NovelToon NovelToon
His Purpose

His Purpose

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Mafia / Tamat
Popularitas:6.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Uffahazz_2

Pria misterius yang semula adalah calon kakak iparnya, dalam hitungan detik berubah menjadi suaminya.

Kisah tentang Maria yang harus menerima takdir pahit ditinggalkan sang kekasih di hari pernikahan. Demi menjaga harkat dan martabat keluarga, ia rela menikah dengan pria yang bahkan baru dilihatnya di Altar.

Beberapa saat setelah mengikat janji di hadapan Tuhan, Maria mendapati dirinya sudah terkurung di tempat asing.

Siapa sosok suami Maria sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uffahazz_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Sulit Dimengerti

"Nyonya, apa yang Anda lakukan di sini? Sarapan sudah siap." Laura muncul dari ambang pintu.

Maria yang tengah berdiri di depan rak pun sedikit terlonjak. Mengagetkan saja, batinnya.

Ia menoleh, "Laura, apa kamu melihat buku bersampul biru gradasi oren di sini? Malam itu saya sempat ingin membacanya. Tapi kok sekarang tidak ada, ya?"

"Buku sampul biru?"

"Iya. Kalau tidak salah judulnya Elegi Senja. Kamu melihatnya?"

Laura nampak diam berpikir. "Saya kurang tahu, Nyonya. Karena yang bertugas membersihkan perpustakaan bukan saya."

"Begitu, ya ..." gumam Maria. Padahal ia penasaran dan ingin sekali membacanya.

"Tapi meski begitu, para pelayan tidak diizinkan dan tidak ada yang berani membaca serta mengambil buku dari sini, Nyonya. Karena ini perpustakaan pribadi milik Tuan."

Berarti kemungkinan besar buku itu ada di tangan Gibran. Haih, malas sekali. Lebih baik ia cari bacaan lain saja.

"Nyonya, jangan dulu membaca. Anda belum sarapan juga minum obat."

"Ayolah, Laura ... saya sudah sembuh. Untuk apa minum obat lagi," sahut Maria malas.

Ia memang merasa tubuhnya sudah baik-baik saja. Tenaganya juga perlahan mulai pulih.

"Nyonya, dokter bilang obatnya harus dihabiskan. Dan juga Nyonya harus tetap makan, dengan atau tanpa minum obat."

Maria memutar mata, "Laura, apa kamu sudah beralih profesi menjadi asisten dokter? Atau perawat?"

"Nyonya, saya memang bertugas menjadi perawat selama Anda sakit."

Maria berdecak. Ia baru tahu bahwa Laura bisa sengotot ini. Ia pun menghela nafas.

"Bawa saja makanannya kemari," titah Maria.

Namun Laura segera menggeleng. "Tidak, Nyonya. Tuan sudah menunggu Anda di ruang makan."

Kening Maria berkerut. "Ko ... Ko Gibran?" tanyanya ragu.

Laura mengangguk. "Tentu saja. Kami tidak punya Tuan lain selain beliau."

Benar juga. Tapi, untuk apa Gibran menunggunya di ruang makan? Tidak mungkin jika hanya untuk sarapan bersama, 'kan?

Karena Laura tak berhenti memaksa, mau tak mau Maria pun keluar dari perpustakaan. Padahal ia sengaja pergi ke sana untuk menghindari Gibran. Enak saja pria itu sudah menuduhnya bosan hidup.

Sesampainya di ruang makan, ia mendapati Gibran tengah duduk membaca koran. Di depannya ada secangkir kopi hitam dan croissant. Tidak seperti sebelumnya, meja makan saat ini tak terlalu penuh dan hanya ada beberapa hidangan.

Baguslah, jika terlalu banyak bukannya ingin makan, Maria malah sudah kenyang hanya dengan melihatnya.

"Ada apa?" tanya Maria pelan setelah beberapa saat hanya bungkam. Ia mendudukkan dirinya di hadapan Gibran.

Sebelum ini ia sempat ingin memaki, tapi setelah bertemu langsung malah jadi terintimidasi. Padahal Gibran hanya diam tak melakukan apa pun. Auranya benar-benar membuat Maria ciut.

Gibran melipat koran di tangannya. Lantas meraih cangkir berisi kopi dan menyeruputnya perlahan. Lelaki itu mendongak, membuat Maria kontan terperanjat oleh matanya yang tajam.

Bisakah pria itu melembutkan sedikit tatapannya? Maria merasa tengah berhadapan dengan seorang pembunuh bayaran.

"Laura bilang kamu tidak nyaman dengan kamarnya." Gibran berucap sembari menatap datar.

Maria membuka mulut, namun sesaat kemudian ia menutupnya kembali. Dasar Laura. Ia hanya berkata lebih menyukai warna biru ketimbang merah. Tapi gadis itu sudah mengadu yang macam-macam. Membuat malu saja.

"Bu-bukan seperti itu. Kamarnya sangat nyaman. Aku hanya kurang menyukai perpaduan warnanya. Itu saja."

Gibran mengangguk lamat. Tubuhnya bersandar di punggung kursi. Lengannya bersilang di atas perut. Sesaat ia melirik jam yang melingkari tangannya.

"Aku sudah menghubungi pihak desainer interior. Mungkin beberapa jam lagi mereka datang," ucapnya serta-merta.

Maria tergagap, "A-Apa?"

Dan Gibran hanya mengangkat alis tanpa ekspresi. Astaga, bagaimana bisa ada orang yang tahan dengan wajah begitu? Sementara sendirinya terlalu sering mengejutkan orang.

Desainer interior, katanya? Maria bahkan baru mengatakan masalah warna tersebut pada Laura kemarin. Itu pun sambil lalu dan tidak begitu serius.

Sebetulnya, apa yang Laura katakan hingga Gibran langsung gerak cepat seperti ini? Agaknya Maria harus lebih berhati-hati dalam berucap. Bisa repot jika candaannya dianggap serius.

Gibran berdiri dari kursinya. Hal itu sontak membuat Maria tersadar dan refleks mendongak.

"Ko Gibran mau ke mana?" tanyanya tanpa sadar.

Ia segera meringis memukul pelan mulutnya yang lancang. Namun tanpa diduga Gibran menjawabnya.

"Ke kantor. Kamu tunggu saja mereka datang. Tidak perlu khawatir, Marta akan mendampingimu," ucap pria itu lantas melenggang dengan langkah elegan. Meninggalkan Maria yang meringis di tempatnya tanpa tahu harus memberi tanggapan seperti apa.

"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari sana.

"Ah ... hahaha. Iya. Tentu. Saya baik-baik saja." Tidak ada yang lebih garing dari ucapannya sekarang.

Maria memakan sarapannya dengan setengah melamun. Betapa tidak, aura Gibran masih tertinggal meski dalam kesendirian. Membuat Maria merasa terawasi kendati pria itu sudah pergi.

Omong-omong, kantor Gibran di mana?

***

"Apa Anda ingin merombak keseluruhan desain kamar ini?"

Maria diam sebentar. Ia menatap sekeliling kamarnya dengan lamat. Seperti kata Gibran, beberapa jam kemudian dua orang dari pihak jasa desainer interior sampai di kediaman. Keduanya adalah pria muda yang tampan-tampan. Meski tak setampan suaminya, sih.

Astaga, sepertinya otak Maria makin melantur.

"Tidak perlu semuanya. Posisi barang sudah pas. Hanya saja saya ingin mengganti warna merah yang tersebar di beberapa sisi. Dan kalau bisa, sertakan juga tanaman hias untuk menambah asri, ya?"

"Saya ingin kamar ini terlihat lebih segar," lanjut Maria.

"Baik, kami akan berusaha keras untuk mewujudkan keinginan Anda. Dan kami pastikan, kamar ini akan berubah jauh lebih indah dari yang bisa Anda bayangkan."

Maria mengangguk. "Saya serahkan semuanya pada kalian kalau begitu. Ah, silakan diminum dulu tehnya."

"Terima kasih, Nyonya."

Beberapa saat kemudian Maria menghela nafas, membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatapa langit-langit dengan gamang. Para desainer itu sudah pergi di antar Marta ke depan.

Apa yang sudah ia lakukan? Membuat nyaman kamarnya, seakan-akan Maria akan tinggal lama di sini.

Tapi, Gibran sendiri yang mendatangkan orang-orang itu. Maria bisa apa jika tuan rumah sudah bertindak. Ia tak ubahnya orang luar yang tidak memiliki hak untuk menolak.

"Nyonya, ruang spa sudah siap. Mari, bukankah tadi Anda bilang ingin dipijat?"

'Astaga ... aku hanya memintamu memijat kakiku. Bukan seluruh tubuhku ...' jerit Maria dalam hati.

Tadi kakinya agak sedikit pegal karena terlalu lama berdiri dan berjalan ke sana kemari. Ia lupa, seharusnya ia tidak usah mengeluh pada Laura. Karena gadis itu pasti akan menanggapinya secara berlebihan.

"Laura, kenapa tidak sekalian saja kamu kirimkan kursi roda agar saya tidak perlu berjalan?"

Laura berkedip polos. "Anda membutuhkannya?"

"LAURAAA ...!!!" erang Maria kesal.

...***...

1
Enok Elin
🧡🧡🧡
Imas Masripah
aku udh lama cari ini karena hp sempet di install ulang jadi hilang.sy cuka ceritanya cinta ugal-ugalan seorang pria kereeeen
aku?istriyoongi
/Smile/
Silver Queen
si jule selingkuh thor🤭
mrs. rover: kenapa jule nyampe sini😭
total 1 replies
Yeti Kosasih
kesepian itu sangat tidak mengenakkan itu yg kerap kurasakan...
Fatimah Azzaa88
pantas saja kakeknya gibran bilang cucu menantunya bodoh,emang bodoh si,bodoh pke banget ,udh bnyak kjadian sbelumnya tp,gk prnah blajar dr pngalaman,lagi² prgi ktmpat asing
Fatimah Azzaa88
kesempatan koko gibran itu mah🤣🤣🤣
green attaki
the best novel
Rahma Lilis
Luar biasa
Nurlaila Mahlil
perfect novel
Icca Emoottss Gemesiens
yah bener 😂
Erlin Hidayati
Luar biasa
Mystera11
🤣🤣🤣astaga laura,,,cari mati kamuuu
Mystera11
🤣🤣🤣🤣🤣 bisa2nya disamain monyet🤣🤣🤣 laura...laura🤦‍♀️
Mystera11
Luar biasa
Shindy Auliya
sungguh luar biasa
Hujan Merah Jambu
Luar biasa
Erfiana ana
hmm, kira2 Maria bakalan maafin Gibran ga ya?
Erfiana ana
bakalan babak belur lagi ga yang satu ini??
Erfiana ana
dasar para pelayan tukang gosip, majikan sendiri pun dijadikan bahan ghibah...😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!