"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi gedung Nirmala Capital, namun kehangatannya tidak mampu mencairkan suasana beku di dalam ruang rapat dewan direksi. Kirana melangkah masuk dengan setelan jas berwarna merah darah, warna keberanian sekaligus peringatan.
Meski matanya masih sedikit sembab karena malam yang penuh gairah dan air mata bersama Arka, ia tetap berdiri tegak. Di lehernya, tersembunyi di balik kemeja sutranya, cincin perak pemberian Arka terasa dingin menyentuh kulitnya, menjadi satu-satunya sumber kekuatannya.
Di meja panjang itu, duduk enam orang pria tua yang selama ini menjadi sekutu Roy. Mereka menatap Kirana dengan pandangan merendahkan, seolah melihat seekor mangsa yang tinggal menunggu waktu untuk diterkam.
"Nona Kirana," ujar Pak Gunawan, direktur senior yang paling vokal. "Skandal penangkapan Roy telah mencoreng wajah perusahaan. Saham kita anjlok 12% pagi ini. Kami tidak bisa membiarkan seorang CEO yang terlibat dalam drama romansa berdarah tetap memegang kendali. Kami menuntut pengunduran diri Anda sekarang juga."
Kirana meletakkan tabletnya di atas meja dengan suara dentuman yang sengaja dibuat keras. "Drama romansa? Roy mencoba menggelapkan dana perusahaan dan menculik saya, Pak Gunawan. Jika ada yang harus mundur, itu adalah Anda semua yang selama ini menutup mata atas jejak kotor Roy!"
"Tanpa bukti, itu hanya fitnah, Nona," cemooh yang lain. "Dan tanpa dukungan investor besar, Anda hanyalah seorang ratu tanpa mahkota."
Tepat saat suasana mencapai titik didih, pintu ruang rapat terbuka secara otomatis.
Langkah sepatu bot kulit yang berat bergema di atas lantai marmer. Seluruh direksi menoleh. Arka Mahendra melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator yang baru saja memenangkan perburuan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat tajam, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan memar di wajahnya justru menambah kesan berbahaya yang tak terbantahkan.
Kirana terpaku. Ia tidak tahu Arka akan datang ke sini, apalagi dengan gaya seperti ini.
"Siapa Anda?! Ini rapat tertutup!" bentak Pak Gunawan.
Arka tidak menjawab. Ia hanya melemparkan sebuah map hitam ke tengah meja. Dion, yang berdiri di belakangnya dengan wajah tanpa ekspresi, segera membagikan dokumen salinan kepada semua orang.
"Nama saya Arka Mahendra. Dan per jam delapan tadi pagi, saya telah mengakuisisi 35% saham Nirmala Capital yang sebelumnya dimiliki oleh firma cangkang milik Roy," suara Arka berat dan berwibawa, membuat seluruh ruangan hening seketika.
Arka berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di belakang kursi Kirana. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursi Kirana, sebuah gerakan posesif yang membuat para direksi tersentak. "Jadi, secara teknis, saya adalah pemegang saham mayoritas tunggal di ruangan ini. Dan saya punya sedikit masalah dengan cara kalian berbicara pada CEO saya."
Kirana mendongak, menatap Arka dengan campur aduk antara rasa syukur dan amarah. "Arka, apa yang kau lakukan? Kau membeli saham ini tanpa bicara padaku?"
Arka menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Kirana hingga aromanya kembali memabukkan indra wanita itu. "Aku bilang aku akan melindungimu, Kirana. Tapi aku tidak bilang aku akan melakukannya dengan cara yang manis," bisiknya, cukup rendah agar hanya Kirana yang mendengar.
Arka kembali menatap para direksi. "Saya menuntut audit menyeluruh terhadap setiap pengeluaran yang kalian setujui selama lima tahun terakhir. Jika saya menemukan satu rupiah pun yang mengalir ke rekening pribadi kalian melalui Roy, saya pastikan kalian akan berbagi sel yang sama dengan mentor kalian itu."
Wajah para direktur itu memucat. Mereka yang tadi begitu berani menghujat Kirana, kini tertunduk lesu seperti ayam sayur.
"Rapat selesai," ujar Arka dingin. "Keluar. Saya ingin bicara dengan CEO saya secara pribadi."
Begitu ruangan kosong, Kirana langsung berdiri dan berbalik menghadap Arka. "Kau gila! Kau menjadikanku terlihat seperti wanita lemah yang harus dibeli oleh kekasihnya sendiri! Sekarang semua orang akan mengira aku hanya bonekamu!"
Arka justru tersenyum tipis, sebuah senyuman nakal yang membuat Kirana gregetan. "Lebih baik dikira boneka pemegang saham daripada dikira boneka seorang narapidana seperti Roy, bukan?"
"Ini bukan lelucon, Arka!" Kirana memukul dada Arka dengan kesal.
Arka menangkap kedua tangan Kirana, menariknya hingga dada mereka bersentuhan. Suasana di ruang rapat yang luas itu mendadak berubah menjadi sangat panas dan penuh muatan seksual. Arka mendorong Kirana perlahan hingga punggung wanita itu menempel pada meja rapat yang besar.
"Aku membelinya karena aku ingin kau punya kebebasan mutlak, Kirana. Aku tidak akan mencampuri keputusanmu, tapi aku akan menjadi tembok yang tidak bisa ditembus oleh siapapun yang mencoba menjatuhkanmu," ujar Arka, matanya menatap lekat ke bibir Kirana.
"Kau selalu punya cara untuk membuatku berhutang budi padamu," rintih Kirana, suaranya melemah saat tangan Arka mulai merayap di pinggangnya, menarik kemeja sutranya keluar dari rok span-nya.
"Jangan anggap ini hutang budi. Anggap ini investasi..." Arka menunduk, mencium leher Kirana dengan gigitan kecil yang membuat Kirana mendesah pelan. "...investasi untuk masa depan yang ingin kubangun bersamamu."
Di tengah kemesraan yang intens itu, Kirana teringat sesuatu. Ia mendorong bahu Arka sedikit. "Arka... pintunya tidak terkunci. Sekretarisku bisa masuk kapan saja."
"Biarkan mereka melihat," gumam Arka parau, kembali mencium Kirana dengan lebih menuntut. "Biarkan mereka tahu siapa yang memiliki ratu ini."
Kirana merasa adrenalinnya terpacu. Risiko ketahuan di kantor pusatnya sendiri memberikan sensasi yang berbeda, sebuah perpaduan antara rasa takut dan gairah yang liar. Ia menarik dasi Arka, membawa pria itu kembali ke dalam ciuman yang dalam dan penuh kuasa. Di atas meja tempat keputusan jutaan dolar diambil, mereka justru merayakan kemenangan cinta yang penuh luka.
Namun, di tengah momen itu, ponsel Arka bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Arka melepaskan ciumannya dan melirik layar ponselnya.
Pesan itu berbunyi. "Selamat atas akuisisinya, Arka. Tapi ingat, apa yang bisa dibeli dengan uang, bisa dihancurkan dengan satu peluru. Kirana cantik sekali hari ini."
Arka seketika membeku. Matanya menyapu sekeliling ruangan, lalu tertuju pada gedung di seberang kantor yang memiliki jendela kaca gelap.
"Ada apa, Arka?" tanya Kirana menyadari perubahan raut wajah Arka.
Arka segera menarik Kirana turun dari meja dan membawanya menjauh dari jendela kaca besar. "Jauhi jendela. Sekarang!"
Arka segera menghubungi Dion melalui interkom. "Dion! Periksa atap gedung seberang! Sekarang! Ada pengintai!"
Kirana gemetar, ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang tidak stabil. "Roy lagi?"
"Tidak. Ini lebih profesional dari Roy," jawab Arka, matanya menatap tajam ke luar jendela, mencari titik pantulan lensa penembak jitu. "Sepertinya kita baru saja mengusik sarang lebah yang lebih besar, Kirana. Akuisisi ini membuat orang-orang di belakang Roy merasa terancam."
Arka memeluk Kirana dari belakang, melingkarkan lengannya di bahu wanita itu dengan sangat protektif. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke manapun sendirian mulai sekarang. Kau dengar?"
Kirana mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa meski ia mulai membuka hatinya untuk Arka, dunia di sekitar mereka justru menjadi semakin berbahaya. Cinta mereka bukan lagi sekadar taruhan atau balas dendam, melainkan sebuah perjuangan untuk bertahan hidup di tengah badai konspirasi yang baru saja dimulai.
Di luar, awan mendung mulai menutupi langit Jakarta, seolah menjadi pertanda bahwa hari-hari tenang mereka telah berakhir. Perang yang sesungguhnya baru saja dideklarasikan.
...----------------...
Next Episode....