Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Pisau dari Sahabat
#
Tidak ada yang bernapas.
Rico berdiri di antara pintu dan mereka semua, tangan di gagang pistol. Dari pengeras suara di luar, suara Om Gio masih mengambang, ramah dan sabar.
"Rico, jangan lama-lama. Bawa mereka keluar. Aku sudah siapkan sarapan di aula."
Alessia bergerak lebih dulu. Ia berdiri di depan Dimas, tangan kirinya terbuka ke samping, dan menatap Rico lurus.
"Cabut pistolmu, aku tidak peduli. Tapi jawab satu hal. Kamu yang membawa Giovanni ke sini?"
"Bukan!"
"Lalu kenapa dia bilang begitu?"
"Karena dia mau kalian curiga padaku." Suara Rico serak, matanya basah. "Mbak, van tadi saya periksa tiga kali. Tidak ada pelacak. Tapi di saku jaket saya..." Ia merogoh cepat, dan semua orang menegang. Yang keluar bukan senjata. Sebuah pemancar kecil, berkedip merah. "Ini. Dia selipkan semalam, waktu saya diancam soal Sari. Saya baru sadar di jalan, tapi sudah terlambat."
"Kenapa tidak bilang?" tanya Bima.
"Kalau saya bilang, Mbak buang saya. Dan saya satu-satunya yang tahu jalan ke sini."
Alessia mengambil pemancar itu dan menginjaknya sampai pecah. "Kamu bodoh."
"Iya, Mbak."
"Dan jujur." Ia menurunkan tangan. "Jangan ulangi."
Bima menatap kertas ayahnya lagi. "Tapi surat ini menulis nama Rico."
"Bacalah baik-baik," kata Clara tenang. Ia sudah berdiri di samping peti. "Hadi menulis, 'orang yang kamu pikir sahabat, yang membawa pisau.' Nama di baliknya hanya satu. Tidak ada kalimat yang bilang Rico pengkhianat."
Bima membalik kertas itu. Benar. Hanya satu kata, tanpa keterangan.
"Berarti maksudnya Rico yang akan menjemput kami," katanya pelan, "dan dia bukan musuh. Tapi sahabat yang membawa pisau itu orang lain."
"Hadi tahu Rico akan ada di sana," kata Clara. "Dia hanya tidak bisa menulis siapa yang lain, karena orang itu mungkin membaca suratnya."
Dimas mengangkat tangan seperti di kelas. "Yang bisa baca surat itu siapa saja yang tahu rumah ini."
Semua menoleh ke Wartini. Wajahnya pucat.
"Ibu cuma cerita ke satu orang," bisiknya. "Soal rumah melati ini. Dua hari lalu."
"Siapa, Bu?" tanya Bima.
"Pak Darto."
Bima teringat tembakan di telepon. "Pak Darto sudah mati, Bu."
"Ibu tahu." Wartini menutup mulut. "Makanya Ibu takut. Kalau Pak Darto bicara sebelum mati, berarti Giovanni sudah tahu dari lama."
---
Kaca jendela depan pecah. Sebuah tabung kecil menggelinding ke lantai dan mengeluarkan asap putih tebal.
"Gas!" teriak Rico. "Tutup hidung!"
Bima menarik kausnya ke wajah dan meraih lengan Wartini. Alessia menyambar Dimas. Clara terbatuk, dan Alessia yang tadi sudah menarik adiknya langsung membalik, menopang bahu neneknya.
"Pintu belakang!" kata Alessia.
"Ada orang di sana," jawab Rico dari jendela. "Empat. Bersenjata panjang."
"Peti!" Clara terengah. "Di bawah peti ada lorong. Arman menggalinya untuk keluar dari rumah ini."
Bima mengangkat papan lebih tinggi. Di bawah kotak besi, ada lubang gelap dengan tangga tali. Ia menjatuhkan kotak besi ke dalam pelukan Dimas. "Pegang. Jangan dilepas."
"Mas, berat!"
"Pegang."
Dimas turun lebih dulu, lalu Wartini, lalu Clara dibantu Rico. Asap makin tebal. Di luar terdengar tendangan keras ke pintu depan.
Bima menunggu Alessia. Perempuan itu masih di dekat jendela, menembak dua kali lewat celah tirai, lalu berbalik.
"Turun!"
"Kamu duluan."
"Bima."
"Kamu duluan, atau aku nggak turun."
"Kamu tidak punya wewenang..."
Pintu depan jebol. Bima menariknya ke dalam lubang, dan mereka jatuh bersama di tangga tali, berdesakan di ruang sempit. Wajah Alessia hanya sejengkal dari wajahnya, napasnya terengah, rambutnya menyangkut di kancing jaket Bima.
"Lepaskan rambutku."
"Aku lagi coba."
"Cepat!"
"Kalau kamu diam, bisa cepat."
Di atas, sepatu menghentak lantai. Alessia menahan napas. Bima melepas helai rambut dari kancing dengan jari gemetar, dan hanya itu yang ia pikirkan, bukan peluru, bukan Giovanni, hanya betapa halus rambut itu. Ia menarik tangannya begitu helainya lepas, wajah terasa panas.
"Sudah."
"Terima kasih," bisik Alessia, tidak menatapnya.
Papan peti ditutup dari bawah. Gelap.
---
Lorong itu panjang, lembap, berbau tanah. Rico memimpin dengan senter kecil. Setelah dua puluh menit merangkak, mereka sampai di ruang bundar berdinding batu bata tua. Di tengahnya ada meja dengan tiga kursi, dan di dinding tergantung peta pelabuhan yang sudah menguning.
"Ruang pencatat," kata Clara, duduk dengan napas berat. "Tempat Arman, Carla, dan aku bekerja dulu."
Dimas meletakkan kotak besi di meja. Bima dan Alessia membukanya bersama, dan di dalamnya ada tiga benda: sebuah buku kas tebal, satu kaset pita, dan foto.
Alessia mengambil foto itu. Tangannya berhenti.
"Ini ayahku."
Seorang laki-laki berjas berdiri di dermaga, tersenyum, memegang bahu seorang anak perempuan kecil. Tapi bukan itu yang membuat Alessia pucat. Di belakang mereka, setengah tertutup tiang, tampak dua orang lain sedang bicara serius. Giovanni muda, dan seorang perempuan berambut disanggul, memakai kalung jangkar terbalik.
"Itu Nenek?" tanya Bima.
"Itu Clara," kata Clara pelan. "Dua puluh tahun lalu. Aku sedang memperingatkan Giovanni agar berhenti. Dia tertawa."
"Kenapa fotonya disimpan Hadi?"
"Karena di punggungnya ada tulisan."
Alessia membalik foto. Tinta biru. Tulisan Hadi.
*Giovanni belum tamak waktu itu. Yang mengubahnya adalah bisikan dari orang yang berdiri paling dekat dengan Matteo.*
Bima membaca ulang. "Orang yang paling dekat dengan Matteo."
"Itu aku," kata Clara spontan. Lalu menggeleng. "Bukan. Aku tidak dekat dengannya. Carla yang dekat. Dan..."
Ia berhenti. Matanya membesar.
"Dan siapa, Nek?" tanya Alessia.
"Dokter Surya," bisik Clara. "Dia sahabat Matteo sejak sekolah. Dia yang menyuntikmu setiap musim panas. Dia yang menyembuhkan luka Hadi malam itu. Dan dia yang..."
Kaset di tangan Dimas jatuh ke lantai. Pita menggelinding, dan tape recorder kecil yang tadi ada di kotak otomatis berbunyi klik. Pita mulai berputar.
Suara pertama yang keluar adalah napas berat. Lalu suara laki-laki yang Bima dan Alessia kenal, hangat, tenang, sabar.
"Giovanni, aku sudah bilang rencanamu terlalu cepat. Matteo harus tetap hidup. Dia kunci. Hadi juga. Biarkan aku yang urus ingatan mereka."
Suara lain menjawab, ramah dan geli. Om Gio.
"Tenang, Surya. Kamu sudah mengurus anak-anak itu dua belas tahun dengan baik."
"Aku tidak akan mengkhianati Matteo sampai tahap akhir," kata suara pertama.
"Tentu tidak. Karena kamu adalah Matteo."
Pita berhenti.
Tidak ada suara di ruangan itu. Alessia berdiri kaku, tangan gemetar, mata kosong menatap tape recorder. Bima menggenggam bahunya, tapi ia tidak merasakannya.
"Dokter Surya..." bisik Alessia.
"Ayahku," lanjutnya, seolah mengucapkan kata dalam bahasa asing. "Selama ini. Setiap musim panas."
Dari lorong di belakang mereka, terdengar langkah pelan. Satu orang, tidak tergesa. Lalu suara batuk kecil, batuk yang Bima kenal dari telepon Wartini, dari rekaman di dinding, dari semua malam yang ia lewati.
Bayangan seorang laki-laki tua muncul di mulut lorong, memegang tas dokter hitam di satu tangan dan sebuah suntikan di tangan lainnya.
"Lia," kata Dokter Surya lembut. "Ayah datang menjemputmu. Maaf, sayang. Kali ini kamu harus lupa lebih banyak."