seorang gadis berparas cantik yang mempunyai sahabat lelaki dari kecil. gadis itu memiliki perasaan kepada sahabatnya itu. tetapi ia tak berani mengungkapkan perasaannya karna ia takut akan kehilangan sahabatnya itu.
dibalik itu gadis itu juga menyimpan luka yang amat dalam karna kehilangan setengah bagian dari dirinya yaitu kembarannya.
Kehidupannya benar benar di uji ketika calon suaminya yang bernotabe sahabatnya meninggalkan nya untuk selama lamanya.
Dan ia berusaha bangkit untuk masa depannya dan ia memutuskan menjadi seorang dokter.
Bisakah ia bangkit dan menggapai impiannya? Dan bisakah ia membuka hatinya untuk pria lain?
yukkkk kepoin. silahkan mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinda Natesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sayang sebagai sahabat atau....
"Rak, gue mau naik ini. Ayokkk ikut" ujarku sambil menarik tangan raka untuk mendekati komedi putar. Raka hanya tersenyum dan menuruti semua keinginan ku.
"udah puas belum? " tanya raka sambil memberiku minuman. aku sangat kelelahan tentu saja karna hampir semua wahana permainan telah kujelajahi. Tapi masih ada satu permainan yang belum aku kunjungi yaitu rumah hantu.
Aku menggeleng dan bergegas berdiri seraya menarik tangan Raka agar segera berdiri. Aku terus membawa raka berjalan "kemana lagi Al ?" tanya nya bingung
"ini tinggal satu lagi yang belum kita jelajahi ayooo ikut" jawabku tanpa melirik kearahnya.
"rumah hantu?? " ujarnya melirik kearahku. Ya kami sedang berdiri didepan permainan Rumah hantu. Senyuman pepsoden terlukis diwajahku dan melirik kearah raka sambil mengangguk.
Ia menggelengkan kepala "yaudah ayok masuk" semangatnya. Aku pikir raka lelah karna mengikuti semua keinginanku ternyata aku salah besar.
Raka membeli dua tiket dan kami pun bergegas masuk. Didalam rumah hantu ini sangat gelap dengan suara yang sangat berisik serta dengan lagu yang sangat khas yaitu lengsirwengi.
Aku sangat bersemangat jika ingin memasuki permainan itu tetapi sesampainya didalam ruangan ini nyaliku pun ikut menciut kala mendengar nyanyian dan suara aneh yang memekakkan telinga. Aku bersembunyi dibelakangnya Raka dengan lengan Raka yang kupeluk erat. Aku melirik semua ruangan ini dan langsung membenamkan wajahku kebahu raka ketika kuntilanak didalam ruangan yang berbesi. Kulirik sekilas raka yang tengah tersenyum menampakan giginya yang rapi. Aku mencubitnya pelan sontak ia malah tertawa. Heran melihatnya bukannya takut malah tertawa.
"Al jangan sembunyi terus kan lu yang semangat ajak gue kesini" ujar raka
"gue takut Rak. Kuntinya liatin gue mulu" jawabku yang masih setia dibahunya raka
Ia malah tertawa "kuntinya iri ama lu katanya kalah cantik dia ahahahah" balasnya lagi
Aku hanya memukulnya meski tidak keras. Masih sanggupnya dia bercanda disaat yang menengangkan ini.
"udahh kelar Al, buka tuh mata lu" ujar raka
Aku pun membuka perlahan mataku ternyata sudah diluar rumah hantu itu. Aku sangat lega dengan keringat yang bercucuran didahiku.
"keringat lu banyak amat kaya abis kerja berat aja" ucap raka sambil mengelap keringatku dengan tangannya.
"takut gue seram Rak" jawabku santai
"udah yuk kita cari makan. Laper gue" Raka menggenggam tanganku dan berjalan mencari makanan. Aku tak menolak perlakuan raka dan terus mengikutinya.
"Yaallah bantu Alena yaallah supaya terlihat biasa aja didepan Raka atas perlakuan nya ini" batinku.
"Brukkk" suara bola anak kecil yang tengah bermain menghantam tangan raka. Awalnya bola itu menuju kearahku dengan sigab raka menahan bolanya agar tak mengenaiku dan hasilnya tangannya lah yang menjadi sasaran. Bola itu cukup keras sehingga tangan Raka sedikit memerah akibatnya.
"astagfirullah Rak lu gapapa? " tanyaku sangat panik dan segera melihat tangan raka
"gapapa Al, cuma merah doang ntar juga hilang. Untung jidad lu ga kena kalau kena bisa pingsan" jawabnya santai. Ia melepaskan tangannya yang ada digenggamanku dan kembali mengambil tanganku sambil menggenggamnya dan terus berjalan mencari makanan.
Aku yang berada dibelakang raka terus menatap punggung nya. Aku sangat bersyukur dan beruntung karna allah telah mengirimnya untuk menjagaku dan melindungiku meski hanya sebatas sahabat.
"Rak boleh ga kalau gue sayang lu lebih dari sahabat" batinku.
Tempat yang kami cari akhirnya ketemu juga. Aku dan raka duduk dipaling pojok sekalian melihat pemandangan yang indah.
"ada yang bisa saya bantu mass? " sapa pelayan cafe
"nasi gorengnya dua mas. Yang satu ga pedas sama pakai telor dadar dan yang satu lagi pedas pakai telor mata sapi ya mas sekalian minumnya teh botol aja" ucap raka kepada mas masnya.
pelayan itu paham dan mengangguk anggukkan kepalanya "sebentar ya mas " pamitnya.
Ia memesan nasi goreng yang tidak pedas sama telor dadar untukku. Ia sangat paham akan makanan yang aku sukai dan tidak aku sukai. Aku terus menatapnya tanpa ia sadar.
"ngapain lu natap gue kayak gitu? " ujarnya tanya melirikku yang terus berkutip diHandphonenya.
"hmm ga ada perasaan lu aja kali" responku cepat dan segera beralih pandang.
Ia hanya tersenyum "gimana udah puas kan? " ucapnya memecahkan suasana yang cukup menengangkan ini menurutku.
"puass banget makasih ya Rak. Lu emang orang yang paling pengertian sayang banget gue ama lu" ujarku sambil memeluknya
"huk hukks hukks" batuknya merespon kalimat yang aku lontarkan padanya
Aku bergegas melepaskan pelukanku "ehh maksud gue sahabat yang terbaik" sambungku yang tak enak hati atas ucapanku ini. Ini mulut ga bisa diajak kompromi sih kadang. Sukanya ceplas ceplos aja
Aku menyengir dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal sama sekali. Ia hanya membalas dengan anggukan dan terus melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti atas ucapanku tadi.