NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NYUSUL LUKA

Oh... Pak Erwin sedang berlibur bersama kekasihnya, Bu Manda, Bu... ke Puncak. Maaf, kalau boleh tahu Ibu siapanya Pak Erwin atau Bu Manda, ya?

Air mata Salma luruh tanpa permisi, mengalir deras membasahi pipi hingga jatuh di bajunya setelah mendengar pernyataan pria berseragam kaku, seorang satpam rumah Manda. Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu bagaikan sembilu yang menyayat sisa-sisa harapan di dadanya. Dunia di sekeliling Salma seolah melambat, memudar, dan menyisakan kesunyian yang memekakkan telinga.

​Pagi tadi, semuanya masih terasa masuk akal. Usai merapikan buku kenangan yang penuh debu, matanya tak sengaja menangkap tanda merah di kalender atas lemari kacanya. Sebuah tanggal yang seharusnya menjadi muara kebahagiaan: hari pernikahannya dengan Erwin.

​Karena pernikahan itu tak pernah terasa hangat, hanya dingin dan penuh jarak, Salma nyaris lupa hari penting itu namun keinginannya sangat kuat, ia ingin memiliki secercah niat untuk memperbaikinya.

Dan sejak pagi itu, ia bergegas pergi ke supermarket dan pasar, memilah bahan makanan terbaik untuk kejutan makan malam yang ia susun dalam kepala. Namun, semesta punya cara yang kejam untuk bercanda. Pertemuannya dengan Putra pagi itu berubah menjadi isyarat kelam; sebuah dorongan tak kasat mata yang memaksanya harus menyusul Erwin ke Puncak saat itu juga.

​Kini, di atas motor yang melaju membelah angin pegunungan, Putra hanya bisa terdiam. Lewat pantulan di kaca spion, ia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Salma—wanita yang biasanya nampak penuh semangat saat berbicara di depan kelas maupun bersamanya di antara kata-kata yang penuh nasihat, kini tampak begitu ringkih, seperti kaca yang baru saja dihantam martil.

Bahunya berguncang hebat, isak tangisnya tertelan deru mesin dan dinginnya kabut.

​Di balik kemudi, Putra merasakan sesak yang luar biasa. Ia terus memacu motornya menuju satu titik, ke titik lainnya untuk membawa seorang wanita yang sedang memeluk kehancurannya sendiri menuju kenyataan yang mungkin jauh lebih menyakitkan di atas sana.

​"Ibu..." Suara Putra bergetar, tertahan di udara. Lewat pantulan di kaca spion, ia menangkap bayangan Salma—sosok tangguh yang kini tampak begitu rapuh dengan bahu yang terguncang hebat. "Ibu mau istirahat dulu? Sekadar minum atau—"

​"Jalan, Putra," Sela Salma. Kalimat itu nyaris tak terdengar, tenggelam di antara isak yang berusaha ia redam di balik telapak tangannya.

​"Tapi, kondisi Ibu..."

​"Lebih cepat!" Nada suara Salma naik satu oktaf, penuh desakan yang menyakitkan.

​Putra terdiam, mengangguk pelan meski hatinya mencelos. Ia membuang muka, tak sanggup lagi menatap wanita yang sangat ia kagumi itu hancur berkeping-keping.

Dalam benaknya, setiap putaran roda adalah langkah untuk mendekatkan Salma kepada luka, sekaligus tarikan untuk mengundang siapa pun yang telah menyebabkan air mata itu jatuh. Namun, perintah 'lebih cepat' itu kini bagaikan bensin yang menyambar api amarah di dadanya.

Deru knalpot brong motornya kini menyalak, membelah kebisingan jalanan dengan liar. Ia memacu mesinnya hingga menjerit, menyaingi riuh kendaraan lain, seolah ingin menulikan rungu Salma dari kenyataan pahit yang baru saja terjadi.

​Pria itu benar-benar keterlaluan! Batin Putra geram. Tangannya mencengkeram stang motor begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seiring motornya melesat menembus senja yang kian mendingin.

****

"Happy anniversary, Salmaaa!"

Salma masih ingat kalimat itu, yang diucapkan Mona ketika Erwin belum kembali pulang, atau mungkin lupa akan hari pernikahan mereka.

Ya. tepat ketika jam dinding berdentang melewati tengah malam, sementara Erwin belum juga menunjukkan batang hidungnya. Saat itu, Salma berusaha tersenyum, meski hatinya remuk menyadari suaminya mungkin lupa—atau sengaja melupakan, lagi, hari sakral pernikahan mereka.

​Kue cokelat dan kado indah dari Mona memang istimewa, namun semua itu hanyalah penawar sementara. Luka itu tak pernah benar-benar sembuh sampai sekarang, dan kini semakin menganga ketika kebenaran pahit terungkap...

Erwin tidak sekadar lupa. Ia sedang terjebak dalam pelukan Manda, sang mantan kekasih yang kembali menjadi duri dalam rumah tangga mereka.

Mereka akhirnya telah memasuki kawasan kebun teh yang berkabut. Udara dingin yang menusuk tulang tak mampu mendinginkan gejolak amarah dan kecemasan di dada Salma.

​"Sudah dekat, Bu," Suara Putra nyaris tenggelam oleh angin.

​Setiap kelokan jalan yang dikelilingi hamparan hijau itu terasa seperti langkah menuju persimpangan hidupnya. Berbekal alamat yang didapatkan dari satpam pribadi Manda, degup jantung Salma semakin keras. Sedangkan, Putra memacu motornya semakin dalam, menembus rimbunnya pepohonan hingga mereka tiba di depan sebuah gerbang kayu besar.

​Deru mesin motor perlahan meredam saat mereka memasuki pelataran luas dengan sebuah papan kayu besar yang tertancap kokoh. Di sana, tertulis dengan huruf kapital yang tegas, VILA & RESORT GREEN LIGHT.

​Salma kemudian turun dengan langkah gontai, seolah separuh nyawanya tertinggal di jalanan tadi. Putra pun demikian. Bersama pemuda itu, ia melangkah masuk menuju lobi yang sunyi.

Lalu, seorang resepsionis wanita dengan blazer hitam rapi menyambut mereka dengan senyum profesional yang terkembang tulus.​"Selamat sore, selamat datang. Mau memesan unit vila atau resort?" Sapanya ramah.

​Namun, kalimat wanita itu menggantung di udara. Matanya tertuju pada Salma. Ia tampak heran melihat wajah sembap dan tatapan kosong perempuan di hadapannya yang memancarkan kesedihan mendalam.

​Putra berdehem segera, memutus kontak mata sang resepsionis agar tidak semakin memojokkan perasaan Salma. "Uhm, begini Mbak..." Potong Putra cepat. "... kami ingin mengambil kunci kamar atas nama pesanan Manda dan Erwin," Imbuhnya polos. Di balik jaket kulit hitamnya, ia menunjuk dirinya sendiri sebagai tameng. "Kami ini pasangan couple yang sedang berlibur bersama. Kebetulan, jalanan tadi macet... jadi kita berdua telat untuk datang. Kami... hanya ingin mengunjungi mereka saja."

​Salma tidak membantah, bahkan tidak berniat mengoreksi ucapan konyol Putra. Hatinya sudah terlalu lelah, energinya terkuras habis hingga ia tak lagi peduli pada label apa pun yang disematkan Putra kepada orang lain saat ini. Justru, di matanya sekarang, Putra yang biasanya kekanak-kanakan kini bertransformasi menjadi pelindung yang ia butuhkan.

Sang resepsionis itu masih tampak ragu. Wajahnya melirik Salma lagi, melihat kesedihan yang terpancar dari wajah perempuan itu, instingnya membisikkan ada sesuatu yang tidak beres.

"Uhm..." Dehem Putra sekali lagi. Kali ini, tanpa permisi ia merangkul bahu Salma lembut, bahkan menariknya jatuh pada pelukannya. "Sayang... udah jangan nangis." Celetuknya sedikit keras, seolah sengaja. "Biar Erwin dan Manda yang menikmati liburan mereka di sini, kita cuma berkunjung aja. Mungkin besok atau lusa, aku janji..."

Salma enggan sama sekali bersuara, ia hanya terisak pasrah.

"... aku akan bawa kamu berlibur ke tempat yang indah dari Puncak." Sambung Putra, menatap wanita itu lagi. Matanya yang lembut memandang Salma, kini berganti lebih tegas dan sedikit memaksa. "Mbak mana kuncinya? Saya dan pacar saya udah pegel, nih!"

Wanita itu akhirnya mengangguk menurut. Diraihnya sepasang kunci ganda dari balik meja dan diulurkannya kepada mereka tanpa sepatah kata pun.

"Terima kasih." Kata Putra segera menarik lengan Salma lembut namun tegas, membawa wanita itu menjauh dari lobi sebelum situasi semakin canggung.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!