NovelToon NovelToon
Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:45.8k
Nilai: 5
Nama Author: KidOO

Mela mempunyai prinsip untuk tidak pacaran sebelum menikah, membuatnya tak kunjung menikah saat usianya sudah cukup. Sampai suatu ketika, ia dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak ia kenali. Selain usianya terpaut cukup jauh, karakter calon suaminya juga sangat jauh dari kriteria Mela. Namun, demi membahagiakan bapaknya, Mela tetap menerima pria tersebut sebagai suaminya, berharap ia bisa merubah kebiasaan buruk dari suaminya.

Meskipun ternyata, kenyataannya tidak semudah dengan apa yang dia pikirkan. Bahkan mulai dari persiapan pernikahan pun, Mela sudah harus banyak bersabar menghadapi segala macam tingkah konyol calon suaminya. Terlebih saat sudah menjadi pasangan suami istri, semakin terlihat jelas, kebiasaan buruk dari suaminya yang ternyata sangat sulit untuk di rubah. Seperti kata mutiara, semua orang bisa tua pada saatnya, tapi tidak semua orang bisa bersikap dewasa. Kata-kata itu pantas disematkan pada suami Mela, meskipun sudah be

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KidOO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Yah, ya mandi dulu sana, Mas! Biar seger, jadi bisa konsentrasi. Dilihatnya juga lebih enak kan? Masih ada waktu kok. Mandi dulu nggak papa. Sambil nunggu Mbak mela selesai rias dan pakai gaun sekalian." Untung saja Mbak Yuli mau mengingatkan Mas Aak.

Aku sendiri udah menahan dongkol di dada. Aku tidak sanggup berkomentar lagi. Aku mencium bau rokok. Pasti Mas Aak tadi baru aja merokok. Makanya lama banget nggak sampai-sampai di sini.

"Oh, yaudah deh kalau gitu. Aku mandi dulu, Mbak. Mau minta air anget ke dapur lah." Mas Aak melenggang pergi dengan langkah santai.

"Gimana itu calon suaminya, Mbak. Masa mau jadi pengantin nggak mandi dulu?" Mbak Yuli tersenyum, membuatku jadi merasa tidak enak pada Mbak Yuli sekaligus sebel sama Mas Aak.

"Nggak tau lah, Mbak. Emang kadang suka nyebelin begitu." Aku memanyunkan bibirku yang sudah diolesi lipstik berwarna terang.

"Ya sudah nggak papa, lah. Untungnya jadi mau mandi, ya."

"Iya, Mbak." Aku mengangguk kikuk.

"Ganti gaun dulu ya, Mbak? Di mana? Di sini?" Mbak Yuli melihat ke sekitar, ruangan ini cukup terbuka. Kalau dipakai untuk ganti baju, akan sangat memalukan.

"Di kamar, Mbak. Gaunnya ada di sana."

"Yaudah, ayo!"

Mbak Yuli bangun dari duduk di kursi kecil yang ia gunakan tadi. Aku juga mengikutinya. Aku berjalan terlebih dahulu, ke kamar si Nur yang sekarang juga sedang dirias. Mbak Yuli membantuku mengenakan gaun pengantinku, supaya tidak terkena make up, ataupun merusak riasan wajahku.

Setelah selesai, kami berdua kembali ke ruang tamu yang digunakan untuk merias tadi.

"Ini pakai hijab kan, Mbak?" Mbak Yuli bertanya memastikan.

"Iya, Mbak." Aku mengangguk.

"Kerudung putihnya udah ada kan?"

"Belum, Mbak. Aku kira disediakan Mbak Yuli." Aku tiba-tiba jadi panik. Aku tidak membeli jilbabnya, ku kira disediakan Mbak yuli, beserta veil dan hiasan lainnya.

"Enggak, Mbak. Kan pakai gaun sendiri, jadi ya nggak tak bawain kerudung putihnya. Saya ya cuma bawakan yang untuk pakaian resepsinya." Jawaban Mbak Yuli membuatku tambah panik. Padahal aku nggak punya kerudung putih yang masih bersih. Kerudungku kebanyakan sudah kena noda spidol dan lain sebagainya. Nggak layak kalau untuk dipasangkan dengan gaunku yang putih bersih ini.

"Aduh, gimana ya, Mbak. Nur! kamu punya kerudung putih nggak? Yang persegi." Aku bertanya pada Nur yang sedang dirias. Aku berharap dia punya.

"Nggak ada kalau yang persegi, Mbak. Adanya yang instan. Langsung pakai itu." Jawaban Nur juga membuatku tambah panik.

"Gimana ya, Mbak? Nggak ada jilbabnya." Aku meminta pendapat pada Mbak Yuli.

"Bentar! Duduk sini dulu, Mbak. Coba tak tanya ke belakang." Mbak Yuli bergegas ke belakang. Entah apa yang akan dia lakukan. Aku cuma berharap, ada jalan keluar dari masalah ini.

Dalam hati aku merutuki diriku sendiri. Kenapa bisa melupakan hal penting seperti ini? Memang ada salah pemahaman antara aku dan Mbak yuli. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, ini semua murni kesalahanku.

Tak lama kemudian, Mbak Yuli sudah datang, dengan membawa kain berwarna putih bersih, juga mengkilap. Terlihat tebal juga lebar.

"Dapet, Mbak?" Aku menyambut Mbak Yuli dengan pertanyaan.

"Dapet nih, pakai taplak meja. Nggak papa lah, ya? Bersih, kok. Ada kotor sedikit, tapi bisa ditutupi, kok." Mbak Yuli mulai beraksi dengan taplak itu.

"Yaudah nggak papa deh, Mbak. Darurat."

Mbak Yuli segera memakaikan taplak itu ke kepalaku. Aku hanya bertugas memegang box wadah peniti dan aksesoris lainnya, supaya Mbak Yuli lebih mudah mengambil peniti.

"Ya ampun, Mbak. Seumur-umur merias pengantin, baru kali ini lho. Taplak meja dipakai buat hijabnya." Mbak Yuli tertawa, diikuti teman sesama perias, maupun sepupu dan keponakanku yang ada di ruangan ini.

"Hehe, maaf ya, Mbak. Jadi mengasah kreatifitas." Aku mencoba bercanda, padahal dalam hatiku aku juga merutuki diri sendiri. Betapa konyolnya aku!

"Iya nggak papa, Mbak. Tapi ini cocok kok, pas senada sama gaunnya."

Aku juga setuju dengan ucapan Mbak Yuli. Ditambah warnanya yang mengkilap, membuatnya jadi tambah bagus dipakai. Meskipun tanpa veil, ini udah bagus menurutku. Hanya ditambah melati dan mahkota saja.

Tak lama kemudian, aku sudah selesai berdandan. Lengkap dengan hijab juga sepatunya.

"Nunggu tukang fotonya dulu ya, Mbak. Habis ini foto dulu, sambil nunggu pengantin prianya." Mbak Yuli mempersilahkan aku untuk duduk bebas dulu. Aku menggunakan waktu ini untuk berfoto dengan sepupu dan keponakanku, dengan berbagai macam gaya.

Beberapa saat kemudian, Mas Aak sudah datang. Penampilannya sudah jauh lebih segar. Dia juga wangi sabun. "Syukurlah, sudah mandi," batinku.

"Sini, Mas! Pakai bedak dulu, biar nggak berminyak." Mbak Yuli langsung gercep memanggil Mas Aak. Ia pun menurut. Aku hanya mengawasi gerak geriknya dari jauh. Jangan sampai membuatku malu lagi!

Tak terasa sudah jam tujuh lebih. Sebentar lagi pelaksanaan akad akan dimulai. Aku jadi berdebar, mengingat Mas Aak belum selesai dandan, juga bapak ibuku dan calon mertuaku. Mereka belum juga sampai ke sini.

"Nur, tolong panggil Bapak sama Ibu! Mau dirias, gitu." Aku kembali meminta tolong pada Nur yang duduk di paling ujung, paling dekat dengan pintu.

"Oke, Mbak." Nur pergi lagi, kali ini sudah dengan riasan, lengkap dengan kebaya dan hijabnya.

"Ganti baju dulu ya, Mas!" Aku mendengar Mbak Yuli memberi instruksi lanjutan pada Mas Aak.

"Oke, Mbak."

"Kemeja putihnya ada, kan? Sudah bawa sendiri, kan?" Mbak Yuli kembali membuatku senam jantung.

"Nggak bawa, Mbak. Nggak disuruh bawa, kok!" Mas Aak menjawab dengan santai, seoalah menyalahkanku, yang tidak mengingatkannya untuk membawa kemeja putih untuk akad.

"Lah, gimana, Mas? Saya cuma bawakan jas, sepatu, celana, sama dasi aja, lho. Kemejanya nggak saya bawakan. Kan katanya baju akad pakai punya sendiri?" Mbak Yuli kembali diuji kesabarannya, kali ini oleh Mas Aak, yang meskipun salah, tidak merasa bersalah itu.

"Lha, saya nggak disuruh bawa kok, Mbak. Ya saya nggak tau. Saya kira kan udah disiapkan sama mbaknya." Mas Aak kembali membela diri.

"Mbak Mela, bapaknya punya kemeja warna putih nggak? Mbak Yuli beralih bertanya padaku. Bicara sama Mas Aak tidak akan dapat solusi.

"Ada, Mbak. Tapi kayaknya nggak muat sama Mas Aak. Soalnya badan Bapak kan kecil, nggak seperti Mas Aak." Aku kembali dibuat ketar-ketir.

"Yaudah, pinjam kemeja punya siapa aja, deh! Yang penting muat sama masnya ini." Aku melihat Mbak Yuli menarik nafas berat, dia pasti juga menahan jengkel pada kamu berdua.

Beruntung Nur segera kembali. Postur tubuh bapaknya Nur hampir sama dengan Mas Aak. Semoga aja dia punya kemeja yang pas.

"Nur, bapakmu punya kemeja lengan panjang nggak? Buat Mas Aak." Aku bertanya pada Nur yang baru saja sampai.

"Ada, Mbak. Tapi warnanya biru muda. Kalau warna putih, nggak punya. Gimana?"

"Aduh, gimana ya? Nggak senada dong sama gaun putihku? Masa pakai kemeja warna biru sih?"

1
Mawar Biru
sabar ya mel,mungkin dulunya si Aak terlalu di manja.
Reni Anjarwani
wah bpk keliru memilihkan jodoh buat mela
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞Arlingga✿꙳❂͜͡✯࿐
ayeee,,,, hadir bg,,, ikut nongkrong,,, 😁😁😁
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞Arlingga✿꙳❂͜͡✯࿐: 😂😂😂😂😂
total 4 replies
Author yang kece dong
aduh, kayak mau ngelamar kerja kak kidoo 😁,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!