"Ningrat?? kok miskin?"
Pertanyaan itu sudah sering dilontarkan orang- orang pada Ning, saat mereka tahu nama asli Ning . Akan tetapi karena keadaan nya yang tak sesuai dengan namanya, seringkali menjadikan namanya sebagai ejekan baginya.
Tak hanya itu, bahkan ia memiliki kebiasaan aneh yang lain dari yang lain.
Akankah Ning bertemu dengan kebahagiaannya dibawah bayang- bayang cemoohan orang?
Ning juga dihadapkan pada dua pilihan tersulit dalam hidupnya.
"Yang satu ku sayangi, yang satu kucintai ...."
Pada siapakah hati dan hidupnya akan ia serahkan ...?
Nantikan kisahnya dalam NINGRAT Antara Dia dan Duda ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Nu Yayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia ......
Ning yang merasa terkejut bukan main melihat pria yang pernah bertabrakan dengannya tadi pagi, langsung berusaha bangun dengan susah payah karena pinggangnya masih terasa sakit.
“Sedang apa kau disini?” tanya Ning yang sudah berdiri di hadapan pria itu sembari mengusap- usap pinggangnya yang terasa sakit.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu seperti itu. Apa yang sedang kau lakukan di kamar ku?” pria itu malah balik bertanya dengan menatap tidak suka pada Ning yang sudah masuk ke dalam kamar tanpa seizinnya.
“Apa? Ini kamar mu?” Ning kembali terkejut.
“Ya.” pria itu berucap dengan tegas.
“Bu bukannya ini kamar Tuan Dino anaknya Bu Rosmala?” tanya Ning memastikan sembari mengingat- ingat.
“Ya.” pria itu kembali bicara singkat dengan penuh penekanan.
“Lalu dimana Tuan Dino?” Ning mengedarkan pandangannya kesana kemari namun tak melihat siapa pun selain pria itu.
“Kau pikir yang berdiri di hadapan mu ini siapa, hah?” tanya pria itu dengan berkacak pinggang.
“Tu Tuan Muda …” ucap Ning ragu. Ia ingat jika para pelayan tadi memanggil pria itu dengan sebutan Tuan Muda saat bertabrakan dengannya.
“Heh ….” Orang itu tersenyum sinis.
“Kenapa kau malah tersenyum seperti itu?” tanya Ning ketus.
“Tunggu … oh ya ampun …apa aku salah masuk kamar?” gumam Ning dalam hati yang baru menyadari hal itu.
“Enyahlah dari kamar ku sekarang juga! Sebelum aku mencekik mu dan memotong- motong tubuhmu untuk dijadikan makanan anjing peliharaan ku ….” ucap pria itu menatap tajam pada Ning dengan tangan yang menunjuk ke arah pintu.
“Apa?” Ning kembali terkejut bercampur takut membayangkan ia dicekik dan di mutilasi di tempat itu. Ia pun segera beranjak pergi sembari memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit.
“Sialan … ternyata gue dikerjain pelayan menyebalkan itu ... Awas kau Tini tinot ajebring ….” Ning menggerutu kesal dengan suara pelan sembari berjalan.
Tiba- tiba ia menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu, tepat di depan pintu yang belum di bukanya.
“Tunggu … tadi dia bilang ini kamarnya … Dan saat aku menanyakan dimana Tuan Dino, dia bilang____” Ning tak melanjutkan ucapannya.
“Astaga … apa Tuan Muda itu Tuan Dino yang akan menjadi anak asuh ku?” gumam Ning dalam hati lalu membekap mulutnya sendiri.
“Apa Bu Rosmala sudah gila? Kenapa aku dijadikan pengasuh orang dewasa? Yang benar saja … Aku harus menemui nenek lampir itu ….” ucap Ning dengan suara pelan karena takut terdengar oleh pria yang ada di dalam.
“Hei, apa kau tuli? Cepat sana pergi!!” bentak pria itu yang melihat Ning malah berdiam diri di depan pintu.
“Iy iya, Tuan ….” Sahut Ning gelagapan, lalu ia memegang pegangan pintu untuk membuka pintunya.
Cek cek cek ….
“Hah? Kok gak bisa dibuka?” Ning menekan pegangan pintu ke bawah.
Cek cek cek …
“Alamak … ini kenapa gak bisa dibuka? Masa iya pintu rumah orang kaya macet begini?” Ning beberapa kali menekan pegangan pintu itu, namun tetap pintunya tak kunjung terbuka.
“Kenapa kau masih di sini? cepat pergi!!! Kau benar- benar ingin aku mencekik mu sekarang juga, hah??” teriak Pria itu yang melihat Ning masih belum keluar.
“Iy iya, Tuan … sabar kenapa sih … Gak tahu apa kalau pintunya susah dibuka ….” Ning tanpa sadar mengerutu pada anak majikannya tersebut.
“Wanita ini … benar- benar tidak punya sopan santun!” pria itu semakin kesal pada Ning.
Cek cek cek …
“Aduh gimana ini, perasaan tadi pintunya terbuka deh, kenapa tiba- tiba jadi tertutup? Pake terkunci segala lagi??” Ning tak hentinya menggerutu dengan tangan yang terus berusaha membuka pintu.
“Eh tunggu … jangan –jangan pintu di rumah ini seperti di film- film barat itu ….” Ning lalu melepaskan tangannya dari pegangan pintu.
“Buka pintu!!” teriak Ning pada pintu yang berada di depannya itu.
Sontak hal itu mengejutkan pria itu yang dibuat terheran- heran dengan apa yang Ning lakukan.
“Aduh, kenapa masih gak kebuka juga.” Ning nampaknya sudah kehabisan cara.
“Hei, apa kau sudah tidak waras ... Kau, benar- benar ingin dicekik rupanya!” Pria kembali meneriaki Ning.
Ning membalikan tubuhnya dengan tangan yang kembali menekan pergangan pintu.
“Enggak Tuan, ini beneran gak bisa dibuka,” ucap Ning dengan nada yang terdengar menyerah dan pasrah.
Ning terus berusaha membuka pintunya sembari mengarahkan pandangan pada pria tersebut yang ternyata berjalan menuju lemari laci.
Pria itu nampak mengambil sesuatu dari dalam laci, ia lalu memegang barang tersebut dan menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya. Ia berjalan menghampiri Ning yang masih melihat ke arahnya sementara tangan Ning masih mengotak- atik pegangan pintu agar bisa membukanya.
“Apa yang dia ambil dari dalam laci tadi? jangan- jangan … itu pisau untuk membunuhku dan memutilasi ku … Oh, Ya Allah … aku tidak mau mati koyol di sini … tolong bukakan pintunya ….” Jerit Ning dalam hati.
Pria itu semakin mendekat dengan memberi tatapan tajam dengan raut wajah bermuram durja. Dan itu membuat Ning semakin ketakutan. Saat pria itu berdiri tepat dihadapan Ning yang hanya berjarak satu meter saja dari pandangannya, tiba- tiba kebiasaan anehnya muncul.
Duuuttt … duuuut ….
“Aduh, kenapa ini si kentut mendadak keluar sih ….?” jerit Ning dalam hati, ia semakin takut melihat orang yang begitu murka di hadapannya. Hal itu terlihat karena mata pria itu melotot membulat sempurna seolah bola matanya hendak loncat keluar.
Sontak pria itu segera menjauh dari Ning dengan menutup hidungnya. Tak bisa dipungkiri bahwa kebiasaan anehnya justru menjadi senjata andalan baginya, walau trkadang membawa petaka bagi orang lain, bahkan untuk dirinya sendiri.
“Dasar wanita jorok … kentut sembarangan!! Bukannya keluar malah mencemari kamar ku … pergi !!” bentak pria itu semakin murka.
“Ma maaf Tuan, aduh … gimana caranya saya bisa keluar? Pintunya terkunci begini?” Ning semakin ketakutan dan panik. Ia terus kepikiran dengan benda yang dibawa pria itu dari laci tadi, yang dikiranya benda tajam yang akan dipakai untuk melukainya, atau bahkan memutilasi dirinya.
Duut … duuut …
Ning kembali mengeluarkan gas beracun yang merupakan efek dari ketakutan yang diasakannya.
“Uhuk uhuk …. Hoek hoek ....” pria batuk- batuk dan merasa mual. Ia segera berlari menuju kamar mandi dan tanpa sengaja ia menjatuhkan barang yang tadi dibawanya dari dalam laci.
Klecrek …
Benda itu jatuh dari tangannya.
“Hoek … hoek ….” Nampaknya pria itu sedang memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi. Suaranya begitu kencang terdengar keluar, karena ia tak menutup pintu kamar mandinya.
“Hufh … selamat selamat … dia tidak jadi menyerang ku ….” Ning mengusap dadanya dan bernafas lega.
“Oh kentut ku, kau datang di waktu yang tepat. Hahaha, rasakan kau Tuan Muda sialan ….” Ning masih sempat untuk tertawa jahat dalam situasi seperti itu.
Ning terus tertawa tiada henti saat mendengar suara muntah- muntah dari kamar mandi.
"Syukurin lo … itu balasan karena sudah menyiramkan tepung dan membuat gue jatuh sampe pigang ini sakit karena jebakan kelereng sialan itu, hahahaa ….”
Ning begitu nikmat menertawakan pria itu yang mabuk akibat gas beracunnya, hingga ia melupakan ketakutan dan kepanikan yang dirasakannya tadi. Walau ia masih merasakan sakit di pinggangnya, namun itu tak menghentikan tawanya.
Namun saat ia teringat pada benda yang yang jatuh saat pria itu berlari ke kamar mandi, ia menghentikan tawanya. Ia melihata barang itu dari kejauhan.
“Eh, tunggu … itu kan barang yang dijatuhkannya,” ucap Ning yang sudah berhenti tertawa. Ia pun berjalan mendekati benda tersebut, betapa terkejutnya ia melihat benda yang tergeletak itu.
“Dasar bego … gue pikir dia ngambil pisau, ternyata ngambil kunci,” ucap Ning menggerutuki dirinya sendiri. Ia pun mengambil kunci tersebut, yang ia yakini bahwa itu kunci pintu kamar tersebut.
Ning kembali berjalan ke arah pintu dengan membawa kunci di tangannya dan satu tangannya lagi terus memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit.
Ia memasukan kunci ke dalam lubangnya, dan benar saja itu kunci pintu kamar si tuan muda. Ia segera membukakan pintu dan Ning akhirnya berhasil keluar dari kamar yang sudah membuatnya menjadi korban jebakan betman. Namun ia tak menyesal karena sudah berhasil membalas dendam pada si tuan muda yang masih muntah- muntah di kamar mandi itu.
Dengan segera ia pergi untuk kembali ke lantai dasar rumah besar itu. Ia ingin menemui tiga orang yang sudah membuatnya kesulitan. Yang pertama Rosmala, kedua kepala pelayan dan yag ketiga Tini yang ia yakini sudah menguncinya di kamar Dino.
“Awas saja kalian bertiga, gue bakalan ngasih perhitungan sama kalian yang sudah hampir membuat gue mati konyol ditangan si tuan muda itu.” Ning yang terus berjalan dengan mengusap- usap pinggangnya terus menggerutu kesal.
Setelah menuruni tangga dan berjalan ke arah yang masih diingatnya, ia tiba di depan pintu sebuah ruangan yang merupakan tempat ia berteu dengan Rosmala sebelumnya.
Ceklek …
Ning membuka pintu dan masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu …
“Haaaaaaaahh ….” Ning menarik nafas dalam- dalam, lalu membekap mulutnya sendiri karena terkejut dengan apa yang dilihatnya di sana.
“Dia … Ba bagaimana dia bisa ada di sini?” ucap Ning dalam hati dengan raiut wajah terkejut, saat melihat orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
------------- TBC -------------
*********************
Happy Reading ….
Monmaaf … baru sempat Up… sedang sibuk di dunia nyata …
Terimakasih selau setia menunggu kisah Ning …
Aylapyu All …