Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 The Anonymous Sacrifice
Di koridor rumah sakit, Leo mondar-mandir seperti singa yang terluka. Amarah dan keputusasaan membuatnya kehilangan akal sehat. Saat Jacob memberi tahu bahwa Liora sudah ditemukan dan sedang berada di rumah sakit, bukannya merasa lega, Leo justru meluapkan sisa racun di hatinya.
"Pasti dia sedang tertawa di dalam sana, kan?" desis Leo pada Jacob dengan tatapan bengis. "Dia pasti senang melihatku hancur seperti ini. Dia pasti menikmati melihat ibuku sekarat karena itu adalah pembalasan dendam terbaiknya. Wanita itu punya hati dari batu!"
Namun, di balik pintu bangsal yang tertutup rapat, kenyataan yang terjadi sungguh berbeda.
Liora sedang menggenggam tangan Eleanor yang lemah. Wajahnya tenang, meski matanya sembab. Ia baru saja selesai berbicara panjang dengan tim dokter dan Eleanor sendiri. Hasil tes menunjukkan hal yang mustahil: hanya hati Liora yang memiliki kecocokan sempurna untuk prosedur transplantasi darurat ini.
"Liora... jangan lakukan ini, Nak," bisik Eleanor dengan suara yang nyaris hilang. Air mata mengalir di pipinya yang cekung. "Dokter bilang... risikonya terlalu besar bagimu. Kau masih muda, kau harus hidup."
Liora tersenyum kecil, sebuah senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan. Ia mengusap air mata di pipi wanita yang sudah menganggapnya anak sendiri itu. "Nyonya memberikan saya alasan untuk merasa menjadi manusia kembali saat dunia menganggap saya sampah. Jika sisa hidup saya bisa memberikan Anda waktu lebih lama untuk bernapas, maka itu adalah harga yang murah."
Liora kemudian menoleh ke arah dokter yang berdiri di sampingnya. "Saya bersedia. Segera lakukan prosedurnya. Tapi, saya punya satu permintaan yang sangat mutlak."
"Apa itu, Nona Liora?" tanya dokter dengan nada hormat sekaligus iba.
"Jangan beri tahu Tuan Leo," ucap Liora tegas. Suaranya tidak bergetar. "Katakan padanya bahwa ada donor anonim yang baru saja meninggal atau apa pun. Dia tidak boleh tahu bahwa hati ini berasal dari saya. Saya tidak ingin dia merasa berhutang budi, dan saya tidak ingin dia mengasihani saya."
Eleanor menangis tersedu-sedu, dadanya sesak oleh rasa haru sekaligus pedih yang luar biasa. "Liora... kenapa kau begitu baik pada keluarga yang sudah menyakitimu?"
"Karena saya melakukannya untuk Anda, Nyonya. Bukan untuknya," jawab Liora lirih.
Beberapa jam kemudian, Leo dipanggil oleh dokter ke ruangan administrasi.
"Tuan Leo, ada kabar baik. Kami menemukan donor yang cocok. Donor ini anonim dan bersedia melakukan prosedur transplantasi sekarang juga," jelas dokter tersebut sesuai permintaan Liora.
Leo mengembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang mendadak lemas. "Lakukan secepatnya. Bayar berapa pun yang diminta donor itu atau keluarganya."
"Donor ini tidak meminta uang, Tuan Leo," jawab dokter itu singkat sebelum berbalik menuju ruang operasi.
Leo berdiri di depan kaca ruang operasi, menatap lampu merah yang menyala. Ia melihat brankar ibunya didorong masuk. Tak lama kemudian, sebuah brankar lain lewat dengan seluruh tubuh tertutup kain hijau, hanya memperlihatkan tangan kecil yang dibalut perban putih bekas luka genggaman kaca tempo hari.
Leo terpaku sejenak melihat tangan itu. Jantungnya berdegup kencang. Tangan itu... namun ia segera menepis pikirannya. Tidak mungkin. Liora pasti ada di suatu tempat di rumah sakit ini, sedang menonton penderitaanku dari kejauhan dengan senyum sinisnya.
Ia tidak tahu bahwa saat itu, di dalam ruang bedah yang dingin, Liora sedang memberikan separuh nyawanya demi menyelamatkan napas ibunya. Ia tidak tahu bahwa sementara ia mengutuk nama Liora di luar sana, Liora justru sedang menjadi pelindung terakhir bagi hidupnya.
Kebencian Leo tetap membara, buta akan pengorbanan suci yang sedang terjadi tepat di depan matanya.
"Leo mengutuk kegelapan, tanpa menyadari bahwa orang yang ia kutuk adalah lilin yang sedang membakar dirinya sendiri demi memberinya cahaya."
"Liora memberikan hatinya secara harfiah, sebuah ironi bagi Leo yang selalu menuduh gadis itu tidak memiliki perasaan."
"Kesucian cinta Liora terletak pada kerahasiaannya; ia memilih mati tanpa pengakuan daripada hidup dalam belas kasihan sang monster."
"Darah yang mengalir di tubuh Eleanor nanti adalah bukti bahwa kebencian Leo telah dikalahkan oleh ketulusan yang tak menuntut balas."