Sedang REVISI
Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Dendam sang anak yang membuatnya terjerumus pergaulan bebas.
Hidayah datang membuatnya kembali dan bertaubat kepada Allah.
Dalam Taubatnya ia menemukan Cinta yang sekian lama hatinya tertutup karena masa lalu nya yang suram.
Balasan Allah kepada hamba-Nya yang bertaubat.
Kisah Cinta yang Romantis dan perjalan Cinta yang Menguras Air Mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP 8 : KEGAGALAN
Salman berkali-kali ke kamar mandi dan kali ini sangat lama.
Asyi masih terisak tangis, ia berjalan ke arah jendela, menatap bangunan tinggi dengan lampu-lampu yang meneranginya.
"Kenapa aku seperti ini? Aku sudah halal baginya, tapi kenapa aku sama sekali tidak mengizinkan dia menyentuhku? Kenapa kejadian itu harus kembali menjadi kelemahanku?" gumamnya.
Ia teringat dengan ayah angkatnya, segera mengusap air mata di pipinya, lalu menghubungi KH. Mahmud.
"Assalamu'alaikum, Neng."
"Wa'alaikumussalam, Abi," jawab Asyi menahan tangis.
"Neng, kamu menangis? Apa yang terjadi?" KH. Mahmud yang baru saja menggelar shalat tahajjud menjadi cemas.
"Nggk Abi, aku nggak apa-apa kok. Hanya saja ... aku salah Abi." Tangisan itu kembali pecah.
"Ada apa? Ceritakan pada Abi."
"Abi ... hiks ... hiks ... aku gagal Abi ... aku gagal ... hiks ... hiks ..."
"Neng, coba tenangkan diri dulu. Ceritakan pada Abi pelan-pelan, ada apa sebenarnya?"
Asyi mengelap air mata dan ingusnya, lalu mulai berbicara. "Abi, aku ini udah gagal menjadi istri yang baik, Bi. Aku nggak bisa menjalani kewajibanku sebagai Istri, Bi. Hiks ... Hiks ..."
"Neng Asyi, dengarkan kata Abi. Kamu nggak boleh seperti ini. Ini bukan salahmu, semuanya butuh proses. Kamu usahakan yang terbaik ya Neng. Mohon petunjuk sama Allah, Insya Allah, Allah tolong kamu, Neng ... Jadi sekarang jangan nangis lagi ya. Jangan buat suamimu cemas! Lakukan saja pelan-pelan, nanti kamu akan terbiasa dengannya," tutur KH. Mahmud sangat lembut. Ia memang sering menjadi kunci dari setiap kegalaun Asyi. Asyi sangat bersyukur dititipkan di keluarga yang agamis.
Asyi merasa lega mendengar nasehat dari ayah angkatnya. Sambungan terputus, Asyi menyeka wajahnya, menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.
Ceklek ...
Salman keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan mengenakan handuk.
"Mas habis mandi ya?"
"Iya, Sayang. Gerah, jadi sekalian mandi aja," jawabnya terpaksa berbohong.
Asyi langsung membuka lemari dan mengambil baju untuk suaminya.
"Mas, pakai ini. Setelah ini biar saya keringkan rambut Mas." Menyerahkan baju.
Salman mengambil, lalu memakaikan baju di kamar mandi, ia tak ingin membuat istrinya risih sehingga ia memilih mengalah.
Keluar dari kamar mandi, Asyi menuntunnya duduk di tepi ranjang, lalu mulai mengeringkan rambut Salman dengan handuk. Tak kuasa air mata kembali membasahi pipinya dan segera diusap agar Salman tak menyadarinya.
"Sudah selesai."
Salman mengangguk kepala, ia merebahkan tubuhnya di kasur, begitu juga dengan Asyi yang merebahkan tubuhnya di samping Asyi usai meletakkan handuk kembali.
Rasa tak nyaman, menatap langit, hingga membalikkan posisi saling menghadap.
"Sayang—Mas." ucap mereka kompak.
"Iya, kamu duluan!" Salman mempersilakan.
Asyi mengangguk dan mulai berkata, "Mas, aku minta maaf ... selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk Mas," ucap Asyi kembali terisak.
Salman mengusap air matanya. "Sayang, jangan bicara seperti itu! Mas nggak suka dengarnya. Bagi Mas, Sayang ini bidadari yang Allah ciptakan untuk Mas. Sayang Jangan nangis ya! Sampai kapanpun Mas tetap sanggup menunggu sampai Sayang siap, karena Mas mencintaimu karena Allah bukan karena hanya sekedar nafsu Mas kok ... sini Mas peluk!"
Asyi mengangguk kepala, dia menggeserkan tubuhnya ke dalam depan suaminya. "Makasih, Mas. Makasih sudah menjadi suami yang terbaik untukku ... tolong jangan lepaskan pelukan, Mas."
"Iya, Sayang, Mas nggak akan lepaskan pelukan ini sampai besok. Sekarang kita tidur, hilangkan semua pikiran negatifnya!" membelai rambut Asyi seraya mengecup keningnya. Meskipun hanya seperti ini, ia juga merasa bahagia.
"Mas, boleh aku minta sesuatu?" Asyi mendongak menatap ke dua binar mata surganya.
"Mas kan udah pernah bilang, sayang nggak perlu sungkan, apapun yang Sayang minta Insya Allah akan Mas penuhi."
Asyi tersenyum lebar. "Mas bacakan surah Al Mulk dong."
"Baiklah, tapi janji ya, setelah itu Sayang tidur terus dan nghak boleh mikir macam macam lagi." Asyi mengangguk cepat.
Salman membaca surah Mulk dengan lantunan suara yang khas, merdu dan indah.
Asyi pun tertidur dengan nyenyak mendengar suara indah suaminya.
Tilawahnya berakhir, Salman melihat istrinya yang tertidur dipangkuannya, mengecup keningnya sambil berbisik kata selamat tidur. Kemudian dia memejamkan matanya.
...****************...
Sinar matahari menyapa kota Paris, tak bosan ingin menikmati suasana kota romantis itu. Perjalanan mereka kini menikmati Paris disneyland. Dari dulu Asyi memang menginginkan cerita negeri dogeng yang berakhir bahagia, hingga tempat itu menjadi hal yang wajib untuk didatanginya.
"Mas, aku sangat senang. Aku berharap cinta kita tetap abadi," ujar Asyi menatap wajah tampan suaminya.
"Amin ... Sayang tau nggak, aku menjadi orang yang paling hebat di dunia ini."
Asyi mengernyit kening. "Hebat?"
"Iya, karena Mas bisa menjadi suamimu," Asyi tersipu malu. "Mas menjadi orang yang paling tampan dan sempurna sampai kamu memilih Mas untuk menjadi suamimu, kan?"
"PD sekali, kamu Mas." Asyi menyeringai mencubit pinggang suaminya.
"Aww ..." jerit Salman mengusap pinggangnya.
"Kenapa, Mas? Aku cubit terlalu keras ya?" Asyi mengusap pelan, wajahnya terukir kekhawatiran yang mendalam.
Salman cengengesan dan memeluk tubuh Asyi. "Imut banget sih istriku ini?"
"Ah, Mas ... kamu mencoba menipuku," memukul lembut dada Salman.
"Maafkan Mas." Mencium keningnya sekilas. Tersenyum mengangguk kepala, mereka kembali berjalan.