NovelToon NovelToon
Istri Bayangan Tuan Adhitama

Istri Bayangan Tuan Adhitama

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.

Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.

Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.

Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.

"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Para perias, petugas katering, panitia keluarga, semuanya datang silih berganti. Tak sampai dua minggu, seluruh persiapan selesai. Tetangga mulai berbisik-bisik. Sebagian terkejut, sebagian heran, sebagian lagi memilih diam. Namun tak ada satu pun yang berani mempertanyakan keputusan keluarga Adhitama secara langsung yang tiba tiba menjadikan Aisyah, yang tak lain adik dari istri putra tunggal mereka sendiri untuk dijadikan istri kedua bagi putra mereka. Nama besar mereka terlalu disegani.

Dua minggu kemudian, akhirnya pernikahan Ammar dan Aisyah dilangsungkan. Pagi itu mentari pagi baru saja naik. Di dalam kamar, Aisyah duduk diam di depan meja rias. Pantulan dirinya memenuhi cermin besar di hadapannya. Hari ini, Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan sulaman keemasan menghiasi bagian lengan hingga ujung roknya. Cadar pengantinnya menjuntai lembut sementara mahkota kecil berhias mutiara bertengger di atas hijabnya. Semuanya tampak begitu indah, begitu anggun, namun tak ada senyum di wajah perempuan itu.

Tatapannya kosong. Perias yang sejak tadi berada di belakangnya akhirnya pamit keluar.

Kini, tinggallah Aisyah yang tengah duduk sendirian di dalam kamarnya dan membuatnya kembali menatap pantulan dirinya cukup lama. Jemarinya perlahan menyentuh ujung cadar lalu menyentuh mahkota kecil di kepalanya. Air mata perlahan mulai memenuhi pelupuk matanya.

"Jadi," lirihnya hampir tak terdengar. "Ini benar-benar terjadi."

Ia sempat berharap kalau semua ini hanya mimpi. Bahwa nanti ia akan bangun lalu mendapati dirinya masih menjadi Aisyah yang dulu, Bukan seorang pengantin dan terlebih lagi, jadi istri kedua. Air mata mulai jatuh satu demi satu, namun segera ia usap sebelum merusak riasannya. Tak lama kemudian dari luar kamar terdengar suara ijab kabul sedang dimulai. Suara penghulu terdengar samar lalu disusul dengan suara Ammar yang terdengar mantap dan jelas saat mengucapkan ijab kabul.

Aisyah memejamkan kedua matanya. Dadanya bergemuruh hebat.

"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Humaira Azzahra binti Umar Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia seberat 20 gram dibayar tunai."

"Bagaimana para saksi?"

Beberapa detik kemudian, terdengar suara para saksi yang terdengar hampir bersamaan.

"Sah..."

Kalimat itu langsung membuat tubuh Aisyah membeku. Kini, ia benar-benar telah menjadi istri Ammar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya kembali jatuh. Bukan karena bahagia, bukan pula karena menyesal, melainkan karena ia sendiri tidak tahu harus merasakan apa. Ia hanya tahu kalau takdir baru saja berubah dan hidupnya, tidak akan pernah sama lagi.

Di luar kamar, suara para tamu mulai terdengar semakin ramai. Ucapan selamat bersahut-sahutan memenuhi halaman rumah Pak Umar. Sesekali terdengar tawa kecil para kerabat yang sedang berbincang, bercampur dengan lantunan selawat yang diputar pelan melalui pengeras suara. Namun, semua keramaian itu terasa begitu jauh bagi Aisyah.

Ia masih duduk terpaku di depan meja rias.

Kedua tangannya saling menggenggam begitu erat di atas pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Suara "sah" yang beberapa menit lalu menggema di halaman rumah masih terus terngiang di dalam kepalanya.

"Sah..."

Satu kata namun cukup mengubah seluruh jalan hidupnya. Perlahan Aisyah mengangkat wajahnya. Tatapannya kembali bertemu dengan bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak begitu indah. Kalau ada orang lain yang melihatnya sekarang, mungkin mereka akan berkata bahwa ia adalah pengantin paling cantik hari itu. Namun, Aisyah justru merasa asing pada dirinya sendiri seolah perempuan yang ada di dalam cermin bukan dirinya.

"Ini benar-benar aku?" Tanyanya lirih. Bibirnya bergetar sementara kedua matanya mulai memanas kembali. "Aku sudah menjadi istri mas Ammar."

Kalimat itu berhenti. Ia bahkan tidak sanggup melanjutkannya karena setiap kali mengingat siapa laki-laki yang kini menjadi suaminya. Dadanya langsung terasa sesak.

Ammar, Laki-laki yang selama lima tahun terakhir ia hormati sebagai kakak iparnya. Laki-laki yang setiap bertemu selalu ia sapa dengan penuh hormat yang kini telah menjadi suaminya sendiri. Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Aisyah.

"Apa semua ini benar, Ya Allah?" Aisyah menundukkan wajahnya. "Apa memang ini takdir yang Engkau pilihkan untukku?" Tanya Aisyah kepada penciptanya namun tak ada jawaban, hanya keheningan yang memenuhi kamar.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu.

Tok...

Tok...

Tok...

"Aisyah."

Suara lembut itu membuat Aisyah langsung mengenalinya.

"Kak Salsa."

Disusul suara lain yang terdengar lebih dewasa.

"Nak..."

Perlahan Aisyah mengusap kedua sudut matanya sebelum berdiri. Ia lalu membuka pintu dan begitu pintu terbuka, Aisyah bisa melihat Salsa yang berusaha tersenyum tipis meski mata perempuan itu masih terlihat sembab.

"Masya Allah..." lirih Ratih tanpa sadar. "Kamu cantik sekali."

Aisyah hanya menundukkan kepalanya.

"Terima kasih, tante." Ucap Aisyah yang membuat Ratih terkejut.

"Lho, kok kamu panggilnya masih Tante sih. Mulai sekarang kamu harus panggil mama, karena sekarang kamu sudah sah menjadi istri Ammar.

Aisyah tidak mengatakan apapun dan membuat Ratih mendekat. Tangannya perlahan membenarkan sedikit kerudung panjang Aisyah yang bergeser sementara tatapannya terlihat lembut. Entah sejak kapan, ia mulai melihat gadis di hadapannya bukan hanya sebagai menantunya, melainkan juga perempuan muda yang sedang mempertaruhkan seluruh hidupnya demi keluarga mereka. Ratih mengusap pelan lengan Aisyah.

"Sudah siap?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Aisyah terdiam beberapa detik. Siap? Kalau yang dimaksud siap menjadi pengantin, mungkin pakaiannya sudah siap, Riasannya sudah siap, Akadnya pun sudah selesai. Namun kalau yang dimaksud siap menjalani hidup baru, hatinya sama sekali belum siap. Tetapi, apa ia masih memiliki pilihan? Perlahan Aisyah menganggukkan kepala.

"InsyaAllah, ma."

Jawaban itu terdengar lirih. Salsa memandang adiknya cukup lama. Perasaan bersalah kembali menghantam dadanya. Perempuan yang berdiri di depannya hari ini, seharusnya menikah dengan laki-laki yang benar-benar mencintainya. Bukan menjadi istri kedua suaminya sendiri, namun semuanya sudah terlambat. Takdir sudah berjalan. Salsa tersenyum kecil meski matanya kembali berkaca-kaca.

"Ayo, Dek." Suara itu nyaris bergetar. "Semua orang sudah menunggu."

Aisyah menarik napas panjang, kemudian dengan langkah perlahan, ia keluar dari kamarnya dan membuat kerudung pengantin panjangnya menjuntai mengikuti setiap langkahnya. Ratih berjalan di sisi kanan sedangkan Salsa berada di sebelah kirinya.

Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong rumah menuju ke tempat pelaminan. Tak ada yang berbicara, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar pelan. Semakin mendekati halaman, suara para tamu semakin jelas terdengar. Lampu-lampu gantung menghiasi seluruh pelataran rumah. Bunga-bunga putih memenuhi pelaminan.

Di tengah halaman, Ammar berdiri bersama beberapa anggota keluarganya yang lain. Lelaki itu kini mengenakan Setelan jas pengantin putih yang senada dengan gaun pengantin Aisyah. Semua orang memuji ketampanannya, namun wajah Ammar tetap datar. Tak ada senyum, tak ada binar bahagia sebagaimana lazimnya seorang pengantin.

Ketika langkah Aisyah mulai memasuki halaman, hampir semua tamu menoleh.

1
Marini Suhendar
Melihat Aisyah bikin nangis😭😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sama kak/Sob/
total 1 replies
Marini Suhendar
Itu konsekwensinya..coba bukan adik kmu yg jd madunya .sakitnya g terlalu kan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: padahal Ammar udah terima salsa apa adanya, tapi salsanya yang repot sendiri /Slight/
total 1 replies
Lembang Azam
klw kamu takut Aisyah mencuri perhatian mertua dan suamimu, harusnya dr awal kamu tuh sadar salsa jgn memaksa suamimu untk menikah lagi, disini kamu yg egois, menyakiti hati suami dan adikmu sndiri,, amar ja GPP kamu enggak punya anak, knpa kamu justru yg repot sih,,sebellll tau enggak sih thor😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sabar kak sabar, jangan emosi 🙏🤭
total 1 replies
Nda
novelmu luar biasa thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak🙏😍
total 1 replies
Marini Suhendar
d mata amar & salsa pasti salah. d kira cari perhatian
Ical Habib
boleh ta dlm hukum Islam 2 saudara sekaligus...yg boleh t KL DA meninggal satu trs pindah k adiknya.othor in ad2 aj
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hmmmm 🙄, sudahlah yah jejak di sini.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Pret ah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ngaran Weh Wira tapi kalakuan TeusaWira 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hemmm iya gitulah ya 🤷
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh tua juga kelakuan kayak gitu bukannya nikmati masa tua aja Ama bini malah ngurusin rumah tangga anak Lo 🙄🫤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
nggak tahu ah
Lembang Azam
ini neh yg plg bikin sebelll dan bingung,,,klw smw pemeran utamanya baik😭 knpa enggak pak wira ja sih yg punya anak thor🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: udah tua kak pak Wira nya🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Marini Suhendar
kamu dengar kan amar doa yg d panjatkan Aisyah...Sabar aisyah 🥰
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dasar kampret semua 😩 sudahlah pusing, jejak aja dulu yeh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Lo memang bodoh, kelak kmu salsa dgn suamimu akan lebih parah menyakiti Aisyah. kalian pasti jadi villain berakhlak binatang berbentuk manusia.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh gw pusing.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya Aisyah tidak akan menyakitimu sal, tapi kamu sendiri yg akan menyakitinya kelak bahkan setelah mendapatkan anak kau akan merebutnya. bahkan bisa saja amar pun akan sama sepertimu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya siapa lagi si mar, kok di tanya 🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ini bininya sumpah demi apa oon nggak tahu di untung suaminya di pihak Lo.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!