Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham kecil
Semenjak kejadian itu, Dewa jarang pulang ke rumah. Aza merasakan itu. Entah mengapa, ia menjadi merasa bersalah. Padahal jika bukan karena Dewa, belum tentu ia memiliki tempat pulang.
Kini Aza duduk di sisi ranjang sembari menatap tangannya gusar, memilin jemarinya lemah. Ia ingin berbicara, namun rasanya berat entah dibagian mana. Padahal ia ingin membalas Budi, namun ia tak tau membalas Budi yang bagaimana. Sementara dirinya saja tak punya apa-apa.
Melihat ada maid lewat, Aza spontan bangkit, berjalan menuju pintu, "Anu....Ratih." panggil wanita itu pada maid junior di depan kamarnya.
Sang maid segera memberi hormat, "Ada apa, Nona."
Aza tergagap kecil, ia lirik ke arah bawah tangga, tepat di ruang tengah yang jaraknya sangat jauh di bawah, sebelum akhirnya menatap kembali ke arah Ratih.
"Anu...Apakah Dewa sudah pulang?"
Ratih menggeleng lemah, "Tuan belum pulang, Nona. Mungkin nanti malam."
Aza tampak kecewa. Akhirnya ia mengangguk saja. Lalu mempersilahkan Ratih untuk kembali bekerja.
Ia memutuskan untuk ke balkon, menatap ke arah depan rumah besar Dewa untuk menunggu kepulangan pria itu.
Aza ingat betul, dulu Dewa untuk membeli motor saja tidak punya uang. Ia bisa kuliah karena mendapat beasiswa dari universitas. Dan sering memenangkan olimpiade untuk menambah income-nya.
Bahkan dulu semasa pacaran, Dewa jarang membelikannya barang, berbeda dengan Ramdan yang selalu membelikannya sesuatu tanpa ia pinta.
Namun apa yang ia lihat sekarang, jauh diluar perkiraannya. Dewa bisa sukses dan kaya raya, ia cukup kaget sebelumnya. Hanya saja karena masih diselimuti patah hati, ia jadi buta tanpa melihat sekitar.
Aza merunduk lemah. Ia menjadi merasa bodoh sekarang. Ia dulu lebih membela Ramdan hanya karena Ramdan selalu meluangkan waktu untuknya. Padahal ia ingat betul, Dewa jarang bersamanya karena ia kerja paruh waktu. Sekarang Dewa sudah sukses, sementara dirinya gagal.
Ia tersenyum getir, sekarang ia faham arti di atas langit masih ada langit. Dan roda terus berputar.
"Pasti Dewa kesal banget sama aku."
Aza tau, Dewa masih memiliki rasa padanya. Sementara dia memilih berpaling dan bersama Ramdan tanpa melihat seberapa dalam pria itu mencintainya. Ia yang egois, dan ingin ditemani 24 jam itu, langsung jatuh cinta pada Ramdan yang selalu mendahulukannya.
Namun sekarang, ia baru tau artinya karma. Ia yang dulu menyakiti Dewa, sekarang balik menyakiti. Aza jadi merasa—memiliki hutang budi yang sangat tinggi.
Akhirnya Aza memilih berdiri, keluar dari kamar, berniat untuk membeli sesuatu yang bisa ia masak untuk Dewa.
"Aku sudah banyak menyakiti Dewa, aku tidak mau menambah bebannya lagi. Dia pasti sudah sangat marah padaku gara-gara tempo hari. Setidaknya aku akan membuatkan sesuatu agar hatinya tenang." lirihnya, tersenyum tipis.
Baru saja kakinya melewati teras, sebuah tangan kekar menahannya.
"Mau kemana."
Aza terkejut, lantas menoleh. Melotot ke arah Dewa yang ternyata belum pergi, pria itu berdiri di sampingnya dengan tatapan datar, masih mengenakan jas kerja.
"Se-sejak kapan kamu pulang?" cicit Aza ragu, merunduk dalam.
Dewa tatap Aza intens. Helaan nafas keluar dari bibirnya. Pada akhirnya, ia tidak bisa mengabaikan Aza sedikitpun. Wanita itu terus menghantui fikirannya. Disaat ia mulai melonggarkan hati, Aza dengan culas kembali hadir dan memporak-porandakan perasaannya.
"Kamu mau pergi?" tanya Dewa lagi.
Aza merunduk, menggigit bibir bawahnya gusar, "Aku....aku ingin keluar dari rumah ini untuk membeli—"
"Kamu ingin balik lagi ke pria itu?"
Kening Aza mengerut, wanita itu lantas mendongak, "Aku cuma ingin keluar, ada hal yang ingin aku lakukan di luar. Aku—"
Dewa berdecih sinis, menatap Aza lagi.
"Terserah mu, kembalilah jika kau masih mencintainya."
Dewa lepas tangan Aza sedikit kasar. Lalu masuk ke dalam diikuti oleh asistennya. Sementara Aza menatap tajam Dewa yang salah faham itu, mengelus lengannya yang terasa ngilu.
"Dia kenapa sih?" lirihnya kesal.
Aza pun kembali berjalan menuruni tangga teras yang begitu tinggi ke bawah. Hingga rasanya kakinya sangat pegal. Sementara Dewa tidak benar-benar pergi. Ia menatap Aza yang menuruni tangga itu tanpa berkedip.
Rahangnya mengetat, tangannya mengepal di samping tubuh.
"Pada akhirnya aku merasa bodoh karena masih mengharapkan cintamu."
Dewa langsung berbalik, menaiki lift menuju kamarnya. Ia ingin mengabaikan Aza, namun hari yang mulai gelap kembali membuatnya khawatir. Dewa raup wajahnya frustasi, lalu kembali keluar dari kamar. Hendak mengejar Aza.
"Aza!" seru Dewa saat sampai di depan gerbang yang luas, namun tak ada lagi keberadaan wanita itu disana.
Dewa merunduk, tangannya mengepal kuat di samping tubuh. Rahangnya mengetat yang terlihat menakutkan.
"Kenapa aku masih mengharapkannya? Jelas-jelas dia akan memilih pria iu. Lalu aku? Hanya pria yang gagal dalam menjalin percintaan."
Sial.
Sekarang Dewa baru sadar, tertolak itu lebih menyakitkan daripada apapun. Meski ia berjuang, menunjukkan perasaannya, wanita itu akan terus kembali pada pria yang ia fikir segalanya itu.
"Kenapa kamu selalu melihat ke arahnya? Sementara aku—kau pasti tidak tau seberapa hebat rasa sakit yang aku lewati hingga sampai di posisi ini bukan?"
Dewa tersenyum getir, ia lantas berbalik dengan langkah lemah. Menertawai kegagalan yang ia bangun dengan bodohnya.
Aza yang baru saja kembali sambil menenteng bahan-bahan masakan itu tertegun saat melihat Dewa berdiri murung di tengah taman.
"Dewa?" lirihnya, "Dia kenapa?"
Aza pun memutuskan untuk menghampiri pria itu, menepuk bahu Dewa dari belakang hingga pria itu terkejut. Lantas berbalik.
Aza tertegun, ia tak menyangka akan melihat pemandangan dimana Dewa menangis tanpa ia ketahui. Melihat Aza menatapnya polos, Dewa lantas berbalik, menghapus air matanya. Lalu berjalan cepat meninggalkan Aza.
"Heyy! Dewa! Tunggu aku!" keluh Aza kesal. Lantas mengejar.
Sementara Dewa terus berlari tanpa mau melihat ke belakang, lalu masuk ke dalam lift, menghindari Aza begitu saja. Membuat wanita itu berdiri mematung dengan tatapan heran ke arahnya.
"Dia kenapa sih?!"
Akhirnya Aza hanya bisa menghela nafas pasrah. Berbelok menuju dapur. Ia jatuhkan kantung kresek di meja makan dengan perasaan dongkol. Mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum ia memulai membuat adonan.
Asih yang melihat nonanya memegang pisau itu langsung melotot, buru-buru berlari, mengambil paksa pisau itu dari tangan Aza.
"Tolong jangan seperti ini, nona! Tuan akan mengamuk jika melihat anda hendak mengakhiri hidup lagi!" seru Asih ngos-ngosan.
Sementara Aza yang tiba-tiba diserobot itu melongo, mengerjab pelan sebelum akhirnya ia menghela nafas panjang. Meraih kembali pisau di tangan Asih.
"Haihhh...bi. Yang mau bundir siapa?" lirihnya menggeleng.
Bi Asih tergagap kecil, "Tap-tapi...."
"Aku hanya ingin memotong stoberi ini."