Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Wawan
Dengan wajah penuh kemenangan, ia melajukan motornya dan memberi isyarat kepada satpam untuk membuka gerbang.
Gavin yang mendengar suara raungan mesin motor kesayangannya dari dalam rumah langsung berlari keluar dengan panik.
Ia berteriak histeris, "Woi! Motorku mau dibawa ke mana?! Brengsek banget tuh orang! Awas saja nanti!"
Arga tertawa lepas di atas motor, tidak memedulikan teriakan adiknya. "Gila! Sensasinya beda banget sama motor bebek biasa!" Ia makin memutar gasnya dalam-dalam di jalan raya.
Namun karena terlalu asyik kebut-kebutan tanpa persiapan, ia akhirnya apes ditilang polisi di persimpangan jalan.
"Mana SIM kamu?" tanya petugas polisi sambil memegang buku tilang.
"Gak ada, Pak," jawab Arga polos.
"Lalu kenapa nekat bawa motor besar begini? Kebut-kebutan lagi!"
"Maaf, Pak. Sita saja sekalian motornya, saya ikhlas. Kalau begitu saya pergi dulu, ya!" Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Arga langsung turun dari motor dan berlari kabur meninggalkan motor sport Gavin begitu saja di pos polisi.
"H-hei! Mau ke mana kamu?!" teriak polisi itu pasrah melihat kelakuan ajaib Arga.
Arga membutuhkan waktu beberapa menit berlari dan berjalan cepat untuk sampai ke restoran tempat ia biasa bekerja paruh waktu di hari libur.
Di depan pintu masuk, sudah berdiri seorang pria buncit berkepala botak dengan wajah yang sudah ditekuk kesal.
"Sampai juga kamu! Gajimu hari ini saya potong!" bentak pria itu langsung.
"Yah, padahal saya sudah secepat mungkin lho ini, Bos," protes Arga dengan napas terengah-engah.
Dengan langkah lesu, ia masuk ke dalam ruangan.
Pria botak bernama Wawan itu menunjuk ke arah tumpukan wadah makanan di atas meja konter. "Antarkan semua pesanan ini sekarang! Cepat, jangan sampai ada komplain dari pelanggan!"
"Santai, Bos," sahut Arga. Ia segera memakai helm, menghidupkan motor bebek inventaris milik Wawan, lalu melaju pergi mengantar pesanan ke alamat-alamat pelanggan.
Butuh waktu beberapa jam bagi Arga untuk menyelesaikan semua hantaran.
Ketika ia kembali ke restoran, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang.
Arga duduk beristirahat di kursi teras restoran untuk melepas lelah.
Di sampingnya, Wawan ikut duduk dengan wajah yang tampak kusut dan dipenuhi banyak pikiran.
"Kenapa, Bos? Cerita dong sama bawahan. Ngomong-ngomong... pekerja yang satunya lagi ke mana? Kok gak kelihatan?" tanya Arga membuka obrolan.
Wawan menghela napas panjang. "Sudah saya pecat. Dia ternyata suka nilep uang restoran dan menipuku dari belakang." Pria botak itu menoleh ke arah Arga. "Makanya aku gak bakal memecat kamu, Arga, karena kamu itu satu-satunya anak yang jujur di sini."
Arga menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap langit. "Parah juga ya tuh orang."
"Begitulah. Ditambah lagi, hubunganku dengan istri dan anakku lagi kurang baik akhir-akhir ini," keluh Wawan lesu.
Arga membantah dalam hati, 'Jadi hubungan keluarga si Bos sudah mulai retak dari zaman ini? Baru tahu aku. Tapi kira-kira apa ya alasannya?'
Arga pun bertanya untuk memancing informasi, "Yang sabar ya, Bos. Tapi kenapa bisa sampai renggang begitu? Mungkin aku bisa bantu dengar."
"Kata istriku, aku terlalu fokus kerja dan kurang kasih waktu buat mereka di rumah. Tapi... aku pribadi merasa kalau istriku sebenarnya sedang selingkuh di belakangku!" jawab Wawan frustrasi.
Arga yang sedang meneguk air putih langsung tersedak hebat mendengar ucapan bosnya. "S-selingkuh?!"
Arga terbatuk-batuk kecil. Ini benar-benar sebuah informasi baru yang sama sekali tidak ia ketahui di kehidupan sebelumnya.