Rahwana Bataragunadi, menyamar menjadi Office Boy di kantornya sendiri untuk menguak berbagai penyimpangan yang terjadi.
Pemuda itu mengalami banyak hal, dari mulai kasus korupsi, sampai yang berhubungan dengan hal-hal gaib.
Dalam perjalanannya, ia ditemani entitas misterius yang bernama Sita. Wanita astral yang sulit dikendalikan oleh Rahwana itu selalu membantunya di saat butuh bantuan.
Masalahnya, Rahwana tahu Sita bukan manusia. Tapi semakin hari ia malah semakin jatuh cinta pada Sita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan 7 : Lagi-lagi Si Mbak Cantik
"Jadi... Bapak sudah menghuni tempat ini selama 295 tahun," Rahwana mencatat di note ponselnya.
"Rrrggghhh!"
"Nggak bisa, saya tidak menyediakan makanan untuk astral, lagi pula hal itu terlarang,"
"RRGGHHH!!"
"Hooo, jadi benar ya kamu di sini cari tumbal. Ketangkep kamu ya! Tandain,"
Rahwana menghightlight merah ke penghuni gudang lantai 7.
"Rrrrgh!"
"Kalau mau ampunan, kasih tahu saya siapa yang kasih kamu makan selama ini,"
Dan makhluk itu menoleh ke samping.
Ah! Lagi-lagi dia. Bau wangi cendana.
Makhluk putih berjalan menyebrangi koridor, secara perlahan. Makhluk yang sama dengan yang ada di ruangan Pak Rey. Tubuhnya yang tinggi dan kurus tertutup semacam kain putih, namun Rahwana bisa melihat ada bayangan serupa manusia di baliknya. Kalau dilihat manusia biasa, mereka bisa saja salah mengiranya malaikat karena memang jenis yang bercahaya dalam kegelapan.
Tapi Rahwana bisa merasakan aura jahat yang menusuk.
Makhluk itu sengaja lewat tampaknya untuk memberitahu keberadaannya sekaligus mengancam Rahwana supaya jangan main-main dengannya.
Rahwana tak bisa mendekat, bagaikan ada yang mencengkeram lehernya agar ia tidak maju. Itu berarti, kekuatan makhluk itu sangat besar.
"Dia beri kami makan, tapi dia hanya perantara," suara serak dari belakang Rahwana.
Bahkan cowok itu urung membalik tubuhnya.
Ia mengenal bau busuk ini.
Jenis hantu populer yang menyerupai mayat umat muslim sebelum dikebumikan.
Dan Rahwana tidak ingin tahu wujudnya.
"Ada kekuatan yang membuat kami terperangkap di sini. Makanan itu hanya jebakan agar kami terikat," kata suara di belakang Rahwana.
Dari auranya, ia bisa tahu kalau makhluk di belakangnya ini sangat besar.
"Dan siapa targetnya?" tanya Rahwana tanpa menoleh.
Saat Rahwana berkedip, makhluk yang tadinya di belakangnya sudah berpindah ke depannya. Untung saja Rahwana dalam posisi menunduk.
Di sudut matanya ia bisa melihat kaki makhluk itu melayang di atas lantai, dengan ikatan dan kain kafannya yang kecoklatan.
Baunya...
Tidak terkira.
Bau busuk yang akan menghiasi ingatan Rahwana sampai kapan pun.
"Tadinya Reynaldy Trenggono, bisa ditumbalkan saat ia sedang bersedih. Tapi sekarang berubah,"
"Jadi siapa?"
"Rahwana Bataragunadi,"
"Sialan," gumam Rahwana.
Dan makhluk di depannya ini tertawa. Tawa membahana yang menggerikan. Gemanya menghiasi setiap sudut ruangan.
"Jangan sampai kamu berpisah dari pasukanmu. Kami akan senang hati mendekatimu," dan makhluk itu pun menghilang.
Rahwana menarik napas menahan geram.
"Kampret..." gerutunya sambil berkacak pinggang. "Kenapa ketemu gue harus pake wujud serem begitu haaaah! Kan gue hampir ngompol jadinya!! Argh!! Gue benci pocong!!" Serunya kesal.
Sementara tawa makhluk tadi kembali terdengar dari kejauhan seakan sedang menggoda Rahwana.
*
*
Dengan langkah santai Rahwana menyusuri setiap koridor, setiap ruangan.
Dengan cepat ia sudah dapat mengenali jenis-jenis entitas yang ada di sini. Kebanyakan terperangkap karena makanan, sehingga tumbalnya haruslah orang-orang dari kantor ini. Tidak bisa dari luar gedung karena mereka terikat di gedung ini.
Seperti, nenek-nenek yang badannya cuma setengah, yang dari tadi merangkak mengikuti Rahwana dengan mulut bawelnya. Bicara dengan bahasa Sunda alus mengenai gosip-gosip perselingkuhan yang kerap dilakukan manusia di gedung ini. Lalu Mbak-mbak berambut panjang awut-awutan dengan leher setengah putus menggantung di atas plafond sambil kayang.
Sampai-sampai Rahwana mengernyit, apakah menakut-nakuti manusia harus begini caranya? Apakah mereka perwujudan dari qorin yang menggambarkan cara kematian tragis manusianya?
Yang mana pun, walau Rahwana takut, ia harus berjalan sesuai tujuan.
Entah bagaimana, ia saat ini bagaikan sedang ditemani oleh seseorang, atau sesuatu, dan jumlahnya banyak. Seperti sedang mengawal Rahwana.
Namun hal itu bukan kali ini saja terjadi, Rahwana hanya bisa berspekulasi kalau para pengawal yang tidak bisa ia lihat itu kiriman dari Eyang Gandhes.
Tibalah ia di lantai 15, lantainya.
Ia melihat seseorang sedang berdiri mematung menghadap ke arah ruangan marketing, dengan baju khas Office Girl.
Di tangannya ada sapu, dan ia didekatnya ada troli.
Rahwana berhenti dan berdiri di sebelah sosok itu, menghadap ke arah yang sama, mengamati.
“Ada apa lagi, Mbak?” tanya Rahwana.
“Dia marah loh, karena kamu menggagalkan rencananya membuat Reynaldy Trenggono stress,”
“Tidak harus ada manusia yang mati,”
“Kami sih sudah diberi makan, barusan,”
“Jiwa yang diciptakan Tuhan, akan kembali padaNya. Tidak bisa kalian makan,”
Mbak Office Girl itu menyeringai, “Yaaaah kamu kan tidak tahu sebegitu banyaaaaak,”
Ia sedang mencoba menggoda pemuda itu agar imannya goyah dan takut pada tipu muslihat.
Rahwana menghela napas.
“Kamu ingin bebas dari gedung ini?”
Si Mbak OG berhenti menyeringai. “Ya, kalau bisa. Tempat saya yang sebenarnya bukan di sini,”
Biyen, tanganmu genggem tanganku
Biyen, pundakmu enek kanggo aku nangis
Biyen, guyumu nentremke atiku
Nanging saiki….Tangan, pundak, guyumu ilang saka uripku
Kanca-kancaku kabeh, bayangna
Apa sajatining kahanan sajroning dunya?
(Dahulu, tanganmu memegang tanganku,
Dulu, kamu adalah bahuku untuk menangis,
Sekali waktu, tawamu menenangkan hatiku,
Tapi sekarang .... Tanganmu, bahumu, tawamu hilang dari hidupku,
Semua temanku, bayangkanlah,
Bagaimana keadaan dunia yang sebenarnya?)
Nyanyian itu sayup-sayup terdengar dari ruangan Marketing. Suara laki-laki. Terdengar sedih dan mendayu. Entah siapa yang menyanyikannya tapi siapa pun yang mendengarnya terasa pilu.
Rahwana menghela napas mengumpulkan semangatnya, lalu melewati Mbak OG dan membuka pintu.
Ruangan itu gelap dan pengap. AC sudah dimatikan, semua karyawan sudah pulang. Keadaan saat itu lumayan aman. Tidak ada sesuatu yang aneh, belum ada penampakan yang mengganggu.
Rahwana berjalan masuk ke arah ruangan Pak Rey, memeriksa apakah ruangan itu aman.
Tulisan di dinding entah bagaimana sudah lenyap tak bersisa. Seperti kejadian tadi sore hanyalah halusinasi.
Rahwana bersandar ke dinding sambil melipat kedua tangannya di dada. Ruangan tanpa gangguan seperti ini, di saat tengah malam, malah terasa ganjil baginya.
"Mereka menjauh saat kamu datang,"
Suara bening yang indah dari dalam ruangan Pak Rey.
"Tadinya mereka di sini berusaha membuat kamu takut. Tapi penjaga kamu terlalu banyak. Mereka jadi jengah dan mundur sendiri," kata suara wanita itu.
"Sudah kuduga kamu bukan manusia," kata Rahwana. Pemuda itu teringat awal perjumpaanmya dengan si Nona yang cantik dengan wajah seperti boneka eropa. Wanita itu bertanya 'karyawan baru ya?'. Padahal kalau orang biasa yang tidak kenal, sewajarnya bertanya siapa dan mau apa atau dari instansi mana.
"Ya tapi aku bukan setan. Aku juga bisa menampakkan diri kalau aku mau,"
"Lalu kamu ini apa?"
"Yah, yang levelnya lebih tinggi dari itu,"
"Apa? Siluman? Kalau jin ya jin saja,"
"Kita pernah bertemu, loh. Waktu kamu kecil. Ingat tidak?"
Rahwana menghela napas dan mendekati sosok yang duduk di atas kursi Pak Rey.
"Nggak ingat, bohong aja kamu," gumam Rahwana. Cowok itu menunduk dan menumpu tubuhnya dengan tangan di pegangan kursi, mendekatkan wajahnya ke arah wanita cantik di depannya.
"Beneran, tapi keberadaanku malah membuat insting kamu kuat,"
"Oh ya? Lalu kenapa kamu sekarang baru muncul?"
"Karena sudah saatnya aku muncul,"
"Atas perintah siapa?"
"Sesukaku saja," wanita itu mengangkat bahunya dan mendekatkan wajahnya ke Rahwana, menantang pemuda itu.
"Energiku terlalu kuat, dan dulu kamu belum menguasai kekuatan kamu. Takutnya kalau aku muncul malah menyedot tenaga kamu. Karena aku entitas penjaga," kata wanita itu sambil mengelus dagu Rahwana.
"Kamu khodam?"
"Bukan, lebih rumit dari itu,"
"Jadi apa?"
"Lebih seperti semacam jiwa yang tanpa tubuh,"
"Omong kosong,"
"Kamu bisa tanya ke Eyang Gandhes, dia yang memintaku untuk mendampingimu saat ini," jemari si nona menyusuri bibir Rahwana dengan kuku lancipnya bagaikan menggoda pemuda itu.
Rahwana diam. Eyang Gandhes meminta makhluk ini muncul, jadi keberadaan si mbak ini bukan main-main.
"Nama kamu?" tanya Rahwana.
"Fransita, Eyang Gandhes biasa memanggilku Sita. Karena katanya lebih terasa pas dengan namamu,"
Rahwana menghela napas dan tersenyum sinis. "Aku nggak sudi dijodohkan dengan astral,"
"Aku belum mati, loh,"
Rahwana mengangkat alisnya. Kaget.
"Maksudnya?!"
Sita menyeringai. "Kamu sebaiknya pulang dan istirahat. Kalau kamu capek, kamu tidak akan kuat menahan energi yang mendekat,"
Wanita itu berdiri, "Kalau perlu aku, kamu bisa panggil namaku," dan perlahan ia keluar dari ruangan itu.
Tapi sesaat kemudia ia berbalik, "Oh iya, aku sudah bersihkan ruangan ini untukmu dan teman kamu itu. Berterima kasihlah padaku,"
"Hm, makasih,"
Wanita itu terkekeh. Senyumnya sangat manis dan membuat jantung Rahwana berdegup kencang.
Lalu ia keluar dari ruangan itu, dan menghilang. Meninggalkan Rahwana yang terpaku sambil mengelus tengkuknya dengan bingung.
Karena, ternyata dia lebih merinding bertemu si Sita dibanding entitas lain.