NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Menembus Tirai Udara

​Kemenangan telak Awan atas Lin Feng menjadi bahan perbincangan panas di seluruh penjuru arena. Namun, seiring berjalannya waktu, keterkejutan itu perlahan digantikan oleh rasionalisasi yang merendahkan.

​Bagi para kultivator yang selalu menganggap diri mereka lebih tinggi dari manusia fana, mengakui kehebatan Awan adalah sebuah penghinaan.

​"Lin Feng terlalu ceroboh. Dia meremehkan lawan dan bertarung jarak dekat dengan seseorang yang ototnya dilatih seperti kuli," komentar seorang Murid Luar berpakaian mewah di tribun.

"Benar. Manusia fana itu mungkin punya tenaga badak, tapi dia tidak bisa menggunakan Qi. Dia tidak punya serangan jarak jauh. Selama kita menjaga jarak dan menyerangnya dengan sihir, dia hanya akan menjadi target diam yang menunggu mati."

​Analisis itu menyebar dengan cepat dan diaminkan oleh mayoritas peserta. Mereka kembali tenang. Kekuatan fisik bagaimanapun juga memiliki batas, sementara Qi Spiritual tidak terbatas selama Dantian masih terisi.

​Di sudut arena yang teduh, Awan duduk bersila memejamkan mata. Ia tidak memedulikan tatapan sinis maupun bisik-bisik di sekitarnya. Di pangkuannya, pedang Kayu Besi Hitam tergeletak diam. Ia memanfaatkan waktu istirahat ini untuk memijat pelan otot betisnya, menjaga agar aliran darahnya tetap lancar.

​Baginya, arena ini tidak berbeda dengan Dapur Selatan. Lawannya hanyalah batang-batang kayu dengan bentuk dan tingkat kekerasan yang berbeda.

​Menjelang sore, putaran kedua babak penyisihan dimulai.

​"Panggung nomor dua! Nomor urut 804, Murid Pelayan Awan, melawan nomor urut 155, Murid Luar Yao Chen!"

​Mendengar nama itu, kerumunan kembali riuh. Yao Chen bukanlah murid sembarangan. Ia berada di Alam Pengumpul Qi Tingkat Empat dan terkenal dengan teknik serangan jarak jauhnya. Ini adalah pertarungan yang diyakini semua orang akan menjadi kuburan bagi kesombongan Awan.

​Awan bangkit, menepuk debu dari seragam abu-abunya, dan berjalan menuju panggung nomor dua.

​Di atas panggung batu yang luas, Yao Chen sudah menanti. Berbeda dengan Lin Feng yang arogan dan gegabah, Yao Chen menatap Awan dengan sorot mata penuh perhitungan. Ia memegang sebuah pedang ramping yang bilahnya memancarkan pendar biru es.

​"Aku akui fisikmu luar biasa untuk ukuran manusia fana," ucap Yao Chen dingin saat Awan berdiri di seberangnya. "Tapi di hadapanku, keunggulan fisikmu tidak ada artinya. Aku tidak akan membiarkanmu mendekat walau hanya tiga langkah."

​Awan tidak menjawab. Ia hanya menggeser kaki kirinya ke belakang, memasang kuda-kuda, dan tangan kanannya bersiap di gagang pedang kayunya.

​"Mulai!" teriak wasit.

​Detik itu juga, Yao Chen melompat mundur sejauh sepuluh meter, menciptakan jarak yang sangat aman. Ia menusukkan pedang tipisnya ke udara beberapa kali dengan kecepatan luar biasa.

​Energi Qi di dalam Dantiannya meledak keluar.

​"Tarian Seratus Bilah Angin!"

​Wush! Wush! Wush!

​Puluhan bilah udara berbentuk sabit yang tajam dan transparan melesat dari ujung pedang Yao Chen, merobek udara dengan suara mendesing yang mengerikan. Bilah-bilah angin itu melengkung dari berbagai arah, mengepung Awan tanpa celah.

​Di tribun penonton, banyak yang tersenyum puas.

"Selesai sudah. Yao Chen langsung menggunakan jurus andalannya. Manusia fana itu akan dicincang menjadi daging giling!"

​Namun, di atas panggung, mata Awan tetap setenang air telaga.

​Ia tidak panik. Matanya yang terlatih mengamati ribuan arah serat kayu, kini dengan mudah membaca lintasan bilah-bilah angin tersebut.

​Awan melangkah pelan. Tubuhnya meliuk, menunduk, dan bergeser dengan pergerakan yang sangat minim, efisien, dan nyaris tanpa tenaga ekstra. Beberapa bilah angin meleset hanya beberapa milimeter dari wajah dan seragamnya, memotong beberapa helai rambutnya, namun tidak ada satupun yang menyentuh kulitnya.

​Yao Chen mendecakkan lidah. "Berlari seperti tikus! Kita lihat seberapa lama staminamu bertahan!"

​Ia menggandakan aliran Qi-nya. Jumlah bilah angin yang meluncur kini bertambah menjadi dua kali lipat, membentuk jaring energi yang nyaris mustahil dihindari hanya dengan langkah kaki.

​Melihat hujan serangan yang semakin rapat, Awan berhenti menghindar.

​Tangan kanannya mencabut Kayu Besi Hitam dari punggungnya. Ia menggenggam gagangnya erat-erat. Kakeknya pernah berkata: Bahkan angin yang tak berwujud bisa dihentikan jika kau menaruh gunung di jalurnya.

​Otot lengan Awan mengembang. Ia memutar pedang kayu raksasa itu di depan tubuhnya, menggunakan jurus dasar Menangkis yang digabungkan dengan kecepatan ayunan ekstrem.

​BAM! BAM! BAM! BAM!

​Suara ledakan berturut-turut bergema di seluruh arena. Penonton terbelalak ngeri.

​Awan tidak menghindar. Ia memukul hancur bilah-bilah Qi itu secara frontal!

​Kayu Besi Hitam yang sangat padat dan berat, ditambah tenaga kinetik dari ayunan otot Awan yang brutal, menciptakan dinding benturan yang membubarkan energi Qi Yao Chen sebelum sempat menyentuh tubuhnya. Setiap kali pedang kayunya menghantam bilah angin, percikan energi biru meledak dan menyebar ke udara kosong.

​"Mustahil! Dia menghancurkan sihir dengan sepotong kayu?!" jerit seorang murid di tribun.

​Yao Chen mulai berkeringat dingin. "B-bagaimana bisa? Qi-ku... dipukul mundur oleh tenaga fisik?!" Ia terus memompa Qi-nya dengan panik, mencoba menekan Awan, tetapi Awan terus melangkah maju.

​Satu langkah. Dua langkah.

​Setiap langkah Awan menghancurkan satu gelombang bilah angin. Ritmenya begitu stabil, mirip dengan saat ia membelah kayu di Dapur Selatan.

​Ketika jarak mereka hanya tersisa lima meter, Awan tiba-tiba menghentikan ayunannya. Ia menurunkan pedangnya, menancapkan kaki kanannya ke ubin granit, dan memampatkan seluruh otot di tubuh bawahnya seperti pegas baja yang ditekan maksimal.

​Ubin granit di bawah kakinya retak menyebar membentuk jaring laba-laba.

​Ledakan Otot: Langkah Kilat Fana!

​BOOM!

​Suara ledakan keras terdengar bukan dari sihir, melainkan dari hantaman kaki Awan yang menolak bumi. Dalam sekejap, udara di tempat Awan berdiri berdesir keras, dan tubuh pemuda itu melesat ke depan dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan mata kultivator tingkat rendah.

​Yao Chen hanya melihat bayangan hitam yang tiba-tiba membesar di depan matanya.

​"T-Tirai Angin Pelindung!" Yao Chen berteriak histeris, menyalurkan seluruh Qi yang tersisa untuk membentuk perisai angin tebal di depan tubuhnya.

​Awan sudah berada di udara. Ia mengangkat Kayu Besi Hitamnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan. Tidak ada keindahan dalam gerakannya. Hanya pembunuhan mutlak dan tebasan dari atas ke bawah.

​Jurus Dasar: Menebas!

​Pedang kayu seberat lima puluh kilogram itu menghantam perisai angin Yao Chen.

​KRAAAAK!

​Perisai Qi yang dibanggakan Yao Chen hancur berantakan seperti kaca tipis yang dihantam martil baja. Momentum pedang Awan tidak berhenti. Karena ini bukan pertarungan hidup mati, Awan memutar pergelangan tangannya di detik terakhir, menggunakan sisi datar pedang kayunya untuk menghantam dada Yao Chen.

​DUAAGH!

​Yao Chen memuntahkan darah segar di udara. Tubuhnya melesat mundur menembus batas panggung dan menabrak dinding tribun pembatas arena hingga dinding batu tersebut retak. Yao Chen melorot turun, tak sadarkan diri seketika.

​Hening.

​Tribun yang dipenuhi ribuan penonton itu hening seperti kuburan. Mulut mereka terkunci rapat.

​Jika kemenangan pertama Awan dianggap kebetulan karena pertarungan jarak dekat, maka kemenangan kedua ini menghancurkan semua logika mereka. Awan baru saja membuktikan bahwa sihir serangan jarak jauh sama sekali tidak berguna di hadapan tenaga fisik dan kecepatan yang absolut.

​Di atas panggung, Awan menyarungkan kembali pedang kayunya ke punggung. Napasnya sedikit lebih berat dari sebelumnya, dan ada beberapa luka sayatan kecil di lengannya akibat pecahan Qi Yao Chen, namun matanya tetap tenang tak terusik.

​Wasit menelan ludah, suaranya sedikit bergetar saat mengumumkan, "Pemenangnya... Murid Pelayan, Awan!"

​Dari arah tribun kehormatan, beberapa Tetua Sekte Dalam mulai mencondongkan tubuh mereka ke depan, akhirnya menaruh perhatian serius pada pemuda berpakaian abu-abu tersebut.

​Sementara itu, di barisan depan tribun Murid Luar, seorang pemuda berwajah dingin dengan pedang hitam di pangkuannya membuka matanya. Ia adalah Wu Jian, Murid Luar peringkat pertama yang berada di Alam Pengumpul Qi Tingkat Delapan.

​Wu Jian menatap punggung Awan yang berjalan turun dari panggung. Tangannya mengelus gagang pedangnya perlahan.

​"Menarik," guman Wu Jian, matanya memancarkan haus darah seorang petarung. "Ternyata ada harimau buas yang menyamar menjadi domba di sekte ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!