"Dari kepahitan menjadi kebahagiaan. Hidup memang begitu, kalau bahagia terus bukan kehidupan namanya."
.
.
Anastasya di diagnosis sebagai pasien dengan gangguan mental . Dia dirawat di salah satu Rumah Sakit Jiwa yang ada di kota celebes saat ini, dan beberapa bulan kemudian saat Anastasya di nyatakan sembuh oleh dokter, tiba-tiba semuanya berubah saat dia melihat seorang pasien baru masuk ke rumah sakit jiwa tersebut yang merupakan seorang Perwira berpangkat Letda yang bernama Alex.
Seorang pria berbadan tegap dan sangat tampan, sayangnya dia memiliki gangguan mental yang hampir sama dengan yang di alami Anastasya.
Setelah dinyatakan sembuh, Anastasya memutuskan untuk tetap tinggal dan ingin membantu Alex agar dia kembali normal dan selama dirawat mereka menjalin persahabatan yang begitu baik. Namun, diam-diam Anastasya menaruh perasaan lebih dari sekedar persahabatan itu.
Saat Alex dinyatakan sembuh karena drama perang yang terjadi di rumah sakit, akankah Alex mengingat Anastasya? Akankah Alex membalas perasaan Anastasya saat ia tahu kalau Anastasya menyukainya?
Ikuti kisahnya..
Note : Semua cerita, karakter dan pemeran dalam novel ini hanya berupa fiktif. Maaf jika ada kesan dalam cerita ini nampak memasukkan sesuatu yang menghina dan menyinggung 🙏
Saya menceritakan cerita ini dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ig : nurulnull14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 8
"bangun!" suara seseorang bergema. Itu suara seorang perawat.
"Apa kau tidak mau sarapan hari ini, Anastasya sayang?"
Saat itu jam sembilan pagi. Anastasya menyadari kalau dia melewatkan waktu sarapan. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia merasa sangat lelah.
Ohya, dia berpikir sendiri saat dia mengingat misi yang dibatalkan, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Alex sekarang.
Saat Anastasya menyelinap keluar dari tempat tidur, dia memperhatikan kalau seluruh ruangan itu kosong. Jelas sekali kalau semua orang ada ditaman.
Setelah mandi dan sarapan dengan cepat, dia berjalan-jalan. Dia berjalan di atas batu yang menuju ke arah kolam. Menyapu jari-jarinya ke bunga-bunga merah jambu tinggi yang ditanam di masing-masing sisinya.
Dia harus mengakui kalau saat itu adalah hari yang normal. Semua orang berjalan kesana kemari, kolam yang tenang. Itu adalah hari yang cerah dan bahagia.
"Kau ikut denganku," itu satu-satunya kata yang didengar Anastasya sebelum dia merasakan telapak tangan yang kuat di mulutnya. Saat berikutnya, dia kemudian diseret pergi.
"Huh..uhh." saat orang tak dikenal menyeretnya pergi bersamanya.
Dia melakukan semua yang dia bisa untuk melarikan diri tapi sia-sia. Kakinya gemetaran. Dia memaksa dirinya untuk duduk, tapi tetap saja orang itu menyeretnya.
"Kenapa ini terjadi padaku?" pikir anastasya.
Akhirnya dia tiba disebelah kantor dokternya dan orang itu melepaskannya.
Anastasya menoleh ke arah belakang dengan cepat, butiran keringat terlihat di dahinya, untuk melihat siapa yang menculiknya. tidak di ragukan lagi, itu Alex.
"Alex," katanya dengan geram melalui gigi terkatup, "siapa yang menyuruhmu menyeretku seperti ini dan..."
Perkataan Anastasya terpotong karena Alex menutup mulutnya lagi dan mendorongnya masuk kedalam kantor dan kemudian mengunci pintu.
"Darimana dia mendapatkan kuncinya?" Anastasya hanya bisa bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi disini?" dia menuntut dengan tegas, menatapnya dengan curiga.
"Bicaralah!" Anastasya memerintahkan, wajahnya memerah karena marah.
"Duduk!" katanya, menekankan masing-masing dari dua kata ini, "sekarang!"
"tidak!" Anastasya merespon seperti bocah manja.
Alex menatapnya mengancam untuk jawaban itu, tapi Anastasya tidak peduli. Dia tidak takut lagi padanya. Tidak ada yang berhak memperlakukannya seperti sekantong sampah.
Alex berjalan ke arahnya dan Anastasya secara teknis mundur selangkah. Tapi setelah itu Alex menangkap lengannya dengan cengkraman yang kuat dan memaksanya untuk duduk di kursi.
"Sekarang, setelah ini selesai," bisiknya ketika dia mendekati wajahnya, "mari kita berbisnis yah!"
Anastasya menganalisis dengan rasa ingin tahu dan menunggunya untuk melanjutkan.
"aku.." dia berbicara, dengan tangan di belakang punggungnya ketika dia pergi kejendela, " memikirkan misi itu kemarin. Misi yang dibatalkan itu tepatnya. Aku harus mengatakan kalau kau benar-benar menipuku dengan baik."
"Oh.." Anastasya berpikir ketika melihat sekeliling dengan canggung.
"aku tahu itu," Alex melanjutkan dengan nada tegas., "kau bohong padaku. Terutama soal dokumen dan obat terlarang itu, aku tahu itu."
"Dia tahu itu? Hebat! Berarti dia tahu itu hanya formularium dan sebungkus permen sejak dulu, dia tahu aku hanya bercanda jadi dia seharusnya tidak semarah itu kan?" pikir Anastasya.
"Anastasya," katanya dia berbalik dan memandangnya dengan curiga, "aku tahu betul kalau kau adalah agen rahasia dalam misi ini."
Anastasya menatapnya dengan kaget selama beberapa detik sebelum tertawa.
"ahahahahahaha, kau bisa menulis novel imajinasimu itu." Anastasya tertawa.
Kalau boleh jujur, darimana dia mendapatkan ide-ide itu? Wow luar biasa !!
Alex tampak terkejut dengan perilaku Anastasya pada awalnya tapi kemudian dia santai.
"Aku tahu trik-trik kecil seperti itu," Alex menyeringai "kau tidak akan membodohiku lagi, sekarang katakan yang sebenarnya, kau bekerja untuk siapa? Untuk apa misimu? Untuk apa kau menginginkan dokumen dan obat itu?"
Anastasya terkikik mendengarnya dan memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa menahan diri dan harus tertawa terbahak-bahak, tapi tawanya tiba-tiba terhenti ketika dia kehilangan kesabaran.
"Cukup!!" Alex meraung dan menariknya ke arahnya dengan kasar dari kursi.
Anastasya berhenti tertawa seketika. Matanya menunjukkan kemarahan. Hanya amarah, Anastasya menelan dalam kegelisahan dan melihat kebawah. Semua ini, seluruh cerita ini, yang dia ceritakan ini, yah... itu sangatlah lucu baginya.
"aahahahah! Alex kau sangat lucu, kau pria yang lucu yang pernah kutemui. Agen rahasia? Wow... aku bahkan belum pernah menjadi agen dan sekarang agen rahasia? Hahaha bagus!," Anastasya gemetar.
"Cukup! Cukup! Siapa yang menyuruhmu? Jawab?" Dia berteriak saat dia menghancurkan vas yang sangat kecil dari meja.
"Untuk pria yang sama di kantor tempat kau berdiri sekarang," seseorang berkata tiba-tiba.
Itu adalah dokter Jason.
"Sekarang aku benar-benar berada dalam masalah." Pikir gadis itu sambil menggaruk bagian belakang lehernya.
"Anastasya," Ucap dokter Jason.
"Uhh... huhhh." gumamnya, detak jantungnya menjadi tidak normal.
"apa yang terjadi disini?" dokter menanyainya dengan wajah tenang.
"Tidak!" Alex berteriak, "jangan mulai dengan hal itu, aku tahu kalau kalian membodohiku, kalian berdua adalah agen rahasia, aku tahu itu. Kalian ingin mencuri dokumen rahasia itu dan... "
"aku sudah cukup mendengar semua ini!" dokter tiba-tiba mengangkat suaranya, wajahnya memerah karena marah.
Setelah menarik nafas panjang, Jason berjalan menuju Alex dan meletakkan tangannya di pundaknya.
"Dengarkan aku Pak," dengan hati-hati, dan dia memulai dengan suara sabar, "aku seorang dokter dan kau adalah pasienku."
"apa?" Alex hendak mengutuk tapi dokter Jason menghentikannya lagi.
"biarkan aku bicara," katanya dengan suara tegas, "Apa kau tahu dimana kau berada, tidak kan? Kau berada di rumah sakit jiwa. Setiap pasien disini memiliki semacam penyakit mental dan pekerjaan dokter adalah membantu mereka menjadi lebih baik. Gadis ini, Anastasya. Dia adalah pasien gangguan mental juga dan dia sudah membaik dari hari ke hari. Sedangkan untuk anda, anda menderita guncangan mental karena sebuah ledakan. Ya, ini adalah kebenaran. Anda telah dibawa kesini. Ini adalah tempat dimana anda akan mendapatkan semua obat-obatan dan perawatan yang akan membantumu untuk menjadi orang yang sebelumnya. Jujur pak, lihat saya. Apakah saya terlihat seperti agen rahasia, orang jahat atau sesuatu yang lain untukmu? Saya seorang dokter. Ini tidak lain adalah rumah sakit dan Anastasya merupakan salah satu pasien kami. Setiap pasien mendapatkan perawatan dan begitu mereka sembuh, mereka bisa pulang."
Ruangan itu sunyi senyap, hanya nafas dalam-dalam dari Alex yang didengar. Anastasya hanya bisa tahu dari ekspresi heran di wajah Alex bahwa dia tidak mengaharapkan itu. Sangat jelas bahwa dia adalah pasien jiwa. Dia tahu bahwa dirinya kesakitan, kesakitan luar biasa. Karena dia juga merasakan sakit itu saat dia mengetahui tentang penyakitnya.
Alex menatap dokter dengan mata merah dan berkaca-kaca selama beberapa saat. Bibirnya sedikit bergetar sementara beberapa airmata mulai terbentuk di mata cokelatnya. Matanya melesat dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat frustasi selama beberapa detik sebelum mereka bertumpu pada dokter lagi.
"Apa aku bisa menjadi lebih baik lagi, suatu hari, Dokter?" Alex bertanya dengan suara pecah diikuti isakan kecil.
Anastasya merasakan hatinya hancur pada saat itu. Aku akan membantunya menjadi lebih baik lagi sekarang. Aku pasti akan membantunya. Dia berjanji pada dirinya sendiri.
aku vote y Thor
semangat Thor...