Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Jadian
“Kita istirahat dulu, nanti dilanjutin,” komando Dinda kepada anggota kelompok yang masuk di kelompok Adista. Dinda berjalan menghampiri Adista yang tengah membaca naskah miliknya. “Udah berjalan lancar sama Langit?”
“Sedikit, tinggal gue aja yang pendalaman. Gue rada geli bacanya.”
Dinda terkekeh dan menepuk pelan bahu Adista. “Gue kesana dulu,” ucapnya sambil menunjuk Mikko dengan dagunya yang dijawab anggukan oleh Adista.
“Dis,” Adista menoleh melihat Harris yang duduk di sampingnya dan memberikan senyuman simpul. “Gimana dialog lo? Susah?”
Adista menggeleng menatap Harris yang tengah memperhatikan ke depan. Adista tahu seharusnya dia melupakan Harris, seharusnya dia menjauh dari Harris. Adista tahu itu. Tapi Adista tidak bisa, seakan-akan hatinya memang diciptakan untuk Harris seorang.
“Gimana lo sama Sasa?” tanya Adista menahan hatinya yang sakit saat bertanya kepada Harris.
Harris tersenyum lebar. “Gue udah jadian sama dia,” seru Harris sambil tertawa.
Adista hanya menatap Harris, tadi dia tersenyum simpul sekarang hatinya terasa sakit. Dia tidak bisa tersenyum, dia tidak bisa menampilkan wajah cerahnya untuk kebahagiaan temannya. Adista tidak bisa.
“Selamat deh buat lo,” Adista mencoba tersenyum kemudian dia berdiri. “Gue nyamperin Langit dulu, mau latihan,”
ucapnya setelah itu Adista benar-benar menghampiri Langit.
Langit melihat semuanya, diawal Adista yang tersenyum lebar karena melihat Harris dan kemudian senyumnya hilang disaat Harris mengatakan dia jadian dengan Sasa. Sungguh, Langit juga merasakan sakit, Adista yang disukainya tersakiti oleh orang yang dia suka.
“Ric ...,” Adista tersenyum tipis dan duduk di samping Langit.
Langit hanya menghela napasnya, Adista memang berada di sampingnya, memang dekat. Entah kenapa Adista sangat susah digapai oleh Langit, terasa sangat jauh dari genggaman Langit.
“Bukannya kamu seneng gitu duduk disamping Harris,” ejek Langit membuat Adista menatapnya tajam. “Reflek aku ngomongnya.”
“Aku kemarin belum sempat nanya,” kata Adista sambil memainkan naskah drama yang berada di tangannya. “Yang kemarin itu Adik kelas yang suka sama kamu, kan?”
Langit tergelak, darimana Adista tahu tentang Della? Langit sudah susah payah agar Adista tidak tahu tentang Della. Tapi sekarang dia sudah tahu, yang pastinya memberitahunya kalau tidak Mikko ya Dinda.
“Aku gak suka dia,” jawab Langit. Aku sukanya kamu.
“Aku gak nanya soal kamu, aku nanya soal Della aja.”
Skakmat. Langit terdiam seribu bahasa, baru kali ini dia menemukan cewek spesies Adista. Cewek yang dinotabekan gila itu tengah mempermainkan Langit.
“Pacaran sama aku.”
Seluruh orang yang tengah beristirahat di dalam kelas itu terdiam, Adista pun begitu. Semua orang menatap Adista dan Langit yang memang duduk di depan kelas.
“Alaric ....”
“Aku suka kamu. Pacaran sama aku.”
Adista menatap lekat langit. Di dalam hatinya sudah terjadi tsunami yang tidak bisa dia bendung lagi, jantungnya
berdetak dengan cepat, matanya tidak bisa lepas dari Langit.
“Mau atau gak?” tanya Langit .
“Ha? Maksud kamu?”
“Kalo kamu nolak aku, aku bakalan bawa kamu ke ruang BK dan bilang kalo aku udah mukul kamu.”
Oke. Adista benci ruang BK dan Adista benci diancam seperti ini.
“Kamu udah agak gak waras?”
“Aku memang udah gak waras saat suka kamu,” jawab Langit enteng, entah kerasukan apa yang membuat Langit seperti ini. Bahkan Dinda dan Mikko diam mematung memandang keduanya. “Gimana, mau atau gak?”
Adista masih diam memandang Langit, pikirannya menjadi blank saat Langit mengucapkan tiga kata yang membuat Adista masih membeku.
“Aku hitung satu sampai tiga, kalo kamu gak jawab aku beneran bawa kamu ke ruang BK,” ucap Langit sambil memegang pergelangan tangan Adista.
“Sebentar ... sebentar,” ucap Adista menahan tangan Langit yang hendak membawanya ke ruang BK. “Oke ... oke.”
Langit tersenyum tipis membuat semua orang yang berada di kelas merasa takjub. Kedua kalinya Langit tersenyum karena Adista.
“Oke ... hari ini hari pertama kita jadian.”
* * *
Adista meneguk air mineral yang tersisa di botolnya hingga tandas. Dia masih terasa setengah sadar dengan apa yang terjadi, bahkan seantreo sekolah mengetahui kalau Adista sudah berpacaran dengan Langit.
Ada alasan kenapa Adista tidak mau dengan Langit.
Pertama, Langit itu katanya bad boy, sukanya minggat dari pelajaran, suka merokok, suka tawuran. Kalau masalah minggat dari pelajaran tidak apalah, Adista juga pernah minggat pelajaran Kimia.
Kedua, Langit itu dikenali oleh banyak orang sedangkan Adista tidak. Intinya Adista minder kalau ketemu dengan teman-teman Langit.
Ketiga, Langit itu ganteng banget kalau dilihat dari dekat. Adista tidak mau mempunyai pacar kelewat ganteng, bisa-bisa dia dapat berpaling dari Oppa.
Keempat, Langit itu gak pintar katanya. Meskipun mereka sekelas, Adista jarang memperhatikan orang-orang. Dan impian Adista adalah punya pacar pintar.
Kelima, Langit itu gak seperti Oppa-Oppa miliknya. Oppanya memang tipe ideal yang sempuran untuk dijadikan pacar. Meskipun ada sebagian dari diri Langit mirip dengan Oppanya.
Adista menghela napasnya membuat Dinda yang berada di depannya hanya menggelengkan kepalanya, entah sudah berapa kali Adista menghela napas tapi tidak mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya.
“Kayaknya hidup gue mulai berantakan,” lirih Adista menatap Dinda nanar. Dinda menggaruk tengkuknya, tidak tahu harus berbuat apa karena semuanya terasa tiba-tiba. Langit mengatakan suka kepada Adista tanpa membicarakan dulu kepada Dinda dan Mikko.
“Jalani aja dulu,” ucap Dinda. “Langit gak seburuk yang lo pikirin.”
“Dia gak kayak Oppa, Din.”
Dinda tergelak, jadi alasan Adista menghela napasnya karena Langit tidak seperti Oppa yang disukai Adista. Dinda mencebik menatap jengah Adista.
“Gue harap Langit bisa ngerubah lo supaya gak terlalu fanatik,” gumam Dinda masih menatap Adista horor.
* * *
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞