, tungku juga bisa untuk memanaskan ruangan hanya dengan memasukan kayu bakar seperti ini lalu kau nyalakan api maka

Bzzz

Kayu terbakar dan apinya pun menyala. Kau sudah siap untuk memasak Max?"

1
Ushio-chan
ahh max somplak 😂
SEORANG PENGAGUM DARI JAUH😆
semangat kak
Dzikir Ari
Lanjut
Dzikir Ari
Numpang mampir semoga Alurnya bagus
Watashi: Silahkan, semoga saja suka yaa🤗
total 1 replies
グルシャ
Up lgi thor
Nori^
sungguh enak dibaca
Erarefo Alfin Artharizki
rapih banget tulisannya. ajari aku yaa
Watashi: waah aku juga masih tahap belajar kak, yuk belajar bareng!
total 1 replies
Erarefo Alfin Artharizki
lanjutkan
Bagus weh, tulisannya rapi dan enak di baca dan di mengerti.

semangat Thor. aku tunggu update lanjutan
Danda Saputra: bnerr bngt
total 2 replies
RyuCandra7
Reverse Isekai yah? Menarik!
RyuCandra7
bisa-bisanya kabur dari kerjaan
PORREN46R
Bagus ceritanya semangat terus ya author. uda mampir ya
PORREN46R: Sama sama
total 2 replies
グルシャ
Lanjut Thor ✨✨
Alcatraz
mantap lanjutkan Thorrr upnya
Ardima El_cayy
mantaap thooor lanjuut
グルシャ
Hahaha 😂😂😂
Buang Sengketa
dewa nya maha kuasa tapi gak tau portal dunia lain..butuh banyak perbaikan serius ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!