Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 8
Hari ini tepat jatuh tempo perlombaan olahraga dan seni antar sekolah. Setelah berminggu-minggu berlatih, akhirnya Krystal dan kelompoknya bisa juga menguasai koreografi yang selama ini diajarkan Miss Gracia.
Cewek dengan rambut kucir satu itu kini tengah dipoles wajahnya oleh Miss Gracia sedangkan teman-temannya dipoles oleh guru-guru lain yang juga ahli dalam hal make-up. Wajah Krystal yang sudah cantik hanya dipoles tipis-tipis oleh Miss Gracia. Lipcream berwarna merah muda dilapisi pelembab bibir, shadow berwarna kulit, eyeliner untuk mempertegas garis matanya ditambah mascara hitam yang membuat bulu matanya semakin lebat.
Miss Gracia tersenyum puas melihat polesannya di wajah Krystal kemudian ia membuka kucir rambut Krystal. “Ini gakpa-pa digerai, Miss? Kalo kepanasan gimana?” tanya Krystal.
“Tenang aja. Kamu cuma tampil lima menit doang, abis itu bisa balik ke sini lagi buat ngadem.”
Krystal mengangguk paham. Niatnya memang ingin kembali ke ruang guru yang dijadikan ruang make-up mendadak ini setelah ia tampil. Lumayan, ada dua AC di masing-masing sisi ruangan buat menyejukkan diri.
“Nah, selesai.”
Krystal tersenyum tipis menatap pantulan wajahnya di depan cermin persegi panjang di depannya. Wajahnya terlihat tebih segar dengan rambut yang cukup rapi. “Makasih, Miss,” ucapnya yang dibalas anggukan serta senyuman oleh Miss Gracia.
Setelah proses make-up selesai, Krystal mengambil blazer hitam yang tersampir di dekat jendela ruangan kemudian memakainya. Tampilannya saat ini hanya memakai legging hitam ketat dengan atasan manset putih berlapiskan blazer hitam yang baru saja ia ambil. Sedangkan untuk teman-teman sekelompoknya yang lain, memakai celana jeans setengah paha dengan atasan kaos kebesaran berwarna putih.
Hanya Krystal yang tampak berbeda.
“Udah siap, Tal?” tanya salah satu panitia yang baru saja masuk ke ruang guru menghampiri Krystal.
“Udah, kok. Emang udah giliran kami?”
“Lima menit lagi kelompok lo. Yuk keluar.”
Mengangguk, Krystal keluar dari ruangan diikuti oleh teman sekelompoknya. Di lapangan sana sudah sangat ramai dipenuhi oleh teman sekolahnya dan juga peserta dari sekolah lain yang berjumlah entah berapa puluh sekolah. Di tambah lagi dengan para junior yang menjadi penonton.
Di lapangan futsal berkumpul cowok-cowok seangkatannya yang juga mengikuti lomba futsal. For you information, lomba ini hanya dikhususkan untuk anak kelas dua belas mengingat sebentar lagi mereka akan meninggalkan sekolah ini.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari lapangan basket, Krystal bisa melihat salah satu peserta futsal dari sekolahnya melempar senyum padanya. Siapa lagi jika bukan si cowok gondrong gila yang selalu menambah dosa Krystal dikarenakan selalu membuat Krystal mengumpat.
Krystal membalasnya dengan tatapan datar kemudian mendekat pada Miss Gracia. Sebelum tampil, Miss Gracia menyuruh untuk berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Setelahnya, mereka saling memberi semangat dengan menyatukan telapak tangan lalu mengangkatnya ke udara.
Krystal gugup ketika maju ke tengah lapangan bersama teman sekelompoknya. Acara ini memang tidak memakai panggung dikarenakan takut tidak muat jika lomba koreografi. Jadinya, hanya mengandalkan lapangan basket yang telah di beri batas aman.
Seirama dengan terdengarnya musik, Krystal mulai menggerakkan tubuhnya diikuti oleh teman-teman sekelompoknya. Di lapangan futsal sana, mata Bagus tidak pernah lepas dari Krystal. Bohong jika Bagus mengatakan ia tidak terpesona dengan Krystal. Nyatanya, cewek itu sudah berhasil menarik perhatiannya tanpa ia sadari.
####
“Wagelaseh! Tadi si Krystal gebetannya Bagus keren banget, njirr!”
“Hooh, pangling gue ngeliatnya.”
“Apalagi pas gerakan lagi split. Gila seksi abis, mata gue aja mau keluar ngeliat dia kayak gitu.”
“Lo emang gak diraguin lagi kalo soal gituan, Lik. Gercep mata lo.”
“Gue normal kali, Nan.”
Ezra, Adnan, Tian dan Malik saling melempar pendapat setelah pertandingan mereka selesai. Daripada ikut mengoceh tidak jelas, Devan dan Arnold lebih memilih menandaskan sebotol air mineral mereka dikarenakan kehausan habis bertanding. Sementara si Gondrong, belum juga terlihat setelah pertandingan selesai.
“Bos mana, nih? Dia kan gak ikut tanding, kok, gak ada di kantin?” tanya Tian meluaskan pandangan mencari sosok jangkung yang selalu berwajah datar itu. Alka.
“Kayak gak tau aja lo sama si Al. Dia lagi jagain bu Ketua, lo tau sendiri, kan, sekolahnya Sam ikut lomba. Pasti tuh si b4ngsat juga ada di sini,” sahut Malik menjawab Tian.
Tian terkekeh. “Sa ae tuh si Alka. Dulu aja anti banget sama si Mei. Sekarang udah kayak perangko.”
“Namanya juga hati, Yan. Suka berubah-ubah,” timpal Adnan.
“Lo mau pada ngegosip apa makan? Sana pesen! Nih, si Arnold udah makan dari tadi gak pada sadar lo,” celetuk Devan yang membuat mereka terdiam lalu menatap Arnold yang makan dengan ekspresi datar, tidak terganggu sama sekali.
“B4ngsat! Lo kalo mau makan manggil-manggil dong, Nold!” seru Ezra.
“Udah, lo semua aja yang gak denger,” balas Arnold tanpa menatap mereka.
“Lah, kapan, nyet? Kagak denger gue,” timpal Tian.
“Tadi, dalem hati.”
“YEU, MONYET!” kompak mereka meneriaki Arnold yang saat ini hanya terkekeh ringan.
“Nenek gue yang tuli aja pasti kagak denger kalo lo ngomong dalem hati.”
Satu jitakan mendarat di kepala Ezra dari Devan. “Orang tuli lo teriak juga dia gak denger, somplak!”
Ezra nyengir kemudian menggaruk alisnya. “Hehe, lupa, cuy.” Cowok dengan jersey futsal bernomor punggung 15 itu berdiri. “Mau makan apa lo semua? Biar gue yang mesen tapi Devan yang bayar. Ayo, cepet! Mumpung gue lagi baik, nih!”
“Setan,” umpat Devan yang saat ini menjadi Bank berjalan dadakan teman-temannya.
“Gue nasi uduk, lauknya pake hati ayam tapi hatinya Mpok Salsa kagak usah. Entar mati gak ada yang jualan lagi, dah,” seloroh Tian.
“Gue mie siram aja. Airnya dimasak biar mateng,” timpal Adnan. Ezra masih memasang wajah manis menunggu teman-temannya. “Lo, Lik?” tanya Ezra pada Malik.
“Gue bubur ayam aja.” Ezra menghela napas lega, setidaknya temannya yang satu ini tidak memancing emosinya. “Lo gak mau, Van?” tanya Ezra lagi yang kini untuk Devan.
Cowok dengan jersey futsal bernomor punggung 08 itu menggeleng. “Lo semua kenyang gue juga kenyang, kok.”
“Alah, bilang aja lo gak mau duit lo keluar banyak. Pelit lo dasar!” cibir Ezra kemudian berlalu ke tempat pemesanan. Tidak lama kepergian Ezra, Bagus datang dengan tangan yang menarik seseorang mendekat ke meja mereka. Semua mata termasuk Arnold menatap cowok gondrong itu.
“Gue gak mau! Lo tau bahasa Indonesia gak, sih? Gue gak mau ikut lo, beg0!”
“Elah, ikut aja. Lo laper, kan? biar gue traktir, deh.”
“Gak mau!”
Arnold menggeleng-geleng melihat tingkah Bagus sedangkan yang lain terkekeh. Saat Krystal sudah duduk di tengah-tengah Bagus dan Adnan, cewek itu mendengus kasar.
“Santai aja kali, kita gak gigit, kok.” Krystal hanya tersenyum kecut pada Adnan. Ia masih ingat betul cowok ini, cowok yang berbaik hati menolongnya beberapa hari lalu. Bahkan, jaket cowok itu masih ada padanya.
“Pesanan, coming!” teriakan Ezra membahana di kantin yang sepi. Krystal meringis melihat itu sedangkan yang lain hanya bertampang biasa saja.
“Ini gak ada hatinya Mpok Salsa, kan?” tanya Tian sembari memperhatikan lauk nasi uduknya. “Kagak, yang ada tuh hati mantan yang tertinggal,” jawab Ezra malas.
“Eh, Lik. Kalo bubur bayi buat bayi, berarti bubur ayam buat ayam dong?”
Malik yang tengah menikmati bubur ayamnya sontak tersedak mendengar penuturan Adnan yang tiba-tiba. Yang lain tertawa. “Baru tau, Nan? Malik kan emang sama kayak ayam. Suka heboh!” timpal Ezra.
“Lo lebih heboh, monyet!” balas Malik tak terima pada Ezra. “Eh, biar lo kata nih bubur ayam, belum tentu juga buat ayam. Ini namanya doang karna bahan pokoknya ayam, sat!”
Devan, Arnold dan Bagus mendengus malas. “The crazy people in here,” gumam Devan jengah.
Tian, Malik, Adnan dan Ezra yang awalnya sibuk berdebat seputar mie ayam, seketika berhenti saat Krystal membuka blazernya hingga menyisakan manset putih yang cukup mencetak lekuk tubuh bagian atas cewek itu dengan jelas. Tidak sampai di sana, Krystal juga mengumpulkan rambutnya kemudian mencepolnya tinggi hingga leher putih jenjangnya tampak sangat jelas.
Seketika atmosfer di kantin berubah panas, Adnan yang duduk di dekat Krystal mengibas-ibaskan bagian atas jersey futsalnya. Bagus yang memalingkan wajah, Tian yang menggigit sendok, Ezra yang melongo, Arnold yang berdehem pelan dan Devan yang menggaruk alisnya.
Ini cewek sengaja apa gak sadar sih? Pikir mereka.
.
.
.
WKWK DULU MEI, SEKARANG KRYSTAL YANG PAMER AURAT😂
UNTUNG KETUA GENG GAK ADA😂
YANG KANGEN ALMEI MANA NIH?😭
JANGAN LUPA KOMEN, VOTE DAN LIKE!
C U
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..