Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan.
Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗
Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.
Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.
Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.
Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Wasiat Bapak
Dari balik lembaran koran yang di pegangnya, sepasang mata terus mengawasi gerak-gerik targetnya. Fungsi telinganya dia pertajam untuk mendengar apa yang targetnya bicarakan, hingga dia sendiri tak menyadari bahwa sepasang mata lain juga sedang mengawasinya dari seberang meja.
Selesai makan, Naya memberanikan diri membuka suara. Banyak pertanyaan yang ingin diutarakannya pada pria paruh baya di depannya itu.
“Maaf, Paman. Apa yang membuat paman mengajak Naya ke sini?”
“Saya ingin mengenalmu lebih dekat. Selain itu, saya juga ingin menyampaikan pesan terakhir dari teman saya, Basuki.”
Mendengar nama bapaknya disebut, Naya mendekatkan tubuhnya ke meja. “Pesan bapak? Maksud paman?”
“Sebelum saya menyampaikan pesannya, saya akan sedikit bercerita tentang bapakmu dan saya.” Indra mengangkat gelasnya dan minum sedikit air untuk membasahi tenggorokannya.
“Tiga tahun lalu, saya bertemu dengan Basuki di panti, ketika dia sedang menanam bunga di taman depan. Dari situlah kami berkenalan dan mulai dekat, menjadi teman berkeluh kesah, teman bermain catur dan bertukar pikiran tentang kehidupan.”
“Singkatnya, kami menjadi dekat dalam dua tahun itu. Rupanya Basuki sudah merasa bahwa umurnya tidak akan bisa sampai melihatmu tumbuh dan menata masa depan. Hingga dia menyerahkan surat ini satu minggu sebelum dia meninggal.” Indra menyodorkan sebuah amplop putih ke hadapan Naya.
Naya segera mengambil amplop itu dan membukanya. Tangannya gemetar saat membuka lipatan kertas berisi tulisan tangan bapaknya yang sangat dia kenal.
Anakku Naya. Bila kamu sempat membaca surat ini, itu tandanya kamu telah bertemu pak Indra dan bapak telah tiada.
Maafkan bapak yang harus pergi meninggalkanmu sebelum sempat membuatmu berdiri tegak. Yakinlah, bapak selalu mendukung semua keputusanmu dalam menjalani hidup.
Tolong jaga ibu untuk bapak. Bapak yakin, kamu bisa menguatkan dan menemani ibu setelah bapak pergi. Bapak titipkan kamu pada pak Indra, sahabat bapak, sampai kamu bisa mandiri. Bantu bapak menjaga beliau sebagai balas budi bapak padanya atas kebaikan yang kita terima.
Bapak sayang Naya dan ibu.
Naya memeluk erat kertas itu ke dadanya, seakan surat itu adalah bapaknya. Tangisnya tak terbendung lagi. Bagaimana bisa bapak menitipkan ibu padanya, sedangkan ibu pergi menemani bapak? Selama beberapa saat, Naya hanya menangis hingga dadanya sesak.
“Naya, minum dulu.” Pak Indra menyodorkan gelas berisi air putih.
“Paman, apa yang harus Naya lakukan sekarang?” Naya menatap pak Indra dengan mata basah.
“Naya, bapakmu hanya ingin melihatmu bisa mandiri. Dan yang bisa saya lakukan adalah membantumu mewujudkannya, apapun itu.”
“Pesan bapak, Naya harus membalas kebaikan paman. Apa yang bisa Naya lakukan untuk paman?”
“Jangan pikirkan itu. Kamu tidak perlu membalas kebaikan saya, yang harus kamu lakukan saat ini adalah menata masa depanmu. Buat bapakmu bangga, jadilah wanita yang mandiri dan sukses seperti keinginan bapakmu.”
“Kenapa paman baik sama Naya?” Naya meraih gelas di depannya dan meminum isinya sampai tetes terakhir.
“Paman berteman dengan Basuki selama tiga tahun ini. Banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Paman seperti punya saudara, teman yang tidak memandang kekayaan dan kedudukan. Saat bersama Basuki, paman bisa jadi diri sendiri tanpa khawatir dimanfaatkan. Terlebih lagi, kamu mengingatkan paman pada seseorang yang sangat berarti.”
Seorang pria yang sejak tadi mengawasi dua manusia beda usia itu, berdiri dan beranjak pergi. Menurutnya, sudah cukup informasi yang didapatnya hari ini untuk dilaporkan pada majikannya.
Naya kembali menangis. Bagaimana dia bisa menata masa depannya bila pondasinya sudah hancur berantakan. “Paman, apa yang harus Naya lakukan sekarang?”
“Kamu hanya perlu menggantikan Basuki sebagai teman bercerita dan tempat berkeluh kesah. Bila kamu tidak keberatan, jadilah putri angkat paman. Bagaimana?”
Naya merasa kaget dengan tawaran pria yang berpenampilan seperti bapaknya itu. “Paman, apakah tidak terlalu berlebihan niat paman mengangkat Naya menjadi anak?”
“Kamu bisa menganggap paman sebagai pengganti bapakmu agar kamu tidak terbebani menerima beasiswa yang paman berikan padamu tempo hari.”
Indra Hartawan merasa iba melihat Naya. Membayangkan betapa sedihnya dia kehilangan kedua orangtuanya sekaligus. Melihat Naya sekarang, mengingatkannya pada Alan kecil yang kehilangan ibunya dan menjauhi ayahnya karena dia menganggap ayahnya sebagai penyebab kematian ibunya.
Naya terdiam memikirkan kata-kata paman Indra. “Paman, Naya tidak bermaksud menyinggung paman. Tapi bisakah paman anggap itu sebagai hutang atau pinjaman? Karena Naya sungguh tidak ingin merepotkan orang lain.” Naya tertunduk.
“Paman suka dengan pemikiranmu. Baik, kita anggap semua yang paman berikan padamu sekarang adalah pinjaman. Maka kamu harus menjadi sukses agar bisa membayarnya kembali.” Naya mengangguk setuju dengan kesepakatan yang dibuatnya bersama Indra.
Tiga bulan sejak hari itu, Naya dan Indra semakin dekat. Seperti biasa, setiap hari minggu Indra akan datang berkunjung ke panti dan menghabiskan waktu bersama Naya, saling menghibur dan menguatkan. Bagi Indra, Naya adalah sarana untuk menebus dosanya pada Alan kecil yang kehilangan ibu dan sosok ayah. Bagi Naya, Indra adalah sosok pengganti bapaknya.
Tak jarang, Naya mengajak anak panti lain untuk ikut bergabung dengan mereka agar suasana lebih ramai. Seperti sore ini, ada si kembar Joni Doni yang menemani Naya. Joni dan Doni adalah anak kembar identik yang suka menggambar dan melawak.
Lawakan mereka hari ini berhasil membuat Indra dan Naya tertawa terpingkal hingga perut terasa kaku. Tiba-tiba saja, Indra terbatuk dan memegang dadanya.
“Paman, paman kenapa?” Naya memegang tangan Indra yang terasa dingin.
Indra masih terus saja terbatuk tanpa jeda hingga napasnya sesak. Dia merogoh saku celananya dan menarik sebuah saputangan keluar. Digunakannya saputangan itu untuk menutup mulutnya dan meredam suara batuknya yang mengerikan.
“Don, tolong temani paman Indra sebentar, kak Naya ambilkan air minum dulu.” Doni mengangguk cepat mendengar perintah Naya. Segera Naya berlari ke dapur mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat.
“Kamu kenapa, Nay? Seperti dikejar setan saja.” Rini yang sedang berada di dapur terkejut dengan kedatangan Naya.
“Itu mbak, paman Indra batuk. Naya mau ambilkan air hangat untuk minum.” Naya mengedarkan pandangannya mencari termos.
“Lagakmu sudah mirip anaknya saja, Nay. Eh, bukan. Lebih mirip istrinya pak Indra. Benar kamu sudah bersedia menjadi istri pak Indra? Dengar-dengar, mereka ke sini waktu itu untuk melamarmu. Benar?”
“Mbak Rini bicara apa sih? Naya hanya ingin menolong paman mengambil air minum untuk meredakan batuknya. Tidak lebih.” Naya segera meninggalkan dapur dan kembali ke taman sambil membawa gelas.
“Duh, lagaknya sudah seperti nyonya muda saja kamu. Dia pikir aku gak tahu kalau kamu akan dinikahi oleh pak Indra. Heh!” Rini meluapkan perasaan irinya pada ayam goreng di piringnya.
“Siapa yang akan menolak bila dilamar oleh pria tua, tampan dan kaya raya seperti pak Indra? Apalagi sekarang sakit-sakitan, malah lebih bagus lagi itu.” omelnya lagi.
Naya sedang membantu paman Indra minum dari gelas ketika Haris, sekretaris Indra, menghampiri mereka.
“Bapak kenapa, Nay?” tanya Haris panik.
“Paman batuk-batuk lagi, Mas. Apa sebaiknya kita bawa ke dokter? Obatnya sudah habis sejak kemarin lusa.” Jelas Naya.
Telunjuk Indra menempel di bibirnya mengisyaratkan pada Naya agar tidak memberitahu Haris. Namun gerakan itu sudah tertangkap ekor mata Haris yang seperti elang.
“Kenapa kamu tidak kasih tahu saya? Ayo kita antarkan pak Indra periksa ke dokter Lyla.
Haris membantu Indra berdiri dan mulai berjalan menuju mobilnya diikuti Naya. “Lain kali, segera beritahu saya kalau ada apa-apa sama pak Indra, terutama tentang sakitnya.” Tegur Haris setelah membantu Indra duduk di kursi penumpang.
“Iya, Mas. Maafkan Naya.” Naya segera masuk ke mobil dan duduk di depan bersama Haris.
Mereka menemani Indra berobat hingga malam menjelang. Saat Naya kembali ke panti, jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Naya langsung menuju kamarnya yang sekarang sudah terpisah dari Rini. Itu atas perintah Laras agar Naya lebih fokus belajar dan tidak terganggu orang lain. Naya duduk di depan meja belajarnya dan meraih fotonya bersama kedua orangtuanya saat kelulusan SMP.
“Pak, Naya sudah lakukan pesan bapak. Menjadi teman paman Indra dan menjaganya. Apa bapak tahu kalau paman Indra sakit? Apa karena itu bapak ingin Naya menjaganya?” Naya memeluk bingkai fotonya.
****
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
semangat nanyaaa 😘😘
aku padamuuuuu💖💖😀
untung ada Alan ..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
aku mah udah ngacirrr 😂
tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..