NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024: Walikota Menelepon

Rian Prasetyo menatap nama di layar ponselnya selama tiga detik.

Pak Hendra Saputra.

Walikota Kota Tanjung Emas.

Bagas yang tadinya masih berdiri dengan tangan mengepal karena Suharto ditangkap, mendadak duduk kembali.

"Bos," bisiknya, "ini level baru."

Rian menghela napas.

Level baru biasanya berarti masalah baru.

Ia mengangkat telepon.

"Selamat malam, Pak Hendra."

Suara di seberang terdengar lelah, tetapi hangat.

"Mas Rian, maaf saya menelepon malam-malam."

"Tidak apa-apa, Pak."

"Pertama, saya ingin menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah Kota Tanjung Emas. Apa yang dilakukan Suharto adalah pengkhianatan terhadap jabatan dan terhadap warga."

Rian tidak langsung menjawab. Permintaan maaf itu terlalu tulus untuk dijadikan bahan komedi.

"Saya menghargai itu, Pak."

Pak Hendra melanjutkan, "Saya juga mewakili banyak warga. Kota ini membutuhkan Garuda Emas. Saya memohon, jangan tutup operasional."

Kalimat itu datang seperti stempel baru yang menghantam dahi Rian.

Jangan tutup.

Tentu saja.

Semesta tidak pernah membiarkan dia rugi dengan tenang.

"Pak Hendra," kata Rian hati-hati, "situasinya tidak sederhana. Kami sudah mengirim pengumuman penutupan. Sebagian karyawan sudah bersiap menerima kompensasi. Untuk membuka kembali, kami perlu biaya, waktu, dan kepastian bahwa kejadian seperti ini tidak berulang."

"Saya paham," jawab Pak Hendra cepat. "Karena itu saya ingin bertemu langsung besok pagi. Semua administrasi akan saya bantu. Surat penghentian operasional yang dikeluarkan Suharto akan ditinjau dan dicabut melalui prosedur resmi. Pemeriksaan ulang akan dilakukan oleh tim independen. Jika ada kebutuhan perizinan, kami beri jalur cepat."

Rian menutup mata.

Jalur cepat.

Kata-kata paling menyeramkan bagi seorang pria yang ingin rugi.

"Kami juga sedang menyiapkan skema keringanan pajak daerah untuk usaha yang terbukti memberi dampak sosial besar," lanjut Pak Hendra. "Garuda Emas memenuhi kriteria itu."

Bagas yang mendengar dari dekat membuka mulut tanpa suara.

Rian hampir ingin menutup panggilan dan pura-pura sinyal hilang.

Tetapi di televisi, wajah Darmawan masih muncul dalam cuplikan ulang, berdiri di depan Garuda Mart dengan mata merah. Di luar sana, ribuan orang masih menunggu jawaban.

Kalau Rian menolak sekarang, ia bukan lagi korban korupsi.

Ia akan terlihat seperti orang yang meninggalkan kota setelah seluruh kota berdiri untuknya.

"Baik, Pak," kata Rian akhirnya. "Besok saya datang."

"Terima kasih, Mas Rian. Sungguh, terima kasih."

Telepon terputus.

Bagas menatapnya dengan mata bersinar.

"Bos, ini kabar bagus banget."

Rian tersenyum tipis.

"Iya."

Bagus sekali.

Terlalu bagus sampai ingin membuatnya menangis.

Keesokan paginya, Rian datang ke Balai Kota Tanjung Emas bersama Bagas dan Teguh Prasetya. Darmawan menyusul dari Garuda Mart, masih memakai kemeja kerja yang kusut karena beberapa hari hampir tidak tidur.

Di halaman balai kota, warga yang masih berkumpul langsung bersorak ketika melihat Rian turun dari mobil.

"Pak Bos!"

"Jangan tutup!"

"Garuda Emas harus buka lagi!"

Rian mengangkat tangan, berusaha tersenyum seperti pemimpin yang tegar, bukan seperti orang yang sedang melihat rencana kerugiannya dikubur hidup-hidup.

Di ruang pertemuan lantai dua, Pak Hendra Saputra sudah menunggu.

Usianya sekitar lima puluh, wajahnya tegas tetapi matanya tidak licik. Ia berdiri begitu Rian masuk, lalu menjabat tangan Rian dengan dua tangan.

"Mas Rian, terima kasih sudah datang."

"Terima kasih sudah mengundang, Pak."

Pak Hendra tidak membuang waktu dengan basa-basi panjang. Di atas meja sudah ada beberapa berkas: draf surat dukungan, nota pencabutan sementara atas perintah penutupan, rencana pemeriksaan ulang, dan daftar insentif daerah.

"Saya tidak akan menutup-nutupi," katanya. "Kota ini malu. Seorang kepala dinas menggunakan jabatan untuk menekan usaha yang justru membantu warga. Saya ingin memperbaiki itu secara terbuka."

Teguh membuka pena.

"Kami perlu kepastian legal tertulis, Pak."

"Tentu. Semua harus tertulis."

Kalimat itu membuat Rian sedikit menghormatinya.

Pak Hendra mendorong satu map lain ke depan.

"Saya juga sudah meminta inspektorat daerah melakukan audit internal terhadap izin-izin yang pernah ditangani Suharto. Bukan hanya kasus Garuda Emas. Kalau ada pedagang kecil lain yang pernah diperas, mereka harus punya jalur untuk melapor."

Darmawan mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya sejak krisis dimulai, matanya tidak hanya sedih, tetapi juga menyala.

"Pak, banyak pedagang pasar takut bicara."

"Saya tahu," jawab Pak Hendra. "Karena itu saya butuh contoh yang membuat mereka percaya. Garuda Emas berani berdiri tanpa kekerasan. Warga melihat itu."

Rian mendengar kalimat itu dan merasa kepalanya makin berat.

Berani berdiri tanpa kekerasan.

Padahal setengah dari seluruh kejadian ini terjadi karena ia hanya ingin mencari alasan kerugian yang sah.

Tapi sekarang alasan itu berubah menjadi simbol moral.

Simbol moral biasanya sangat sulit dibuat rugi.

Pak Hendra menunjuk dokumen pertama.

"Ini surat dukungan pemerintah kota. Isinya: pencabutan efek administratif dari keputusan Suharto, pemeriksaan ulang oleh tim gabungan, jalur cepat perizinan untuk cabang yang terdampak, dan keringanan pajak daerah selama masa pemulihan."

Rian membaca perlahan.

Setiap baris adalah kabar buruk bagi rencana rugi.

Pencabutan segel.

Keringanan pajak.

Jalur cepat.

Dukungan operasional.

Membuka kembali pintu toko terasa seperti menuangkan bahan bakar ke mesin keuntungan yang sudah sulit dimatikan.

Pak Hendra lalu berkata, "Saya juga ingin mengusulkan sesuatu. Selama ini warga mengenal Garuda Mart, Restoran Rasa Nusantara, Es Madu Kopi, dan usaha Mas Rian lain sebagai bagian dari semangat yang sama. Akan lebih baik jika semuanya diumumkan secara jelas di bawah satu payung: PT Garuda Emas Group."

Teguh mengangguk. "Secara legal, PT Garuda Emas Group sudah berjalan sebagai payung usaha. Tetapi struktur publik dan konsolidasi cabang Kota Tanjung Emas memang belum diumumkan formal."

"Bagus," kata Pak Hendra. "Mari kita umumkan bersama. Bukan sebagai proyek politik. Sebagai komitmen bahwa usaha yang baik harus dilindungi, bukan diperas."

Rian ingin berkata, Pak, jangan lindungi terlalu keras.

Namun kata-kata itu hanya mati di tenggorokannya.

Darmawan yang duduk di sebelahnya tiba-tiba menunduk.

"Pak Bos," katanya pelan, "karyawan menunggu. Mereka tidak butuh janji indah. Mereka hanya ingin kembali bekerja."

Rian melihat Darmawan.

Lalu ia teringat kasir yang menangis, barista yang menelepon ibunya, Putri yang tetap mencatat meski tangannya gemetar, dan ribuan warga yang berdiri di bawah panas.

Sial.

Rasa tanggung jawab benar-benar pengganggu terbesar dalam hidupnya.

"Baik," kata Rian. "Kita buka kembali."

Darmawan menarik napas seperti baru keluar dari air.

Pak Hendra tersenyum lega.

Teguh langsung bekerja. Draft surat dukungan diperiksa. Kalimat yang terlalu politis dipotong. Klausul administratif dirapikan. Struktur publik Garuda Emas disusun: Garuda Mart, Restoran Rasa Nusantara, Es Madu Kopi, PT Naga Games, dan proyek-proyek masa depan berada di bawah koordinasi PT Garuda Emas Group.

Di sela pemeriksaan dokumen, Pak Hendra menawarkan ruang kantor sementara di gedung layanan terpadu untuk membantu pemulihan administrasi.

"Gratis selama masa transisi," katanya.

Rian hampir batuk.

Gratis.

Kata itu lebih menyakitkan daripada biaya mahal.

"Tidak perlu, Pak," jawab Rian cepat. "Kami bisa menyewa ruang sendiri."

Pak Hendra tersenyum. "Mas Rian, saya paham Anda tidak ingin merepotkan pemerintah. Tapi fasilitas ini masuk pemulihan layanan publik, bukan kepentingan pribadi."

Teguh menatap Rian dengan tatapan yang jelas berarti: secara hukum, sulit menolak tanpa alasan.

Rian hanya bisa mengangguk pelan.

"Baik. Selama sementara."

Bagas berbisik dari samping, "Bos, biasanya orang senang kalau dapat gratis."

Rian membalas tanpa menggerakkan bibir, "Aku orang yang rumit."

"Itu understatement."

Menjelang sore, berita itu menyebar lebih cepat daripada surat resminya.

Garuda Emas akan buka kembali.

PT Garuda Emas Group akan diumumkan secara formal di Kota Tanjung Emas.

Pemerintah kota memberi dukungan resmi.

Di depan Garuda Mart utama, karyawan berkumpul sejak pagi berikutnya. Segel merah sudah dicabut. Pintu kaca dibersihkan. Rak-rak diperiksa ulang. Beberapa pelanggan lama datang membawa bunga, makanan ringan, bahkan sekadar kertas bertuliskan terima kasih.

Tidak semua orang langsung masuk. Banyak warga berdiri di luar hanya untuk memastikan pintu itu benar-benar terbuka. Seorang bapak memotret papan nama Garuda Mart dengan mata basah. Dua mahasiswa yang dulu sering duduk di Es Madu Kopi membawa spanduk kecil bertuliskan Tempat Kami Pulang. Anak-anak karyawan berlarian di pinggir parkiran, memegang balon kuning putih yang dibuat seadanya dari toko pesta dekat pasar.

Di sisi lain halaman, beberapa pedagang kecil yang pernah takut pada anak buah Joko datang diam-diam. Mereka tidak membawa spanduk besar. Mereka hanya berdiri, menatap Rian dari jauh, lalu mengangguk. Bagi mereka, jatuhnya Suharto menandai sesuatu yang lebih luas: orang yang bertahun-tahun menekan mereka akhirnya bisa disentuh hukum.

Putri berdiri dekat panggung kecil yang dibuat dari beberapa palet kayu, memegang map berisi notulen dan daftar karyawan kembali aktif. Plester di bibirnya hampir hilang, tetapi matanya masih berkaca-kaca.

Bagas berdiri di sisi panggung, memimpin tepuk tangan sebelum acara bahkan dimulai.

"Semangat, woi! Hari ini sejarah!"

Darmawan berdiri di belakang Rian. Kali ini ia tidak berusaha menyembunyikan air matanya.

Pak Hendra hadir, tetapi memilih berdiri agak ke samping, memberi ruang bagi Rian. Teguh membawa map dokumen: surat dukungan Walikota, berkas konsolidasi grup, dan salinan pencabutan efek penutupan.

Rian naik ke panggung kecil.

Ribuan orang di halaman parkir dan pinggir jalan langsung bersorak.

"Pak Bos!"

"Garuda Emas!"

"Buka lagi!"

Rian menatap mereka.

Ia masih ingin rugi.

Sungguh.

Tetapi saat melihat wajah-wajah itu, ia tahu satu hal: ada beberapa kerugian yang tidak boleh dibeli dengan mengorbankan harapan orang lain.

Ia mengangkat mikrofon.

"Mulai hari ini, Garuda Mart, Restoran Rasa Nusantara, dan cabang Es Madu Kopi di Kota Tanjung Emas kembali beroperasi."

Sorak pecah.

Rian menunggu sampai suara itu turun.

"Dan mulai hari ini, seluruh usaha kami akan berjalan di bawah satu payung yang lebih jelas: PT Garuda Emas Group. Kami akan tetap bekerja dengan prinsip yang sama. Harga yang wajar. Gaji yang layak. Pelayanan yang manusiawi. Dan tidak tunduk pada pemerasan."

Darmawan menangis di belakangnya.

Bagas berteriak, "Hidup Bos!"

Karyawan dan warga tertawa sambil bertepuk tangan.

Pak Hendra ikut bertepuk tangan, tetapi tidak naik ke tengah panggung. Sikap itu membuat beberapa wartawan mencatat satu hal: ia tidak mencoba mencuri sorotan. Ia membiarkan momen itu milik pekerja, pelanggan, dan orang-orang yang menjaga toko selama krisis.

Teguh menyerahkan map kepada Putri.

"Dokumen asli disimpan di kantor grup. Salinan digital sudah saya kirim ke arsip."

Putri mengangguk serius. "Baik, Pak Teguh."

Lalu ia melihat halaman parkir yang penuh manusia dan berbisik, "Saya kira waktu itu semuanya selesai."

Teguh menutup map.

"Kadang yang selesai hanya cara lama. Yang baru justru mulai."

Putri tidak sepenuhnya paham, tetapi kalimat itu terdengar cukup penting untuk ia catat di notulen.

Rian menatap Putri, Darmawan, Bagas, lalu warga di depannya.

"Semua karyawan," katanya, "selamat datang kembali."

Hari itu, pintu Garuda Mart terbuka lagi.

Suara kasir menyala.

Troli bergerak.

Orang-orang masuk sambil tersenyum.

Dan laporan keuangan Rian, kemungkinan besar, mulai sehat lagi.

Malamnya, setelah semua acara selesai, Rian masuk ke kantor grup yang baru diberi papan nama sederhana.

PT Garuda Emas Group.

Ia menutup pintu, lalu bersandar.

Cahaya biru muncul tanpa dipanggil.

[Terdeteksi: skala aset dan pengaruh bisnis meningkat.]

[Konsolidasi grup memperluas basis operasional.]

[Proyeksi Dana Sistem siklus berikutnya akan disesuaikan.]

Angka di panel bergerak naik.

Rian menatapnya, lalu menutup mata.

"Aku cuma mau rugi," gumamnya.

Panel biru tetap bersinar, dingin dan kejam.

Seperti sedang berkata: silakan coba lagi.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!