Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teknik Kelas Bumi dan Langkah Alkemis
Chen'er meluncur cepat di sepanjang jalan setapak berdebu menuju
ke arah luar lereng hutan Gunung Tiga Jari.
Satu letupan cahaya putih keperakan kembali meledak di sekitar pergelangan
kakinya saat ia memicu "Langkah Petir" untuk memotong jarak perjalanan pulang
menuju ke gubuk keluarganya. Kecepatan gerak fisik tahap keempat yang dipadukan
dengan teknik mobilitas kelas Bumi tersebut membuatnya mampu melesat sejauh
puluhan meter hanya dalam beberapa kedipan mata, menyisakan kepulan debu tipis
yang berputar di udara jalan setapak sepi itu.
Dengan satu gerak lompatan ringan yang sangat presisi, Luo Chen mendarat tepat
di depan pintu halaman gubuk kayu reyotnya, lalu melangkah masuk ke dalam
ruangan tengah dengan tenang.
"Chen'er... apakah ini benar-benar kau?" tanya Mu Xue menghentikan
gerakan tangannya yang sedang memegang sapu lidi, matanya membelalak lebar
menatap penampilan putranya yang kini mengenakan jubah biru tua mewah bersulam
pola awan emas elegan bagai seorang tuan muda bangsawan dari klan besar. "Dari
mana kau mendapatkan pakaian seindah ini? Dan... tubuhmu terasa memancarkan
energi fisik yang sangat padat."
"Iya, Ibu. Ini saya," jawab Luo Chen melangkah mendekat dengan senyum
tipis di wajahnya yang kini tampak lebih tegas dan bertenaga. "Banyak hal luar
biasa yang terjadi di dalam hutan lereng gunung tadi siang."
Mata pria paruh baya yang berbaring di atas ranjang kayu mendadak melebar penuh
kengerian saat pandangan matanya tertuju pada sesosok makhluk kecil berbulu emas
yang bertengger manis di atas pundak kanan putranya. Luo Hao mencoba menegakkan
tubuhnya dengan susah payah menggunakan bantuan tongkat penyangganya
menunjuk ke arah pundak Luo Chen dengan tangan yang bergetar hebat.
"Tunggu... makhluk emas di bahumu itu... bentuk tanduknya yang kecil... itu
adalah anak Kirin Tanduk Emas!" bisik Luo Hao dengan suara parau yang dipenuhi
kepanikan luar biasa. "Bagaimana bisa kau membawanya ke sini, Chen'er? Binatang
spiritual kuno itu adalah incaran utama seluruh sekte besar di benua ini!"
Sambil menurunkan kepala kecil Xiao Lin dari pundaknya dan mengendongnya dengan
lembut di kedua telapak tangannya, Luo Chen melangkah mendekat ke arah ranjang
ayahnya. "Induk Kirin raksasa itu telah tewas melarutkan jasadnya di dalam goa
setelah terluka parah dalam pertempuran melawan para tetua sekte di lembah
utara, Ayah. Sebelum tewas, ia memercayakan anaknya kepadaku untuk dirawat."
"Aku menggunakan Seni Ikatan Harmoni Jiwa untuk mengikat jiwa kami sebagai
saudara, Ayah. Kami tidak mengikat diri dalam hubungan perbudakan fana," lanjut
Luo Chen menunjukkan segel pusaran spiritual emas tipis yang samar-samar
muncul di keningnya dan kening Xiao Lin saat mereka saling bersentuhan.
Mendengar penjelasan putranya yang sangat tenang, Luo Hao menarik napas
dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya yang berpacu kencang.
Kengerian di wajahnya perlahan-lahan berganti dengan pandangan mata yang
dipenuhi rasa haru sekaligus kekhawatiran yang mendalam.
"Kirin adalah ras kuno legendaris, Chen'er," ujar Luo Hao menatap Xiao
Lin yang kini sedang mengendus ujung jarinya dengan rasa ingin tahu. "Jika para
praktisi sekte serakah di kota luar tahu ada anak Kirin di gubuk reyot kita,
mereka akan meratakan seluruh desa ini dalam sekejap mata tanpa ragu.
"Baik, Aku mengerti Ayah. Aku akan membiarkan Xiao Lin beristirahat dengan aman di dalam
Kantong Semesta kelas Langit milikku saat aku pergi ke kota nanti," jawab Luo Chen
membiarkan anak Kirin itu melompat kembali ke atas tumpukan jerami kering
di sudut kamarnya.
Luo Hao terkejut sebentar ketika mendengar Chen er menyebut Kantong Semesta "Apa Katamu barusan? Kau punya kantong semesta?"
"Benar, Yah, ini juga bagian dari harta yang induk Kirin tersebut berikan kepadaku"
Mendengar itu Luo Hao terdiam sejenak, dan ia membatin
"Anak ini. Sungguh tidak terduga!, ia memilik bakat di atas rata-rata, terlebih lagi, langit berpihak kepadanya. Memberikan keuntungan yang bahkan tidak dimiliki jenius lainnya!"
Setelah itu Chen er pamit kepada kedua orang tuanya untuk segera memulihkan dirinya setelah perjalanan panjang ini.
Malam harinya, di dalam kamar kecilnya yang sunyi, Luo Chen duduk bersila untuk
mempelajari teknik beladiri baru yang terpahat di lembaran tengah "Kitab Maha
Tahu".
"Teknik Cakar Harimau... sebuah seni beladiri fisik tingkat Bumi," batin Luo
Chen mempelajari pola aliran energi yang terpampang di dalam kepalanya.
"Teknik ini memusatkan seluruh energi fisik murni ke ujung lima jari tangan
untuk membentuk cakar Qi tajam seperti cakar harimau, mampu meremukkan lempengan
batu baja hanya dalam satu sabetan cakar murni."
Sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di atas kepala, ia mencoba
mengalirkan energi fisik tahap keempatnya secara eksplosif menuju ke arah ujung
jari-jarinya.
"Ugh... ada sumbatan energi yang sangat tebal di sepanjang jalur meridian lengan
kananku," batinnya menggertakkan giginya rapat-rapat menahan rasa panas
yang menyengat layaknya tusukan jarum-jarum api. "Aku harus memaksakan seluruh
energi fisikku untuk menembus sumbatan meridian ini jika ingin menguasai teknik
cakar ini secara sempurna!"
Dengan memusatkan seluruh konsentrasi energinya, Luo Chen mendorong aliran
tenaganya secara ekstrem melewati jalur meridian lengan kanannya yang tersumbat
hingga terdengar suara letupan kecil di bawah kulitnya. Sumbatan meridian
tersebut hancur seketika, disusul dengan munculnya pendaran cahaya cakar Qi
berwarna kuning jingga yang sangat tajam di ujung kelima jari tangan kanannya.
"Aku berhasil menembus ke Ranah Pemurnian Tubuh tahap kelima," batin Luo Chen
mengayunkan cakar energinya ke arah udara kosong, meninggalkan tiga garis
cahaya kuning jingga yang tajam dan berdesir keras sebelum perlahan-lahan
meredup kembali. "Kekuatan fisik murniku sekarang telah meningkat hingga dua
kali lipat, dan jalur meridian lenganku terasa jauh lebih lebar dari
sebelumnya."
Keesokan harinya, di bawah naungan langit pagi yang cerah di luar gerbang
selatan Kota Qingfeng, Luo Chen melangkah perlahan menuju ke arah pusat kota.
Xiao Lin telah disembunyikannya dengan aman di dalam Kantong Semesta kelas
Langit yang tergantung di balik lipatan jubah biru tuanya yang mewah.
"Aku memiliki ratusan batu roh kualitas rendah di dalam cincin ruang sekarang,"
batin Luo Chen mengedarkan pandangannya ke arah deretan bangunan toko di
sepanjang jalan utama kota. "Aku bisa membeli persediaan bahan herbal
berkualitas terbaik di Paviliun Pil Seribu Obat untuk mulai memurnikan pil
pertamaku."
pemuda itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah berlantai
tiga dengan arsitektur kayu jati yang sangat kokoh, bertuliskan papan nama emas
"Paviliun Pil Seribu Obat" di atas pintunya. Aroma harum ratusan jenis tanaman
herbal spiritual yang menyejukkan keluar bebas dari dalam pintu paviliun,
memancing kedatangan puluhan praktisi klan besar yang keluar-masuk membawa
kantong obat mereka.
"Hari ini akan menjadi langkah pertamaku sebagai seorang alkemis di Benua Yin
Yang," batinnya merapikan kembali lipatan jubah biru tuanya sebelum
melangkah tegap masuk melewati dua orang penjaga zirah besi di depan gerbang
paviliun.