Setelah menyandang gelar sebagai seorang istri. Rima memutuskan berhenti berkarir agar bisa fokus mengurus suami dan anaknya. Dengan sepenuh hati Rima menyayangi mertua seperti menyayangi ibu kandungnya sendiri. Namun, bukannya kasih sayang dan kebahagiaan yang Rima dapatkan tetapi pengkhianatan dari kedua orang tersebut.
Dengan perasaan hancur, Rima berusaha bangkit dan membalas pengkhianatan suaminya. Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan diri lebih baik dari para pengkhianat. Hingga perlahan Rima bangkit dari keterpurukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hotel
8
"Silahkan duduk," ujar pria yang aku yakini bernama Dimas-bos di tempat ini.
Aku duduk canggung di kursi tepat di hadapan meja kerjanya. Wajah pria itu tampak serius sekali ketika membuka lembaran berkas lamaran kerjaku.
"Rima... pengalaman kerja yang cukup baik. Kamu pernah bekerja sebagai kasir dan bagian keungan juga team marketing," ucapnya sembari mengangguk kecil.
"Iya, Pak...."
"Sudah menikah?" Kali ini pria itu menatapku. "Berhenti bekerja karena menikah?" tanyanya lagi seperti ingin tahu sekali.
"Iya, Pak. Saya juga sudah punya anak. Tapi, saya janji akan bekerja sebaik mungkin bila diterima bekerja di sini, Pak." Aku menjawab dalam satu kali tarikan nafas. Berusaha meyakinkan agar mendapatkan kesempatan.
"Baik, saya terima training selama tiga bulan. Tunjukkan kemampuan kamu dan saya harap kamu tidak menyiakan kesempatan ini."
"Beberan, Pak?" Tanpa sadar aku menaikkan intonasi suaraku. Aku tidak menyangka pria yang wajahnya tampak cuek itu ternyata memiliki hati yang sangat baik.
"Iya, mulai besok kamu sudah bisa bekerja. Datanglah tepat waktu agar kamu bisa langsung menempati posisimu," ujarnya.
"Terimakasih banyak, Pak.... "
Rasanya aku ingin bersorak saja. Ini adalah langkah pertama untuk membuktikan kepada ibu dan bang Rama kalau aku masih layak untuk diperhitungkan.
"Hm... apa kakimu masih sakit?"
Pertanyaannya membuat aku menelan ludah, aku hampir lupa kalau dia tidak mungkin lupa aku sudah menabrak mobilnya tadi.
"Su-sudah, Pak. Maaf saya sudah merusak mobil bapak."
"Lupakan saja, bukan masalah besar."
Dia tampak sangat bijak sana.
"Kalau begitu saya permisi, Pak," pamitku dijawab anggukan kepala olehnya. Akhirnya aku mundur dari hadapannya.
***
Cahaya matahari siang itu masih sangat terik. Namun, semangat melindungi diri ini dari sengatannya. Kujalankan sepeda motor dengan kecepatan rendah memasuki lampu merah. Tanpa sengaja aku melihat mobil bang Rama berhenti tidak jauh dariku.
"Jam makan siang sudah selesai. Bang Rama mau pergi kemana? Apa dia mau nemui konsumennya?"
Lampu hijau kembali menyala, namun aku tidak melanjutkan perjalananku. Ntah mengapa kali ini rasanya aku ingin mengikuti kemana bang Rama pergi.
Jalan raya cukup lenggang hingga tidak ada yang menghambat untuk mengikuti mobil warna hitam tersebut. Dadaku bergemuruh ketika mobil itu berbelok ke arah jam dua.
"Hotel? Untuk apa Bang Rama datang ke hotel? Kenapa harus ke hotel kalau rumah sudah dekat dari sini?"
Mobil bang Rama sudah berhenti di parkiran hotel. Aku pun memaekirkan motorku di sembarangan tempat. Tidak sabar ingin menghampiri suamiku itu. Namun, belum sempat aku mendekat seseorang sudah turun dari sana.
"Cit-Citra?" Aku tidak salah lihat dan tidak salah mengenali orang. Tubuhku genetaran memihat kedua orang itu berjalan beriringan sampai masuk ke dalam hotel.
"Sebenarnya mereka punya hubungan apa? Dan ada keperluan apa datang ke hotel siang bolong seperti ini?"
Tanpa terasa air mata menetes di pipi, hatiku sangat sakit membayangkan kemungkinan yang terjadi. Wajah bang Rama dan Citra sangat ceria sekali. Hal yang berbeda ketika bang Rama pulang ke rumah dan melihatku pun jarang ceria seperti itu.
Tidak kuhiraukan tatapan orang yang melihatku. Aku tetap menangis sambil memukul dadaku yang terasa sesak. Mau sekuat apa aku ingin berdiri, tetap saja aku seorang wanita yang akan menangis bila tersakiti.
Ntah berapa lama aku bertahan di sini, hingga tanpa kusadari telah kehilangan jejak mereka. Akhirnya, dengan tertatih aku menuju resepsionis untuk mencari informasi.
"Ehm, tadi saya datang sama abang saya. Tapi saya kehilangan jejak. Apa abang saya sudah chek in? Nama abang saya Rama, tadi datang sama istrinya." Aku berbohong saat resepsionis bertanya tujuanku.
"Rama? Oh, baru saja pesan satu kamar hotel."
"Sa-satu kamar?"
"Iya, apa Mbak juga mau menginap di sini?"
"Me-menginap? Boleh saya tahu mereka ada di kamar berapa?"
"Maaf, itu privasi para tamu. Kenapa nggak mbak hubungi aja pak Rama biar temui mbak di sini," ujarnya.
Dengan perasaan hancur dan pikiran kacau aku mencoba menghubungi bang Rama. Namun, sayangnya handpone di luar jangkauan. Apa yang mereka lakukan di sana? Sungguh aku semakin penasaran siapa Citra sebenarnya.
Apa mungkin perempuan itu yang telah memberi uang kepada bang Rama sampai akhir-akhir ini bang Rama punya uang lebih hingga bisa royal?