NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:80
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nginep

Mama akhirnya berdiri dari kursinya ketika ponselnya kembali bergetar untuk ketiga kalinya.

Ia melirik layar sekilas, lalu menghela napas pendek.

“Papa kalian nelpon terus,” katanya sambil merapikan tas. “Sepertinya ada urusan mendadak. Mama harus pulang sekarang.”

Radit ikut berdiri. “Aku antar sampai lift, Ma.”

“Nggak perlu,” Mama tersenyum tipis. “Reyhan saja.”

Reyhan yang sejak tadi bersandar santai langsung meluruskan tubuhnya.

“Oke, Ma.”

Sebelum pergi, Mama menoleh pada Radit sekali lagi.

“Kamu kerja yang benar. Jangan terlalu memforsir diri,” pesannya.

Lalu, seperti mengingat sesuatu, ia menambahkan pelan, “Dan soal yang tadi… kita bicarakan lain waktu.”

Radit mengangguk. “Iya, Ma.”

Pintu ruangan tertutup perlahan.

Radit duduk kembali, menatap meja kerjanya tanpa benar-benar melihat apa pun.

Reyhan dan Mama berjalan keluar gedung. Beberapa menit kemudian, Reyhan kembali sendirian.

Ia membuka pintu ruang Radit tanpa mengetuk.

“Udah pulang,” katanya ringan.

Radit tidak menoleh. “Aku tau.”

Reyhan mendekat, berdiri di depan meja Radit.

“Kamu pucat banget.”

"Kalau cuma mau basa-basi, aku lagi sibuk.”

“Tenang. Aku juga sibuk.”

Tatapan mereka beradu sepersekian detik, penuh makna yang tidak diucapkan.

“Ngomong-ngomong,” lanjut Reyhan santai, “Mama kayaknya tertarik sama pacar kamu.”

Radit menegang, “Dia cuma pengen mastiin ”

“Ya. Tapi Mama jarang bahas perempuan.”

Radit berdiri. Suaranya tetap datar, namun dingin.

“Kalau kamu gak ada urusan penting, keluar. Aku masih kerja.”

Reyhan mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

“Oke, Bos.”

Sebelum keluar, ia berhenti di ambang pintu.

“Oh iya… jangan lupa tanya pacarmu itu, siap gak dikenalin sama aku”

Pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Radit berdiri cukup lama sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Ia mengusap wajah, menarik napas dalam.

Nama Soraya kembali terngiang.

Ucapan Mama, tatapan Reyhan, dan wajah Rania bercampur jadi satu.

Bagaimana kalau suatu hari mereka tahu?

Bagaimana kalau semuanya runtuh… tepat di saat Rania belum siap?

Radit menatap layar laptop, lalu tanpa sadar membuka ponselnya.

Nama Rania ada di sana.

Ia ingin menelpon dan memastikan dia baik-baik saja.

Tapi jarinya berhenti.

Kalau mereka tahu Soraya adalah kamu… apa yang akan terjadi sama kamu, Ran?

Radit menutup mata sesaat, lalu menghembuskan napas berat.

"Enggak. Semuanya harus sesuai dengan rencanaku." ucapnya kemudian.

Hari itu berjalan dengan cepat. Semua pekerjaan sudah selesai. Radit berinisiatif untuk mengajak Rania makan malam ini diluar sebelum pulang.

Ia mengirimkannya pesan.

Rania. Kalo udah beres, kita pulang bareng

Tak sampai satu menit, balasan itu masuk.

Aku udah pulang. Lagi di jalan.

Radit mengerutkan kening.

Terlalu cepat.

Biasanya Rania selalu bilang dengan detail. Naik apa, lewat mana, capek atau enggak.

Kali ini cuma satu kalimat. Pendek. Dingin.

Radit langsung mengetik lagi.

Kenapa gak bilang dari tadi? Aku bisa anter.

Balasan datang agak lama.

Aku pengen sendiri aja.

Radit menatap layar ponselnya lama. Ada sesuatu yang berbeda.

Jarinya bergerak lagi.

Apa karena Mama tadi? Maaf kalau kamu gak nyaman. Aku gak tau dia datang secepat itu.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada balasan.

Radit berdiri dari kursinya, mondar-mandir kecil di ruangan.

Akhirnya ponselnya bergetar.

Bukan itu.

Radit berhenti.

Lalu kenapa?

Balasan berikutnya lebih lama lagi, seolah Rania berpikir keras sebelum menulis.

Aku capek, Dit. Beneran.

Radit menghela napas, sedikit lega… tapi anehnya, rasa ganjil itu belum hilang.

Kalau gitu besok gak usah masuk. Aku izinin.

Balasan Rania datang cepat kali ini.

Jangan.

Radit terdiam.

Kenapa?

Rania:

Aku gak mau diliburin. Dan… aku juga gak mau terlalu dekat sama kamu dulu.

Kalimat terakhir itu seperti pukulan pelan, tapi tepat di dada.

Radit duduk kembali.

Maksud kamu apa?

Beberapa detik.

Lalu—

Gosip kantor belum reda. Aku gak mau nambah bahan omongan.

Radit memejamkan mata.

Jadi semua ini soal itu?

Atau… ada hal lain yang tidak Rania katakan?

Radit:

Aku bisa beresin gosip itu.

Rania:

Aku tau. Tapi aku gak mau kamu terus-terusan pasang badan buat aku.

Radit mengepalkan rahang.

Radit:

Ran, aku pengen ketemu.

Rania:

Tolong ngerti posisiku ya. Aku cuma mau kerja. Itu aja.

Pesan terakhir itu menutup segalanya.

Radit menatap layar ponsel cukup lama, sampai layarnya meredup sendiri.

Frustrasi.

Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit ruangan.

Kalau ini cuma soal gosip, kenapa rasanya… seperti Rania sedang menjauh?

Dan kenapa kata-katanya terasa seperti sedang melindungi diri dari sesuatu yang lebih besar?

Radit mengambil ponselnya lagi, mengetik pelan.

Oke. Besok masuk seperti biasa. Aku jaga jarak kalau itu yang kamu mau.

Beberapa saat kemudian—

Rania:

Makasih.

Satu kata.

Netral.

Tanpa emosi.

Radit menjatuhkan ponsel ke meja.

“Ini bukan kamu,” gumamnya pelan. “Ada yang lain.”

Radit tidak langsung menjawab pesan Rania malam itu. Karena ponselnya bergetar lebih dulu, menampilkan nama yang jarang muncul di jam segini.

Papa.

Radit menghela napas pelan sebelum mengangkatnya.

“Ya, Pa?”

Suara di seberang terdengar tenang, tapi terlalu singkat untuk sekadar menanyakan kabar.

“Pulang ke rumah. Sekarang.”

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada basa-basi.

Telepon ditutup.

Radit menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dan meraih kunci mobil. Perasaannya tidak enak.

---

Sesampainya di kediaman orang tua. Radit langsung melangkah masuk, ia melihat Papanya duduk di ruang keluarga, punggung tegak, tangan bertaut di atas lutut. Wajah yang biasanya kalem kini kaku, serius, tanpa senyum.

Mama duduk di sisi lain sofa, diam, ekspresinya lebih banyak mengamati daripada ikut campur.

Dan Reyhan?

Reyhan rebahan santai di kursi panjang, satu kaki naik, ponsel di tangan, seperti sedang menunggu pertunjukan.

“Duduk,” kata Papa tanpa menoleh.

Radit patuh. Ia duduk tepat di seberang Papanya.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu Papa bicara.

“Kamu sudah cukup umur, Radit.”

Radit menegakkan bahu. “Aku tahu.”

“Dan kamu juga tahu kondisi Papa.”

Radit menegang. “Papa sakit?”

Mama langsung menoleh. “Bukan begitu.”

Papa mengangkat tangan, menahan Mama bicara.

“Papa gak mau muter-muter,” lanjutnya. “Kamu sudah punya calon. Soraya. Perempuan yang Papa bangga-banggakan.”

Radit menelan ludah.

“Papa mau kamu segera ambil keputusan. Pernikahan.”

Kata itu jatuh berat di ruangan.

“Pa—” Radit mencoba bicara, “aku butuh waktu—”

“Waktu apa lagi?” potong Papa. “Papa gak minta pesta besar. Papa cuma mau lihat kamu settled. Papa mau ngerasain punya cucu.”

Kalimat terakhir itu membuat Radit terdiam.

Sakit.

Itu bukan permintaan biasa.

Itu adalah harapan.

“Papa capek nunggu,” lanjutnya. “Kalau kamu serius sama Soraya, buktikan.”

Ruangan kembali sunyi.

Sampai—

“Kenapa Papa gak nyuruh aku aja yang nikah?”

Semua kepala menoleh.

Reyhan menurunkan ponselnya, senyum miring terbit di wajahnya.

“Aku bisa punya anak sekarang juga, Pa,” katanya santai, lalu tertawa keras.

Tawa itu memantul di dinding.

Mama langsung menegang. “Reyhan!”

Papa menatap Reyhan tajam. “Jangan bercanda.”

Radit mengepalkan tangan.

Reyhan duduk tegak, tapi senyumnya tidak hilang.

“Bercanda?” ia mengangkat bahu. “Aku serius. Aku juga lagi deket sama seseorang.”

Radit menoleh cepat. “Reyhan.”

“Apa?” Reyhan menatap balik, menantang. “Kalau Radit masih ragu-ragu…”

Ia berdiri, berjalan pelan mendekati tengah ruangan.

“Aku bisa melangkah duluan.”

Papa berdiri setengah. “Reyhan!”

“Terserah,” Reyhan menyeringai. “Papa pengen cucu, kan? Aku juga bisa kasih.”

Radit berdiri penuh kali ini. Suaranya dingin. “Jaga omongan kamu.”

“Oh?” Reyhan mendekat satu langkah. “Takut?”

Tatapan mereka saling mengunci. Tegang. Tajam. Penuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar adu mulut.

Mama bangkit, berdiri di antara mereka. “Cukup. Kalian ini bersaudara.”

Papa menghela napas berat, lalu menatap Radit lagi.

“Papa gak mau dengar alasan,” katanya pelan, tapi final.

“Bulan ini… Papa sudah beri kamu waktu. Pokonya akhir bulan ini Papa mau kepastian.”

Radit menelan napas.

Semuanya bertabrakan di kepalanya.

“Iya, Pa,” akhirnya ia berkata. “Aku akan pikirkan.”

Papa mengangguk. “Bukan dipikirkan. Diputuskan.”

Radit tidak membalas.

Ia hanya menunduk sedikit, lalu berbalik pergi.

Di belakangnya, Reyhan tertawa kecil, tapi cukup untuk terdengar.

"Malam ini tidur aja di sini. Jangan balik dulu ke apartemen." kata Reyhan, entah apa niatnya.

Radit berhenti melangkah.

Ia menoleh perlahan ke arah Reyhan.

“Kenapa?” tanya Radit. “Takut aku kabur?”

“Takut?” Ia terkekeh pelan. “Enggak. Aku cuma pengen kamu di rumah. Sekali-kali.”

Papa sudah kembali duduk. Mama masih berdiri, tangannya saling menggenggam, gelisah melihat dua putranya saling berhadapan seperti ini.

“Radit,” Mama akhirnya bicara,

“Tidur saja di sini malam ini. Mama juga pengen kamu ada di rumah.”

Radit ingin menolak, tapi...

“Baik,” kata Radit akhirnya, pasrah. “Satu malam.”

Reyhan mengangguk, puas.

“Good choice.”

Ia melangkah ke kamarnya. Kamar yang dulu ia tinggalkan bertahun-tahun lamanya.

Rapi. Wangi.

Tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia menginap.

Radit duduk di tepi ranjang, membuka jas, lalu melemparkannya ke kursi.

Kepalanya pening.

Pernikahan.

Soraya.

Papa.

Dan Rania yang hari ini memilih menjauh tanpa penjelasan yang jujur.

Ponselnya bergetar di tangan.

Satu pesan masuk.

Rania

Maaf kalau tadi aku keliatan dingin. Aku cuma lagi banyak pikiran.

Radit menatap layar lama.

Banyak pikiran.

Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

Aku di rumah Papa malam ini. Besok kita ngobrol ya. Ada hal penting soal kontrak yang harus kita bahas.

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Iya.

Hanya itu.

Radit menghembuskan napas berat, lalu menjatuhkan ponsel ke kasur.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

Belum sempat Radit menjawab, pintu itu terbuka.

Reyhan bersandar di kusen, satu tangan di saku celana, ekspresinya santai seperti biasa.

“Belum tidur?” tanyanya, padahal jelas Radit masih segar.

“Kamu kenapa masuk kamar orang tanpa izin?” Radit menatapnya tajam.

Reyhan tertawa kecil. “Sensitif amat. Dari kecil terus begini.”

Ia melangkah masuk, duduk di kursi dekat meja, menatap Radit tanpa sungkan.

“Papa serius,” kata Reyhan tiba-tiba. “Kali ini beda.”

Radit mendengus. “Aku tahu.”

“Terus?” Reyhan menyilangkan kaki. “Soraya siap gak?”

Pertanyaan itu seperti pisau tipis yang digeser pelan di kulit.

Radit berdiri. “Urusan aku.”

“Iya. Tapi jadi urusan keluarga juga kalau Papa udah turun tangan.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya lebih rendah.

“Aku cuma bilang… jangan terlalu lama Dit.”

“Apa maksud kamu?”

Reyhan tersenyum. Senyum yang sama seperti sore tadi di kantor.

“Kalau kamu ragu, jangan tahan orang lain. Termasuk perempuan yang kamu jaga mati-matian itu.”

Ruangan terasa menyempit.

“Apa yang kamu tahu?” suara Radit turun, berbahaya.

Reyhan berdiri. Kali ini jarak mereka sangat dekat.

“Aku tahu lebih banyak dari yang kamu kira,” katanya pelan.

“Dan aku cuma mau ngingetin...”

Radit mengepalkan tangan. “Jangan bawa-bawa hal yang bukan urusan kamu.”

“Oh, justru itu urusan aku.” Reyhan menepuk bahu Radit sekali. “Selamat malam, Kak Raditya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!