Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Semua Baik-baik Saja
Sejak pagi, rumah keluarga Atmojo terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Ada ketegangan yang tidak terlihat, tetapi cukup jelas terasa di setiap sudut ruangan. Fina duduk di sofa ruang keluarga berwarna cokelat, kedua tangannya bertaut erat di atas pangkuan. Berkali-kali perempuan itu melirik jam dinding yang tergantung di seberang ruangan. Jarum jam seolah bergerak lebih lambat hari ini.
Sudah beberapa jam Danendra meninggalkan rumah untuk menemui Bima Bagaskara di kantor Askara Group. Tentu dengan tujuan untuk menyelesaikan persoalan yang selama beberapa hari terakhir membebani keluarga mereka sekaligus meminta maaf secara langsung atas kejadian yang terjadi sebelum pernikahan Atharazka.
Bagi Fina, pertemuan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ia tahu reputasi Bima Bagaskara di dunia bisnis. Pria itu dikenal tegas, sulit memberikan kepercayaan kedua, dan tidak mudah melupakan kesalahan yang dianggap merugikan perusahaan apalagi keluarganya. Karena itu, sejak Danendra berangkat, Fina tidak pernah benar-benar merasa tenang.
“Ma, jangan terlalu khawatir. Ayah pasti baik-baik aja.”
Suara Jelita membuat Fina menoleh. Putrinya duduk tidak jauh darinya, berusaha menunjukkan wajah tenang meski dari sorot matanya terlihat jelas bahwa ia sendiri sedang memikirkan hal yang sama. Jelita kemudian bergeser mendekat dan meraih tangan ibunya.
“Om Bima nggak mungkin sampai melakukan sesuatu ke Ayah,” lanjut Jelita, mencoba terdengar meyakinkan. “Mungkin awalnya beliau memang kecewa, tapi aku yakin semuanya bisa dibicarakan.”
Fina mengembuskan napas panjang.
“Seandainya Mama bisa setenang kamu, Kak,” jawabnya lirih. “Tapi Mama tetap kepikiran. Kamu tahu sendiri bagaimana Bima kalau sudah merasa dikhianati.”
Jelita terdiam. Kalimat itu kembali membuat pikirannya pada kejadian beberapa waktu lalu. Semua kekacauan tersebut berawal dari keputusannya sendiri.
Keputusan untuk meninggalkan rumah menjelang hari pernikahan membuat banyak orang berada dalam situasi sulit. Danendra harus menghadapi keluarga Bagaskara. Atharazka harus mengambil keputusan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bahkan Amora yang seharusnya tidak berada di posisi itu akhirnya menjadi perempuan yang berdiri di samping Atharazka di hari pernikahan.
Semakin Jelita memikirkannya, semakin berat rasa bersalah yang menekan dadanya.
“Ma…”
“Hm?”
“Kalau nanti ada masalah sama Ayah, itu memang salah aku.”
Fina langsung menoleh.
Jelita menundukkan kepala. Jemarinya saling meremas di atas paha.
“Aku tahu Ayah datang ke sana karena harus bertanggung jawab atas semuanya. Tapi kalau aku nggak pergi waktu itu, Ayah nggak perlu menghadapi semua ini. Aku juga nggak perlu bikin keluarga Baskara kecewa.”
Fina segera meraih tangan putrinya.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Tapi, Ma—”
“Dengar Mama.” Fina menatap Jelita dengan lembut. “Kesalahan memang tetap kesalahan. Mama nggak akan bilang apa yang kamu lakukan waktu itu benar. Tapi semuanya sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memperbaikinya.”
Jelita menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Ayah pergi menemui Bima karena dia ayahmu. Dia merasa harus bertanggung jawab atas keluarganya. Jadi jangan terus membuat dirimu sendiri merasa paling bersalah.”
Jelita mengangguk kecil, tetapi rasa sesal itu belum sepenuhnya hilang.
Fina bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela besar. Tirai tipis disibakkan sedikit. Pandangannya jatuh ke halaman depan yang masih sepi.
“Harusnya Ayah sudah pulang dari tadi…”
Jelita ikut menoleh.
“Mungkin masih ada yang dibicarakan di kantor.”
“Mama tahu.” Fina kembali duduk. “Tapi tetap saja, Mama nggak bisa tenang sebelum melihat Ayah."
Keduanya kembali terdiam. Waktu pun juga terus bergerak.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Hampir setengah jam kemudian, suara kendaraan terdengar dari luar pagar.
Fina seketika langsung berdiri.
“Itu mobil Ayah..”
Jelita yang semula duduk langsung ikut bangkit. Mereka berjalan cepat menuju pintu depan. Begitu suara mesin berhenti, beberapa detik kemudian Danendra terlihat memasuki rumah. Pria itu masih mengenakan pakaian formal yang sama seperti ketika berangkat pagi tadi. Jasnya tampak sedikit kusut, dan wajahnya menunjukkan kelelahan.
Namun satu hal membuat Fina langsung bisa bernapas lega. Danendra terlihat baik-baik saja.
“Ayah!”
Jelita hampir bersamaan dengan Fina menghampirinya.
“Gimana, Yah?” tanya Jelita cepat. “Gimana pembicaraannya sama Om Bima?”
Fina bahkan tidak memberi kesempatan suaminya meletakkan barang.
“Bima marah, kan? Ayah dimarahin? Terus bagaimana dengan kerja sama D'Endra Group dan Askara Group?”
Danendra berhenti sejenak, kemudian menatap istri dan putrinya bergantian. Alih-alih menjawab panjang, ia justru tersenyum kecil.
“Tenang dulu. Semuanya sudah selesai.”
Fina mengerutkan dahi.
“Sudah selesai?”
“Iya.”
Danendra melepas jasnya dan menyerahkannya pada salah satu ART sebelum berjalan menuju sofa cokelat di ruang keluarga. Ia duduk dengan tubuh sedikit bersandar, lalu menghela napas panjang.
“Bima memang kecewa.”
Senyum Fina langsung menghilang.
Danendra buru-buru melanjutkan, “Tapi dia nggak melakukan apa-apa seperti yang kalian khawatirkan.”
“Terus?”
“Papa sudah menjelaskan semuanya dari awal. Tentang Jelita yang pergi, tentang keputusan mengganti calon pengantin, sampai soal Atharazka yang waktu itu menyetujui pernikahan dengan Amora.”
Jelita menunduk. Nama Amora membuat rasa bersalahnya kembali muncul.
Fina duduk di samping suaminya.
“Lalu Bima bilang apa?”
Danendra menyandarkan kepalanya sebentar pada sofa.
“Awalnya dia jelas marah. Dia bilang kalau sejak awal tahu Jelita pergi sebelum akad, dia akan menghentikan semuanya.”
Fina menahan napas.
“Bahkan,” lanjut Danendra, “dia sempat bilang kalau dia bisa saja menarik kembali seluruh dana yang sudah diberikan kepada D'Endra Group dan membawa persoalan ini ke jalur hukum.”
Wajah Fina langsung berubah tegang.
“Tapi itu cuma kemungkinan yang dia sampaikan. Bima memilih untuk tidak melakukannya.”
Jelita yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Kenapa?”
Danendra menatap putrinya.
“Karena menurut dia, sekarang Amora sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.”
Jelita terdiam.
Danendra melanjutkan dengan suara lebih tenang.
“Bima bilang, apa pun yang terjadi sebelumnya, Amora sekarang adalah istri Atharazka. Dia tidak mau Amora ikut menerima dampak dari kesalahan yang dilakukan orang lain.”
Fina mengembuskan napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan turun.
“Jadi… hubungan D'Endra Group sama Askara Group tetap aman?”
“Untuk sekarang, iya.”
“Dan bantuan dana itu?”
“Tidak jadi ditarik.”
Fina langsung menutup mata beberapa detik.
“Alhamdulillah…”
Jelita pun tampak jauh lebih lega.
“Berarti Om Bima beneran menerima Amora kan, Yah?”
Danendra mengangguk.
“Iya, Bima menerimanya," jawabnya.
Ada perasaan aneh yang muncul dalam diri Jelita. Lega, tentu saja. Namun bersamaan dengan itu, ia tetap merasa bersalah.
Amora tidak pernah meminta berada dalam pernikahan tersebut. Perempuan itu hanya menjadi seseorang yang harus mengambil posisi ketika Jelita melarikan diri dari tanggung jawabnya.
“Ayah…”
Danendra menoleh.
“Hmm?”
“Amora… dia baik-baik aja, kan?”
Pertanyaan itu membuat Fina ikut memandang putrinya. Jelita menundukkan kepala.
"Iya, Amora baik-baik saja," jawab Danendra.
Danendra yakin putri bungsunya itu baik-baik saja. Danendra tau Amora memiliki mental yang kuat.
Sore semakin turun. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, membentuk garis keemasan di lantai ruang keluarga. Udara yang sejak pagi terasa menyesakkan kini perlahan menjadi lebih ringan dan tenang.