NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Ponsel Cerewet

​Lutut Reno seketika kehilangan fungsi utamanya sebagai penopang tubuh saat membaca ancaman mengerikan di layar ponsel tersebut.

​Ia jatuh terduduk di atas paving block yang keras, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar dari tulang ekornya hingga ke punggung.

​Matanya tak berkedip menatap rentetan huruf kapital yang terus muncul dengan konstan di atas permukaan kaca tanpa bingkai itu.

​{Dua puluh empat jam, apa maksudnya otakku akan diledakkan dari jarak jauh menggunakan gelombang siber?}

​Jari-jarinya gemetar hebat hingga ponsel hitam misterius itu hampir tergelincir jatuh dari genggaman tangannya yang basah oleh keringat.

​Reno berusaha menekan rasa paniknya dengan meyakinkan diri sendiri bahwa benda ini hanyalah alat kejahilan tingkat tinggi.

​Ia berpikir ini pasti ulah sekelompok mahasiswa teknik komputer dari kampusnya yang sering membuat proyek eksperimen aneh untuk media sosial.

​"Ini pasti cuma jebakan kamera tersembunyi untuk acara orientasi mahasiswa baru, kan?"

​Reno menoleh ke kanan dan ke kiri, menyapu seluruh area jalan dengan pandangannya demi mencari keberadaan lensa kamera yang merekamnya.

​Jalanan sore itu masih sama sepinya, hanya dilewati oleh deretan kendaraan roda empat yang melaju konstan di jalur aspal sebelah kanannya.

​Tidak ada seorang pun yang melompat keluar dari balik pohon sambil tertawa terbahak-bahak untuk membongkar jebakan konyol ini.

​Rasa panik perlahan mulai mengambil alih kendali rasionalitas di dalam kepala pemuda berpenampilan serampangan tersebut.

​Ia meremas ujung kemeja kotaknya, mencoba memikirkan siapa saja musuh yang mungkin menaruh benda berbahaya ini di jalan raya.

​Reno merasa tidak memiliki rekam jejak kriminal apa pun selain kebiasaan meminjam uang jajan Radit pada pertengahan bulan.

​Ia segera bangkit berdiri dengan gerakan serabutan, meninggalkan boneka kelincinya tergeletak begitu saja di atas jalanan yang berdebu.

​Kakinya melangkah tergesa-gesa menuju sebuah tong sampah plastik berwarna hijau kusam yang berada di sudut persimpangan trotoar.

​Tangannya yang masih bergetar langsung melemparkan ponsel canggih tersebut ke dalam tumpukan botol bekas dan bungkus makanan ringan.

​Bunyi benturan benda padat terdengar teredam dari dasar tong sampah, menandakan bahwa ancaman digital itu sudah resmi dibuang jauh-jauh dari hidupnya.

​Reno segera membalikkan badan, berjalan setengah berlari untuk memungut kembali sebelah telinga boneka kelinci raksasanya yang malang.

​Ia menyeret boneka itu dengan langkah kaki yang dipercepat, berusaha menjauh dari lokasi penemuan barang pembawa sial itu secepat mungkin.

​Pikirannya mulai menyusun ulang rencana malam ini, bertekad untuk menceritakan kisah penolakan cintanya saja kepada Radit tanpa perlu menyinggung insiden kotak hitam.

​Jarak puluhan meter berhasil ia tempuh dalam waktu singkat, meninggalkan tong sampah tadi jauh di belakang persimpangan blok bangunan.

​Jalanan trotoar di depannya kini terlihat seperti jalur pelarian paling aman menuju kamar kosnya yang sempit namun penuh kedamaian.

​Sepatu kets bututnya melangkah mantap, menapaki susunan bata trotoar dengan ritme yang jauh lebih tenang.

​Beban pikirannya perlahan bergeser dari ancaman kematian digital menuju tagihan uang kos bulan ini yang belum juga ia lunasi.

​Langkah kakinya mulai melambat kembali menuju tempo normal, merasa sangat aman karena ancaman hitung mundur umur dua puluh empat jam itu sudah musnah.

​||||

​Perasaan lega Reno nyatanya hanya mampu bertahan selama beberapa tarikan napas pendek di tengah trotoar yang mulai lengang.

​Sebuah getaran mekanik yang luar biasa kuat tiba-tiba terasa berdenyut ritmis dari dalam saku celana jins sebelah kanannya.

​Getaran itu terasa sangat tidak wajar, memukul paha kanannya dengan kekuatan setara alat bor listrik portabel berkekuatan penuh.

​Reno menghentikan langkah kakinya secara mendadak, menunduk menatap saku celananya yang mendadak terasa berat dan menonjol mencurigakan.

​{Perasaan, aku sudah menggadaikan ponsel pintarku satu-satunya pada Radit minggu lalu demi membeli boneka kelinci jelek ini.}

​Tangannya merogoh saku celana dengan gerakan yang sangat kaku, merasakan sebuah permukaan logam bersuhu sangat dingin kembali bersentuhan dengan ujung jarinya.

​Napasnya seketika tercekat tertahan di tenggorokan saat ia menarik keluar benda tersebut dari dalam saku.

​Kedua bola matanya hampir melompat keluar saat menatap wujud ponsel hitam metalik tanpa merek yang tadi sudah ia buang ke dalam tong sampah.

​Benda itu kembali berada di telapak tangannya dalam keadaan bersih mengkilap tanpa noda kotoran sedikit pun.

​Kejadian ini seolah membuktikan bahwa perangkat tersebut memiliki kemampuan teleportasi kuantum yang dengan berani menentang seluruh hukum fisika dasar.

​Reno menjerit histeris layaknya orang ketakutan melihat hantu, secara refleks melempar ponsel itu sekuat tenaga ke arah tembok beton di pinggir jalan raya.

​Ponsel itu tidak hancur berkeping-keping layaknya benda elektronik normal saat menghantam permukaan beton yang sangat keras.

​Benda hitam itu justru memantul dengan lintasan kurva yang sangat presisi, menolak hukum gravitasi yang seharusnya menarik massanya jatuh ke tanah.

​Perangkat elektronik canggih itu melayang di udara, memutar bodinya secara aerodinamis, lalu meluncur deras masuk kembali ke dalam saku kemeja Reno dengan gerakan sangat mulus.

​Reno menampar dadanya sendiri karena terkejut setengah mati, merasakan beban padat ponsel yang kini bersarang nyaman di saku kemeja bagian dadanya.

​Ia menarik keluar benda itu dengan kedua belah tangan yang gemetar hebat, menatap layar yang kini menampilkan gelombang suara berbentuk garis-garis biru.

​Suara mekanik yang sangat jernih dan bernada luar biasa sinis kembali mengalun, langsung menyusup ke dalam gendang telinga Reno seolah menggunakan transmisi tulang tengkoraknya.

​"Siapa kau, dan bagaimana caranya benda konyol ini bisa terbang kembali ke sakuku seperti bumerang otomatis?!"

​Reno berteriak panik ke arah layar ponselnya, sama sekali tidak memedulikan pandangan aneh dari seorang pengemudi ojek daring yang kebetulan melintas pelan di dekatnya.

​Garis-garis biru di layar bergerak seirama dengan setiap suku kata sarkastis yang dilontarkan oleh kecerdasan buatan tersebut.

​"Aku tidak pernah mendaftar untuk menjadi pemilikmu, jadi tolong matikan sistem sinkronisasi gila ini sekarang juga!"

​Reno membalas dengan nada memohon yang menyedihkan, ibu jarinya menekan layar sentuh secara membabi buta dalam upaya putus asa untuk mencari tombol pembatalan.

​Jari-jarinya bahkan mencoba mencongkel pinggiran bodi logam ponsel tersebut untuk mencabut sumber dayanya, namun konstruksinya benar-benar menyatu tanpa ada satu pun garis perakitan.

​Ponsel itu memberikan penjelasan dengan nada santai yang justru membuat lutut Reno kembali terasa lemas kehilangan tenaga tulang rawan.

​{Sialan, mesin rongsokan ini tidak hanya mengancam nyawaku secara harfiah, tetapi juga terus-menerus menghina harga diriku yang sudah hancur lebur hari ini.}

​Reno menelan ludah kasarnya, mencoba mencari posisi berdiri yang nyaman sambil menyeimbangkan tubuhnya yang masih merespons ketakutan dengan gemetar ringan.

​"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau tidak memanggang sel otakku besok sore?"

​Ia akhirnya menyerah pada perdebatan logika komputasi, menyadari bahwa teknologi tak dikenal di tangannya ini tidak akan bisa dikalahkan hanya dengan argumen mahasiswa tingkat akhir sepertinya.

​Siri-usly menyapa namanya dengan pengucapan intonasi yang sangat fasih, membuktikan bahwa ponsel ini telah meretas dan menyedot data identitas pribadinya hanya dari satu kali pemindaian wajah.

​Layar ponsel kembali berubah secara dramatis, menampilkan sebuah grafik batang yang saat ini menunjukkan angka nol persen dengan warna merah sebagai peringatan fatal.

​Reno mengusap wajahnya yang terasa sangat tegang, merasa bahwa hidupnya baru saja ditarik paksa dari genre komedi romantis yang tragis menjadi film fiksi ilmiah berisiko tinggi.

​"Jadi kau mau aku menjadi budak suruhan sebuah telepon genggam cerewet mulai hari ini?"

​Ia bertanya dengan nada sinis yang tertahan, mencoba mempertahankan sedikit sisa ego kelelakiannya di hadapan sebuah perangkat keras tak bernyawa.

​Garis gelombang suara visual di layar berputar cepat membentuk pola senyum asimetris yang dirancang khusus untuk terlihat sangat merendahkan lawan bicaranya.

​||||

​Layar ponsel X-Phreak 9000 mendadak bergetar sejenak, mengubah antarmuka utamanya menjadi sebuah panel instrumen taktis yang dipenuhi baris kode berwarna hijau.

​Reno menatap rentetan bahasa mesin yang mengalir turun seperti air terjun digital, menyadari bahwa ini adalah tingkat pemrograman yang tidak pernah ia sentuh di kelas termudah sekalipun.

​"Tes sabotase apa lagi ini, aku bahkan belum menelan sebutir nasi pun setelah ditolak mentah-mentah dengan alasan mirip kelinci tadi sore!"

​Ia memprotes keras sambil mengangkat boneka kelincinya sebagai barang bukti, kakinya bersiap melangkah mundur untuk berlari menjauhi trotoar tersebut.

​Perintah Siri-usly terdengar sangat absolut dan mendominasi, memaksa saraf motorik Reno untuk menuruti instruksi tersebut tanpa perlawanan berarti.

​Di ujung persimpangan jalan utama, sebuah tiang lampu lalu lintas berdiri tegak mengatur barisan panjang kendaraan yang mulai menumpuk padat akibat bubaran karyawan kantor.

​Reno menatap deretan mobil yang tertahan oleh lampu penanda berhenti, otaknya gagal mencerna hubungan antara tiang besi pengatur jalan itu dengan misi hidup dan matinya.

​Tangan Reno bergerak naik secara mekanis layaknya robot rusak, mengarahkan punggung ponsel hitam itu lurus ke depan seperti seorang agen rahasia yang sedang membidik target operasi.

​Sebuah kotak penanda visual berwarna kuning muncul di layar sentuhnya, mengunci objek lampu lalu lintas dari jarak jauh dengan kalkulasi perhitungan matriks yang sangat rumit.

​Reno mengerjap dengan kebingungan tingkat tinggi, mencoba memproses informasi absurd bahwa benda sekecil ini mampu meretas jaringan kabel lalu lintas tanpa koneksi perantara fisik sama sekali.

​Belum sempat mulutnya terbuka untuk mengajukan pertanyaan konyol mengenai cara kerjanya, antarmuka layar ponsel di tangannya mendadak berubah menjadi warna merah pekat yang memicu adrenalin.

​Visual gelombang suara Siri-usly menghilang sepenuhnya dari layar, digantikan oleh sebuah kotak teks peringatan darurat yang mengisi penuh seluruh ruang di kaca hitam tersebut.

​Jantung Reno seakan berhenti memompa darah selama hitungan detik saat ia mengeja lambat-lambat instruksi bernada hukuman fisik yang terpampang jelas di hadapannya.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!