NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GENG NAGA HITAM MERUSUH

Bab 5 Bayang-Bayang Naga Hitam

Konvoi melaju menembus malam Asia Tenggara. Lampu kota Singapura mulai tampak dari kejauhan—kilau modern yang menjanjikan keamanan, namun juga menyimpan bayang-bayang gelap. Alphard hitam memasuki wilayah pelabuhan darat, lalu berbelok menuju jalur kota.

Bima menatap layar ponsel taktisnya.

“Kita masuk Singapura. Ingat, di sini bukan zona perang. Tapi jangan lengah.”

Agung mengangguk.

“Justru di kota rapi begini… musuh gampang nyamar.”

Dr. Sandi melirik kaca spion.

“Ada yang ngikutin?”

Belum sempat dijawab, suara radio berdesis.

“Unit depan, ada dua motor sport dan satu van hitam tanpa pelat mengikuti sejak dua simpang lalu.”

Bima menarik napas.

“Konfirmasi.”

Eren menimpali cepat.

“Ciri-ciri cocok jaringan lokal. Hati-hati.”

Di sebuah gudang tua dekat kawasan industri Jurong, bendera hitam dengan simbol naga melambai pelan. Di dalamnya, pria bertato penuh—wajah keras, mata sipit tajam—mengetuk meja besi.

“Sepuluh juta dolar,” ucapnya pelan namun menusuk.

“Nama target: Laura Islamiyah.”

Dialah Tan Wei Long, pemimpin Geng Naga Hitam.

Seorang anak buah menyeringai.

“Orang-orang asing? Tentara pula?”

Wei Long tersenyum dingin.

“Semua orang punya harga. Kecuali yang mati.”

Ia memberi isyarat.

“Kejar. Jangan bunuh gadis itu. Ambil flashdisknya.”

Di jalan layang, van hitam memotong jalur Alphard. Dua motor mendesak dari kiri dan kanan.

“Kontak!” teriak Bima.

“Formasi berlian! Lindungi sipil!”

Motor pertama mencoba menyenggol. Agung menahan setir, menjaga jarak. Dari van, pintu geser terbuka—dua pria bertopeng meloncat.

Dr. Sandi membuka pintu belakang, turun cepat.

“Laura, tetap di dalam!”

Satu pria menyerang dengan tongkat besi. Dr. Sandi menangkis, memutar pergelangan, lalu menghantam siku ke bahu lawan.

“Jangan pernah bawa besi ke tangan dokter,” gumamnya.

Bima berhadapan dengan pria besar bertato naga di leher.

“Kalian salah target,” kata Bima.

Pria itu tertawa kasar.

“Uang tidak pernah salah.”

Mereka bertukar pukulan. Cepat, keras. Bima menghindar, membalas dengan kombinasi singkat. Namun jumlah lawan bertambah—tiga, empat—muncul dari van.

“Bima!” teriak Agung.

Dr. Sandi masuk dari sisi, menyapu kaki satu lawan, lalu memukul titik saraf leher lainnya.

“Kita pisahkan mereka!”

Bima mengangguk.

“Sekarang!”

Mereka bergerak serempak—Bima menarik perhatian, Dr. Sandi menghantam dari sudut. Motor kedua terjatuh setelah Eren melempar rintangan darurat. Van berhenti mendadak, pintunya tertutup kembali.

Wei Long muncul dari balik kemudi, menatap dingin.

“Kau berani melawan Naga Hitam?”

Bima berdiri tegap.

“Kami bukan mangsa.”

Sirene polisi terdengar di kejauhan—hasil panggilan cepat kedutaan.

Wei Long mengangkat tangan, memberi isyarat mundur.

“Tarik. Hari ini bukan hari kita.”

Van dan sisa motor memutar balik, lenyap di persimpangan.

Mobil melaju cepat menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Gerbang terbuka, penjagaan berlapis. Begitu masuk halaman, semua orang menghela napas panjang.

Seorang pejabat kedutaan menyambut.

“Selamat datang. Kalian aman di sini.”

Bima menurunkan bahu, kelelahan akhirnya terasa.

“Terima kasih.”

Malam itu, mereka mandi air hangat—membersihkan darah, debu, dan ketegangan. Makan sederhana tersaji: nasi hangat, sup, lauk rumahan. Rasanya seperti pulang.

Anisa tersenyum kecil.

“Kak… enak.”

Laura mengusap rambutnya.

“Iya. Kita istirahat.”

Di ruang makan, Bima duduk bersama Dr. Sandi.

“Kerja tim yang bagus,” kata Bima.

Dr. Sandi tersenyum tipis. “Kau juga. Kita saling menutup.”

Bima menatap ke luar jendela, bendera Merah Putih berkibar tenang.

“Besok kita lanjut. Tapi malam ini—kita bernapas.”

Di luar tembok kedutaan, kota Singapura tetap berkilau.

Di balik kilau itu, para pemburu menghitung ulang langkah.

Namun untuk malam ini—

mereka yang bertarung demi kemanusiaan

akhirnya bisa

mandi, makan,

dan beristirahat.

Naga yang Menyelinap di Siang Hari

Pagi di Singapura tampak ramah. Matahari naik tanpa ancaman, jalanan rapi, orang-orang berlalu-lalang dengan langkah pasti. Di halaman Kedutaan Besar RI, konvoi bersiap bergerak kembali. Alphard hitam mengilap, pengawalan rapi—namun kewaspadaan tetap tegang.

Bima mengecek radio.

“Rute keluar aman. Kita menuju titik logistik, lalu lanjut.”

Dr. Hadijah menghampiri Bima.

“Sertu… izinkan saya dan Anisa belanja kebutuhan. Tidak lama. Di mall dekat sini.”

Bima menimbang cepat, lalu menoleh ke Dr. Sandi.

“Kau dampingi?”

Dr. Sandi mengangguk.

“Laura ikut juga.”

Laura menatap Anisa.

“Ayo, Dik. Kita cepat.”

Mall itu ramai—terlalu ramai. Musik lembut, aroma kopi, dan tawa pengunjung. Dr. Hadijah memilih bahan makanan, Anisa memeluk keranjang kecil. Laura menoleh ke kanan-kiri, nalurinya berbisik.

“Dok, rasanya—”

Belum selesai, seorang pria berwajah ramah menyapa dengan logat Indonesia.

“Mbak, Bu, maaf… orang Indonesia ya? Saya kerja di sini. Bisa minta tolong sebentar?”

Dr. Hadijah tersenyum refleks.

“Oh, iya. Ada apa?”

Pria itu menunjuk kios ATM di lorong samping.

“Teman saya kecopetan. Cuma minta ditemani.”

Laura merasakan dingin di tengkuk.

“Bu—”

Terlambat.

Dua orang lain muncul dari sisi berbeda. Cepat. Terlalu rapi. Anisa ditarik, Dr. Hadijah dibekap. Kerumunan tak menyadari—semuanya terjadi di sela-sela musik dan langkah.

“ANISA!” teriak Laura.

Dorongan keras membuat Laura jatuh. Saat bangkit, lorong sudah kosong. Hanya keranjang belanja yang tergeletak.

Laura gemetar, menekan tombol darurat di ponsel.

“Dok! Bu Hadijah dan Anisa diculik!”

Di luar kedutaan, Bima mendengar laporan itu. Wajahnya mengeras.

“Konfirmasi lokasi terakhir.”

“Mall Orchard,” jawab Laura tercekat.

Bima memberi perintah cepat.

“Agung, Eren—blokir perimeter. Kita keluar. Naga Hitam main siang.”

Mobil melesat.

Di gang servis belakang mall, Tan Wei Long berdiri dengan tangan di saku. Dr. Hadijah dan Anisa didudukkan, tangan terikat. Seorang pria Indonesia—yang tadi menyapa—menunduk.

Wei Long berbicara pelan.

“Kau kerja bagus. Tapi ingat—ini bisnis.”

Anisa menangis.

“Tolong… lepaskan Ibu…”

Dr. Hadijah menatap Wei Long dengan tegar.

“Jika kau punya hati—”

Wei Long tersenyum tipis.

“Hati mahal, Bu.”

Bima dan Dr. Sandi tiba hampir bersamaan. Mereka membaca situasi cepat—jejak ban, arah angin, kamera buta.

“Gudang servis timur,” kata Dr. Sandi.

“Dia suka tempat sempit.”

Bima mengangguk.

“Kita potong.”

Mereka menyusup. Dua penjaga tumbang tanpa suara. Pintu baja setengah terbuka.

“Sekarang,” bisik Bima.

Ledakan kecil granat kejut—BLAAR!

Kekacauan. Bima masuk duluan, menghadapi tiga anggota Naga Hitam. Tinju beradu, siku menghantam. Dr. Sandi bergerak menyamping—menjatuhkan satu, melumpuhkan yang lain.

Wei Long menarik pistol.

“Berhenti!”

Laura muncul dari belakang, suara tegas.

“Lepaskan mereka.”

Wei Long tertawa pendek.

“Kau berani datang sendiri?”

Bima berdiri di depan Laura.

“Cukup.”

Wei Long menembak—

Dr. Sandi menepis lengan, peluru menghantam dinding. Bima menerjang. Duel sengit—kekuatan Wei Long beradu teknik Bima. Mereka terguling. Wei Long mencoba menikam—

TAK!

Dr. Sandi memukul titik saraf. Wei Long terhuyung.

Bima mengunci, membanting.

“Game over.”

Laura berlari ke Anisa.

“Dik!”

Anisa memeluknya erat.

“Ibu—”

Dr. Hadijah dilepaskan. Ia menatap Laura, mata basah.

“Kalian datang.”

Sirene mendekat. Sisa anggota Naga Hitam kabur.

Bima berdiri, napas berat.

“Tidak ada belanja tanpa pengawalan. Mulai sekarang.”

Laura mengangguk, menggenggam tangan ibu dan adiknya.

“Kami janji.”

Di luar, siang kembali tampak normal.

Namun mereka tahu—

di balik kaca dan cahaya,

naga bisa menyelinap.

Serigala dan Naga

Malam turun cepat di Singapura. Lampu-lampu kota menyala seperti bintang buatan, indah namun dingin. Konvoi kembali bergerak meninggalkan kawasan mall, pengamanan diperketat. Namun udara terasa berbeda—lebih berat, lebih gelap.

Di dalam Alphard, Laura menatap keluar jendela.

“Kak… kenapa rasanya belum selesai?”

Dr. Hadijah menggenggam tangan putrinya.

“Karena kejahatan tidak pernah berjalan sendiri.”

Di tempat lain, di sebuah klub bawah tanah yang tersembunyi di balik restoran tua, Tan Wei Long duduk dengan wajah penuh memar. Di seberangnya, seorang pria bertubuh ramping, bermata tajam seperti pisau, tersenyum tanpa kehangatan.

Namanya Rafael “Red Wolf” Alvarez, pemimpin mafia lokal Serigala Darah.

“Jadi… Naga Hitam dipermalukan tentara asing?” ucap Rafael pelan.

Wei Long membanting gelas.

“Mereka merebut mangsa kami. Aku ingin balas.”

Rafael tertawa kecil.

“Sepuluh juta dolar… cukup untuk membuat kota ini berdarah.”

Ia mencondongkan badan.

“Kita berburu bersama.”

Serangan datang seperti gelombang.

Di persimpangan padat, motor-motor muncul dari segala arah. Van menutup jalur. Orang-orang berjaket hitam dan merah—simbol naga dan serigala—melompat turun.

“Kontak banyak!” teriak Agung.

“Jumlah mereka dua kali lipat!”

Bima menggeram.

“Bertahan! Lindungi sipil!”

Tinju, tendangan, dan teriakan pecah di tengah lalu lintas. Bima menghadapi dua lawan sekaligus—cepat, brutal. Dr. Sandi bergerak seperti bayangan, menjatuhkan satu demi satu, tapi jumlah tak ada habisnya.

Eren tersungkur, bangkit lagi.

“Sertu… kita kewalahan!”

Rafael muncul di atas kap mobil, bertepuk tangan.

“Kalian hebat. Tapi kota ini milik kami.”

Bima menyerang Rafael, namun dua orang Serigala Darah menahan. Sebuah pukulan menghantam rusuk Bima—napasnya terpotong.

“Bima!” seru Dr. Sandi.

Saat keadaan nyaris runtuh, suara sirene memecah malam.

“POLISI! SEMUA BERHENTI!”

Mobil patroli berdatangan. Penduduk lokal—penjaga toko, sopir taksi—ikut berteriak, menghalangi jalan, melempar benda untuk mengusir para mafia.

Seorang pria tua menunjuk sambil berteriak,

“Mereka menyerang tamu! Pergi!”

Kekacauan berbalik arah. Mafia terpecah, rencana runtuh. Rafael mundur, mata berkilat marah.

“Ini belum selesai, Bima.”

Wei Long menariknya.

“Cukup. Kita tarik.”

Mereka menghilang di gang-gang sempit saat polisi menguasai area.

Bima duduk di trotoar, napas berat. Dr. Sandi membantunya berdiri.

“Kau baik-baik saja?”

Bima tersenyum pahit.

“Pernah lebih baik.”

Seorang polisi Singapura mendekat.

“Kalian aman sekarang. Terima kasih kepada warga yang membantu.”

Laura menatap orang-orang sekitar—wajah-wajah asing yang memilih berdiri bersama.

“Terima kasih,” ucapnya tulus.

Seorang ibu tersenyum.

“Kemanusiaan lebih penting dari uang.”

Konvoi bergerak lagi, meninggalkan malam yang hampir menelan mereka.

Di dalam mobil, Anisa bersandar dan tertidur. Dr. Hadijah memejamkan mata, berdoa.

Bima menatap ke depan.

“Mereka bersatu melawan kita.”

Dr. Sandi mengangguk.

“Dan kita tidak sendirian.”

Di luar, kota kembali tenang.

Namun di balik ketenangan itu,

serigala dan naga berjanji

akan datang lagi—

sementara mereka yang bertahan

melaju,

selangkah lebih dekat

ke tanah aman.

Selat yang Berlumur Darah

Pelabuhan menuju Batam mulai ramai sejak subuh. Angin laut membawa bau solar dan asin yang menusuk. Antrian kendaraan mengular, klakson sesekali memecah pagi. Konvoi Laura cs bergerak perlahan, menjaga jarak—namun kewaspadaan ditarik setinggi mungkin.

Bima menatap dermaga, rahangnya mengeras.

“Ini titik sempit. Kalau mereka mau nekat, di sini.”

Dr. Sandi berdiri di dekat pintu Alphard, memeriksa sekitar.

“Banyak wajah baru. Terlalu banyak.”

Eren—wajahnya masih tegang sejak bentrokan semalam—mengangguk.

“Aku siap, Sertu.”

Belum sempat Bima menjawab—

BRAKK!

Sebuah truk boks mendadak memotong jalur, menutup akses depan. Dari belakang, dua van gelap mengurung. Pintu terbuka serentak. Orang-orang berjaket hitam-merah melompat turun—simbol Serigala Darah dan Naga Hitam terpampang jelas.

“SEKARANG!” teriak seseorang.

Bima mengangkat tangan.

“Kontak besar! Lindungi sipil!”

Pertempuran pecah brutal. Tongkat besi, rantai, dan pisau berkilat di bawah matahari. Bima menahan dua serangan sekaligus, memutar, membalas dengan kombinasi cepat. Dr. Sandi bergerak lincah, menjatuhkan satu lawan, lalu berputar melindungi sisi Laura.

Eren berhadapan dengan pria bertubuh kekar bermata dingin.

“Ayo!” bentak Eren.

Pukulan datang bertubi. Eren menangkis—terlambat setengah detik.

DUK!

Siku menghantam pipinya.

BRAKK!

Tinju berikutnya mendarat di rahang. Eren tersungkur, darah tipis di bibir, wajahnya memar memerah.

“EREN!” teriak Agung.

Seorang Serigala Darah tertawa kasar.

“Jatuh satu!”

Bima melihat itu—amarah menyala.

“Sand—di! Aku ambil pimpinan!”

Dari balik kerumunan, dua sosok melangkah maju: Rafael “Red Wolf” Alvarez dan Tan Wei Long. Mata mereka dingin, senyum tipis—kejam.

Rafael bertepuk tangan.

“Kau keras kepala, Bima. Kami datang menutup buku.”

Wei Long menggeram.

“Gadis itu. Sekarang.”

Bima berdiri di depan, bahu mengembang.

“Lewat mayatku.”

Dr. Sandi menyamping, suaranya rendah.

“Kita pecah mereka. Aku Wei Long.”

Bima mengangguk singkat.

“Rafael punyaku.”

Mereka bergerak serentak.

Rafael menyerang cepat—pisau pendek mengarah ke perut. Bima memutar, menepis, membalas dengan siku ke rusuk. Rafael menghindar, menghantam balik dengan lutut.

DUK!

Bima terhuyung setengah langkah—lalu masuk lagi, menekan.

Di sisi lain, Wei Long mengayun tongkat. Dr. Sandi menunduk, masuk ke jarak dekat.

“Kesalahanmu,” bisiknya.

PLAK!

Telapak menghantam titik saraf leher. Wei Long menggeram, masih bertahan. Ia mengayun lagi—

Dr. Sandi menyapu kaki—BRAKK!

Wei Long jatuh, bangkit dengan amarah, namun Dr. Sandi sudah di depan, siku ke rahang—DUK!—diikuti pukulan telapak ke pelipis. Wei Long limbung.

Rafael mencoba membantu, namun Bima mengunci jalurnya.

“Fokus!” hardik Bima.

Rafael menggeram, menyerang membabi buta. Bima menahan, mengunci pergelangan, memutar—pisau terlepas.

“Berakhir,” kata Bima.

Ia menghantam kombinasi: siku—lutut—siku. Rafael roboh, masih mencoba bangkit.

Dr. Sandi menoleh cepat.

“Sekarang!”

Bima dan Dr. Sandi bergerak bersamaan.

Bima: tendangan ke paha dalam Rafael—DUK!

Dr. Sandi: pukulan lurus ke rahang—BRAKK!

Rafael jatuh telentang—pingsan.

Wei Long mencoba merangkak. Dr. Sandi mengejar, menghentikan dengan satu hentakan telapak ke belakang leher.

PLAK!

Wei Long ambruk—pingsan.

Hening sesaat. Lalu sirene pelabuhan meraung. Petugas keamanan dan polisi pelabuhan berlarian.

Sisa anggota mafia kocar-kacir, melompat kembali ke van, melarikan diri.

Bima berbalik, berlutut di samping Eren.

“Eren. Dengarkan aku.”

Eren membuka mata setengah, tersenyum tipis meski wajahnya lebam.

“Masih… di sini, Sertu.”

Dr. Sandi memeriksa cepat.

“Memar berat. Tapi sadar. Kau keras, Nak.”

Agung menghela napas lega.

“Kita menang… lagi.”

Laura menutup mulut, air mata jatuh.

“Terima kasih… terima kasih.”

Bima berdiri, menatap dua pimpinan yang tergeletak.

“Ini yang terakhir,” katanya dingin. “Setidaknya hari ini.”

Petugas pelabuhan mengamankan area.

“Kalian aman. Penyeberangan ditunda sebentar.”

Bima mengangguk.

“Cukup.”

Saat matahari naik lebih tinggi, selat kembali tenang. Kapal feri menunggu—pintu terbuka, mesin bergetar pelan.

Bima menatap laut.

“Batam di depan.”

Dr. Sandi menepuk bahunya.

“Kita bawa mereka sampai sana.”

Mereka melangkah—

meninggalkan dua raja jalanan yang tumbang,

membawa harapan menyeberangi selat,

menuju tanah air

yang semakin dekat,

Mata di Tengah Selat

Mesin feri meraung pelan, lalu stabil. Air laut terbelah, meninggalkan jejak putih panjang di belakang buritan. Perlahan, ketegangan yang sejak berhari-hari menempel di bahu mereka mulai luruh.

Di dek bawah, kamar-kamar feri berlampu temaram. Bima menutup pintu kabin, menghela napas panjang.

“Kita aman… untuk sementara.”

Dr. Sandi menaruh tas di sudut, melepas jaket yang basah keringat.

“Jangan pernah percaya kata ‘aman’ di perjalanan seperti ini.”

Namun suaranya lebih lunak dari biasanya.

Laura masuk kamar mandi lebih dulu. Air mengalir hangat, menghapus debu pelabuhan dan sisa ketakutan. Ia menutup mata lama-lama, seolah ingin membilas semuanya. Di kabin sebelah, Dr. Hadijah dan Anisa juga mandi bergantian, suara air menjadi irama yang menenangkan.

Di kantin feri, mereka duduk berderet. Nasi hangat, sup bening, dan teh panas tersaji sederhana—namun terasa seperti jamuan mewah.

Eren, dengan wajah lebam berwarna ungu kebiruan, tersenyum sambil mengaduk sup.

“Entah kenapa… makan di laut begini rasanya beda.”

Agung tertawa kecil.

“Karena kamu masih hidup.”

Bima mengangkat cangkir.

“Minum. Kita butuh tenaga.”

Mereka makan perlahan, lebih banyak diam. Kelelahan akhirnya menang. Satu per satu kembali ke kabin.

Lampu diredupkan. Dengung mesin menjadi lullaby.

Anisa tertidur duluan, napasnya teratur.

Dr. Hadijah menyelimutinya, lalu berbisik doa.

Laura berbaring memeluk tas kecilnya—tempat flash disk itu tersembunyi—namun kantuk menyeretnya juga.

Di kabin depan, Bima duduk sebentar, punggung bersandar ke dinding. Dr. Sandi mengecek luka Eren, memberi perban tambahan.

“Tidur,” kata Dr. Sandi.

“Kau butuh itu.”

Bima mengangguk.

“Gantian jaga?”

“Setelah dua jam.”

Mata mereka tertutup.

Di dek atas, angin malam memukul wajah. Seorang pria berdiri di balik bayangan cerobong, topi ditarik rendah. Earbud kecil menyala samar.

Di tangannya, kamera saku mengarah ke jendela kabin.

Klik.

Klik.

Ia berbicara pelan ke mic.

“Mereka di kapal. Semua lengkap. Menuju Batam.”

Suara di seberang tertawa singkat.

“Hadiah sepuluh juta menunggu.”

Pria itu tersenyum tipis—dingin.

“Mereka tidak tahu… aku sudah bersama mereka sejak pelabuhan.”

Di bawah, di balik pintu kabin,

mereka tidur nyenyak—

tanpa menyadari

ada mata pemburu

yang tak pernah terpejam,

menghitung jarak,

mengukur waktu,

menunggu momen

ketika laut sunyi

dan bantuan jauh.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!