Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 - BUKAN LAGI ATASAN DAN BAWAHAN
Bunyi dentingan logam kecil yang beradu dengan nampan besi memecah keheningan bunker bawah tanah itu.
Valeria membuang napas panjang yang sedari tadi ditahannya. Tangannya yang berlumuran darah menjatuhkan pinset bedah ke atas nampan, tepat di sebelah serpihan logam tajam yang baru aja dia cabut dari lengan kiri Kael.
"Udah selesai," gumam Valeria membuang sarung tangan karetnya ke tempat sampah medis. Tangannya meraih handuk basah untuk mengelap keringat dingin yang membasahi keningnya sendiri.
Di atas ranjang, Kael menyandarkan punggungnya ke dinding beton. Pria raksasa itu telanjang dada, memperlihatkan otot-ototnya yang terbentuk sempurna namun kini dipenuhi luka dan lebam. Bahu kanannya sudah diperban rapi oleh Valeria, begitu juga dengan lengan kirinya. Efek bius lokal membuat wajah Kael terlihat sedikit lebih rileks, meski matanya masih menatap Valeria dengan intensitas yang nggak berkurang sedikit pun.
"Terima kasih, Val. Jahitan Anda selalu yang terbaik," puji Kael pelan, suaranya terdengar serak.
"Jangan banyak omong dulu. Obat biusnya bikin kamu ngantuk bentar lagi," potong Valeria judes. Wanita itu berjalan ke arah wastafel di sudut ruangan medis, mencuci tangannya dengan sabun antiseptik sampai darahnya luntur semua.
Sambil mengeringkan tangan, mata Valeria menyapu seisi ruangan bawah tanah itu. Tempat ini luar biasa aman, suhunya pas, dan persediaannya lengkap. Tapi ada satu masalah kecil yang baru aja dia sadari.
Cuma ada satu ranjang *king size* di sudut ruangan. Nggak ada sofa, nggak ada ranjang lipat ekstra. Cuma ada beberapa kursi lipat besi di dekat meja monitor.
Valeria berjalan ke arah lemari pakaian darurat yang ada di dekat dapur kecil. Dia membuka pintunya dan menemukan beberapa potong kaus oblong kebesaran warna hitam, celana *training*, dan jaket. Semuanya jelas ukuran tubuh Kael.
"Aku mau mandi bersihin sisa air laut sama mesiu ini. Lengket semua," ucap Valeria sambil mengambil satu kaus hitam dan celana *training*. "Kamu jangan ke mana-mana. Tetap di kasur."
Kael cuma mengangguk patuh. Matanya mengikuti setiap pergerakan Valeria sampai wanita itu masuk ke kamar mandi kecil di sudut ruangan dan mengunci pintunya.
Begitu mendengar suara gemericik air *shower*, Kael menghela napas berat. Pria itu menunduk menatap perban di tubuhnya. Goresan peluru dan serpihan ledakan ini rasanya nggak seberapa dibanding rasa sakit melihat kerajaannya Valeria hancur semalam. Tapi dia udah bersumpah bakal ngerebut semuanya balik.
Sekitar dua puluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Valeria keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Wanita itu udah mengganti pakaian taktisnya yang kotor dengan kaus oblong hitam milik Kael. Karena ukuran tubuh Kael yang raksasa, kaus itu terlihat seperti *mini dress* di tubuh Valeria, ujungnya jatuh menutupi separuh paha mulusnya. Celana *training*-nya terpaksa dia gulung berkali-kali di bagian pinggang biar nggak kedodoran.
Wajah Valeria terlihat jauh lebih segar meski kantung matanya menghitam karena kelelahan. Topeng ratu mafia yang dingin dan tak tersentuh itu seolah ikut luntur terbawa air *shower*, menyisakan seorang wanita biasa yang baru aja lolos dari maut.
Valeria berjalan mendekati ranjang, dan langkahnya langsung terhenti. Alis cantiknya berkerut tajam.
"Ngapain kamu di situ?" tegur Valeria galak.
Kael, yang tadi disuruh diam di kasur, sekarang malah duduk bersandar di lantai beton dingin di samping ranjang. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kerangka ranjang, kaki panjangnya ditekuk.
Mendengar suara Valeria, Kael mendongak. Mata pria itu sempat terpaku sedetik melihat Valeria memakai kaus kebesarannya—pemandangan yang sukses bikin jantung Kael berdetak sedikit lebih cepat—sebelum dia buru-buru menundukkan pandangannya lagi.
"Kasurnya sudah saya bersihkan dari sisa perban dan darah tadi. Anda bisa tidur sekarang, Nyonya," jawab Kael sopan, menggeser tubuhnya sedikit agar Valeria bisa naik ke kasur.
Valeria berkacak pinggang. "Aku tanya, ngapain kamu duduk di lantai beton? Kamu baru aja aku operasi, Kael! Luka jahitmu bisa infeksi kalau kena dingin!"
"Saya terbiasa tidur di mana saja, Val. Lantai ini tidak masalah," sahut Kael datar, keras kepala dengan mentalitas 'anjing penjaga'-nya. "Ranjang itu satu-satunya tempat yang nyaman di sini. Itu milik Anda."
Amarah Valeria yang sedari tadi ditahannya akhirnya meletup ringan. Dia bener-bener nggak habis pikir sama jalan pikiran pria ini. Di saat dunia mereka udah kiamat dan mereka cuma punya satu sama lain, Kael masih aja masang tembok batas antara atasan dan bawahan.
"Naik ke kasur sekarang," perintah Valeria mutlak, matanya menatap Kael dengan kilatan tajam.
Kael menggeleng pelan. "Tidak pantas, Val. Saya ini—"
"Aku bilang naik, Kael!" potong Valeria menaikkan nada suaranya. Wanita itu melangkah maju, berdiri tepat di depan Kael yang sedang duduk di lantai. "Kamu sendiri yang bilang kalau di dalam ruangan ini aturan mainnya berubah. Kamu bilang aku bukan ratu lagi di luar sana. Jadi berhenti bersikap seolah aku ini atasan yang harus kamu sembah setiap detik!"
Kael terdiam. Matanya menatap kaki telanjang Valeria yang berdiri di depannya.
"Kita ini buronan, Kael," lanjut Valeria, suaranya mulai melembut, terdengar sangat lelah dan putus asa. "Klan udah hancur. Uangku dirampas. Besok atau lusa, kita mungkin mati ditembak Viper atau pamanku sendiri. Di titik ini... aku bukan bosmu lagi. Dan kamu bukan cuma sekadar bayanganku."
Valeria berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan Kael. Tangan kecilnya terulur, menyentuh rahang Kael yang ditumbuhi rahang tipis.
"Kamu adalah partnerku satu-satunya," bisik Valeria menatap langsung ke dalam mata elang itu. "Dan aku nggak mau partnerku mati konyol gara-gara masuk angin setelah selamat dari hujan peluru. Naik ke kasur, atau aku yang bakal tidur di lantai sama kamu."
Ancaman terakhir itu sukses bikin Kael menyerah. Pria itu menghela napas pasrah. Nggak ada yang bisa menang debat ngelawan Valeria kalau wanita itu udah bawa-bawa urusan tidur di lantai.
Dengan gerakan pelan dan menahan nyeri, Kael bangkit berdiri, lalu merebahkan tubuh besarnya di sisi kiri ranjang *king size* itu. Dia berbaring setegang papan kayu, kedua tangannya dilipat lurus di atas perut, matanya menatap langit-langit beton. Persis kayak mumi yang baru masuk sarkofagus.
Valeria mendengus geli melihat kekakuan Kael. Wanita itu memutari ranjang, lalu naik dan merebahkan dirinya di sisi kanan kasur.
Lampu utama bunker otomatis meredup menjadi cahaya jingga temaram yang hangat. Suara mesin sirkulasi udara berdengung pelan, menjadi semacam *lullaby* di tengah keheningan yang canggung.
Mereka berbaring bersebelahan. Jarak di antara mereka mungkin ada sekitar setengah meter, tapi bagi Kael, jarak itu terasa seperti ribuan volt listrik statis. Dia bisa mencium aroma sabun mandinya sendiri yang kini menempel di kulit Valeria. Hawa panas tubuh wanita itu menguar, membuat pikiran Kael yang biasanya sedingin mesin pembunuh kini berubah kacau balau.
"Masih sakit?" tanya Valeria pelan memecah keheningan, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Kael.
"Obat biusnya bekerja dengan baik. Saya tidak merasakan apa-apa," bohong Kael. Padahal bahunya berdenyut hebat.
Valeria memiringkan tubuhnya menghadap Kael. Matanya menatap profil samping wajah pria itu. Hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, dan goresan luka peluru di pelipisnya.
Di luar sana, Kael adalah monster pembantai yang bikin semua orang kencing di celana. Tapi di atas kasur ini, Kael terlihat sangat... manusiawi. Pria ini bisa berdarah, bisa lelah, dan lucunya, bisa gugup cuma karena tidur bersebelahan dengan wanita.
Valeria tersenyum tipis. Entah kenapa, rasa dingin dan takut yang sejak tadi bersarang di hatinya perlahan menguap.
"Kael," panggil Valeria lagi.
"Ya, Val?" Kael masih menatap lurus ke atas, nggak berani menoleh.
"Aku kedinginan," gumam Valeria jujur. Kaus tipis dan sisa suhu tubuhnya yang *drop* akibat stres bener-bener bikin dia menggigil halus dari dalam.
Sebelum Kael sempat menawarkan diri untuk bangun dan mencari selimut tambahan, Valeria sudah lebih dulu bergerak.
Wanita itu menggeser tubuhnya melewati batas setengah meter itu. Dengan sangat natural, Valeria merangsek masuk ke dalam dekapan Kael. Dia meletakkan kepalanya di dada bidang Kael yang tidak terluka, melingkarkan satu lengannya di atas perut pria itu, dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kael yang hangat.
Tubuh Kael langsung kaku total. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"V-Val..." panggil Kael gagap, jantungnya berdegup sangat kencang sampai dia takut Valeria bisa mendengarnya.
"Diam," bisik Valeria memejamkan matanya, menggesekkan hidungnya pelan mencari posisi paling nyaman di dada Kael. "Anggap aja ini perintah terakhirku buat hari ini. Jadi guling pemanasku."
Kael menelan ludah kasar. Akal sehatnya menyuruhnya untuk mundur, mengingatkan bahwa wanita di pelukannya ini adalah sosok yang harus dia hormati dan jaga kesuciannya. Tapi rasa hangat dari tubuh kecil yang meringkuk pasrah di dadanya ini... terlalu memabukkan.
Perlahan, sangat perlahan seolah takut menghancurkan sebuah kristal, lengan kiri Kael yang sehat bergerak merengkuh punggung Valeria. Pria itu menarik tubuh sang ratu mafia lebih dekat, mendekapnya posesif. Dagu Kael bersandar ringan di puncak kepala Valeria.
"Selamat tidur... Val," bisik Kael parau.
Valeria tidak menjawab, napasnya sudah mulai teratur. Di dalam bunker yang terkubur dari dunia luar ini, batas antara atasan dan bawahan itu akhirnya benar-benar hancur. Malam ini, mereka hanya seorang pria dan seorang wanita yang saling menemukan rumah di tengah kehancuran.