NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelaki Tua di Festival

Perlahan-lahan senja di desa Tsukimori berubah menjadi jauh lebih hidup. Lampion merah yang sejak siang dipasang di sepanjang jalan mulai menyala satu per satu, menerangi deretan rumah rumah kayu di kaki pegunungan.

Suara tawa anak-anak bercampur tabuhan taiko menggema dari arah alun-alun desa, tempat Festival Dewa Kucing setiap tahun diadakan.

Keiko mengenakan yukata berwarna biru muda yang dulu pernah dibelikan neneknya. Meski motifnya sederhana, pakaian itu masih terlihat bagus. Ia merapikan rambutnya di depan cermin, lalu mengambil ponsel dan dompet sebelum keluar rumah.

"Festival sekali setahun. Tidak ada salahnya melihat-lihat," gumamnya.

Jalan utama sudah dipenuhi warga. Beberapa kios menjual takoyaki, yakitori, taiyaki, hingga dango yang baru selesai dipanggang. Aroma makanan bercampur udara pegunungan menciptakan suasana hangat yang sulit ditemukan di kota.

Keiko berjalan santai sambil sesekali berhenti untuk mengambil foto. Perhatiannya kembali tertuju pada kucing-kucing yang berkeliaran bebas di antara keramaian. Anehnya, tak seekor pun tampak takut pada manusia. Bahkan seekor kucing belang melompat ke pangkuan seorang anak kecil dan membiarkan kepalanya dielus begitu saja.

"Benar-benar dimanjakan," ucap Keiko pelan sambil tersenyum.

Tak jauh dari sana, suara seorang pria terdengar lantang mengundang para pengunjung.

"Pertunjukan legenda akan segera dimulai! Silakan berkumpul di depan panggung."

Karena penasaran, Keiko ikut mendekat. Di depan panggung kayu sederhana sudah berkumpul puluhan anak bersama orang tua mereka. Beberapa remaja juga terlihat duduk di barisan belakang.

Pertunjukan dimulai ketika lampu-lampu panggung diredupkan. Seorang narator membuka kisah dengan suara tenang, sementara boneka-boneka kayu mulai digerakkan oleh para dalang berpakaian hitam.

"Pada zaman dahulu," ujar sang narator, "ketika manusia masih hidup berdampingan dengan para dewa, hiduplah makhluk penjaga yang mampu berubah wujud menjadi manusia saat bulan purnama."

Boneka seekor kucing perlahan diganti dengan boneka seorang pria berkimono. Anak-anak yang menonton bersorak kecil.

"Makhluk itu disebut Bakeneko."

Narator melanjutkan ceritanya. Ia mengisahkan bagaimana para Bakeneko menjaga keseimbangan dunia manusia, namun dilarang menyerahkan hati kepada manusia.

Keiko mengembuskan napas pelan. "Masih saja cerita yang sama," gumamnya.

Baginya, kisah itu tidak lebih dari legenda yang terus diceritakan agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Pertunjukan berakhir dengan tepuk tangan meriah. Anak-anak berhamburan mengejar orang tua mereka, sementara sebagian penonton mulai meninggalkan area panggung.

Keiko tetap duduk beberapa saat. Ia sedang memeriksa hasil foto di ponselnya ketika seseorang tiba-tiba duduk di bangku sebelah.

"Menurutmu bagaimana ceritanya?" Suara itu membuat Keiko menoleh. Seorang lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun tersenyum ramah kepadanya. Rambutnya memutih seluruhnya, sementara kimono abu-abu yang dikenakannya tampak sudah cukup usang.

"Cukup menarik," jawab Keiko sopan. "Meski menurut saya itu hanya cerita rakyat."

Lelaki tua itu mengangguk pelan. "Jadi kau tidak mempercayai Bakeneko?"

Sudut bibi Keiko terangkat tipis "Kalau mereka benar-benar ada, mungkin dunia sudah ramai sejak dulu."

"Bisa jadi."

Jawaban singkat itu justru membuat Keiko mengernyit. Ia mengira lelaki tua itu akan membantah pendapatnya.

"Lalu kenapa desa ini masih mempertahankan festival seperti ini?" tanyanya lagi

"Karena tidak semua legenda diciptakan untuk ditakuti nak."

"Emm.. Lalu untuk apa?" wajahnya menunjukkan kebingungan

"Untuk diingat." ucap Lelaki tua itu menatap panggung yang kini mulai kosong.

Keiko mengikuti arah pandangnya, tetapi tidak menemukan sesuatu yang menarik. Gadis ini kembali menoleh lelaki tua disampingnya

"Kalau memang Bakeneko benar-benar ada," katanya sambil terkekeh kecil, "Lalu kenapa mereka tidak pernah terlihat?"

Lelaki tua itu menatap keramaian festival yang dipenuhi orang-orang bertopeng. "Siapa bilang mereka tidak pernah terlihat?"

Keiko ikut memandang ke arah yang sama. "Apa ...Maksud anda paman?"

Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum samar. "Tidak semua yang kau lihat malam ini adalah manusia nak."

Keiko terkekeh kecil. "Aahh .. jangan begini.. Bapak sedang mencoba menakutiku ya?"

"Bukan." jawab nya cepat tanpa jeda "Aku hanya berharap... kalau suatu hari kau mengetahui kebenarannya, kau tidak menyesal pernah menganggap semuanya sebagai dongeng."

Lelaki tua itu terkekeh dengan suara yang renda terdengar tawa yang berwibawa. Setelah beberapa saat, ia berdiri sambil bertumpu pada tongkat kayunya.

"Kalau begitu, jangan naik ke Kuil Dewa Kucing malam ini."

pria tua ini sedikit menjeda ucapanya

"Karena hanya orang yang dipanggil yang akan sampai di sana."

Yukari mengangguk, ia memilih diam karena percuma berdebat dengan kepercayaan orang orang di desa

"Lagipula aku tidak berniat mendaki gunung malam-malam." batin Keiko

Lelaki tua itu melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa Keiko Keiko memandang punggungnya yang perlahan menghilang di balik kerumunan.

"Aneh sekali," gumamnya.

Gadis ini pun ikut berdiri dan memutuskan pulang. Festival masih berlangsung, tetapi suasana mulai semakin padat.

Baru beberapa langkah berjalan, tangannya tanpa sadar masuk ke dalam saku Yukata. Keiko langsung berhenti,

Ia meraba sekali lagi Lalu membuka saku yang lain. seketika Wajahnya perlahan berubah.

"Jimatku..."

Ia buru-buru memeriksa tas kecil yang dibawanya. Kosong. Jimat pemberian ibunya benar-benar menghilang.

Padahal ia yakin benda itu masih ada sebelum berangkat ke festival.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!