Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb16
Sian menarik Ryn menuju kamar mereka, melewati beberapa pekerja rumah yang memandang khawatir. Sian marah besar pada Ryn, apakah Ryn akan baik-baik saja? Pearly meminta semua bubar demi memberi tuan mereka ruang pribadi. Rumah sengaja di kosongkan dari segala aktifitas tersisa. Jika membutuhkan sesuatu Sian pasti menghubungi melalui intercom.
Setibanya di kamar Sian langsung menciumi bibir Ryn penuh tuntut. Ryn terdorong hingga ke tempat tidur tanpa bisa menolak atau bahkan memberontak. Dominasi Sian sangat kuat dalam setiap tahap melakukan pemanasan. Mengabsen setiap inci tubuh Ryn, menyentuhnya, mencicipi apa saja yang bisa lidah Sian jangkau. Satu tangan Sian menahan kedua lengan Ryn diatas kepala sedangkan satunya sibuk raba sana raba sini. Yang awalnya masih berpakaian kini keduanya polos saling mengerang bergantian.
"Aku mau kau Zhao Ryn!" Bisik Sian, suaranya begitu sensual ditelinga Ryn. "Buka kakimu... " Perintahnya menatap intens Ryn dengan nafas keduanya sama-sama terengah menahan gejolak.
Ryn menurut, dia melebarkan kaki sesuai keinginan Sian namun mengalihkan pandangannya enggan melihat mata pria yang kini berselimut kabut gairah itu.
"Kau milikku Zhao Ryn." Klaim Sian menghentakkan miliknya masuk kedalam memenuhi Ryn.
"Sian... " Desah Ryn mencengkram bahu lebar Sian. Keduanya menempel erat seakan masih mencari kedalaman itu.
Ryn sendiri telah mendapat pelepasannya beberapa kali, dia selalu kewalahan menunggu Sian klimaks. Dari posisi terlentang Ryn berbalik menjadi tunggangan Sian. Sian bahkan menarik rambut Ryn yang terikat kuncir kuda.
"Sian, aku tidak tahan..." Ryn meracau tak karuan mendapat tusukan berkali-kali. Kemudian Sian mengganti posisi menyamping untuk menuntaskan semuanya.
Basah sudah tempat tidur sang tuan muda oleh sisa cairan milik Sian. Keduanya mengatur nafas yang terengah-engah, peluh membasahi kening Ryn dan juga punggung Sian.
Sian bangkit mengabaikan Ryn, dia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Ryn terisak dalam diam dengan keadaan tubuh polosnya.
Saat suara air di kamar mandi terdengar Ryn juga bangun, cepat-cepat meminum pil pencegah kehamilan. Matanya fokus mencari dompet milik Sian. Setelah menemukannya di saku jasnya Ryn keluar kamar hanya mengenakan celana training dan hoodie milik Sian.
Dia bernafas lega mengamati sekeliling rumah tak tampak siapapun. Berjalan mengendap-endap seperti maling, Ryn sedang menghindari jangkauan CCTV. Dia berencana kabur dari Sian.
***
Seluruh pekerja rumah berjejer rapi menunduk di hadapan Sian. Mereka ada paman Sam, Pearly, satu asisten juru masak, dua pelayan muda, dua pembersih dan dua pengawal gerbang tidak ada yang berani menjawab hanya untuk memancing amarah sang pemilik rumah.
Jun sendiri masih sibuk di ruang monitor, mencari jejak kepergian Ryn. Sial, semua berawal dari keteledoran Sian yang menganggap Ryn berada di balkon selepas dirinya mandi. Karena masih kesal Sian sengaja tidur di ruang kerja. Pagi buta sekali ketika kembali ke kamar Sian sudah tidak menemukan Ryn di manapun.
"Inisiatifmu berujung kerugian untukku Pearly." Geram Sian masih menahan emosi. Pearly yang menyadari kecerobohannya hanya menunduk.
"Aku siap menerima hukuman tuan." Akhirnya Pearly buka suara setelah Sian terdiam menunggu bentuk tanggung jawab darinya.
"Hukuman ya? Ide yang bagus." Kemudian Sian bangkit dari duduknya, berjalan mencari sesuatu di dekat tangga. Para pekerja tentu terkejut melihat Sian membawa sebuah cambuk.
"Kalian kembali bekerja." Perintah Sian membubarkan barisan. Mereka bergegas kembali ke pekerjaan masing-masing.
Sian menyerahkan cambuk kehadapan Pearly, wanita paruh baya itu malah bingung tak mengerti apa maksud Sian. "Dia mengambil uang dua juta di dompetku, jika dibagi gaji perhari kalian maka itu total cambukan yg harus kau berikan padaku." Mendengar penjelasan Sian pearly reflek menggeleng menolak melakukannya. Mana mungkin dia berani menyakiti tuannya yang sudah mencukupi biaya hidupnya selama bekerja di rumah megah itu.
"Tidak tuan, lebih baik anda yang menghukum saya." Mohon Pearly memelas agar Sian berhenti memberinya pelajaran penting tersebut.
"Kalau begitu kau bisa menulis surat pengunduran dirimu." Sian berbalik hendak naik ke atas namun Pearly menahannya, dia harus menjaga keutuhan rumah dan seisinya sampai kapanpun karena mendiang Ibu Sian telah berpesan padanya.
"Maafkan aku tuan." Bisik Pearly tak tega melakukannya namun ia terpaksa.
Di tempat lain Ryn masih duduk termenung di kursi tunggu sebuah bangsal kejiwaan. Mendadak dia merasa sepeti kurang waras hanya karena kabur dari Sian. Ryn seolah kehilangan sesuatu paling berharga dalam dirinya. Semenjak keluar dari rumah milik Sian Ryn lebih banyak melamun, pikirannya kosong bahkan menangis tersedu sampai mengundang perhatian banyak orang di sekelilingnya. Sudah benarkah apa yang ia lakukan sekarang? Ryn butuh melakukan pengecekan mental, jangan sampai dirinya menjadi benar-benar gila.
"Nona Zhao Ryn, silahkan masuk." Ryn berdiri mengikuti asisten dokter masuk.
Di dalam seorang dokter spesialis kejiwaan senior menyambut Ryn sekaligus cukup terkejut. Ryn juga menyadari hal itu hanya bisa tersenyum menyapa.
"Duduklah." Dokter mempersilahkan Ryn duduk di sofa agar lebih nyaman berkonsultasi.
"Jadi, ingin cerita apa hari ini nona Ryn?" Pertanyaan dari dokter berhasil menciptakan kembali kesedihan mendalam Ryn. Tiba-tiba menangis merasakan sesak di dada, Ryn malu juga membenci dirinya yang lemah dan cengeng. Dia sudah terbiasa kuat dan tahan banting sejak kecil.
Lalu Ryn menceritakan semua tentang kisah hidupnya sejak awal sampai hari ini. Dokter di hadapannya tentu sangat amat prihatin mendengarnya.
"Kau bisa berhenti dari segala kepenatan nona. Berlibur atau menikmati apa yang menjadi kesukaanmu merupakan cara mengurangi stres." Saran dokter usai menyimpulkan solusi berdasarkan cerita Ryn.
"Baik dokter Zhu Ma, terima kasih sudah mau mendengarkan." Ucap Ryn, ternyata dokter paruh baya yang menanganinya adalah Zhu Ma.
"Aku akan meresepkan beberapa makanan yang cocok untuk suasana hati. Jika masih butuh tempat cerita hubungi saja nomor ponselku." Zhu Ma menyodorkan kartu nama miliknya, Ryn lantas menerima dengan senang hati.
"Tentu dokter Zhu, kalau begitu aku permisi." Ryn pamit membawa secarik kertas berisi resep vitamin dan daftar makanan yang bagus untuk menaikkan mood.
Ryn yang tidak tahu harus pulang kemana memutuskan naik taksi dan memilih kembali ke kediaman Sian. Rasanya kurang bijak jika Ryn tiba-tiba menghilang darinya. Kalaupun mereka harus berpisah Ryn ingin secara baik-baik bukan seperti ini.
Kedatangan Ryn jelas membuat heboh seisi rumah, Ryn berusaha menebalkan muka setelah menciptakan kekacauan yang pastinya membuat Sian mengamuk. Biarkan mereka mencela karena sikap egois Ryn, dia hanya manusia biasa yang membutuhkan pertolongan moril.
"Nona anda kembali, syukurlah." Pearly orang pertama yang menyambut, dia harus memberitahu wanita muda itu tentang kondisi Sian.
"Aku lelah, aku permisi ke kamar." Buru-buru Ryn naik ke lantai atas, supaya bisa menghindari Sian Ryn memutuskan menggunakan kamar tamu di dekat tangga.
Sian sedang menikmati wiski di ruang kerja mendapat laporan dari Jun bahwa Ryn telah kembali. Sudut bibirnya terangkat sedikit membayangkan hal apa yang harus ia lakukan pada Ryn agar jera.
Keluarnya Sian dari ruang kerja hingga tiba di depan pintu kamar Ryn disaksikan oleh seluruh pekerja rumah. Kali ini mereka tidak boleh lengah atau kecolongan lagi. Pearly mengatur mereka ke tempat masing-masing tanpa meninggalkan kediaman utama.
Prang...
Suara vas bunga dilempar pecah berserakan. Ryn hampir saja melukai Sian kalau saja dia tidak cepat menghindar.
"Jangan mendekat Sian! Keluar." Teriakan Ryn tidak teredam sehingga orang-orang samar-samar bisa mendengarnya.
"Kau takut dihukum tapi tetap membangkang Zhao Ryn." Kata Sian berusaha mengintimidasi, dia lupa bahwa Ryn selalu takut dalam keadaan dirinya tertekan maka dari itu dia berani menyerang Sian.
"Kau punya kekuatan melawanku, sedangkan menghadapi ibumu sendiri tak berkutik. Zhao Ryn kau pengecut." Sian jelas-jelas sengaja memancing kemarahan wanita yang bergerak gelisah menjauhinya.
"Tuan muda Lee kau benar sekali. Kau terbiasa dengan sendok perak sejak kecil, sementara aku hanya akan menjadi noda dipakaianmu." Ryn menegaskan tetap ingin menyudahi hubungannya dengan Sian.
"Zhao Ryn, kau lebih dulu datang padaku. Sekali kau masuk kau tidak akan pernah bisa menemukan jalan keluar." Kecaman Sian mulai membuat jengah Ryn.
"Hentikan omong kosongmu Sian. Aku dan kau sebatas saling menguntungkan." Sanggah Ryn menolak perintah Sian.
Sian mengabaikan pembenaran Ryn, matanya malah fokus pada bungkusan yang Ryn genggam. Dia penasaran lalu dengan cepat merebutnya dari Ryn. Sempat terkejut namun Ryn berusaha tenang.
"Kau pergi ke dokter? Bagian mana yang sakit, biar kuperiksa,,, " Tiba-tiba suasana menjadi kikuk, Sian menurunkan tensi perdebatan karena khawatir.
"Aku hanya pusing, bukan masalah besar." Jawab Ryn berbohong. Sian malah menatapnya curiga, mungkinkah benihnya sudah jadi? Sian kemudian menarik Ryn mendekat agar bisa memeluknya erat.
"Maaf, aku minta maaf sayang. Aku cemburu melihat pak tua itu menyentuhmu." Gumam Sian bersandar di ceruk leher Ryn.
"Bagaimanapun apa yang kau ucapkan benar Sian..." Sentil Ryn masih kesal padanya
"Aku siap menerima hukuman darimu sayang. Akh... " Sian memekik saat Ryn memukul punggungnya membuat wanita itu terkejut.