Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sinar mentari pagi berjuang keras menembus kanopi hutan yang rapat dan menjulang tinggi. Cahaya keemasan itu terpecah-pecah oleh jalinan ranting tua dan dedaunan lebat yang saling bertaut, membentuk atap alami yang nyaris menelan terang. Hanya berkas-berkas tipis yang lolos, menari samar di udara lembap, sebelum akhirnya jatuh di lantai hutan yang diselimuti bayangan dan aroma tanah basah.
Di tengah temaram itulah, sebuah bayangan melesat turun dari langit.
Raras jatuh dengan kecepatan tinggi, tubuhnya diselimuti bola emas transparan yang berkilau lembut. Lapisan pelindung itu menepis ranting-ranting keras dan dedaunan tajam yang terlintasi, seolah alam sendiri tak sanggup menyentuhnya. Angin menderu kencang mengikuti lintasannya, mengguncang pepohonan hingga berderak hebat.
Sekawanan burung yang sedang berdiam di sarang beterbangan panik, menciptakan kekacauan singkat di udara. Untuk sesaat, kanopi hutan terbuka, membiarkan cahaya matahari menembus masuk dan menyinari lantai hutan yang gelap.
BUGH!
Bola emas itu menghantam tanah dengan suara dentuman berat, memekakkan telinga. Debu, tanah, dan daun kering terlempar ke segala arah, membentuk kabut tipis di sekitar titik pendaratan.
Namun, ketika cahaya emas itu memudar perlahan, Raras telah berdiri tegak di tengahnya. Tubuhnya utuh, pakaiannya rapi, tanpa satu goresan pun. Senyum lebar langsung merekah di wajahnya... senyum kelegaan, kebebasan, dan kemenangan kecil yang telah lama ia nantikan.
“Huh, dasar kakek tua pelit,” gumamnya kesal sambil mengepalkan tangan.
“Hanya untuk berjalan-jalan ke desa di Hutan Jura saja dilarang.”
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara hutan yang lembap dan segar memenuhi paru-parunya. Aroma humus, kayu lapuk, dan dedaunan basah bercampur menjadi wewangian alami yang jarang ia rasakan di dalam tembok istana.
“Tapi sekarang… aku bebas!”
Pandangan Raras menyapu sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. Matanya berbinar menyaksikan pepohonan raksasa yang menjulang angkuh, akar-akar besar mencengkeram tanah seolah menolak tumbang sejak ratusan tahun lalu. Keheningan hutan terasa magis, hampir sakral. Namun ketenangan itu tiba-tiba pecah oleh suara gemerisik dari balik semak-semak.
Raras menoleh dan melihat seekor makhluk kecil berbulu halus seperti kapas, menyerupai tupai tanah. Tubuh mungil itu gemetar di atas sehelai daun besar, matanya yang hitam legam memancarkan ketakutan murni. Rasa penasaran langsung mendorong Raras melangkah mendekat. Suara ranting kering yang seharusnya berderak di bawah kakinya seakan lenyap, tertelan oleh fokusnya pada makhluk kecil tersebut.
Dengan gerakan cepat, ia mengulurkan tangan dan mencengkeram tubuh rapuh itu. Tupai mungil tersebut menjerit melengking, meronta panik dalam genggamannya, tetapi perlawanan itu sia-sia di hadapan kekuatan Raras.
“Cup… cup, tenanglah tupai manis,” ucap Raras lembut.
“Aku tidak akan menyakitimu.”
Ia mengelus tubuh hewan itu perlahan, berusaha menenangkannya. Namun saat jemarinya menyusuri bagian bawah tubuh si tupai, ia merasakan kejanggalan. Salah satu kaki kecilnya terluka.
Hati Raras mencelos. Seketika, dugaan pahit muncul dalam benaknya.
‘Mungkinkah ia terluka akibat pendaratanku tadi? Jika benar… berarti teknik pelindung kakek memang mengerikan.’
Ingatan Raras melayang ke beberapa saat sebelumnya, ketika pelindung Kakek Danu aktif. Bola emas itu muncul sepersekian detik sebelum tubuhnya menghantam hutan, menyerap seluruh benturan dengan sempurna. Formasi itu melindunginya, namun ternyata tak sepenuhnya ramah bagi lingkungan sekitar.
Perasaan bersalah merayap di dadanya. Tanpa ragu, ia berniat menyembuhkan luka tupai tersebut. Namun tepat ketika tangannya hendak merogoh saku, sebuah suara berat dan penuh kekhawatiran menggema di benaknya.
“Nona! Nona Raras!”
Jantung Raras berdegup kencang. Itu suara Kakek Danu. Panik seketika menyergapnya. Tanpa berpikir panjang, ia memasukkan tupai itu ke dalam sakunya dan berbisik tergesa.
“Tahan sebentar, jangan berisik. Begitu kakek tua itu pergi, aku akan menyembuhkanmu.”
Tupai itu mengangguk kecil. Raras menghela napas lega, tak menyadari bahwa anggukan tersebut bukanlah tanda persetujuan, melainkan reaksi ketakutan yang terlalu besar untuk melawan.
Ia melangkah perlahan, menahan napas, berusaha tak menimbulkan suara sedikit pun. Matanya menangkap sosok pohon jati tua dengan batang raksasa tak jauh dari sana. Tanpa ragu, ia bergegas bersembunyi di baliknya.
Tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh ringan. Kakek Danu mendarat di tempat Raras sebelumnya jatuh.
“Nona… Nona Raras! di mana kamu?!”
Suara berat itu menggema berulang kali, namun hanya angin dan jangkrik yang menjawab. Kakek Danu menyipitkan mata, menyapu sekeliling dengan tajam.
‘Ini aneh… seharusnya nona mendarat di sekitar sini.’
Mata Kakek Danu menyipit, menatap tajam, menyapu pepohonan dan semak di sekelilingnya. Namun, karena ia sengaja menahan kekuatannya, indranya tidak lebih baik dari orang biasa.
'Jika aku melepaskan kekuatan, itu hanya akan menarik perhatian para pendekar kuat yang bersembunyi di hutan ini. Terlalu berisiko untuk keselamatan Nona.'
Sekali lagi ia menyapu pandangannya, meyakinkan diri bahwa Nona muda tidak berada di sana.
‘Dia pasti sudah pergi.’
Dengan keputusan itu, Kakek Danu melesat pergi, suaranya perlahan menghilang ditelan hutan.
Dari balik pohon, Raras mengintip. Saat yakin kakek tua itu telah pergi jauh, senyum kemenangan muncul di wajahnya.
‘Sepertinya kakek memang sudah terlalu tua.’
Bersamaan dengan itu, Raras mengeluarkan tupai yang masih menggigil ketakutan dari sakunya. Ia menatapnya dengan simpati, lalu mengeluarkan salep luka dari kerajaan. Salep itu segera dioleskan pada kaki tupai.
'Salep ini dibuat oleh tabib terbaik kerajaan. Dulu aku memintanya hanya karena gigitan nyamuk, tapi kuharap ini bisa membantu,'
Seketika, rasa dingin menyelimuti tubuh tupai saat salep dioleskan. Asap tipis menguar dari luka, memperbaiki tulang-tulang yang rusak dan menutup kembali lukanya yang terbuka. Dalam beberapa saat, tupai itu pulih sepenuhnya.
Menyadari ia telah ditolong, tupai mungil itu membungkukkan badannya di telapak tangan Raras yang terbuka sebagai tanda terima kasih. Gerakan kecil itu membuat Raras tersenyum.
“Bagus tupai pintar, sekarang Pergilah.”
Namun sebelum turun, tupai itu membuka lengannya lebar, memperlihatkan selaput tipis.
WOSHH!
Ia meluncur lincah di udara. Raras terpesona dan spontan mengejarnya. Tawa riangnya menggema, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar bebas, seperti anak biasa, bukan putri kerajaan.
Namun kegembiraan itu berakhir ketika suara dentingan logam terdengar, diikuti jeritan tertahan. Bau darah menyengat. Firasat buruk menyergap.
Tupai itu tiba-tiba berlari ke tanah lapang.
“Tunggu, jangan ke sana!”
Terlambat.
Serigala Taring Panjang melompat keluar dari bayangan. Dalam satu gigitan kejam—
HAP!
Tupai itu lenyap.
Amarah membara di dada Raras, namun segera padam oleh teror saat makhluk itu membantai para penyintas lain. Raras jatuh terduduk, pasrah.
Tepat sebelum kematian menjemput, suara gedebuk terdengar.
Dari sanalah Raras melihatnya, seorang pemuda berpakaian sederhana, menatap ngeri dengan kapak di tangan.
…
Raras tersentak dari lamunannya. Ekspresi duka kini membalut wajahnya. Setelah kehilangan tupai yang ia selamatkan, kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa pemuda yang menyelamatkannya juga terbaring tak berdaya. Isakannya terdengar lirih.
“Bangunlah… bukankah kau sudah berjanji melindungiku?”
“Kumohon, bangunlah…”
Saat mata Raras terpejam dalam kesedihan, ia melewatkan sebuah pemandangan. Jemari kanan pemuda itu, Jihan, bergerak.