Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Identitas Baru di Gerbang Matahari
Fajar menyingsing di lereng Gunung Surya, tempat di mana Sekte Matahari Suci berdiri dengan megah. Ribuan pemuda dari berbagai penjuru negeri berkumpul di depan gerbang emas yang menjulang tinggi. Mereka semua berharap bisa menjadi bagian dari sekte yang konon memiliki teknik bela diri yang mampu membelah awan.
Di tengah kerumunan itu, berdiri seorang pemuda dengan jubah kain kasar berwarna kelabu. Wajahnya tetap tampan, namun ia telah menggunakan teknik Penyamaran Kulit untuk membuat garis wajahnya tampak lebih tegas dan berbeda dari sebelumnya.
"Nama: Qin Mo."
"Status: Kultivator Pengelana."
"Kultivasi: Inti Qi Level 2 (Tersembunyi)."
Boqin Tianzun telah menekan auranya sedalam mungkin. Di mata para penguji, ia hanyalah seorang pemuda berbakat rata-rata yang mencoba peruntungan.
Ujian pendaftaran pertama sangat sederhana namun mematikan bagi mereka yang berpura-pura: Batu Cermin Surya. Setiap calon murid harus meletakkan tangan mereka di atas batu raksasa yang akan memancarkan cahaya sesuai dengan kemurnian energi Qi mereka.
"Selanjutnya! Qin Mo!" teriak seorang instruktur dengan wajah kaku.
Boqin melangkah maju. Dari kejauhan, di atas balkon VIP yang tinggi, ia bisa melihat sosok Han Ruoli. Gadis itu duduk dengan anggun sambil mengipasi dirinya, menatap kerumunan di bawah dengan tatapan bosan. Ia sepertinya sedang mencari pria tampan yang ia temui di pasar kemarin, namun gagal mengenalinya karena penyamaran Boqin.
Cari saja terus, Nona Muda, batin Boqin dingin. Kau tidak akan menemukan pria itu, tapi kau akan menemukan mimpi burukmu.
Boqin meletakkan tangannya di atas batu. Ia tidak melepaskan seluruh kekuatannya. Ia hanya mengizinkan sedikit energi Qi merah gelapnya merayap masuk ke dalam batu, namun ia membungkusnya dengan energi netral.
WUUUSH!
Batu itu berpendar dengan warna Kuning Cerah.
"Qin Mo! Bakat Kelas Dua! Lolos ke tahap berikutnya!" teriak instruktur.
Kerumunan berbisik. Bakat Kelas Dua adalah hasil yang cukup baik untuk seorang pengelana tanpa latar belakang keluarga besar. Boqin hanya menunduk sedikit dan berjalan menuju barisan yang lolos, menghindari perhatian berlebih namun tetap masuk ke dalam radar.
Han Ruoli, yang tadinya menguap, tiba-tiba menghentikan kipasnya. Matanya tertuju pada punggung Boqin yang sedang berjalan pergi.
"Pelayan." panggil Han Ruoli.
"Ya, Nona Muda?"
"Perhatikan pemuda bernama Qin Mo itu. Gerakannya terlalu tenang untuk seseorang dengan bakat kelas dua. Ada sesuatu yang menarik dari caranya berjalan." ucap Han Ruoli, bibirnya melengkung membentuk senyum penasaran.
Tanpa ia sadari, rasa penasarannya adalah langkah pertama menuju kehancuran yang telah disiapkan Boqin.
Sementara itu, di rumah kayu di tepi danau yang jauh, Klon Boqin sedang duduk di dapur. Ia sedang mengupas buah-buahan dengan penuh ketelatenan untuk Sua Mei yang baru saja bangun tidur.
"Boqin, kenapa kau bangun lebih awal hari ini?" tanya Sua Mei sambil mengucek matanya yang indah.
Klon itu menoleh, memberikan senyum yang sangat hangat dan tulus—sebuah emosi yang dipisahkan secara paksa dari jiwa aslinya. "Aku hanya ingin memastikan kau makan buah yang segar, Mei. Setelah ini, maukah kau menemaniku melihat bunga mekar di kebun?"
Sua Mei tersenyum bahagia, tidak menyadari bahwa pria di depannya hanyalah bayangan energi, sementara pria yang asli sedang bersiap untuk menumpahkan darah di tempat yang sangat jauh.