NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 30 — Di Balik Wajah yang Dipercaya

Suara dingin itu lenyap, namun kata-katanya menggantung di udara seperti kabut yang tak hilang: Di dalam salah satu dari kalian.

Keheningan yang berat menyelimuti ruangan yang kini diterangi cahaya lembut peninggalan Kairus. Semua orang saling memandang — tatapan yang dulu penuh kepercayaan kini berubah waspada, seakan setiap wajah menyembunyikan rahasia yang mematikan.

"Jangan mulai," kata Elara pelan, namun suaranya tegang. "Kita bertarung berdampingan. Kita berbagi luka dan harapan."

"Aku juga tidak ingin percaya," jawab Kai, matanya menatap lurus ke arah tengah lingkaran. "Tapi mereka tahu ke mana kita pergi. Mereka tahu kapan kita lemah. Dan kata-kata itu… bukan sekadar ancaman."

"Siapa yang terakhir berpisah dari kelompok?" tanya Ren tajam, menatap satu per satu wajah di hadapannya. "Siapa yang punya kesempatan menyampaikan informasi?"

Diam. Tidak ada yang berani menjawab dulu. Lirael menunduk, tangannya meremas ujung jubahnya. "Aku sudah mengaku… tapi sejak saat itu aku tidak menyembunyikan apa pun."

"Dan Dagan?" tanya seseorang, suaranya nyaris bisikan. "Liontinya hilang tepat sebelum pasukan mengepung kita."

Dagan melangkah maju, wajahnya merah padam menahan amarah sekaligus kesakitan. "Kalian menuduhku? Aku telah berdiri di barisan depan setiap kali pertempuran terjadi. Aku melindungi kalian saat tanah runtuh, saat api melanda, saat harapan hampir padam!"

"Kami tidak menuduh," kata Kaelan tenang, meski matanya tak lepas dari siapa pun. "Tapi ada yang tidak beres. Dan kita harus mengetahuinya sebelum terlambat."

Keraguan itu kini menyebar seperti racun. Siapa yang bisa dipercaya? Siapa yang tersenyum di siang hari namun berbisik kepada musuh di malam hari? Kai merasakan sakit yang tajam di dadanya — lebih sakit daripada luka fisik apa pun. Ia kehilangan Aurelia, kini ia dihadapkan pada kemungkinan kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang tersisa.

"Cukup!" suara Elowen memecah keheningan, tegas namun lembut. "Kita tidak akan saling menyakiti dengan dugaan. Kita cari buktinya — bersama-sama. Jika ada yang mengirim pesan… pasti ada jejak yang tertinggal."

Lyra mengangguk pelan, lalu membuka buku kunonya yang kini memancarkan cahaya perak redup. "Kekuatan yang digunakan untuk mengirim informasi rahasia akan meninggalkan jejak tenaga — jejak yang tidak bisa dihapus sepenuhnya." Ia berjalan perlahan mengelilingi setiap orang, matanya menatap tulisan yang melayang di udara.

Satu per satu dilewati — jejak murni, jejak pertarungan, jejak persahabatan. Hingga akhirnya ia berhenti di depan seseorang. Tangan gadis itu gemetar, dan buku di genggamannya hampir terjatuh.

"Lyra?" panggil Kai cemas.

Lyra mendongak, matanya berkaca-kaca, menatap sosok di hadapannya. "Itu kamu…"

Semua mata beralih ke arah yang ditunjuk. Sosok itu berdiri diam, wajahnya pucat, namun tidak membela diri.

"Seraphina…" bisik Kai tak percaya.

Gadis pemimpin kaum Penempa Bara itu menunduk dalam, bahunya berguncang pelan. "Maafkan aku…"

"Kenapa?" tanya Ren, suaranya dingin dan tajam. "Kami menolongmu. Kami mempercayaimu."

Seraphina mengangkat wajahnya, air mata mengalir di pipinya. "Karena mereka memegang nyawa seluruh kaumku. Mereka berkata — jika aku tidak melaporkan setiap langkah kalian, mereka akan memusnahkan sisa-sisa keluargaku yang tersembunyi di gua-gua terdalam." Ia menelan ludah, suaranya tercekat. "Aku pikir… aku bisa melindungi kalian sekaligus mereka. Aku pikir aku bisa menunda, menyembunyikan sebagian… tapi mereka tahu segalanya."

"Kau tahu di mana Aurelia?" tanya Kai mendekat, dadanya berdebar kencang.

Seraphina mengangguk pelan. "Mereka tidak menyebutkan namanya… tapi mereka menyebutkan tempatnya. Pusat Keseimbangan — tempat di mana cahaya dan kegelapan lahir bersama. Mereka bilang gadis itu sedang menyusun kembali fondasi dunia… dan mereka akan mengambilnya saat pekerjaannya hampir selesai."

"Kapan?" desak Kaelan.

"Malam ini," jawabnya pelan. "Saat bulan mencapai puncaknya. Gerbangnya hanya terbuka sebentar… dan jika mereka berhasil… tidak ada yang bisa menghentikannya."

Seraphina merogoh saku jubahnya, mengeluarkan peta yang digambar di atas kain kasar, berbekal noda debu dan air mata. "Aku menandai jalan masuknya. Ini jalur rahasia yang hanya diketahui kepala kaumku. Kalian masih sempat… jika berangkat sekarang."

Ia mengulurkan peta itu, tangannya gemetar. "Aku tidak berharap dimaafkan. Tapi izinkan aku menebus kesalahanku. Aku ikut kalian. Aku tahu jalan di sana lebih baik daripada siapa pun."

Keheningan menyelimuti mereka lagi. Kai menatap gadis itu — melihat ketakutan, rasa bersalah, dan keinginan tulus untuk berbuat baik. Ia teringat kata-kata Aurelia: Jangan pernah menutup pintu bagi mereka yang ingin kembali.

Kai menerima peta itu. "Kami tidak akan melupakan apa yang terjadi. Tapi kami tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian."

Seraphina tersenyum tipis, penuh rasa terima kasih yang tak terucapkan.

Mereka berangkat seketika — tidak ada waktu beristirahat, tidak ada waktu merencanakan secara mendalam. Peta itu menuntun mereka melewati lorong-lorong tersembunyi di kedalaman gunung, jalan yang semakin dalam, semakin sunyi, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah gua besar yang dindingnya berkilauan seperti bintang.

Di tengah gua itu, berdiri gerbang — melingkar, terbuat dari cahaya yang berputar pelan, berwarna putih keemasan bercampur ungu tua. Di depannya, sekelompok bayangan berdiri diam — prajurit elit para Pengatur, menunggu saat pembukaan gerbang yang tepat.

"Jumlah mereka banyak," bisik Elara sambil mengintip dari balik bayangan batu. "Jika kita serang sekarang, mereka akan memberi peringatan."

"Kita tidak perlu mengalahkan mereka semua," kata Kai, matanya terpaku pada gerbang yang semakin terang. "Kita hanya perlu masuk duluan."

Seraphina mengangguk. "Ada jalan samping… sempit, berbahaya, tapi bisa membawa kita tepat ke sisi lain gerbang sebelum mereka menyadarinya."

Jalan itu sempit dan gelap, berliku di sela-sela dinding batu yang terasa bergerak sendiri. Mereka merayap, menahan napas, tidak bersuara, seakan dunia di luar tidak boleh tahu keberadaan mereka. Hingga akhirnya, udara di depan terbuka — dan mereka berdiri di tempat yang membuat napas tertahan.

Di sana, di ruangan yang luas tanpa batas, lantai dan dindingnya terbuat dari cahaya murni, berdiri sesosok kecil — Aurelia. Ia melayang perlahan di udara, kedua tangannya terulur, menyusun benang-benang cahaya yang melintasi seluruh ruangan, menyambungkan bagian-bagian yang retak. Wajahnya pucat, keringat menetes di dahi, namun ia tidak berhenti.

Namun di sekelilingnya, bayangan-bayangan mulai merayap masuk — perlahan, diam-diam, mendekat ke arahnya tanpa diketahui.

"Mereka sudah di sini," bisik Kaelan, mengepalkan tangannya erat. "Mereka menunggu ia menghabiskan tenaganya."

Kai melangkah maju, namun Elara menahannya. "Tunggu… lihat."

Dari arah lain, sosok-sosok muncul — bukan musuh, bukan prajurit. Mereka adalah tujuh leluhur, para Pengatur yang telah berubah. Mereka berdiri di pintu masuk, menghalangi jalan bagi pasukan bayangan yang berdatangan.

"Kalian tidak akan lewat," suara Lira — salah satu leluhur — terdengar teguh. "Kami yang membangun kesalahan ini. Kini kami yang menahannya."

Pertarungan meletus di belakang mereka — cahaya dan kegelapan bertabrakan, mengisi ruangan dengan suara gemuruh yang dahsyat.

"Kita harus ke sana sekarang!" kata Kai, melangkah keluar dari persembunyian.

Namun langkahnya terhenti saat Aurelia menoleh. Ia melihat mereka — dan tersenyum, meski tubuhnya semakin lemah.

"Ayah…" suaranya lembut namun terdengar di seluruh ruangan. "Aku tahu kalian akan datang."

Tiba-tiba cahaya di sekelilingnya meredup drastis. Tubuhnya turun perlahan, dan benang-benang cahaya yang ia susun mulai putus satu per satu.

"Pekerjaanku belum selesai…" suaranya melemah. "Tapi mereka tidak akan membiarkanku menyelesaikannya."

Di pintu masuk utama, sosok raksasa melangkah masuk — bayangan terbesar dari semua bayangan, wajahnya tak terlihat, namun kehadirannya membuat seluruh ruangan bergetar.

"Serahkan kekuatan itu," suaranya menggelegar tanpa mulut. "Dan biarkan keseimbangan kembali ke tangan yang berhak."

Kai melangkah di depan Aurelia, Kaelan di sisi lain, teman-temannya membentuk barisan di belakang. Ia tidak tahu apakah mereka cukup kuat. Tapi ia tahu satu hal: tidak ada yang akan menyentuh putrinya.

 

Siapa sosok bayangan terbesar itu? Dan apakah Aurelia memiliki satu kekuatan terakhir yang belum ditunjukkan kepada siapa pun?

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!