Menceritakan tentang seorang wanita yang menyesal karena telah mengkhianati suaminya.
Penyesalannya berujung membuat dirinya mengejar kembali cinta mantan suaminya.
Bagaimana kisah selanjutnya? ayo ikuti terus ceritanya.
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ༂𝑾𝒊𝒚𝒐𝒍𝒂❦ˢQ͜͡ᵘⁱᵈ༂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.Salah Siapa
Tiara menghidupkan mobilnya, ia lalu melajukan mobilnya di hadapan Sania.
Siang berganti malam , lagi-lagi Brian menghubunginya memberitahu bahwa sekarang dia tidak bisa pulang kerumah dikarenakan ada urusan ke luar kota. Tiara hanya mengiyakan ucapan suaminya tanpa bertanya panjang lebar alasannya.
Yah, akhir-akhir ini suaminya memang jarang pulang ke rumah. Tiara awalnya tak menaruh setitik curiga pun pada Brian , karena ia sangat percaya bahwa suaminya hanya menjalankan pekerjaan saja diluar kota. Namun setelah melihat perselingkuhan sang suami, Tiara mulai merasa ragu apa yang dikatakan oleh suaminya.
Sementara Sania malam ini meminta izin pada Rama melalui telepon untuk pergi keluar kota karena ada beberapa urusan.Rama yang nampak cuek itu hanya mengiyakan ucapan istrinya.
"Pergilah, aku sedang sibuk. Hati-hati dijalan!" Seru Rama.
Belum sempat Sania bertanya, Rama sudah terlebih dahulu memutuskan sambungan teleponnya. Padahal Sania ingin bertanya padanya jam berapa dia akan pulang. Sania hanya bisa bersabar karena akhir-akhir ini sang suami selalu sibuk hingga tak pernah ada waktu.
Seperti biasanya, sebelum pergi, Sania selalu menitipkan anaknya pada bibi Asih.
Sania pergi ke kamarnya untuk mandi sekaligus bersiap-siap untuk pergi. Beberapa saat kemudian, ia menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi dan dandanan yang sedikit menawan. Sorot matanya berkeliling menatap suasana rumah, nampak sepi ternyata suaminya belum juga pulang.
Baru saja ingin melangkah menuju garasi mobil, tiba-tiba Rama menghubunginya. Rama bertanya padanya apakah dia sudah pergi atau belum. Sania lalu mengatakan jika dirinya baru saja hendak pergi. Rama lalu memberitahu istrinya jika dia saat ini sedang makan malam bersama keluarganya.
Mendengar hal itu, Sania hanya bisa titip salam untuk ayah mertua dan ibu mertuanya.
"Apakah aku bukan bagian dari keluarga mereka? mengapa mereka sering makan malam tapi tidak mengajakku?" Sania bertanya pada diri sendiri.
Wanita itu dengan perasaan yang sedikit kesal pergi berlalu begitu saja. Malam ini sebenarnya Sania dan Brian sudah saling berjanjian untuk bertemu di Apartemen.
Kecepatan mobil Sania yang awalnya laju, tiba-tiba berubah menjadi pelan ketika lampu merah. Ia menghembuskan nafas kasarnya, dengan mata berkeliaran menatap suasana dimalam hari ia tak sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya.
Sania memicingkan matanya, diseberang jalan terdapat sebuah restoran besar. Dia mengenali sosok tersebut sebagai suaminya dan keluarganya. Namun dari balik kaca bening itu Sania melihat suaminya sedang duduk berhadap dengan seorang wanita, tapi wajah wanita itu tertutup atau terhalang dengan tubuh ibu mertuanya yang duduk di samping.
Tiba-tiba lampu berubah hijau, semua mobil dibelakang mengklakson Sania yang terdiam. Sontak Sania merasa kaget dan langsung menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Sania semakin tidak fokus, ia masih memikirkan siapakah wanita yang duduk dihadapan Rama tadi.
Tak lama kemudian Sania sampai di Apartemen.Ia menatap kiri kanan dan sekitarnya, lalu buru-buru masuk lift.
Sampai di depan pintu, Sania segera membuka dan betapa terkejutnya ia ketika melihat ruangan yang begitu gelap namun diterangi oleh banyaknya lilin yang berjejer. Sania tercengang sekaligus bingung,ia berjalan pelan mengikuti taburan bunga mawar yang seolah-olah sebagai pengarah yang entah kemana tuju nya.
Langkahnya terhenti, ia mendongak melihat Brian sudah ada didepannya.
"Mas Brian?" Lirih Sania sambil melirik ke arah kursi dan meja yang sudah dihiasi.
"Malam ini kita akan makan malam bersama layaknya seperti orang yang baru saja berkencan!" Ucap Brian tersenyum.
"Dari dulu kamu memang romantis mas!" Puji Sania.
Sania tersenyum bahagia karena dahulu Brian juga seperti ini padanya. Mereka lalu berpelukan melepas rindu.
Brian menarik kursi mempersilahkan Sania untuk duduk. Sania sedikit tersipu malu karena merasa sangat diistimewakan oleh Brian.
Mereka menikmati makan makan berdua layaknya sepasang kekasih. Selesai makan, Brian meraba saku celananya untuk mengambil sebuah hadiah yang sudah ia siapkan untuk Sania.
Sebuah kalung berlian berharga fantastis itu ia hadiahkan untuk wanita yang sekarang berada dihadapannya.Tentu saja Sania terpukau dengan senyuman mengambang penuh haru.
Brian beranjak berdiri, mendekati Sania yang duduk. Rambut Sania yang terurai ia alihkan ke samping lalu perlahan ia memasangkan kalung itu ke leher indah milik Sania.
"Dengan memakai kalung ini kamu akan terlihat jauh lebih cantik!" Bisik Brian di telinganya.
"Kamu bisa saja mas!" Sania tersipu malu.
"Bagaimana, apakah kau senang dengan hadiah ini?" Tanya Brian.
"Aku sih senang mas, tapi sepertinya kamu berlebihan mas. Kalung ini pasti sangat mahal. Lantas bagaimana bisa kamu membelikannya untuk ku sedangkan istrimu tidak?" Tanya Sania tertegun.
"Kamu tenang saja Sania, tidak usah berpikir seperti itu.Selama ini Tiara sudah cukup banyak kubelikan perhiasan mahal," Jelas Brian.
"Baiklah mas, oh ya tadi siang aku bertemu dengan istrimu.Ternyata anakku dan anakmu satu sekolah!" Ucap Sania.
"Tapi aku merasa heran dengan istrimu mas,sikap nya terlihat dingin sekali,beda dengan waktu pertama aku bertemu dengannya!"
Brian menarik nafas, ia lalu berkata," Sania, bolehkah aku minta tolong padamu?" Tanya Brian.
"Hah,apa itu mas?" Tanyanya.
"Jika kita sedang menghabiskan waktu bersama, sebaliknya kita tidak usah membahas tentang pasangan kita satu sama lain!bagaimana apakah kau setuju?" Tanya balik Brian.
"Baiklah mas, aku mengerti!" Sania menganggukkan kepala.
Lain hal dengan Tiara, di ruang keluarga dari tadi ia mondar mandi sambil matanya menatap layar ponsel.Ternyata Tiara tak begitu bodoh, tadi pagi selagi Brian mandi, ia diam-diam mengambil ponselnya lalu mengaktifkan pelacak. Dari sinilah Tiara tahu dimana suaminya berada sekarang.
"Apartemen?sedang apa dia disitu?ha, apakah dia sedang bersama Sania? " Tanya Tiara.
Karena rasa penasaran yang besar, Tiara akhirnya memutuskan pergi ke Apartemen sekarang juga untuk memastikan kebenaranya.
Tiara lalu buru-buru mengambil tas dan kunci mobil. Namun sebelum itu ia berpamitan pada putrinya untuk pergi keluar sebentar. Untung saja ada bibi Tuti yang setiap malamnya menemani putrinya tidur.
Tiara melajukan mobilnya, menuju Apartemen. Raut wajahnya tak bisa bohong, ia sangat terlihat kesal, marah, dan jengkel. Setelah beberapa saat kemudian, Tiara akhirnya sampai di Apartemen.Turun dari mobil ia langsung menuju meja resepsionis untuk bertanya.
"Selamat malam, selamat datang ibu! apakah ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya.
Tiara meraba ponselnya dari dalam tas, lalu memperlihatkan foto suaminya pada resepsionis.
"Apakah ada tamu seperti yang difoto?" Tanya Tiara dengan serius menantikan jawabannya.
Resepsionis sejenak mengamati foto tersebut lalu berkata, "Ya benar ibu, kira-kira satu jam yang lalu orang ini datang kemari!" Jawabnya.
"Apa?!" Tiara tercengang.
"Em....ngomong-ngomong apakah dia datang seorang diri?" Tanya Tiara lebih lanjut.
"Tidak, dia datang bersama wanita tadi!"
"Tolong berikan saya informasi lebih," Pinta Tiara.
"Mohon maaf ibu, untuk itu saya tidak bisa memberikan informasi lebih tentang tamu. Karena ini adalah privasi!"
Mendengar itu Tiara langsung mengeluarkan amplop coklat berisi uang pada resepsionis. Resepsionis terkejut, ia menatap mata Tiara lalu ia mengerti. Dia pun langsung mencarikan berkas tentang suaminya.
Tak menunggu lama, Tiara sudah mendapatkan berkas tentang suaminya.
Di dalam mobil, ia segera melihat berkas-berkas tersebut. Setelah melihat berkas tersebut, Tiara sungguh tidak menyangka pada suaminya.Ternyata oh ternyata suaminya membelikan unit Apartemen untuk Sania.
*murahan dan menjijikan
mereka membela istri selingkuh dan berhubungan badan dengan lelaki lain dengan alasan2 menjijikan
*munafik
dinovel2 suami selingkuh, mereka laknat habis2an suami selingkuh dan tidak ada pembenaran sama sekali
tapi giliran di novel istri selingkuh mereka bela mati matian dengan alasan munafik dan menjijikan
fakt koment kalian membuktikan siapa kalian sebenarnya
wanita baik2 dan normal akan melaknat kelakuan Sania dan tidak ada pembenaran sama sekali
wanita menjijikan dan munafik mereka akan membela dan membenarkan kelakuan menjijikan Sania alias kalian membenarkan kelakuan menjijikan kalian sendiri
...membosankan
kasih sania kebahagiaan dan jgn buat sania jadi kahat thor...kalau pun ada penyesalan jgn sania aja thor..rama juga harus ada penyesalan