NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Penjaga Batu Naga

Bab 20: Kebangkitan Penjaga Batu Naga

Raungan dari bawah Kota Langit Biru terus bergema.

Seluruh kota bergetar hebat. Debu yang telah mengendap selama ribuan tahun berjatuhan dari atap-atap bangunan, sementara retakan-retakan halus menjalar di sepanjang jalan batu. Patung naga yang semula membisu kini memancarkan cahaya merah dari kedua matanya.

Ethan berdiri tanpa bergerak.

Tatapannya menyapu seluruh alun-alun.

"Bukan monster..." gumamnya pelan.

Lara yang berdiri di sampingnya menoleh.

"Maksudmu?"

"Kalau benar monster yang disegel, aura iblisnya pasti sudah memenuhi seluruh kota."

Ia memejamkan mata sesaat.

"Yang baru bangun... adalah sesuatu yang dibuat untuk menjaga kota."

Belum sempat Lara bertanya lagi, tanah tiba-tiba terbelah.

Brak!

Retakan sepanjang puluhan meter membelah jalan utama.

Dari dalam celah itu muncul sebuah tangan batu raksasa yang dipenuhi ukiran naga.

Lalu tangan kedua.

Disusul kepala.

Perlahan-lahan sosok setinggi hampir dua puluh meter bangkit dari bawah tanah.

Tubuhnya tersusun dari batu hitam berlapis logam kehijauan. Retakan-retakan di sekujur tubuhnya dipenuhi cahaya emas yang mengalir seperti pembuluh darah.

Di dahinya tertanam sebuah kristal biru sebesar kepalan tangan.

Tatapan Ethan berubah serius.

"Boneka Penjaga..."

Lara menahan napas.

"Itu bukan makhluk hidup?"

"Bukan."

"Ini artefak perang."

Di sisi barat kota, Han Rui dan kelompoknya juga menyaksikan kemunculan raksasa itu.

Seorang bawahan tertawa kecil.

"Hanya boneka batu."

"Kalau kita hancurkan inti kristalnya—"

"Diam!"

Han Rui memotong tajam.

Wajahnya kehilangan ketenangan.

"Boneka seperti ini hanya bisa dibuat oleh sekte kuno tingkat tinggi."

"Kalau masih aktif setelah ribuan tahun..."

"...jangan pernah menganggapnya lemah."

Namun salah satu anggota yang terlalu percaya diri sudah melesat lebih dulu.

Ia berada di Alam Pengumpulan Qi Bintang 6.

Pedang panjangnya dipenuhi Qi merah.

"Tebasan Api Seribu!"

Sinar pedang sepanjang belasan meter menghantam dada penjaga batu.

Ledakan keras menggema.

Asap memenuhi udara.

Pria itu tersenyum puas.

"Lihat? Tidak sekuat itu—"

Kalimatnya terhenti.

Begitu asap menghilang...

Tidak ada satu goresan pun.

Penjaga batu perlahan mengangkat kepalanya.

Mata kristalnya memancarkan cahaya biru.

Lalu...

Satu pukulan sederhana.

Boom!

Udara seakan meledak.

Pria itu bahkan tidak sempat menjerit.

Tubuhnya terpental puluhan meter sebelum menghantam dinding menara hingga hancur berkeping-keping.

Keheningan langsung menyelimuti kelompok Han Rui.

Tidak ada lagi yang berani bergerak sembarangan.

Di sisi lain kota, Ethan justru mulai berjalan.

Lara mengikutinya.

"Kita mau ke mana?"

"Menghindari jalur utamanya."

"Tapi penjaga itu akan mengejar kita."

Ethan menggeleng.

"Tidak."

"Penjaga kota tidak menyerang semua orang."

Lara mengernyit.

"Lalu?"

"Mereka menyerang siapa pun yang mengaktifkan formasi tanpa izin."

Ia melirik ke arah barat.

"Orang-orang berjubah hitam itu baru saja melakukannya."

Benar saja.

Penjaga batu sama sekali tidak memperhatikan Ethan maupun Lara.

Seluruh fokusnya tertuju pada kelompok Han Rui.

Ethan mengingat sedikit catatan yang pernah ia baca lima ratus tahun lalu.

Artefak penjaga selalu memiliki aturan mutlak.

Mereka tidak mengenali musuh.

Mereka hanya menjalankan perintah terakhir penciptanya.

Selama perintah itu bisa dipahami...

Mereka akan terus bergerak.

Han Rui menggertakkan gigi.

"Sebarkan formasi!"

Enam kultivator segera membentuk lingkaran.

Qi mereka saling terhubung.

Puluhan simbol muncul di udara.

Formasi Penjara Naga Hitam.

Energi hitam berubah menjadi rantai besar yang melesat menuju penjaga batu.

Klang!

Rantai berhasil membelit kedua lengan raksasa itu.

Han Rui tersenyum tipis.

"Tahan dia!"

Seluruh anggota kelompok mengerahkan Qi mereka.

Tanah mulai retak akibat tekanan.

Namun hanya beberapa detik kemudian...

Retakan emas di tubuh penjaga batu bersinar lebih terang.

Krek...

Krek...

Rantai energi mulai pecah.

Han Rui langsung sadar.

"Mustahil..."

"Artefaknya menyerap Qi sekitar!"

Ia baru menyadari kesalahan terbesar mereka.

Semakin banyak energi yang mereka gunakan...

Semakin kuat pula penjaga itu.

"Putuskan formasi!"

Terlambat.

Penjaga batu menarik kedua lengannya.

Rantai hitam justru berubah menjadi sumber tenaga baginya.

Ledakan besar mengguncang kota.

Empat kultivator langsung terpental sambil memuntahkan darah.

Sementara itu Ethan telah tiba di sebuah kuil kecil di sisi timur.

Bangunannya hampir runtuh.

Namun aura spiritualnya jauh lebih stabil dibanding bangunan lain.

Kompas Laut Roh kembali bergetar.

Jarumnya menunjuk ke altar batu.

Ethan mengusap permukaan altar.

Ada formasi tersembunyi.

Lara memperhatikan dengan penasaran.

"Ini juga peninggalan kota?"

"Ya."

"Dan lebih penting."

Ia mulai menyusun pola Qi dengan sangat hati-hati.

Tidak seperti formasi sebelumnya, formasi ini memiliki sembilan lapisan pengaman.

Kesalahan sekecil apa pun bisa menghancurkannya.

Beberapa menit berlalu.

Klik.

Altar bergeser.

Sebuah lorong sempit muncul.

Udara dingin mengembus keluar.

Lara memandang Ethan.

"Kita masuk?"

"Tunggu."

Ethan mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke dalam.

Tidak terjadi apa-apa.

Kemudian ia mengambil sehelai daun yang tertiup angin.

Daun itu baru melewati ambang lorong...

Sret!

Puluhan benang cahaya memotongnya hingga menjadi debu.

Lara langsung bergidik.

"Itu jebakan?"

"Bukan."

"Pemindai."

"Hanya makhluk hidup yang membawa Qi tertentu yang boleh lewat."

Ia menatap lorong itu beberapa saat.

"Lorong ini bukan untuk menyimpan harta."

"Melainkan tempat berlindung."

Di luar kuil.

Pertempuran semakin sengit.

Han Rui mulai kehilangan orang-orangnya.

Dari dua belas kultivator, kini hanya tujuh yang masih mampu bertarung.

Namun wajahnya justru semakin tenang.

Ia mengeluarkan sebuah peluit hitam.

Benda itu dipenuhi simbol kuno.

Seorang bawahan terkejut.

"Tuan Han..."

"Kalau benda itu dipakai..."

"Kita akan ketahuan."

Han Rui tersenyum dingin.

"Sejak awal aku tidak berniat menyelesaikan misi ini sendirian."

Ia meniup peluit itu.

Tidak ada suara.

Namun langit kristal Kota Langit Biru mendadak bergetar.

Jauh di luar kota.

Di atas permukaan laut.

Beberapa kapal yang tampak seperti kapal kargo biasa berhenti bersamaan.

Orang-orang berpakaian sipil mengangkat kepala.

Mereka menerima sinyal yang sama.

Di salah satu kapal, seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun mengenakan setelan jas menutup laptopnya.

Di balik kacamatanya, kedua mata memancarkan cahaya keemasan.

"Target telah ditemukan."

Ia berbicara melalui alat komunikasi.

"Kerahkan Tim Operasi Khusus."

"Masuki Kota Langit Biru."

Logo di lencana kecil dadanya berbentuk naga perak yang melingkar mengitari bumi.

Organisasi pemerintah.

Divisi yang keberadaannya bahkan tidak diketahui masyarakat umum.

Di dalam kuil.

Ethan tiba-tiba menghentikan tangannya.

Ekspresinya sedikit berubah.

"Ada apa?"

tanya Lara.

"Seseorang..."

"...baru saja mengirim sinyal keluar."

Lara langsung mengerti.

"Berarti lebih banyak musuh akan datang."

"Mungkin."

Ethan menggeleng pelan.

"Belum tentu semuanya musuh."

"Itulah yang membuat situasinya semakin rumit."

Dunia tersembunyi yang selama ini hanya ia duga ternyata jauh lebih aktif.

Organisasi rahasia.

Keluarga kultivator.

Kini kemungkinan besar...

Pemerintah modern pun telah ikut masuk ke dalam permainan.

Ia kembali memandang lorong bawah tanah.

Di balik lorong itu, samar-samar ia merasakan denyut artefak lain.

Jauh lebih tua daripada Kompas Laut Roh.

Jauh lebih kuat daripada pecahan artefak yang ia miliki.

Namun tepat ketika Ethan hendak melangkah masuk, seluruh lorong mendadak diterangi cahaya putih.

Sebuah suara perempuan yang tenang bergema dari kedalaman.

"Identitas pewaris tidak dikenali."

"Hak akses ditolak."

Sesaat kemudian, dari kegelapan lorong muncul tiga sosok humanoid berzirah putih yang membawa tombak kristal.

Mata mereka menyala biru, lalu serempak mengarahkan ujung tombaknya kepada Ethan.

Sementara itu, jauh di belakang mereka, samar-samar terlihat sebuah singgasana batu.

Dan di atas singgasana tersebut...

Duduk sesosok kerangka berjubah emas yang masih menggenggam sebuah pedang panjang bercahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!