NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Di atas langit hutan yang tenang dan membentang luas, Raras melangkah ringan di sisi Kakek Danu. Mereka tidak berjalan di atas tanah, melainkan melayang di udara berkat teknik kusus yang diberikan Danu kepadanya.

Sinar mentari yang cerah menyinari wajah mereka, namun tak mampu menghapus rasa kagum yang terpancar dari sorot gadis itu.

“Kakek, tempat apa ini? Hutannya luas sekali... apakah benar tidak ada yang tinggal didalamnya?”

“Jangan tertipu oleh hijaunya pepohonan, Nona." Jawabnya tenang.

"Di balik rimbunnya itu, tersembunyi ratusan desa dan perguruan bela diri. Wilayah ini dikenal sebagai Hutan Jura, hutan terbesar yang membentang di perbatasan kerajaan kita.”

Raras menatap kebawah. Imajinasi tentang kehidupan bebas didalam hutan tumbuh dalam benaknya, jauh dari istana dan topeng para bangsawan.

“Kalau begitu, ayo kita turun, kek!”

Mendengar permintaan penuh semangat itu, Danu terdiam sejenak. Ia teringat akan peringatan Raden Bayu tentang bahaya hutan ini, terutama tentang ancaman binatang buas yang semakin agresif.

“Maaf, Nona Raras. Bukankah Nona sendiri yang mengatakan kita ke sini hanya untuk mencari udara segar? Ingatlah, kadang di balik keindahan hutan ini… tersembunyi kegelapan.”

“Tapi…”

Nada kecewa Raras terputus. Ia membuang muka, namun matanya diam-diam memindai hutan. Hingga pandangannya tertangkap oleh sekawanan kupu-kupu biru safir yang berkilau aneh.

“Kakek! Lihat! Lihat, kupu-kupu itu membentuk pola seperti lukisan!”

“Itu hanya Kupu-Kupu Ilusi, Nona. Tidak istimewa.”

“Tapi mereka terbang membentuk pola aneh! Seperti sebuah tulisan!”

"lihat sebentar saja!”

Danu menghela napas dan menoleh. Sepersekian detik.

Dan detik itulah yang Raras gunakan.

Ia melepaskan pegangan dan menjatuhkan diri.

“Nona—!”

Tubuh Raras melesat turun, diselimuti bola emas transparan yang menepis ranting dan dedaunan. Dentuman berat mengguncang lantai hutan ketika pelindung itu menghantam tanah.

Namun saat cahaya memudar, Raras telah berdiri tegak... utuh, tanpa luka.

“Huh, kakek tua pelit,” gumamnya sambil menarik napas dalam-dalam. Aroma tanah basah dan dedaunan memenuhi paru-parunya.

“Tapi setidaknya, aku bebas.”

Keheningan hutan terasa nyaris sakral, hingga gerakan kecil di semak menarik perhatiannya. Seekor tupai mungil berbulu halus gemetar di atas daun besar. Raras mendekat dan mencengkeramnya lembut.

“Tenang… aku tidak akan menyakitimu.”

Ia merasakan kejanggalan di salah satu kaki kecil makhluk itu.

‘Mungkinkah ia terluka akibat pendaratanku tadi? Jika benar… berarti teknik pelindung kakek memang mengerikan.’

Rasa bersalah menyelinap. Tanpa ragu, Raras mengeluarkan salep kerajaan dan mengoleskannya. Asap tipis menguar; luka itu menutup dalam sekejap.

Tepat setelahnya, suara panik menggema dari kejauhan.

“Nona Raras!”

Jantung Raras berdegup kencang. Itu suara Kakek Danu. Panik seketika menyergapnya. Tanpa berpikir panjang, ia memasukkan tupai itu ke dalam sakunya dan berbisik tergesa.

“Tahan sebentar, jangan berisik. Begitu kakek tua itu pergi, aku akan melepaskanmu!”

Tupai itu mengangguk kecil. Raras menghela napas lega, tak menyadari bahwa anggukan tersebut bukanlah tanda persetujuan, melainkan reaksi ketakutan yang terlalu besar untuk melawan.

Ia melangkah perlahan, menahan napas, berusaha tak menimbulkan suara sedikit pun. Matanya menangkap sosok pohon jati tua dengan batang raksasa tak jauh dari sana. Tanpa ragu, ia bergegas bersembunyi di baliknya.

Tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh ringan, Danu mendarat di tempat Raras sebelumnya jatuh.

Ia kemudian menyipitkan mata, menyapu sekeliling dengan tajam.

‘Ini aneh… seharusnya nona muda mendarat di sekitar sini.’

Namun, karena ia sengaja menahan kekuatannya, indranya tidak lebih baik dari orang biasa.

'Jika aku melepaskan kekuatan, itu hanya akan menarik perhatian para pendekar kuat yang bersembunyi di hutan ini. Terlalu berisiko untuk keselamatan Nona.'

Sekali lagi ia menyapu pandangannya.

‘Dia pasti sudah pergi.’

Dengan keputusan itu, Kakek Danu melesat pergi, suaranya perlahan menghilang ditelan hutan.

Dari balik pohon, Raras mengintip. Saat yakin kakek tua itu telah pergi jauh, senyum kemenangan muncul di wajahnya.

‘Sepertinya kakek memang sudah terlalu tua.’

Bersamaan dengan itu, Raras mengeluarkan tupai yang masih menggigil ketakutan dari sakunya.

Tak ada ancaman dari gadis itu, melainkan kehangatan.

Menyadari ia telah ditolong, tupai mungil itu membungkukkan badannya di telapak tangan Raras yang terbuka sebagai tanda terima kasih. Gerakan kecil itu membuat Raras tersenyum.

“Bagus tupai pintar, sekarang Pergilah.”

Namun sebelum turun, tupai itu membuka lengannya lebar, memperlihatkan selaput tipis.

WOSHH!

Ia meluncur lincah di udara. Raras terpesona dan spontan mengejarnya. Tawa riangnya menggema, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar bebas, seperti anak biasa, bukan putri kerajaan.

Namun kegembiraan itu berakhir ketika suara dentingan logam terdengar, diikuti jeritan tertahan.

Tupai itu tiba-tiba berlari ke tanah lapang.

“Tunggu, jangan ke sana!”

Terlambat.

Serigala Taring Panjang melompat keluar dari bayangan. Dalam satu gigitan kejam—

HAP!

Tupai itu lenyap.

Amarah membara di dada Raras, namun segera padam oleh teror saat makhluk itu membantai para penyintas lain. Raras jatuh terduduk, pasrah.

Tepat sebelum kematian menjemput, suara gedebuk terdengar.

Dari sanalah Raras melihatnya, seorang pemuda berpakaian sederhana, menatap ngeri dengan kapak di tangan.

Raras tersentak dari lamunannya. Ekspresi duka kini membalut wajahnya. Setelah kehilangan tupai yang ia selamatkan, kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa pemuda yang menyelamatkannya juga terbaring tak berdaya. Isakannya terdengar lirih.

“Bangunlah… bukankah kau sudah berjanji melindungiku?”

“Kumohon, bangunlah…”

Saat mata Raras terpejam dalam kesedihan, ia melewatkan sebuah pemandangan.

Jemari kanan pemuda itu, Jihan, bergerak.

1
Ancient
Ayoo jangan lupa tinggalkan likenya🙏 biar author Semangat 🫶
Zhareeva Mumtazah anjazani
Lah jika arya mati siapa yang akan jadi kepala desa selanjutnya?
DownBaby
BENERKAN UNTUK MENYDARKAN JIHAN PERLU PENGORBANAN YANG SETARA JUGA
DownBaby
hell nah novel ini kedepannya bkl penuh tragedi/Sob/
Ar`vinno
apa tuh
Erigo
mungkinkah...
Embun Pagi
Lanjut Thor
DownBaby
JIHAN
Erigo
SERU BANGET THOR LANJUT, KASIHAN AMA JIHAN ASLI DI FITNAH AMA PENDUDUK DESA, KEHILANGAN IBUNYA😭
Ancient: Itulah ujian untuk Jihan hehe
total 1 replies
Erigo
Yah jelas sekali dengan kondisinya sekarag, Jihan menjadi gila🤭
Erigo
Terdengar familiar

"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"
Erigo
bagus Jihan
Erigo
WOI LU KAN YANG NYAMPERIN
Erigo
Makin seru, tapi kasihan Jihan di fitnah mlu😭
Erigo
Thor
Erigo
begitulah manusia
Erigo
👍
Erigo
Apakah bakal jadi guru Jihan?
Djumadi Dudung
orang nglamun kog panjang bnr
Ancient: itu transisi flashback kak
total 1 replies
Erigo
tuh kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!