NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Lobi gedung Nirmala Capital biasanya menyambut Kirana dengan tundukan hormat dan sapaan takzim. Namun pagi ini, udara terasa beracun. Saat Kirana melangkah masuk dengan balutan blazer hitam ketat dan rok senada - pakaian perang yang dipilihkan Arka secara tersirat - ia disambut oleh jepretan kamera paparazzi dan kerumunan wartawan yang tertahan di balik garis pembatas keamanan.

"Nona Kirana! Benarkah Anda didepak karena skandal asal-usul keluarga?!"

"Nona Kirana, apakah Nirmala akan segera berganti nama menjadi Mahendra Group?!"

Kirana tidak menoleh. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke depan meski hatinya hancur berkeping-keping. Di sampingnya, Dion berjalan dengan wajah kaku, menjalankan instruksi Arka untuk memastikan Kirana sampai di ruang rapat tanpa gangguan fisik, meski serangan mental tak terelakkan.

Begitu pintu ruang rapat lantai paling atas terbuka, Kirana merasa seperti masuk ke dalam kandang singa. Di ujung meja panjang, Roy duduk dengan senyum simpul yang memuakkan. Di sampingnya berdiri pengacara dari Hassan & Co, memegang dokumen yang Kirana tahu adalah surat kematian kariernya.

Dan di sana, di kursi pimpinan yang biasanya diduduki Kirana, Arka duduk dengan santai. Ia tidak lagi menatap Kirana dengan tatapan hangat seperti di vila Bogor semalam. Matanya sedingin es, bibirnya terkatup rapat, menciptakan aura otoritas yang menindas.

"Kau terlambat sepuluh menit, Kirana," ujar Arka dingin, bahkan tanpa menengadah dari berkas di tangannya.

Kirana menarik kursi di ujung meja yang berlawanan, menjaga jarak sejauh mungkin dari pria yang baru saja merobek dunianya. "Aku tidak menyangka kau begitu menikmati kursiku, Arka. Apakah rasanya lebih empuk daripada kursi taruhanmu dulu?"

Arka akhirnya mengangkat wajah. Ia menatap Kirana dengan pandangan meremehkan yang disengaja. "Kursi ini milik siapa pun yang memiliki saham terbesar. Dan pagi ini, itu bukan kau."

Roy tertawa kecil, suara seraknya memecah ketegangan. "Lihatlah dirimu, Kirana. Begitu keras kepala. Padahal Arka hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak lama. Mengembalikan aset Mahendra ke tangan yang benar."

"Aset Mahendra?" Kirana berdiri, tangannya menumpu di meja, mencondongkan tubuh ke arah Roy. "Perusahaan ini dibangun dengan darah dan air mata ayahku! Kau, Roy... kau yang memanipulasi dokumen siri itu agar kau bisa mencuri apa yang tidak bisa kau dapatkan dengan cara jujur!"

"Cukup, Kirana!" bentak Arka. Suaranya menggelegar di ruangan sunyi itu, membuat Kirana tersentak. "Jangan mempermalukan dirimu lebih jauh dengan drama keluarga. Pengacara Roy sudah membuktikan bahwa modal awal Nirmala berasal dari rekening mendiang ibuku. Secara hukum, kau hanya pengelola yang menyalahgunakan dana warisan."

Kirana menatap Arka dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Arka sedang menghancurkannya secara publik. Ia tahu ini mungkin bagian dari rencana, tapi melihat Arka berpihak pada Roy di depan dewan direksi yang mulai berdatangan, rasanya seperti jantungnya sedang diperas.

Satu per satu direktur masuk, mengambil tempat duduk mereka. Suasana menjadi semakin menyesakkan bagi Kirana. Arka berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja, berhenti tepat di belakang Kirana.

"Karena Nona Kirana sudah tidak memiliki legitimasi lagi," Arka bicara pada audiens, tangannya dengan lancang menyentuh bahu Kirana, menekannya agar wanita itu kembali duduk, sebuah simbol penaklukan. "Saya, sebagai pemegang saham mayoritas, memutuskan untuk melakukan audit forensik terhadap seluruh keputusan investasi yang pernah diambil oleh mantan CEO kita ini."

"Mantan?!" Kirana mendongak, matanya berkilat penuh amarah dan luka.

Arka membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari telinga Kirana. Napasnya yang hangat terasa di kulit Kirana, kontras dengan kata-katanya yang tajam. "Jangan membuatku mengusirmu dengan bantuan keamanan, Kirana. Pergilah selagi kau masih punya sedikit sisa harga diri."

Kirana merasakan perih di dadanya yang tak tertahankan. Ia ingin menampar Arka, ingin berteriak bahwa ia membencinya. Namun di balik tatapan kejam Arka, Kirana menangkap kilatan kode yang sangat cepat, sebuah isyarat agar ia mengikuti permainan ini. Namun, apakah harga yang harus dibayar harus setinggi ini? Kehancuran mentalnya di depan musuh bebuyutannya?

Roy tampak sangat menikmati pemandangan itu. Ia merasa menang. Arka yang ia takutkan akan bersekutu dengan Kirana, kini justru menjadi orang yang paling depan menghancurkan wanita itu.

"Arka benar, Kirana," ujar Roy sambil berdiri, mendekati Kirana. Ia mencoba menyentuh pipi Kirana, namun Arka dengan cepat menepis tangan Roy dengan dalih mengambil dokumen di meja.

"Jangan sentuh dia, Roy," ujar Arka tajam. "Dia masih subjek penyelidikan hukum. Aku tidak ingin kau mengotori barang bukti."

Roy tersenyum licik. "Tentu, Arka. Tentu. Dia milikmu untuk dihancurkan."

Rapat berlanjut dengan pembacaan mosi tidak percaya. Kirana dipaksa duduk di sana, mendengarkan setiap pencapaiannya diputarbalikkan menjadi kegagalan atau tindak korupsi. Setiap kata yang keluar dari mulut Arka seperti pisau yang menguliti mentalnya. Arka membeberkan detail-detail teknis yang hanya diketahui oleh orang terdekat, membuktikan bahwa ia telah memata-matai Kirana jauh sebelum mereka bersatu kembali.

"Dan untuk memastikan tidak ada aset yang dibawa lari," Arka menutup rapat dengan nada final, "Seluruh akses pribadi Kirana Nirmala ke sistem perusahaan dicabut. Termasuk fasilitas apartemen dan kendaraan yang dibiayai oleh Nirmala."

"Kau ingin aku menggelandang, Arka?!" suara Kirana pecah. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya.

Arka menatapnya tanpa kedip. "Kau punya teman-teman di klub sosialmu, bukan? Gunakan mereka. Rapat dibubarkan."

Para direktur meninggalkan ruangan dengan bisik-bisik yang menghina. Roy berjalan keluar dengan langkah kemenangan, menepuk bahu Arka. "Kau benar-benar seorang Mahendra, Arka. Dingin dan tak punya hati. Aku suka itu."

Begitu pintu tertutup dan hanya menyisakan Arka, Kirana, dan Dion yang berjaga di sudut, Kirana langsung berdiri. Ia menyambar gelas air di meja dan menyiramkannya ke wajah Arka.

BYUR!

Arka tidak menghindar. Air menetes dari rambut dan dagunya, membasahi jas mahalnya. Ia tetap diam.

"Puas?!" teriak Kirana. "Kau menghancurkanku di depan pria yang membunuh ibuku! Kau merenggut satu-satunya hal yang membuatku merasa berharga! Kau lebih iblis daripada Baskara!"

Arka mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melangkah maju, memojokkan Kirana ke dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta. Tangannya mengunci tubuh Kirana, wajahnya penuh dengan frustrasi yang sama besarnya.

"Jika aku tidak melakukan ini, Roy akan membawa polisi ke vilamu pagi ini, Kirana!" bisik Arka parau. "Dia punya dokumen asli pernikahan siri itu. Dia ingin menangkapmu atas tuduhan penggelapan aset keluarga Mahendra. Satu-satunya cara menghentikan surat perintah penangkapan itu adalah dengan aku yang mengambil alih sebagai 'korban' yang menuntutmu secara perdata!"

"Lalu kenapa kau harus mempermalukanku seperti itu?!" tangis Kirana pecah. Ia memukul dada Arka berkali-kali. "Kau bisa mengatakannya padaku! Kau bisa memberitahuku di mobil!"

"Roy menyadap mobil itu, Kirana! Dia menyadap setiap jengkal gedung ini!" Arka menangkap kedua tangan Kirana, menekannya ke dinding. "Aku harus membuat dia percaya bahwa aku membencimu. Aku harus membuat dia merasa aman agar dia mengeluarkan kartu as-nya yang terakhir, yaitu lokasi Baskara."

Kirana menatap Arka dengan napas tersengal. Rasa sakitnya begitu nyata, namun penjelasan Arka mulai meresap ke dalam logikanya yang hancur. Namun, luka mental itu sudah terlanjur dalam.

"Kau menghancurkanku untuk menyelamatkanku," bisik Kirana pahit. "Tapi kau lupa satu hal, Arka. Setelah semua ini selesai, siapa yang akan menyatukan kembali kepingan diriku yang kau hancurkan hari ini?"

Arka menunduk, menempelkan keningnya ke kening Kirana. "Aku. Aku yang akan melakukannya, meski aku harus menghabiskan sisa hidupku sebagai budakmu."

Tiba-tiba, pintu terbuka sedikit. Dion memberikan kode. "Tuan, Roy masih memantau melalui CCTV koridor. Anda harus segera keluar."

Arka menjauh dengan segera. Ia kembali mengenakan topeng dinginnya. "Dion, seret wanita ini keluar dari gedungku. Jangan biarkan dia membawa apa pun selain tas tangannya."

Kirana menatap Arka untuk terakhir kalinya sebelum Dion memegang lengannya dengan sopan namun tegas. Ia berjalan keluar melewati barisan karyawan yang dulu memujanya, kini menatapnya dengan iba atau hinaan. Saat ia menginjakkan kaki di trotoar depan gedung, Kirana menyadari satu hal, ia bukan lagi Sang Ratu. Ia adalah umpan yang sedang berenang di air penuh hiu, dan satu-satunya orang yang bisa menariknya keluar adalah pria yang baru saja menenggelamkannya.

Di dalam kantornya, Arka berdiri menatap Kirana dari kejauhan lantai 40. Ia meremas cincin di kantongnya. "Maafkan aku, Ra. Sedikit lagi. Hanya sedikit lagi."

...----------------...

Next Episode...

1
shabiru Al
mau tamatkah ?
Miss Ra: Belum kak..

masih panjang..
total 1 replies
Eva Karmita
benarkah Arka meninggal... sedihnya 😭😭😭😭
kalea rizuky
Kirana goblok pergi jauh lah gatel amat li kayak jalangg
Eva Karmita
😭😭 Arka kau laki" sejati...kau rela di pandang rendah dan hina demi penebusan dosa mu ...cintamu tulus Arka semoga ada keajaiban kamu bisa selamat dari ambang kematian yang menanti ...Kirana apa yang sekarang kmu rasakan melihat Arka lemah dan tidak berdaya 😭😭💔
Eva Karmita
perjuangan cinta yang rumit dan penuh pengorbanan berdarah 💔🥀🥺
Eva Karmita
nyesek banget dah 😩😩 ....cinta Arka yang begitu besar tapi Dimata Kirana hanya sebuah kepalsuan 💔😭
Eva Karmita
otor keren jalan ceritanya bagus aku suka melihat perjuangan cinta Arka tidak pernah menuntut untuk dibalas cintanya cuma mau selalu dekat dgn wanitanya ❤️🤍👍
Miss Ra: thank u atas apresiasinya kak..

semoga berkesan dengan semua ceritaku yaa..

/Kiss//Heart/
total 1 replies
Eva Karmita
terharu banget melihat perjuangan Arka dalam menembus semua dosa nya ...semoga kalian bisa bersatu dalam suka dan duka ❤️
shabiru Al
ta kasih vote ya thor biar makin semangat up nya 💪
Miss Ra: thank u kakak...

semoga berkesan dengan ceritaku..
/Kiss/
total 1 replies
shabiru Al
ta kirain kirana gak bakalan tau siasat arka,, akhirnya tau juga strategi arka agar bisa menangkap baskara,, meski harga yang harus dbayar arka sangat mahal
shabiru Al
rumit benar2 rumit,,, arka melindungi kirana dengan menghancurkan jiwanya...
shabiru Al
permainan semakin berbahaya
shabiru Al
makin rumit dengan jalan pikiran arka,, dah curiga juga pasti arka tetep terlibat... kasihan sekali kirana
shabiru Al
makin rumit makin jlimet dan bodohnya kirana gak bisa lepas dari arka
shabiru Al
benar2 pelim
Miss Ra: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!