Follow IG @Sensen_se
Tak kunjung hamil, Sofia harus menerima hinaan, cacian, gunjingan dari suami beserta keluarganya. Sofia tidak tahan, ia kabur setelah tepat dua tahun pernikahannya.
Reza Reynaldi—suami Sofia menganggap, wanita itu tidak akan pernah bisa bertahan dengan kerasnya hidup di luar sana. Karena selama ini, Sofia hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Siapa sangka, mereka dipertemukan lagi 8 tahun kemudian, dalam kondisi yang berbeda. Sofia menjadi wanita karir yang hebat didampingi seorang anak kecil berusia 7 tahun yang memiliki talenta luar biasa.
Penyesalan besar pun seketika merajai hati Reza, ketika tahu bahwa itu darah dagingnya. Ia bertekad untuk mengejar cinta Sofia lagi.
Akankah mereka bisa bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Salah Strategi
“Assalamu’alaikum, Ma!” sapa Nino di telinga ibunya, yang masih terlelap dalam buaian mimpi.
Sama halnya seperti yang selalu dilakukan Sofia untuk membangunkan Nino sejak bayi. Mendekatkan bibir di telinga, kemudian mengucapkan salam dengan pelan agar tidak terkejut.
Kedua netra Sofia segera terbuka, “Wa'alaikumsalam, Sayang. Udah bangun? Jam berapa ini?” tanya Sofia beranjak duduk, memeluk putranya. Kegiatan wajib setiap bangun tidur.
“Udah selesai azan. Ditungguin Pak Umar, Ma. Nanti kita terlambat salat jama'ah.” Nino mendongak agar bisa menatap wajah ibunya.
Sofia terperanjat, tidak biasanya ia terlambat bangun. Bayang-bayang Reza yang kembali mengusik hidupnya, membuat Sofia tidak bisa tidur semalaman. “Suruh nunggu ya, Nak. Mama siap-siap!” Buru-buru wanita itu beranjak ke kamar mandi.
Nino mengedikkan bahu, lalu bergegas ke musholla dalam rumahnya. Sofia sengaja mendesign satu ruang khusus untuk salat berjamaah bersama para pekerja di rumahnya. Baik itu ART maupun para satpam. Sama sekali tak terlihat kesenjangan di rumah tersebut.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Keesokan paginya, sesuai rencana, Nino ikut mamanya bekerja hari ini. Lelaki cilik itu sangat rapi dengan kemeja pendek dan celana jeans panjang. Sepatu canvas berwarna putih semakin menyempurnakan penampilannya. Tak lupa, biola kecil kesayangan selalu digendong di punggungnya.
“Mama hari ini meetingnya di luar. Nino nggak apa-apa ‘kan sama para kakak cantik di sini?” tanya Sofia ketika mereka sudah sampai di kantor.
Nino tersenyum ramah pada barisan para karyawan yang duduk rapi di kursi kerjanya, mengangguk kecil sebagai sapaan. Membuat para gadis-gadis bawahan Sofia begitu mengaguminya.
“Yaampun, Bu. Resepnya apa sih? Udah tampan, ramah, pinter pula. Haduh, sepertinya aku kecepetan lahir, Bu,” celetuk Namira.
“Hussh! Sembarangan kalau ngomong. Ini calon mantu aku. Awas ya jangan pada gatel!” serobot Ana, menepuk bahu Namira. Jarak mereka memang begitu dekat.
“Calon mantu? Situ aja belum ada laki!” cebik Namira memutar bola matanya malas.
“Ya makanya, dikontrak dulu. Boleh ‘kan, Bu? Nanti aku buatin anak gadis yang cantik indehoy,” canda Ana dengan mata genitnya.
Sofia hanya terkekeh mendengar candaan para bawahannya. Ya, ia memang ingin menumbuhkan kekeluargaan dan kenyamanan di kantor. Karenanya, mereka betah bekerja di bawah naungan Sofia. Widya—sang CEO jarang di kantor, mempercayakan sepenuhnya pada Sofia.
“Titip ya, aku balik harus masih utuh, nggak ada lecet,” ucap Sofia mengulurkan tangan yang segera dicium Nino.
“Hati-hati, Ma,” ucap lelaki itu memutar tubuh menatap kepergian Sofia, hingga menghilang dari pandangannya.
“Nino!” jerit para karyawan mengerubungi. Mereka langsung membentuk formasi foto bersama.
Nino terkejut, namun detik berikutnya terbawa arus. Seluruh sifat dan garis wajah sangat mirip dengan Sofia. Lemah lembut, rendah hati dan menghargai orang lain.
Bagaimana tidak kagum? Anak seusia Nino, laki-laki, tetapi sikapnya luar biasa. Ditambah kelebihannya menjadi viollin hebat, membuatnya menjadi bintang yang banyak diperbincangkan di kalangan masyarakat.
“Nino bawa biola! Mainin dong! Kita pengen liat live nih. Boleh ya, No?” rayu Namira mencubit kedua pipi Nino dengan gemas.
“Iya, Kak. Tapi Kakak sambil kerja. Aku nggak mau justru ganggu nantinya,” Nino mundur selangkah, menunjuk ke meja kerja mereka.
“Siap!” sahut mereka serentak segera duduk di kursi masing-masing. Tak lupa menyalakan video untuk merekam penampilan Nino.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Reza berdecak kesal ketika bangun kesiangan. Sesampainya di rumah Sofia, ia sudah tidak melihat mobil wanita itu. Bisa dipastikan kalau Sofia sudah berangkat.
“Sial!” geram Reza memukul setir mobilnya setelah tidak mendapat informasi apa pun dari satpam di rumah Sofia. Tentu saja mereka tidak akan sembarangan memberi informasi.
Reza meminta izin pada CEO di Queen Cosmetics, hari ini tidak bisa berangkat bekerja. Sengaja karena ingin menyelidiki Sofia beserta anaknya.
Dengan terpaksa, Reza kembali ke Jakarta. Mencari tahu identitas Sofia pada penyelenggara seminar kemarin. Meski sedikit kesulitan dan penuh drama akhirnya ia berhasil mendapat informasi para pengisi acara. Termasuk Sofia dan putranya.
“Jadi Sofia bekerja di Widya Beauty?” gumam Reza. Kemudian membolak balikkan biodata bintang tamu cilik. Hanya ada satu, dan itu adalah Nino.
“Rayyanza El Nino, hmm ... nama yang bagus!” Reza masih sibuk meneliti dokumen tersebut. Sedikit berpikir, kenapa sama sekali tidak menemukan nama pasangan Sofia atau ayah dari anak itu.
Tak ingin terlalu larut dalam pikirannya, Reza segera mengambil gambar pada copy an dokumen tersebut. Ia tersenyum miring karena sudah mengantongi beberapa informasi.
Hari itu juga ia kembali ke Bandung. Tidak peduli kini panas terik mulai menyengat, lelah dan letih yang mulai merayap di tubuhnya.
Reza masih belum cek out dari hotel semalam. Jadi sekalian memutuskan beristirahat di sana. “Besok nggak boleh kesiangan lagi!” ucap Reza memasang alarm di ponselnya.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Tidak sia-sia hasil penyelidikan Reza, setelah istirahat cukup, ia berhasil bangun pagi dan kini membuntuti Sofia mengantar putranya ke sekolah.
Pria itu terenyuh ketika menatap Nino yang tersenyum dan berinteraksi dengan mamanya. “Sofia nggak ada pasangan. Mungkinkah anak itu adalah anakku?” gumam Reza mengira-ira. Apalagi, setiap melihat wajah tampan Nino, hatinya serasa menghangat.
Ia segera menunduk ketika Sofia kembali masuk mobil dan semakin menjauh. Tadinya ingin mengikuti Sofia ke kantor, masih melakukan misi rahasia. Akan tetapi keinginan itu menguap. Memilih menunggu Nino hingga pulang sekolah.
Berbagai posisi Reza lakukan, jungkir balik di dalam mobil, bersandar di badan mobil sambil merokok, rebahan, hingga benar-benar bosan.
Namun, akhirnya terdengar suara bell sekolah, menandakan jam pulang sekolah. Buru-buru Reza bergegas menunggu di depan gerbang.
Sedari tadi celingukan mencari sosok Nino. Matanya berbinar ketika menemukan Nino di antara ratusan siswa yang berhamburan keluar. Reza menerobos, mencekal lengan Nino dan mengajaknya keluar dari sekolah.
“Om siapa? Mau apa?” Nino panik, berusaha menghentikan langkah sembari menghempaskan tangannya. Lalu menendang tulang kering Reza.
“Aaashh! Apa yang kamu lakukan?” seru Reza.
Ia memang ada pelatihan bela diri di sekolah, sedikit banyak tahu cara bertahan dan menyerang.
Sofia memilih sekolah swasta, yang ada banyak pilihan ekstrakurikuler untuk mengembangkan bakat, termasuk bermain biola. Sekolah sangat memfasilitasi dan mendukungnya.
'Mungkin dia takut,’ batin Reza kemudian berjongkok, ia memasang muka manis. “Kamu mau es krim nggak? Kita beli yuk?” rayunya.
“Om mau culik aku ya?” teriak Nino berkacak pinggang.
“Bu ... bukan, aduh! Bocah!”
Teriakan Nino sontak mengundang perhatian orang-orang di sana. Kemudian segera berbondong-bondong menghampiri, menghajar Reza.
Sofia yang baru datang, mencari Nino sedari tadi. Saat menemukannya, Sofia segera berlari. "Nino!" Panik, karena melihat ada yang berkelahi di dekatnya. Ia segera menarik Nino menjauh dan memeluknya. "Nino, kamu baik-baik aja? Hemm? Nggak apa-apa 'kan?" tanya Sofia dengan jantung berdegup hebat.
"Nggak apa-apa, Ma. Tapi om itu...." Nino menunjuk ke arah Reza.
Sofia membelalakkan matanya lebar, "Mas Reza," gumamnya.
Bersambung~
buah jatuh gakjauh dati pohon ny
itu orng stress yggaknerima kenyataan 😃😃😃
mirissssss
jijik melihat istri yg menutuo aurat ny.
maalah bangga dengan yg memperronton kan tubuh ny pada orang lain.