NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 : Kembali Ke Markas

Untuk beberapa detik, Adrian hanya menatap wajah gadis itu. Tatapan mereka kembali bertemu, kini Adrian dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Usianya mungkin sekitar dua puluh dua tahun.

Meski pipinya memerah akibat tamparan dan rambut panjangnya berantakan, kecantikannya tetap sulit disembunyikan. Ada sesuatu dalam sorot mata gadis itu rapuh, namun masih menyimpan keberanian untuk bertahan hidup.

"Siapa namamu?" tanya Adrian.

Gadis itu terdiam sesaat sebelum menjawab lirih. "Aurora."

"Aurora?"

"Aurora Bellini."

Adrian mengangguk pelan. "Mulai sekarang kau ikut denganku."

Ucapan itu membuat Aurora langsung mengangkat kepala.

"Apa?"

"Kau dengar ucapanku."

Aurora buru-buru menggeleng. "Ti-tidak. Terima kasih karena sudah menolongku, tapi aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Aku tidak ingin merepotkan siapa pun. Aku juga tidak mengenalmu."

Adrian tetap memasang wajah datar. "Itu bukan masalah."

"Bagiku itu masalah." Aurora menggenggam erat tasnya. "Aku hanya orang biasa. Aku bisa mengurus diriku sendiri."

Adrian melirik ke arah mobil tempat para penagih utang tadi dibawa. "Kalau kau bisa mengurus dirimu sendiri, mereka tidak akan menyeretmu sampai ketengah jalan seperti ini."

Aurora terdiam, ia tahu pria itu benar. Namun mengikuti pria asing yang bahkan dikelilingi puluhan pengawal bersenjata juga bukan pilihan yang masuk akal.

"Maaf...." Aurora membungkukkan badan singkat. "Sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkanku. Kalau tidak ada lagi yang lain... aku permisi."

Baru beberapa langkah Aurora berjalan.

"Tunggu." Suara Adrian kembali menghentikannya.

Aurora memejamkan mata sejenak sebelum berbalik. "Apa lagi?"

"Kau tidak boleh pergi."

Kening Aurora berkerut. "Memangnya kau siapa melarangku untuk pergi?"

"Aku hanya tidak ingin melihatmu dikejar orang yang sama untuk kedua kalinya."

"Itu urusanku."

"Tidak." Jawaban Adrian terdengar begitu tegas. "Mulai sekarang itu juga urusanku."

Aurora mulai merasa kesal. "Kau memang sudah menolongku. Tapi itu tidak berarti kau bisa mengatur hidupku. Aku tidak butuh perlindungan, aku juga tidak ingin berurusan dengan orang seperti kalian."

Pandangan Aurora menyapu para pria berjas hitam yang berdiri di belakang Adrian. Meski tak ada satu pun yang berbicara, aura mereka cukup membuat siapa saja tahu bahwa mereka bukan orang biasa.

Aurora mundur selangkah. "Lupakan saja pertemuan kita malam ini, aku harus pergi." Ia kembali membalikkan badan.

Namun belum sempat melangkah jauh...

"Johan."

"Ya, Don."

"Bawa dia."

Johan sempat terdiam. "Don?"

"Bawa dia ke mobil."

Perintah itu membuat seluruh anak buah langsung memahami maksud pemimpinnya. Dua orang wanita pengawal segera mendekati Aurora.

"Nona, mohon ikut bersama kami."

Aurora membelalakkan mata. "Apa-apaan ini? Lepaskan!" Ia mencoba melepaskan diri. "Aku tidak mau ikut! Hei! Kalian tidak bisa memaksa orang seperti ini!"

Meski berusaha melawan, tenaga Aurora jelas tidak sebanding dengan kedua pengawal wanita yang telah terlatih. Dengan tetap berhati-hati agar tidak menyakitinya, mereka mengarahkan Aurora menuju Rolls-Royce.

"Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan!"

Adrian hanya memandang tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

Johan mendekat perlahan. "Don... apa Anda yakin?"

Adrian tetap menatap Aurora yang masih berusaha memberontak. "Kalau ku biarkan dia pergi malam ini... besok mungkin aku hanya akan menemukan jasadnya."

Johan tidak membantah, ia sendiri sudah membaca laporan mengenai kelompok rentenir itu. Mereka terkenal kejam kepada orang yang gagal membayar hutang.

"Saya mengerti."

Tak lama kemudian, Aurora berhasil dimasukkan ke kursi belakang mobil.

Ia langsung menatap Adrian dengan kesal. "Anda menculik ku!"

"Aku menyelamatkanmu."

"Ini tetap penculikan!"

"Kalau kau ingin menyebutnya begitu, silahkan."

Aurora menggertakkan giginya. "Dasar pria aneh!"

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun memimpin keluarga Moretti. Ada seseorang yang berani memarahinya tepat di depan wajahnya.

Anehnya... Adrian sama sekali tidak merasa tersinggung. Justru sudut bibirnya terangkat sangat tipis. Senyum yang nyaris tak terlihat. Johan yang menyadarinya sampai berkedip beberapa kali.

Selama delapan tahun bekerja bersama Adrian. Belum pernah sekali pun ia melihat Don mudanya tersenyum kepada seorang wanita.

Johan segera menutup pintu mobil. "Don, bagaimana dengan Mansion Moretti?"

Adrian mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor Leonardo. Tak lama kemudian sambungan terhubung.

"Adrian?"

"Maaf, Ayah. Ada perubahan rencana, aku tidak bisa datang malam ini."

Leonardo terdiam beberapa saat. "Ada masalah?"

"Aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu."

"Baiklah."

"Ayah akan menunggumu besok pagi."

Sambungan telepon pun berakhir.

Adrian menyimpan kembali ponselnya.bIa menoleh ke arah Johan. "Kita kembali ke markas."

"Baik, Don."

Mesin Rolls-Royce kembali menyala. Disusul tiga SUV pengawal yang perlahan bergerak meninggalkan lokasi. Sementara di kursi belakang... Aurora masih memeluk tasnya erat sambil sesekali melirik pria di sampingnya dengan penuh waspada.

Rolls-Royce Phantom melaju mulus membelah jalanan Kota Zurich yang mulai lengang. Di dalam mobil, suasana begitu hening. Hanya suara mesin yang terdengar samar.

Aurora duduk di sudut kursi belakang, memeluk tas kainnya erat-erat seolah itu satu-satunya benda yang bisa memberinya rasa aman. Sesekali ia melirik pria di sampingnya.

Adrian duduk tegak dengan kedua kaki menyilang. Tatapannya lurus ke depan, seolah tidak terusik oleh tatapan tajam yang sejak tadi diarahkan kepadanya.

Aurora menggigit bibir. "Kalau aku berteriak, orang-orang akan tahu kalau kau menculik ku."

Adrian tidak menoleh. "Silahkan."

Jawaban singkat itu membuat Aurora terdiam.

"Apa?"

"Berteriaklah."

Aurora mengernyit.

"Kaca mobil ini kedap suara, dan orang-orang di luar tidak akan mendengarmu."

Aurora langsung kehilangan kata-kata. Ia menatap ke luar jendela. Benar saja, mobil itu memiliki kaca yang sangat gelap. Bahkan suara klakson kendaraan lain hampir tidak terdengar dari dalam.

Aurora mengepalkan tangannya. "Kenapa kau melakukan ini kepadaku?"

Kali ini Adrian menoleh. "Aku hanya ingin memastikan kau tetap hidup."

"Tapi aku bahkan tidak mengenal kau."

"Mulai sekarang kau akan mengenalku."

Jawaban itu membuat Aurora mendengus pelan. "Apa kau selalu memaksa orang lain?"

"Kalau diperlukan."

Aurora memutar bola matanya kesal. "Aneh... apa semua orang kaya memang seperti ini?"

Sudut bibir Johan yang duduk di kursi depan nyaris terangkat. Belum pernah ada orang yang berbicara kepada Don mereka dengan nada seperti itu.

Namun Adrian tetap tenang. "Tidak."

"Lalu kenapa kau seperti ini?"

Adrian terdiam beberapa saat. "Aku tidak suka kehilangan seseorang yang sudah kupilih untuk kulindungi."

Aurora memandangnya heran, ucapan itu terdengar aneh. Mereka bahkan baru bertemu kurang dari tiga puluh menit. Belum sempat Aurora menjawab, mobil perlahan keluar dari pusat kota. Gedung-gedung tinggi mulai berganti dengan kawasan yang lebih sepi.

Lima belas menit kemudian...

Mobil memasuki sebuah jalan pribadi yang dijaga gerbang besi raksasa. Puluhan petugas keamanan berpakaian hitam langsung memberi hormat ketika iring-iringan kendaraan tiba.

"Selamat datang, Don."

Gerbang perlahan terbuka.

Mata Aurora langsung membulat. Di balik gerbang itu berdiri sebuah kompleks megah yang lebih menyerupai istana modern daripada markas.

Bangunan utama terdiri dari empat lantai dengan dinding marmer hitam dan kaca-kaca tinggi yang memantulkan cahaya lampu taman. Air mancur besar berdiri tepat di tengah halaman. Di sisi kanan terlihat landasan helikopter.

Sementara di sisi kiri berjajar beberapa mobil mewah yang nilainya mungkin cukup untuk membeli puluhan rumah.

Aurora menelan ludah. "D-di mana ini?"

"Markasku."

"Ini bukan markas..." Aurora berbisik pelan. "Ini seperti istana."

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang kepala pelayan yang telah berusia sekitar enam puluh tahun segera keluar bersama beberapa pelayan lain.

Mereka membungkukkan badan bersamaan. "Selamat datang kembali, Don Muda."

Adrian turun lebih dulu, ia kemudian membuka pintu di sisi Aurora. "Turun."

Aurora justru memeluk tasnya semakin erat. "Aku tidak mau."

Adrian menatapnya tanpa berkedip. "Di luar dingin."

"Itu bukan urusan kau."

"Lima detik."

Aurora mengernyit.

"Kalau kau tidak turun sendiri... Aku akan menggendongmu."

Wajah Aurora langsung memerah. "Apa?"

"Satu..."

"Hei!"

"Dua..."

"Jangan menghitung!"

"Tiga..."

Aurora buru-buru turun dari mobil. "Aku bisa jalan sendiri!"

Kini beberapa pengawal saling bertukar pandang. Mereka hampir tidak percaya, Don Adrian baru saja mengancam akan menggendong seorang wanita.

Sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan. Adrian berjalan lebih dulu menuju pintu masuk. Aurora hanya bisa mengikutinya dengan langkah ragu.

Sesampainya di dalam, matanya kembali membesar. Langit-langit aula menjulang tinggi dengan lampu kristal raksasa menggantung di tengah.

Lantai marmer putih mengilap hingga memantulkan bayangan siapa pun yang berjalan di atasnya. Lukisan-lukisan mahal menghiasi setiap dinding.

Aurora yang sejak kecil hidup sederhana belum pernah melihat tempat semewah ini. "Ini... benar-benar seperti istana."

"Bukan." Adrian menjawab datar. "Ini markas keluarga Moretti."

Ucapan itu membuat Aurora berhenti melangkah.

"Keluarga... Moretti?"

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!